
"Tuan." Seorang pelayan tergopoh gopoh menghampiri Alvin yang baru saja pulang dari kerja.
"Ada apa?" Tanyanya was was.
"Nyonya Tuan."
"Istri saya kenapa? Katakan dengan jelas." Tanya Alvin sedikit berteriak.
"Saat saya mau membersihkan kamar mandi. Nyonya sudah pingsan disana kepalanya juga berdarah."
"Jaga anak anak dulu." Kata Alvin bergegas melihat kondisi istrinya.
Alvin sampai di kamar mandi langsung menggendong Aya untuk di bawa ke rumah sakit. Darah terus mengalir dari kepala wanita itu. Wajahnya pucat. Sepanjang perjalanan Alvin tak melepaskan genggamannya dari sang istri. Ia sangat takut luka di kepalanya mempengaruhi luka lama akibat kecelakaan dulu. Dokter pernah bilang jika Aya tidak boleh terbentur lagi. Karena bisa berakibat fatal pada cedera otak yang dulu pernah di alami.
Alvin modar mandir di depan ruang UGD. Dokter sedaritadi memeriksa Aya belum keluar juga.
"Vin apa yang terjadi?" Mommy menghampiri Alvin dengan bekas air mata yang mengering di kedua pipinya.
"Aya kenapa Vin?" Tanya Mama mengguncangkan kedua bahu menantunya.
"Jatuh di kamar mandi."
"Kok bisa."
"Nggak tau kak. Aku juga baru pulang kerja tadi."
"Gimana keadaannya sekarang."
"Dokter belum keluar." Jawabnya lemas sambil mendudukkan diri di bangku.
"Bagaimana kondisi Istri saya dok?"
Tanya Alvin bangkit dari duduknya ketika melihat dokter keluar dari ruangan.
"Saya sudah pernah bilang jika Nyonya tidak boleh terbentur lagi kepalanya. Itu akan mempengaruhi cedera otaknya. Benturannya cukup keras. Sehingga Kami perlu melakukan operasi dengan segera untuk mencegah pemecahan pembulu darahnya."
"Lakukan yang terbaik dok. Saya mohon. Selamatkan istri saya." Kata Alvin tak bisa lagi menahan air matanya.
"Kami akan berusaha semaksimal mungkin Tuan. Mohon doanya, Semoga di lancarkan."
"Iya dok." Jawab semua orang.
"Apa yang terjadi?" Tanya Darwin dan Rio baru saja datang.
"Aya jatuh di kamar mandi."
"Gimana keadaannya sekarang?"
"Masih di UGD. Kata dokter harus di operasi."
"Sabar ya Vin." Kata Darwin dan Rio menenangkan Alvin.
"Aya pasti sembuh Vin."
__ADS_1
"Aku ceroboh tidak bisa menjaganya dengan baik." lirihnya sambil menatap kosong kedepan.
"Semuanya takdir Vin. Itu bukan salahmu. Jangan menyalahkan diri sendiri."
"Kamu tau nggak kemungkinan kemungkinan yang akan terjadi. Istriku..."
"Sudah Vin. Aya pasti sembuh. Kita berdoa saja." Kata Darwin tak memberi kesempatan pria itu untuk melanjutkan kata katanya.
"Anak anak siapa yang jagain?"
"Adam sama Istrinya tadi. Mereka nangis terus. Tapi sekarang udah tidur kok. Tadi aku baru aja kesana." Kata Rio menjelaskan.
Waktu terus berlalu hingga hari mulai gelap. Dokter masih berjuang di dalam sana. Belum ada tanda tanda dokter akan keluar. Semua orang hanya bisa diam menunggu kabar.
"Vin. Kamu makan dulu. Dari tadi kamu belum makan."
"Aku nggak lapar."
"Jangan gitu Vin. Nanti kamu sakit. Anak anak butuh kamu. Makan ya sedikit aja." Nenek mulai menyuapi Alvin. Memaksa pria itu untuk makan meski sedikit saja. Asalkan perutnya tidak kosong.
Dokter keluar dari ruangan menghampiri mereka dengan wajah lelahnya.
