Possessive Uncle : My Beloved Little Wife

Possessive Uncle : My Beloved Little Wife
Apa Mama Puas Sekarang?


__ADS_3

Aya sudah pulang dari Villa dua hari yang lalu. Wanita itu sedang menyiapkan makan siang di ruang makan. Suara keributan dari luar menyita perhatiannya. "Bi di luar ada orang ya?"


"Tidak tau Nyonya. Mau saya cek?"


"Biar saya saja Bi. Bibi lanjutkan ya?"


"Baik Nyonya." Aya meninggalkan ruang makan untuk memeriksa keadaan di luar.


Aya membuka pintu begitu terkejut melihat semua penjaga di rumah sudah bertengkar dengan orang orang berbadan kekar dan berbaju hitam. "Ayo ikut Mama pulang." Kata Mama Aya tiba tiba muncul menarik tangan Aya.


"Aku nggak mau Ma. Apa yang Mama lakukan?"


"Pokoknya mulai sekarang kamu harus tinggal sama Mama." Kata wanita itu bersikeras menarik pergelangan tangan Aya.


Alvin baru saja memarkirkan mobilnya langsung berlari untuk menyelamatkan sang istri yang tampak ketakutan. Beberapa pengawal yang mengikuti Alvin ke kantor langsung ikut bergabung dan memukul mundur orang orang yang dibawa Mama Aya. "Lepaskan istriku. Jangan macam macam."


"Dia anakku Vin. Dia harus pulang sama aku."


"Aku suaminya dan Aku nggak memberi izin. Sekarang pergi. Bukannya aku sudah beri peringatan. Kenapa datang lagi." Alvin mengeluarkan emosinya hingga siapapun yang melihat akan takut.


"Kamu jangan seenaknya."


"Siapa yang seenaknya. Istriku bukan barang yang kalian buang dan pungut sesuka hati. Sampai matipun aku nggak akan menyerahkan istriku di tangan orang orang yang egois dan haus harta seperti kalian."


"Jaga mulutmu Vin."


"Aku sudah menjaganya selama ini. Dan aku tidak bisa menahannya lagi. Kenapa? Kenapa kalian mencari istriku lagi setelah sekian lama. Oh kalian menginginkan pewaris ya. Karena anak kalian yang kalian banggakan itu tidak bisa memberi keturunan. Jangan harap kalian bisa mendapatkan apa yang kalian mau. Berpikirlah lebih dalam. Ini semua karma yang pantas kalian dapatkan." Mama Aya sangat emosi mendengar penuturan Alvin. Ia meraih Vas bunga dan membenturkannya pada kepala menantunya. Pandangan Alvin menggelap seiring darah yang mengalir di keningnya. Pria itu jatuh pingsan di pelukan sang Istri.


"Mama keterlaluan." Teriak Aya sambil menangis.


"Sayang Mama...."


"Apa Mama puas sekarang? Aya sudah mencoba menjadi anak yang baik. Aya tidak menaruh rasa benci pada Mama karena Aya tidak mau berdosa. Meskipun kalian menelantarkan Aya, Aya berusaha tidak dendam maupun sakit hati. Tapi cukup sudah kesabaran Aya kali ini. Jangan sentuh keluarga Aya lagi. Aya nggak mau orang orang yang Aya sayangi terluka di tangan kalian. Mulai sekarang lebih baik jangan temui kami. Aya minta maaf. Mungkin ini jalan yang terbaik agar tidak ada yang tersakiti lagi."


Aya selalu menggenggam tangan suaminya yang belum siuman. Pria itu sudah ditangani oleh dokter beberapa jam lalu. "Yang." Panggil Alvin saat matanya terbuka sempurna.


"Kamu sudah bangun Mas?"


"Kamu nggak papa kan?"


"Aku nggak papa. Maafin Mama ya Mas. Gara gara Mama...."


"Sudah dia yang salah. Bukan kamu."


"Bibi emang keterlaluan. Kalo bertindak nggak dipikir dulu." geram Ano.

__ADS_1


"Kalian tinggal di rumah Daddy aja. Disini nggak aman."


"Nggak usah kak. Kita tetap tinggal disini."


"Aku juga heran dengan jalan pikirannya. Bisa bisanya dia bawa orang untuk memaksa putrinya di bawa pulang."


"Iya. Dulu aja Ibu nggak di perhatikan kenapa sekarang malah gini."


"Ibu jangan takut. Zam akan lindungi Ibu."


"Iya kak. Kita juga akan maju kalo ada apa apa sama kakak." Sahut Darren.


"Makasih ya."


"Sama sama." Mereka memeluk Aya bersamaan.


"Udah. Jangan peluk peluk istri orang. Kalian bikin pusing aja."


"Mas pusing?"


"Iya."


"Yaudah istirahat aja."


"Iya Vin. Kamu cepet sembuh ya. Kami keluar dulu."


Aya menemani suaminya setelah semua orang meninggalkan kamar.


"Masih sakit Mas?"


"Iya sakit. Elus punggung aku dong Yang." Rengeknya dengan manja.


"Kejadian kaya gini nggak boleh keulang lagi. Dan bodohnya aku ceroboh untuk yang kesekian kalinya."


"Kamu nggak salah Mas."


"Sebentar. Pergelangan tangan kamu memar kenapa? Gara gara Mama kamu ya."


Aya terdiam sudah memberikan jawaban.


"Aku kasih obat."


"Sudah tadi. Kamu istirahat aja." Aya menahan suaminya untuk bangun.


"Kepala kamu berdarah begini pasti sakit ya."

__ADS_1


Aya mengelus kepala suaminya dengan lembut.


"Masih sakit apa yang kamu alami. Masih sakit hati aku melihat kamu terluka."


"Sudah. Jangan dibahas lagi Mas."


"Aku tidak habis pikir. Kok ada orang tua seperti itu."


"Aku diam jika mereka sakiti. Namun aku marah jika mereka membuat orang orang yang aku sayang terluka."


"Termasuk aku?"


"Iya. Mas kan suami aku."


"Berarti kamu sayang dong sama aku?"


"Iya."


"Cinta nggak?"


"Iya."


"Iya apa?"


"Cinta." Alvin mengecup bibir istrinya sekilas.


"Aku juga cinta. Bahkan cinta mati sama kamu." Katanya dengan serius.


"Jangan pakek itu Yang. Aku nggak suka." Kata Alvin tengah disuapi istrinya.


"Biasanya juga doyan sayur kamu."


"Lagi males makan sayur aja."


"Ibu. Kita nonton dulu ya. Ayah cepat sembuh."


"Iya."


"Iya. Tidurnya jangan kemaleman."


"Siap Ibu."


"Tadi kronologinya gimana sih Yang? Aku belum cek CCTV. Tiba tiba aja salah satu pengawal bilang kalo rumah di serang. Terus aku bergegas pulang."


"Aku juga kurang tau Mas. Aku lagi nyiapin makan siang terus ada ribut ribut di luar. Aku periksa ternyata sudah seperti itu."

__ADS_1


"Lain kali kalo ada apa apa jangan kamu ngecek sendiri. Suruh orang. Kalo gini jadinya kan bahaya."


"Iya Mas. Maaf. Makannya di habiskan. Habis ini minum obat." Aya melanjutkan menyuapi suaminya.


__ADS_2