Rafa Dan Fatar

Rafa Dan Fatar
Bab 101.


__ADS_3

Dengan perasaan malas dan jengkel, William meraih Handphonenya. Ia melihat ke arah Hapenya.


“Siapa sih?” Ucap William jengkel.


Namun kening William mengkerut. Lilis memperhatikan William.


“Kenapa sayang?”


“Tak apa-apa. Aku terima telepon dulu ya”


Lilis menganggukan kepalanya. William pun langsung pergi ke arah balkon. Ia menerima telepon di balkon dan agak menjauh dari Lilis. Nomor yang menelepon sama sekali tak ada namanya.


“Halo..Siapa ini?” Ucap William. Ia tak tahu siapa yang meneleponnya.


“Halo sayang... Selamat atas pernikahanmu. Bagaimana bulan madumu?” Suara seorang wanita diseberang sana.


“Siapa kau?”


“Kenapa kau mudah sekali melupakanku sayang.” Suara tawa di seberang sana. Suara tawa yang mengerikan.


“Kau Nona LL atau siapa?”


“Menurutmu?”


“Jangan bermain denganku. Katakan apa yang kau mau?”


“Dirimu. Aku mau dirimu”


“Kau gila.”


“Hahahahaha...”


“Apakah kau Nona LL dan Laura Luther adalah orang yang sama?”


Suara diseberang sana diam tak menjawab.


“Halo?”


“Aku masih disini sayang. Aku akan biarkan kau menikmatin sebentar bulan madu dan pernikahanmu. Tapi setelah itu, bersiaplah menerima kado dari ku.”


“Apa maksudmu?”


“Hahahaha...” Telepon tiba-tiba diputuskan.


William menatap Hapenya. Ia menghela nafas berat. Wajahnya di usapnya dengan kasar dengan kedua tangannya.


William melihat noti chat masuk ke Hapenya. Dari Jack.


Ia membaca isi pesan tersebut.


“Will... Sorry ganggu bulan madumu. Aku melihat beberapa orang mengincar si kembar dan kedua orang tua Lilis. Bagaimana kalian disana? Baik saja kan. Tapi sepertinya ada orang yang berbeda yang mengincar. Karena pergerakannya ada yang beda. Seakan lebih dari satu musuh yang mengawasi.”


Itulah pesan dari Jack. William pun membalas.


“Jack perketat kembali penjagaan. Jaga si kembar dan kedua orang tua Lilis. Perusahaan juga amankan. Kami baik-baik saja disini”


William kemudian mematikan Hapenya. Ia sebenarnya masih ingin merasakan manisnya pernikahannya dengan Lilis saat ini. Tapi para musuh sepertinya masih terus mengganggu. Namun begitu, William tak mau merusak bulan madunya saat ini. Mereka berencana seminggu di Bali. Mudah-mudahan bulan madunya bisa tenang selama seminggu di Bali.


William kembali ke dalam. Dan merebahkan diri di ranjang. Dilihatnya Lilis sudah terlelap tidur. Ia pun tidur di sebelah Lilis.


Esoknya. William dan Lilis bangun dengan cerianya. Mereka sarapan bersama di hotel. Kemudian bermain di kolam berenang yang ada dihotel tersebut. Siangnya mereka bermain banana boat di pantai. William terus melihat senyuman di wajah Lilis. William pun ikut tersenyum. Pas siang harinya, William dan Lilis makan bersama di restoran di dekat hotel. Pokoknya suasana happy terus yang ada.

__ADS_1


Empat hari pun berlalu di Bali. Saat ini William dan Lilis lagi berjemur di dekat pantai bali. Mereka sedang tidur-tiduran santai sambil berjemur.


“Sayang?” Lilis melirik ke William.


“Iya sayang.”


“Beberapa hari kita disini, ku lihat kau seperti agak kurang tenang. Apakah ada masalah?” Lilis melihat menghadap ke William.


Lilis merasakan ada yang disembunyikan William.


“Tak ada apa-apa sayang. Semuanya aman.”


“Benarkah?”


“Iya.” William tersenyum.


William tak mau Lilis jadi cemas. Sehingga ia diam saja dan menganggap tak ada apa pun.


