Possessive Uncle : My Beloved Little Wife

Possessive Uncle : My Beloved Little Wife
Bucin


__ADS_3

Aya menemani suaminya yang sedang berolahraga di ruang gym dengan malas.


"Duh Mas kamu lama banget. Nggak usah terlalu rajin. Ga baik."


"Orang rajin kok nggak baik. Ada ada aja kamu."


Alvin menghampiri istrinya yang duduk di lantai beralaskan karpet sambil meluruskan kaki.


"Iya. Terlalu rajin olahraga sampai lelah kan juga ga baik. Apalagi kamu suruh aku nunggu kaya gini. Bosen tau. Aturan tadi aku duduk santai di halaman belakang."


"Kamu itu. Disuruh temenin suami males."


"Bosen tau. Kamu nggak usah olahraga juga udah ganteng."


"Masa?"


"Iya. Udah ah. Aku mau ke bawah." Aya meninggalkan suaminya.


Alvin sudah bersih bersih lalu menghampiri istrinya yang sedang berkumpul dengan anak anak. Pria itu menutup mata istrinya.


"Dah nggak usah kaya ABG Pak Haji. Aku tau itu kamu."


"Kok tau?" Alvin duduk di samping istrinya.


"Parfum kamu kecium. Lagian di rumah aja pake parfum segala."


"Biar wangi."


"Hari ini di rumah aja?"


"Mau kemana lagi. Kan semua tempat udah dikunjungi kemarin."


"Iya."


"Ibu. Potongin kuku Ara dong."


"Iya." Aya mengambil gunting kuku langsung memotong kuku Ara.


"Manja banget udah besar juga."


"Kaya Ayah enggak aja. Tiap potong kuku Ayah juga minta Ibu buat potongin."


"Udah. Gitu aja kalian ribut."


"Kuku Zam sama Daniel panjang nggak?"


" Panjang Ibu."


"Yaudah sekalian Ibu potongin habis ini."


"Iya Ibu."


Selesai memotong kuku Ara, Ia berlanjut memotong kuku Zam dan terakhir Daniel. Daniel senang. Belum pernah ada yang memotong kukunya selama ini. Sejak kecil Ia sudah terbiasa untuk potong kuku sendiri.


"Dah selesai."


"Makasih Ibu."


"Sama sama."


"Punya aku Yang."


"Tuh. Tadi Ayah bilang Ara manja. Itu Ayah juga manja."


"Aduh kalian itu. Emang nggak pernah cocok ya. Ibu kandangin biar akur." Kata Aya membuat keduanya terdiam.


"Kamu jangan pake sambel Yang."


"Terlanjur ambil Mas."


"Nggak usah dimakan."


"Yah."

__ADS_1


"Itu Ayam kan udah ada rasanya. Jangan pake sambel lagi."


"Iya Iya." Aya makan sepiring berdua dengan suaminya.


"Habis ini Ibu mau ngomong penting."


"Apa Ibu?"


"Penting pokoknya. Nanti aja."


"Iya."


"Nggak pake timun Yang." Kata Alvin. Pria itu disuapi istrinya sejak tadi.


"Kamu biasanya juga suka sayur."


"Lagi nggak kepengen aja."


"Ayam bakar madu buatan Ibu enak."


"Iya. Ambi lagi. Masih banyak."


"Yang."


"Hm."


"Sabtu nanti aku ada acara di perusahaan. Kamu harus ikut."


"Gamau ah. Males. Nanti ketemu istri rekan kerja kamu yang di omongin hal nggak penting."


"Nanti nempel aja sama aku. Pasti kamu nggak akan diajakin ngobrol."


"Hish Mas selalu gitu."


"Pokoknya kamu harus ikut?"


"Iya iya." Kata Aya pasrah.


"Ini penting. Sangat penting. Ibu mau menasehati kalian tentang suatu hal."


"Apa Bu?"


