Rafa Dan Fatar

Rafa Dan Fatar
Bab 87.


__ADS_3

“Tolong.. Tolong...”


Wenny dan Hesti saling pandang. Ada apa itu dan kenapa?


Wenny dan Hesti segera berlari ke asal suara. Ternyata suara tersebut dari Bik Minah yang ada di dapur.


“Ada apa Bik?” Tanya Hesti dengan kesal.


Hesti pun melirik ke Bik Minah. Dan yang terlihat adalah pemandangan gelas dan piring kaca pecah dan berserakan di lantai. Juga Ajeng Ayu Hartono yang nampak lemas terduduk.


“Bik.. cepat jawab ada apa?” Hesti juga bertanya.


“Ini Non Wenny dan Buk Hesti, Buk Ajeng tiba-tiba lemas terduduk.” Jawab Bik Minah.


“Terus ini kenapa pecah semua?” Wenny melototkan matanya.


“Anu... itu... itu...”


“Anu apa?? Cepat jawab... terus minta tolong apa tadi?” Hesti juga menjadi jengkel dan tak sabar.


“Buk Ajeng yang mecahin dan saya tadi teriak minta tolong karena lihat Buk Ajeng yang sedang lemas gini.” Bik Minah takut-takut dalam menjawab.


Wenny dan Hesti menoleh ke arah Ajeng. Terlihat wajah Ajeng nampak pucat sekali. ia terduduk lemas di lantai.


“Hey... kenapa kau pecahkan semua ini??? Apa gak mau makan hah?? Kalau kau gak kerja maka gak akan ku kasi makan. Enak aja makan dan tidur gratis.” Sahut Hesti kesal pada Ajeng.


“Hes... Aku sedang tak enak badan. Aku butuh istirahat. Tolong biarkan aku berbaring dan beli obat.” Ajeng meminta dengan memelas.


“Enak saja. Lalu kau berobat dengan apa?? Apa punya uang kau membelinya?? Kalau hanya minta maka tak bisa.”


“Tante Ajeng jangan macam-macam. Kalau tante Ajeng gak mau kerja biar kami buang saja Om Bram jadi tante gak capek lagi kan” Ancam Wenny.


Ajeng berusaha bangkit dan berdiri dibantu juga Bik Minah yang memegangi.


“Jangan Wen... Tolong kasiani Om dan tante. Tante hanya perlu istirahat sebentar saja Wen... rasanya memang gak enak badan.”


“Halah... alasan saja itu Wen...” Ketus Hesti.


“Sudah-sudah. Aku gak mau tahu lagi. Tante bereskan semua yang pecah dan berserakan ini. Dan kalau mau istirahat nanti saja kalau tante udah selesaikan pekerjaan tante.”


Wenny dan Hesti pun pergi dan tak mempedulikan kondisi Ajeng.


Ajeng sekarang sering disuruh-suruh oleh Hesti untuk melakukan pekerjaan pembantu. Dengan dalih kalau tak kerja maka Ajeng dan Bram tak akan dikasi makan. Namun begitu pekerjaannya terus saja banyak dan tiada habisnya. Ia harus merawat suaminya tapi juga harus jadi pembantu untuk Hesti. Padahal di rumah itu juga ada pembantu lain tapi Hesti suka sekali menyuruh-nyuruh Ajeng. Ajeng yang setiap hari terlalu lelah lama-lama terlihat makin kurus. Bahkan sekarang ia merasa tak enak badan. Ia sedang demam sebenarnya. Namun untuk istirahat dan berbaring sebentar saja tak dibolehkan oleh Wenny dan Hesti.


Bik Minah membantu memapah Ajeng dan mendudukan di kursi dekat dapur.


“Buk.. Ibuk Istirahat saja. Nanti saya aja yang bersihkan semuanya ini. Terus ini buk, untuk beli obatnya.” Bik Minah ingin membantu Ajeng. Ia menyodorkan uang 50 ribuan untuk Ajeng beli obat demam.


Ajeng meneteskan air matanya. Untuk beli obat saja ia malah dikasi oleh pembantunya.

__ADS_1


“Tak usah Bik Minah... Aku tak apa-apa. Dan ini biar aku bereskan. Kalau Hesti tahu dan Wenny tahu, mereka akan marah pada bibik. Jadi biarkan aku saja.” Tolak Ajeng. Ia ta mau Bik Minah terkena masalah karena menolong dirinya.


“Gak apa-apa buk. Ibuk lagi sakit gini. Badannya panas banget buk. Jadi istirahatlah. Masalah Non Wenny dan Buk Hesti nanti saya bakal tutupin buk. Atau nanti biar minah aja yang beli obatnya. Ibuk ke kamar aja dekat Tuan Bram. Istirahatlah dikamar.” Bujuk Minah.


Akhirnya Ajeng pun menurut. Ia berjalan ke arah kamar dan masuk kamarnya untuk istirahat. Sedangkan Bik Minah langsung membereskan dan membersihkan pecahan kaca tersebut. Setelah itu ia bermaksud untuk keluar sebentar untuk beli obat.


Di tengah ruangan saat bik Minah lagi lewat hendak keluar, ia tak sengaja mendengar percakapan Hesti dan Wenny di ruang tengah. Mereka duduk di sofa.


“Wen... sampai kapan kita terus menampung Bram dan Ajeng. Aku sudah tak tahan” Hesti sudah malas berurusan dengan Ajeng dan Bram.


“Yang satu penyakitan. Satunya lagi nyusahin. Kita buang saja Ma... atau..” Wenny menghentikan ucapannya.


“Atau apa?” Hesti melirik putrinya dengan serius.


“Atau buat saja mampus. Biar gak bikin beban. Lagian kita lagi kesulitan keuangan. Jadi mungkin itu solusi yang terbaik.” Wenny tersenyum jahat.