Lilis walau merasa ada yang janggal, tapi karena William bilang tak ada apa pun, dia pun hanya diam dan percaya saja kepada William.


Hari menjelang sore. William dan Lilis kembali ke kamar hotelnya.


“Sayang. Aku mandi duluan ya..” Lilis langgsung ke kamar mandi.


“Hem...” William duduk di kursi sofa. Ia memeriksa beberapa pesan yang masuk dan juga memeriksa beberapa file perusahaan yang dikirmkan Jack untuk diperiksanya. Bagaimanapun William harus memantau perusahaannya juga.


Setengah jam berlalu. Lilis keluar dari kamar mandi. Lilis melihat William yang sibuk dengan Hapenya. Lilis tersenyum dan mendekatin sang suami. Ia memeluk William dari belakang.


“Sayang... lagi sibuk apa?”


“Oh... Sudah selesai mandinya sayang. Aku memeriksa beberapa file perusahaan dari kiriman Jack.”


“Ayolah. Itu nanti saja. Kita kan masih bulan madu. Masih ada tiga hari lagi kita di bali. Masalah kantor biar Jack saja yang urusin. Oke” Lilis tersenyum manis.


“Sini ku bantu keringkan rambutmu sayang.” William mengambil handuk kering dan mulai mengelap rambut basah Lilis. Ia mencoba mengeringkan rambut Lilis.


Lilis tersenyum karena William membantunya mengelapkan rambut basahnya. Tubuh Lilis hanya dibalut oleh handuk kecil yang melilit ditubuhnya.


William mencium pipi mulus Lilis. Ia membantu mengelap beberapa bagian tubuh Lilis yang lainnya.


Kemudian dipeluknya Lilis. Tangannya melingkar di pinggang ramping Lilis. Lilis pun melingkarkan tangannya di leher William. Keduanya melekat jadi satu.


“Aku inginkan dirimu sayang” Bisik William di telinga Lilis.


Lilis pun tersenyum dan menganggukan kepalanya. William pun langsung mengecup bibir manis Lilis. Keduanya saling memeluk dan mencium. William mengulum bibir manis Lilis dan mengusainya. Lidah keduanya saling membelit dan memilin. William membelai dengan lembut dan mencium dengan sama lembutnya. Lilis pun membalas setiap perlakukan lembut dan mesra William.


William menggiring Lilis mendekatin ranjang mereka. Disaat masih berpelukan dan mencium, William melepaskan handuk yang melilit tubuh Lilis. Handuk pun jatuh merosot ke bawah. Kini tubuh Lilis polos tanpa ada sehelai benang pun yang menutupinya.


Ciuman William turun. Dari bibir turun ke leher. Lilis mengeluarkan suara khasnya. Suara kenikmatan. Puas dengan bibir dan leher Lilis serta meninggalkan jejak kepemilikan dilehernya Lilis. William makin turun kebawah lagi dengan pemandangan dua benda kenyal yang kembar milik Lilis. William menyukai bagian tersebut. Ia memainkan bagian tersebut. Dan suara khas Lilis kembali terdengar. Lilis menikmatin setiap yang dilakukan William untuknya.


Lalu di rebahkannya tubuh Lilis di ranjang. William pun segera melepaskan seluruh pakaiannya. Hingga tubuhnya pun sama polosnya dengan tubuh Lilis. William pun naik ke ranjang. Kini ia berada di atas tubuh Lilis. Bermain sebentar dengan bagian bawah inti Lilis. Saat Lilis makin larut dan makin terbawa suasana nikmat tersebut, William pun mulai mengecup kembali bibir manis Lilis dan mulai melakukan penyatuan lagi dengan Lilis. Keduanya merasakan nikmat dan merasakan kebahagian tersebut.


Dikamar dan di ranjang tersebutlah menjadi saksi penyatuan William dan Lilis berkali-kali untuk kesekian kalinya. Adagen panas yang terus terjadi di antara William dan Lilis di ranjang tersebut terus terpatri di hati keduanya.


Beberapa saat kemudian. Kini keduanya telah selesai dan kelelahan. Dengan tubuh saling memeluk di atas ranjangnya. Hanya selimut yang dipakai untuk menutupi tubuh mereka di atas ranjang.


“Makasih sayang.” Ucap William sambil mencium puncak keningnya Lilis.


