
Rio melajukan mobilnya menuju rumah Alvin. Ia memang tak ingin mengejarnya kemarin karena tau betul watak pria itu. Daripada membuatnya semakin emosi Rio lebih memilih memberikannya waktu agar keadaannya lebih tenang sedikit.
Sampai di gerbang rumah Alvin, Ia turun. Tidak seperti biasanya gerbang langsung terbuka. Namun kali ini gerbang masih tertutup dengan kedatangannya. Sensor yang ada di sana tak mengizinkan dia masuk. Ia sudah berkali kali berteriak namun tetap tidak mendapat jawaban. Hingga salah seorang penjaga menghampirinya tanpa membuka gerbang yang menghalangi percakapan keduanya.
"Maaf Tuan. Tuan Alvin tidak ingin menemui Anda. Tuan minta Anda untuk segera pergi dari sini."
"Katakan pada Tuanmu. Aku akan menunggu di sini sampai dia menemuiku."
"Baik Tuan." Katanya sambil berlalu pergi untuk memberi laporan.
Pria itu menghampiri Alvin yang sedang bercengkrama dengan istri dan kedua anaknya.
"Permisi Tuan."
"Ya."
"Tuan Rio tidak mau pergi sebelum Tuan menemuinya."
"Biarkan saja. Kau boleh pergi."
"Baik Tuan."
"Ada apa sih Mas? Kalau ada masalah di bicarakan dong. Jangan kucing kucingan kaya gini. Dari kemarin kamu menghindari Om Rio terus."
"Nggak papa Sayang. Hanya masalah pekerjaan. Biarkan aku memberinya sedikit pelajaran." Bohongnya sambil tersenyum.
"Bener ga ada yang serius. Kamu nggak bohong kan?" Tanya Aya menelisik
"Beneran kok." jawabnya sambil mengalihkan perhatian ke Azam, tak ingin jika kebohongan nya terdeteksi oleh sang istri.
Aya tau betul jika suaminya berbohong. Ia akan memberikan waktu untuk Alvin. Mungkin jika tepat waktunya Pria itu akan bercerita.
"Badan mereka masih panas ya?"
"Sudah turun panasnya. Ini karena efek vaksin kemarin jadi badannya panas."
"Mau apa sayang? Ara mau apa nak?" Tanya Aya pada bayi cantik yang berada dalam pangkuannya. Ara meraih tangan sang Ibu dan memainkannya. Azzam menggerakkan tangannya seolah olah ingin ikut Ibunya.
"Jangan sayang. Ibu sudah sama Adek. Azzam sama Ayah aja ya." Kata Alvin membuat bayi laki laki itu menangis.
"Azzam kenapa nangis? Sini. Sini."
"Emang kamu bisa Yang."
"Bisa kok."
Alvin memberikan Azzam pada Aya yang masih memangku putrinya. keluarga kecil itu duduk di karpet. Tentu saja karpetnya sudah dipastikan bersih oleh Alvin. Ia begitu memperhatikan setiap detai yang berkaitan dengan Istri dan anak anaknya.
Beberapa jam berlalu Aya selesai menyusui kedua anaknya. Mereka terlihat mengantuk. Aya dan Alvin membaringkan si kembar ke box bayi dengan hati hati.
"Ayo makan siang Yang."
__ADS_1
"Mau sholat dulu ah. Udah waktunya."
"Yaudah Ayo." Alvin menggandeng tangan istrinya menuju kamar.
"Mas. Om Rio gak kamu kasih masuk aja? Udah dari pagi tadi lo. Kasian tau. Mana cuaca panas begini."
"Biarin. Nanti juga pulang sendiri. Kita lanjut makan aja. Ga usah mikirin dia."
Aya hanya menghembuskan nafasnya mendengar jawaban sang suami. Entah masalah apa yang terjadi di antara keduanya. Yang pasti suaminya tidak akan semarah ini pada Rio jika pria itu tak membuat kesalahan yang fatal.
Alvin duduk bersantai di ruang keluarga bersama istrinya. Salah seorang pengawal menghampiri keduanya dengan nafas tersengal sengal.
"Tuan Rio. Tuan..." ucapnya sambil mengatur nafas.
"Kenapa?" Jawab Alvin masih santai.
"Tuan Rio pingsan."
