
Aya menyingkirkan lengan kekar suaminya perlahan. Ia turun dari ranjang meninggalkan Alvin yang sedang tidur siang dengan pulas. Kakinya melangkah menuju dapur. Disana semua orang tengah sibuk. Seorang koki dan para pekerja lain saling bekerja sama untuk mempersiapkan makan malam.
"Nyonya." Sapa salah satu dari mereka sambil menunduk hormat melihat kedatangan majikannya.
Aya tersenyum. "Apa aku mengganggu?"
"Tidak Nyonya." Jawab mereka sedikit gugup karena aura yang dimiliki Aya begitu mendominasi.
"Aku hanya ingin mengobrol karena kemarin tidak sempat. Jadi belum kenal satu sama lain."
Jelas Aya.
"Boleh membantu?" sambungnya lagi.
"Jangan Nyonya nanti Tuan marah." Cegah mereka semua dengan raut wajah sedikit takut.
"Bersikap biasa saja Bibi. Anggap saja kita keluarga. Aku tidak nyaman jika kalian menjaga jarak seperti itu." Aya menepuk bahu salah satu dari mereka dengan lembut.
"Tapi Nyonya..."
"Aku akan senang jika kalian menurutinya."
"Baik Nyonya." Jawab mereka sambil mengangkat pandangan menatap wanita di depannya sambil tersenyum tulus.
Setelah berbincang dan berkenalan dengan mereka cukup lama Aya memutuskan untuk sekedar berjalan jalan di sekitar rumah.
"Nyonya." Sapa salah seorang penjaga yang berpapasan dengan Aya. Pria itu menatap Aya tanpa berkedip dan kemudian segera tersadar.
"Eh iya."
"Nyonya mau kemana?" tanyanya dengan sopan.
"Aku hanya ingin jalan jalan sebentar."
"Tapi Nyonya Tuan bilang..."
"Aku tidak akan melewati gerbang itu." Jelas Aya sambil menunjuk pintu gerbang yang menjadi pembatasnya dengan dunia luar.
"Baik Nyonya. Akan saya temani."
"Ah tidak perlu. Aku bisa sendiri."
"Baik Nyonya. Silahkan."
Aya melangkah pergi.
Ia berjalan santai sambil memperhatikan setiap detail rumah dari berbagai sudut. Begitu indah dan sejuk karena banyak tanaman yang rindang.
Aya mendudukkan diri di sebuah bangku taman. Gemercik air mancur yang ada di sana begitu menenangkan jiwanya.
Alvin mengerjapkan matanya karena tidak merasakan keberadaan Aya dalam peluknya. Ia bergegas mencari istri kecilnya. Langkahnya begitu tergesa gesa. "Dimana Istri saya?" Tanya Alvin tegas pada salah seorang penjaga.
"Nyonya ada di taman tuan."
__ADS_1
"Kenapa kau biarkan. Jika terjadi sesuatu. Kau harus bertanggung jawab."
"Maaf Tuan." Katanya sambil menunduk.
Pria itu bergegas menuju tempat Istrinya berada.
"Sayang." Kata Alvin mendapati Aya tengah duduk bersantai di sana.
"Kamu kenapa sih suka banget ngilang. Aku kan suruh kamu tidur siang." Omel Alvin langsung memeluk istrinya.
"Aku nggak ngantuk. Aku bosen, jadi jalan jalan sebentar."
"Kamu kan bisa bangunin aku kalo pengen jalan jalan. Jadi nggak sendirian gini. Lain kali jangan diulangi lagi."
"Iya."
Mata Aya terus menelisik sekitar hingga terhenti pada sebuah pohon yang berbuah lebat.
"Aku mau itu."
"Kamu mau kelengkeng?"
Aya mengangguk mantap. Ia baru pertama kali mencoba.
"Sebentar aku ambilkan." Kata Alvin menuruti keinginan istrinya.
Ia memetik beberapa tangkai kelengkeng yang sudah masak lalu kembali lagi duduk di samping sang istri. Alvin mengupaskan dan menyuapkannya pada Aya.
"Enak?"