“Ya sayang.”Lilis tersenyum bahagia.


William makin mempererat pelukannya. ia ingin terus seperti ini bersama Lilis. Lilis melihat ke arah William.

__ADS_1


“Sayang... Kita belum makan malam. Kau tak laparkah?”


“Aku kan sudah memakanmu.” William tersenyum nakal.


Lilis memukul pelan dada bidang William.


“Seriuslah.”


“Sebentar lagi ya.. Aku masih lelah sehabis adegan panas tadi denganmu. 5 menit lagi ya.” Ucap William sambil masih memeluk Lilis.


“Oke. 5 menit lagi ya.”


Lima menit pun berlalu. Lilis menatap ke arah William. Dilihatnya William malah sudah tertidur. Lilis tersenyum melihatnya.


Disentuhnya kening William, lalu alis kedua mata Willam dengan perlahan dan lembut. Kemudian turun ke hidung William dan makin turun ke bawah sampai bibir dan dagu William. Kemudian di sentuhnya dada bidang William dan memeluknya.


Di kecupnya sekilas pipi William. Lilis kemudian bangkit dari ranjang. Ia kekamar mandi membersihakan dirinya. setengah jam kemudian, Lilis telah selesai mandi dan langsung berpakaian.


Ia bermaksud hendak menelepon pihak hotel untuk memesan makan malamnya. Baru saja akan menelepon pihak hotel dengan telepon hotel yang ada didekat kamarnya, Hape William malah berbunyi. Lilis menoleh ke Hape William. Ia melihat kalau Jack yang menelepon.


Lilis melihat William masih tertidur dengan pulasnya. Lilis pun berinisiatif mengangkat teleponnya William. Ia akan berkata ke Jack kalau meneleponlah nanti kembali karena William masih tertidur.


Baru saja telepon di terima oleh Lilis, suara Jack pun langsung terdengar.


“Will... Bahaya. Kedua orang tuanya Lilis dalam bahaya” Ucap Jack di seberang sana.


Jack tak tahu kalau Lilis lah yang menerima teleponnya. Jack pikir William. Lilis tentu saja syok dan kaget dengan kabar berita yang dikatakan Jack barusan.


Bersambung...


Halo-halo... Semoga tetap stay dan setia di karya ini ya kak. Dari awal sampai akhir nanti. Makasih yang selalu setia di karya ini. Thank you all :)


Kedua orang tuanya Lilis kenapa ya?? Bahaya apa yang menimpa kedua orang tuanya Lilis?? Yuk kak saksikan kelanjutannya nanti ya :D


Yuk kak... Gerakan jempolnya yak :D


Di Like yang banyak ya kakak readers semuanya... kasi Vote juga banyak-banyak ya :D


No Plagiat ya. Hargai usaha dan kerja keras seseorang dalam berkarya. Jadi katakan tidak pada meniru karya seseorang dan tidak menjiplaknya. No Plagiat. Makasih untuk yang sudah mampir ya kak. Love you all :)


Jangan lupa kasi bintang 5 nya ya kak di karya novel ini... :D


Ikutin terus kelanjutannya ya kak :D


Jangan lupa dukungannya ya kak agar semangat UP.


Di like juga semua episodenya ya kak. Tinggalkan Komennya juga :D


Di like, di vote dan klik Favorite yah sebagai tanda telah membaca dan menyukai karya ini, juga sebagai apresiasi ke karya ini.


Yuk kak buat karya ini main bersinar, ajak gitu semuanya buat like semua babnya, komen, vote serta favoritekan yak. Jangan lupa kasi bintang 5 nya ya. karya ini sedang mengikutin lomba, semoga masuk 10 besar yak. Karena itu butuh dukungan dari kakak readers semuanya. Yuk kak buat karya ini masuk 10 besar gitu hehehe.


Kalau hari minggu memang lama baru bisa UP ya kak. Karena biasanya hari minggu persetujuan dari pusat lama baru di setujui UP-nya. Dan maaf hari sabtu tidak jadi UP karena Author kelelahan dengan rutinitas yang banyak dijalanin.


Semoga kita selalu sehat Aaammiiinnn. Terima kasih untuk yang selalu setia di karya ini :D


Tembus 200 lebih like segera di UP kembali.


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2