"Usia kalian remaja. Rentan yang namanya pergaulan bebas. Ibu cuma berpesan agar kalian selektif memilih teman. Berteman baik dengan siapapun boleh tapi kalo teman yang negatif jangan di tiru. Maksud Ibu, kalian harus menjaga diri dan menghindari hal hal negatif. Di masa masa seperti kalian ini sangat berpotensi untuk terjerumus ke dalam buruknya dunia remaja. Terutama kamu sayang. Kamu anak perempuan harus bisa menjaga diri dan martabat. Jangan diulangi lagi hal yang dulu pernah terjadi. Jadikan itu pelajaran untuk lebih selektif lagi dalam memilih teman."


"Baik Ibu."


"Inget itu. Anak karyawan Ayah aja hamil di luar nikah. Mana masih SMA dan yang laki nggak tanggung jawab."


"Terus gimana Yah?"


"Ya dikeluarin dari sekolah."


"Kasian."


"Nggak perlu dikasihani. Itu salah sendiri. Masih sekolah juga pacaran. Jadi gitu akibatnya."


"Emang dulu Ayah nggak pernah pacaran?"


"Enggak lah. Ayah sama Ibu ma langsung nikah."


"Ga nyangka. Kalo Ibu?"


"Sama. Ibu mana boleh punya pacar."


"Lebih nggak nyangka lagi. Ibu kaya gini nggak pernah pacaran."


"Yang naksir banyak. Cuman ga boleh pacaran aja."


"Duh. Ibu sia siain masa muda."


"Kamu. Bagus dong nggak pacaran. Nggak dosa."


"Ini nih. Ayah kali masalah gini ilmunya ngaji keluar."

__ADS_1


"Kamu kalo dikasih tau."


"Mas. Ayo.."


"Kemana lagi? kita udah sepakat hari ini dirumah aja."


"yah...Tadinya aku mau ajakin ke pantai."


"Kemarin kan udah."


"Pengen lagi."


"Gausah."


"Mas pinjem Hp kamu dong. Hp aku lagi di charge soalnya."


"Ini."


"Segala pake di kasih password. Apa. paswordnya?"


"Tanggal lahir kamu."


"Ok."


Aya tersenyum melihat fotonya dengan sang suami menjadi wallpaper. Suaminya begitu bucin. Ternyata nomornya di simpan dengan nama 'My Wife(Baby)'. Ia jarang atau hampir tidak pernah menggunakan atau mengecek ponsel Alvin. Melihat seperti ini Ia sedikit terkejut.


"Ibu kenapa sih?"


"Nggak papa."


"Kamu kenapa sih Yang?"


"Gapapa. Aku mau beli sesuatu tapi kamu nggak ada aplikasinya."


"Mau beli apa?"


"Frappuccino."


"Kamu punya asam lambung mau minum itu? nggak boleh."


"Nggak jadi. Lagian kamu nggak punya aplikasinya."


Alvin memeluk istrinya yang sedang mengelap wajah dengan tissue di depan meja rias.


"Kenapa?"


"Nggak papa. Capek aja. Pengen peluk kamu."


"Mau dipijit?"


"Nanti jadi kamu yang capek."


"Enggak kok. Ayo aku pijit." Aya menggandeng tangan suaminya untuk duduk di sofa. Ia memijit kedua bahu Alvin dengan nyaman.


"Pijitan kamu enak."


"Jangan terlalu kebanyakan nge gym. Kamu nge-gym hampir tiap hari. Seminggu dua atau tiga kali aja udah cukup."


"Biar sixpack sama awet muda."


"Kenapa gitu. Mau cari istri baru?"


"Ngomong apa sih. Aku gitu supaya kamu nggak malu kalo jalan sama aku."


Aya duduk di samping Alvin kemudian menggenggam tangan pria itu.


"Aku nggak malu sama sekali. Aku terima keadaan kamu. Apapun itu."


"Bener?"


"Nggak. Becanda. Ya bener lah."


"Makasih Yang." Alvin memeluk istrinya erat.

__ADS_1


__ADS_2