"Bagaimana dok?"
"Alhamdulillah operasi berjalan lancar."
"Terimakasih dok. Kata mereka bernafas lega."
"Namun ada kemungkinan kecil Nona akan lupa dengan beberapa memorinya. Tapi keadaan Nyonya masih koma. Kita tunggu sampai siuman dulu. Untuk memastikan hal tersebut."
"Ini hanya kemungkinan kecil Tuan. Jika pun Nyonya akan lupa ingatan tidak semua memorinya akan hilang. Hanya sebagian kecil saja. Kami akan melakukan terapi untuk memulihkannya."
"Baik dok. Terimakasih banyak."
"Sama sama. Ini sudah tugas saya. Saya permisi dulu semua. Mohon untuk tidak menjenguk pasien terlebih dahulu sebelum di pindahkan."
"Baik dok."
kata mereka.
Pagi hari. Alvin mengajak kedua anaknya untuk melihat kondisi Aya. Kedua bocah itu selalu menangis mencari keberadaan sang Ibu. Perlahan Ia membuka pintu. Semua orang tengah berkumpul di sana menunggu Aya. "Sayang kalian datang."
Peluk mereka satu per satu kepada si kembar.
"Ibu mana?"
"Ayo kita lihat Ibu." Alvin menggandeng tangan kedua anak itu untuk mendekat ke ranjang. Ia mendudukkan Zam dan Ara di kursi dekat sana.
Alvin memandangi Istrinya yang begitu pucat dengan alat bantu yang terpasang di tubuhnya.
"Ibu sakit apa Ayah? Kok Ibu nggak bangun?"
Tanya Zam sudah hampir menangis lagi.
__ADS_1
"Jangan nangis. Nanti Ibu sedih."
"Ara pengen peluk Ibu."
"Jangan dulu sayang. Cukup di lihat saja."
"Kapan Ini bangunnya. Zam kangen Ibu."
"Sebentar lagi sayang. Ibu sedang Istirahat. Kalian jangan nakal ya. Biar Ibu cepat bangunnya." Kata Alvin sambil menahan air matanya.
"Iya Ayah." Jawab mereka patuh.
"Ayo ikut Opa dulu. Opa punya sesuatu untuk kalian."
"Zam pengen sama Ibu."
"Ara juga."
"Iki Opa dulu ya sayang. Biarkan Ibu istirahat dulu. Biar cepat sembuh."
"Iya Oma." Keduanya ikut Daddy dan mencium tangan Aya sebelum pergi.
Tiga hari berlalu. Mereka sedang menunggu Aya di periksa dokter. Hari ini wanita itu sudah siuman. "Silahkan semuanya boleh masuk." kata Dokter.
"Terimakasih Dok."
Mereka menerobos masuk ke ruangan.
"Sayang bagaimana keadaan kamu?"
"Baik Mom. Sedikit pusing saja."
"Sayang. Kamu baik baik aja kan?Aku kangen." kata Alvin hendak memeluk Istrinya.
"Om siapa ya? Temennya Daddy aku? jangan sembarangan peluk peluk." Cegah Aya.
Mereka semua terdiam mendengar perkataan Aya barusan.
"Aku suami kamu Yang. Kamu nggak ingat?"
"Aku tidak ingat."
"Kita sudah menikah empat tahun lalu. Ini anak anak kita." Kata Alvin menunjukkan foto keluarga mereka.
"Iya ini anak anak aku. Tapi masa aku nikahnya sama kamu?"
"Iya. Aku suami kamu. Lihat cincin di tangan kita." Alvin memperlihatkan cincin pernikahan keduanya.
"kepalaku pusing." Kata Aya memegangi kepalanya.
"Istirahat dulu aja sayang. Jangan dipaksakan untuk mengingat."
"Kakak gimana sih. Istriku harus ingat aku dong. Sama kalian ingat. Masa sama suami sendiri enggak."
__ADS_1
"Nanti perlahan aja Vin. Biarkan istirahat dulu. Baru siuman juga kan."
"Yaudah aku tunggu di sini." kata Alvin dengan setia duduk di samping ranjang menjaga Aya.