“Ah... ngeri Wen... jangan yang aneh-aneh lah” Hesti malas membayangkannya.


Kedua orang tersebut tak sadar kalau percakapan mereka di dengar oleh Bik Minah. Bik Minah yang mendengar tentu saja kaget. Ia segera keluar. Ia berniat menemui Lilis. Selama ini dia lah yang suka memberikan kabar ke Lilis masalah ke adaan Papa dan Mamanya Lilis.


Bik Minah segera keluar dan mencari ojek. Ia hendak segera menemui Lilis.


Setelah perjalanan cukup panjang, sampailah Bik Minah di Butik Lilis.


Saat itu Lilis masih sedang di butik sedangkan William sudah kembali ke kantor. Bik Minah yang sudah sampai ke butik Lilis, segera masuk dan mencari Lilis. Lilis nampak kaget dengan kunjungan Bik Minah.


“Non Lilis..” Panggil Bik Minah.


“Eh Bibik.. Kok kemari? Ada apa? Biasanya dari hape aja.”


“Penting Non...” Bik Minah nampak panik.


“Ada apa?” Lilis jadi mengkerutkan keningnya.


“Buk Ajeng sedang sakit. Dan tidak dibolehkan beli obat. Lalu...”Bik Minah nampak ragu.


“Lalu...” Lilis sudah was-was.


“Lalu... Sepertinya Non Wenny dan Buk Hesti ingin mencelakai Buk Ajeng dan Tuan Bram.”


“Apa!!!! Kau serius Bik?” Lilis langsung mendekatin Bik Minah dan mengguncang tubuh Bik Minah.


Bik Minah pun menganggukan kepalanya. Menandakan kalau hal ia sampaikan adalah kebenaran. Bik Minah pun menceritakan semua kejadian yang ada. Yang bik minah tahu dan dengar serta yang ia lihat. Semuanya ia ceritakan ke Lilis. Lilis melonjak kaget dan panik. Ia jadi cemas dengan kedua orang tuanya. Kalau sudah begini tak mungkin menunggu lagi. Ia harus segera bertindak.


Usai berkata semuanya. Bik Minah pamit mohon diri. Ia harus segera kembali sambil membeli obat demam. Lilis memberikan beberapa lembar uang ratusan ribu ke Bik Minah. Namun bik minah menolaknya. Tapi Lilis tetap meminta Bik Minah menerimanya. Akhirnya bik minah pun menerimanya. Ia pun lalu pamitan sama Lilis dan pergi.


Kini Lilis mondar mandir di ruangan nya. ia lalu segera menelepon William untuk memberitahukan semuanya.


***

__ADS_1


Rafa dan Fatar hendak bersiap pulang. Mereka sudah selesai belajar namun jemputannya belum juga muncul sedangkan si kembar sudah lumayan lama menunggu di gerbang sekolah.


“Kak. Telepon dong supir rumah. Kok lama banget jemputnya?? Atau telepon Papa kek atau Mama?” Fatar sudah tak sabar menunggu.


“Sabar lah. Pak Ucup mungkin sebentar lagi sampai.” Ucap Rafa yang juga menunggu supir mereka Pak Ucup namanya.


Sebuah mobil mewah berhenti di dekat Rafa dan Fatar. Rafa mengetahui mobil itu. Ia nampak malas melirik. Jendela mobil terbuka dan nampak lah anak laki-laki yang tampan yang menegur Rafa. Dia adalah Felix Anderson.


“Rafa... belum di jemput ya?? Bareng aku mau gak??? Ajak Felix.


“Gak usah. Gak perlu.” Rafa menolak.


“Kak.. kan lumayan. Yok lah. Gratis juga.” Fatar sudah hendak naik tapi Rafa mencegah.


“Gak. Pokoknya enggak. Kita tunggu supir kita aja.” Ucap Rafa kembali.


Felix mendengar penolakan Rafa, akhirnya ia turun dan keluar dari mobilnya.


“Pak supir tunggu ya...” Felix memberitahukan supirnya. Dan supirnya menganggukan kepalanya.


Kemudian Felix turun dan mendekatin Rafa. Rafa menoleh ke arah lain. Ia malas meladanin Felix.


“Rafa.. ayo ikut aku saja. Ok. Mau ya” Bujuk Felix.


“Aku bilang enggak.”


“Yah... kok gitu seh. Sama pacar sendiri lagi kok jutek amat.” Felix berkata dengan santainya.


“Loh... Jadi beneran udah pacaran ya kak?” Fatar kaget bukan main. Ia menoleh ke Rafa.


“Hah? Pacar? Sejak kapan?” Ucap Rafa menatap Felix dengan wajah yang kaget dan mulut berbentuk huruf O.


“Sejak...”


Bersambung...


Yuk kak... Gerakan jempolnya yak :D


Di Like yang banyak ya kakak readers semuanya... kasi Vote juga banyak-banyak ya :D


No Plagiat ya. Hargai usaha dan kerja keras seseorang dalam berkarya. Jadi katakan tidak pada meniru karya seseorang dan tidak menjiplaknya. No Plagiat. Makasih untuk yang sudah mampir ya kak. Love you all :)


Jangan lupa kasi bintang 5 nya ya kak di karya novel ini... :D


Ikutin terus kelanjutannya ya kak :D


Jangan lupa dukungannya ya kak agar semangat UP.


Di like juga semua episodenya ya kak. Tinggalkan Komennya juga :D

__ADS_1


Di like, di vote dan klik Favorite yah sebagai tanda telah membaca dan menyukai karya ini, juga sebagai apresiasi ke karya ini.


Tembus 200 lebih like segera di UP kembali.


__ADS_2