"Yang lain kemana?" tanya Aya mengambilkan makan malam untuk suaminya.
"Maksudnya?" Alvin balik bertanya karena tidak mengerti.
"Kita makan berdua aja?"
"Iya Yang. Memangnya kenapa?"
"Aku pengen makan sama yang lain juga."
Alvin menggelengkan kepalanya lemah melihat tingkah istrinya yang begitu peduli dengan para pekerja di rumah.
"Aku panggilkan dulu. Tapi cium dulu." kata Alvin tak mau rugi.
"Terimakasih." jawab Aya sambil melakukan apa yang diperintahkan suaminya.
Beberapa saat kemudian semuanya telah berkumpul dan Aya menyuruh mereka untuk duduk.
"Mari makan. Jangan canggung begitu." Kata Aya sambil tersenyum. Alvin merasa cemburu melihat istrinya memperhatikan mereka.
"Mulai sekarang kita makan sama sama. Boleh kan Mas?"
"Boleh." Jawab Alvin mengusap lembut pipi merah jambu istrinya.
__ADS_1
"Tapi Nyonya..."
"Turuti saja istriku." Tegas Alvin
"Baik Tuan."
Semuanya makan dengan tenang sambil sesekali mengobrol karena Aya bertanya banyak tentang mereka.
"Yang besok aku udah mulai kerja." Kata Alvin yang masih memangku istrinya padahal Aya sudah beberapa kali memberontak.
"Hm." Mendapat jawaban cuek dari istrinya Alvin merasa geram.
Ia memutar tubuh Aya untuk menghadapnya. Pria itu melakukannya dengan mudah karena tubuh istrinya yang ringan.
"Kamu bilang apa tadi By?"
Tanya Alvin sambil menangkup wajah Istrinya. Ia akan memanggil 'By' ketika sedang merasa kesal dan Aya tau itu.
"Iya."
"Tidak, Aku yakin kamu tidak menjawab begitu tadi."
"Maaf."
"Lain kali jangan di ulangi lagi. Aku tidak suka kamu bersikap cuek padaku."
"Iya." Tangan Alvin menyusuri leher jenjang istrinya yang mulus. Ia mendekatkan wajahnya menghirup aroma wangi istrinya dalam dalam.
Pria itu mencium dan memberikan beberapa tanda di sana.
"Ih geli. Aku mau tidur. Aku ngantuk."
"Iya. Kita tidur sekarang. Susunya di minum dulu."
"Iya." Aya segera menghabiskan susunya sebelum mendapat omelan panjang dari suaminya.
Alvin membaringkan kepala Aya di lengannya. Ia memiringkan tubuhnya untuk memeluk sang istri.
"Selama kerja kamu ga boleh bertingkah aneh aneh." Tegas Alvin pada istrinya.
"maksudnya?" Tanya Aya bingung.
"jangan keluar. Jangan capek capek dan juga jangan masak."
"Tapi aku pengen masak. Boleh ya. Aku janji akan berhati hati." rengek Aya mencoba bernegosiasi.
"Enggak boleh. Nanti kamu kenapa napa lagi. Kaya kemarin jari kamu kena pisau. Aku kan lagi ga ada di rumah jadi ga bisa mengawasi kamu secara langsung."
"Ih nyebelin. Kan hanya kena pisau sedikit. Itu hal yang wajar."
"Bagi aku sedikit saja kamu tergores itu adalah hal besar. Turuti saja perintah suamimu. Jangan macam macam karena setiap sudut di rumah ini ada CCTV nya. Jadi apapun yang kamu lakukan aku tau. Dan aku nggak akan segan segan menghukum jika kamu melanggar apa yang sudah menjadi aturan." Ancam Alvin.
"Kamu ngerti kan?" Tanya Alvin membelai wajah istrinya dengan lembut dan mengusap bibir mungil itu dengan ibu jarinya.
__ADS_1
Aya hanya mengangguk pelan. Alvin mencium bibir Aya dengan lembut.
"Bagus. Sekarang tidurlah. Sudah malam." Kata Alvin setelah melepaskan ciumannya.