"Biarkan saja." Kata Alvin menutupi kekhawatiran nya.
"Mas apaan sih. Om Rio pingsan. Kamu denger kan."
"Iya. Biarkan saja."
"Enggak. Jika kamu nggak mau, biar aku yang kesana."Kata Aya berlalu pergi meninggalkan suaminya.
"Yang." Panggil Alvin sambil mengikuti langkah istrinya.
"Baik Tuan." Jawab mereka patuh.
Alvin dan Aya melihat kondisi Rio yang terbaring pucat di ranjang kamar tamu. Pria itu belum juga membuka matanya. Aya mengoleskan minyak kayu putih pada tangannya agar dapat di cium oleh Rio.
"mau apa Yang?"
"Biar dia cepat sadar. Daritadi kamu nahan aku mulu."
"Tapi."
"Mas. Untuk kali ini aja jangan egois. Dia sahabat kamu."
"Baiklah."
Aya mendekatkan tangannya ke hidung pria itu.
Beberapa saat kemudian Rio mengerjapkan matanya. Hal pertama yang dilihat adalah Aya yang sedang duduk di tepi ranjang. Kemudian Alvin dengan raut wajah kesal.
"Om bagaimana keadaannya?"
"Aku baik. Hanya sedikit pusing."
"mau minum?"
__ADS_1
"Boleh."
"Biar aku saja." Kata Alvin sebelum Aya meraih gelas itu.
Ia membantu Rio untuk minum.
"Terimakasih." Kata Rio namun tidak mendapat jawaban.
"Vin aku ingin bicara."
"Om aku ambilkan makan dulu ya." Pamit Aya merasa mereka punya urusan yang perlu dibahas berdua saja.
Rio hanya tersenyum menanggapi istri sahabatnya.
"Vin aku mau menjelaskan." Kata Rio setelah kepergian Aya.
"katakan."
Rio menarik nafasnya dalam dalam.
"Aku menyukai istrimu sejak lama Vin. Rasa itu tumbuh begitu saja tanpa aku yang meminta. Awalnya aku menolak, mencoba mati matian agar dapat melupakan. Namun nihil. Usahaku sia sia. Dia adalah satu satunya wanita yang membuatku nyaman diantara kebencian ku pada semua wanita. Namun aku tak mau persahabatan dan jalinan saudara antara kita rusak. Aku membiarkanmu bersamanya berharap kalian bahagia. Meski hatiku sangat sakit. Kini aku sadar cinta tak harus memiliki. Hanya melihatnya bahagia dengan orang yang tepat itu sudah cukup bagiku sekarang. Aku akan melindunginya sebagai Om nya. Jadi mohon Izinkan aku untuk menjaga istrimu sebagai keponakanku dan ikut merawat anak anak kalian. Hanya keluarga ini yang aku punya Vin."
Alvin memeluk Rio erat. Ia begitu sayang dengan sahabatnya yang satu ini. Hidup sendiri melawan rasa sakit hati yang di toreh oleh Mamanya bukanlah hal yang mudah.
"Aku Izinkan." Kata Alvin.
"Terimakasih Vin."
"Ya. Jika kau kurang ajar. Aku tidak akan segan membunuhmu."
"Aku tidak berani." Jawabnya sambil terkekeh.
"Kalian sudah baikan?" Tanya Aya yang tiba tiba datang sambil membawa nampan.
Alvin langsung bergegas membantu Istrinya.
"Lihat kau merepotkan istriku. Makanlah." Kata Alvin sambil menyerahkan nampan itu pada Rio.
"Terimakasih."
"Om Rio sudah baikan?"
"Sudah. Pusingnya sekarang sudah hilang."
"Jika begitu pulanglah." kata Alvin mengusir sahabatnya.
"Tidak akan. Aku bahkan belum makan. Ingat ini betul betul. Aku akan lebih lama di sini setiap harinya."
"Memangnya ini rumahmu?"
"Rumah istrimu. Kau mana punya harta. Semua harta yang kau miliki milik istrimu kan. Masih mending aku punya harta sendiri. Kau itu sangat kaya tapi kenyataannya masih kaya Aku."
__ADS_1
"Diam dan Makan. Jika bersamamu aku bisa gila." Kata Alvi sambil mengajak istrinya pergi.