Rafa Dan Fatar

Rafa Dan Fatar
Bab 47.


__ADS_3

“Rafa... Fatar.. ayo jelaskan ke Mama.” Lilis menatap ke arah anak-anaknya. Wajahnya sangat serius.


Si kecil Rafa menghelas nafasnya. Ia hendak menjelaskan.


“Papa suka bawa kami jalan naik mobil Ma... Belakangan ini juga seperti itu. Namun hari terakhir kali jumpa Papa, kami gak naik mobil sama Papa. Malahan Papa pamit mau pergi jauh Ma.” Rafa mencoba menjelaskan.


Dalam hati Lilis : (William pamit dengan anak-anak namun tak ada menemuiku. Dan tak mengatakan apa pun. Terakhir kali hanya berbicara masalah hak asuh anak kepadaku. Hem..)


Lilis memandangi anaknya bergantian.


“Ya sudah. Ayo kita pulang.” Lilis mengajak anak-anaknya pulang, Rafa dan Fatar mengangguk. Mereka pulang naik mobil.


Sampai dirumah, Lilis duduk disofanya sambil termenung. Rafa dan fatar yang sudah berganti pakaian dan sudah makan juga, si kembar melirik ke arah Mamanya. Kedua bocah pun mengobrol.


“Kak... Mama nampak aneh.” Fatar memperhatikan Mamanya.


“Iya. Mama seperti banyak pikiran.” Rafa melangkah ke arah Mamanya, duduk didekat Mamanya. Sedangkan Fatar kembali kekamarnya.


“Mama..” Sapa Rafa.


“Iya nak.” Lilis menoleh ke arah Rafa.


“Mama lagi mikirin apa? Lagi mikirin Papa ya? Lagi sedih ya Ma?” si kecil Rafa bertanya dengan polosnya.


“Mama gak apa-apa nak” Lilis tersenyum tipis namun terlihat hambar.


“Mama gak bisa bohong sama Rafa. Ada masalah apa Ma?”


Tak mungkin Lilis menceritakan gundah dihatinya. Rafa masih kecil untuk mengerti semua permasalahannya. Karena tak ada jawaban dari Lilis, Rafa berkata kembali.


“Kalau kangen Papa, kita telepon saja Ma...”


“...” Lilis tertegun dan melirik Rafa. Kenapa anaknya berpikir ia kangen William.


“Kok diam Ma...”


“Mama gak apa-apa nak. Gak ada hubungannya dengan Papamu.”


“Ma... Kalau Papa ada salah sama Mama, atau buat Mama marah, di maafkan ya Ma. Mama maafkan Papa ya. Rafa maunya keluarga kita bersatu Ma. Fatar pun sama sepemikiran kayak Rafa. Kami sangat menyayangi Papa dan Mama.”


“Kok gitu ngomongnya. Apa Papa kalian ada ngomong sesuatu?”


“Gak ada Ma. Ini hanya pemikiran kami. Soalnya Papa gak pernah lagi main kerumah. Pasti Papa dan Mama lagi bermasalah. Di saat seperti ini, malah Om Panji dan Om Dimas datang dekatin Mama. Rafa dan Fatar gak mau Papa yang lain Ma. Om Panji gak kami setujui. Om Dimas juga enggak. Walau Om Dimas baik selama ini ke kita tapi Rafa dan Fatar hanya akan tetap pilih Papa William.”


“...” Lilis hanya diam sambil memandangi Rafa. Keinginan anaknya sangat ia pahami sekali.


Tentu saja Lilis paham. Karena selama ini Rafa dan Fatar sangat menginginkan sosok seorang Papa. Sudah berkali-kali anak-anaknya bertanya tentang Papa mereka, yang Lilis sendiri saja susah menjawabnya. Kini setelah anak-anaknya tahu siapa Papa kandung mereka, jelas saja anak-anaknya ingin selalu bertemu William. Dan menginginkan cinta seorang Papa. Lilis mengelus rambut Rafa kemudian di ciumnya puncak kening Rafa. Ia memeluk Rafa. Ia bisa paham dengan perasaan halus Rafa yang ingin Papa kandungnya bersama dengan mereka selamanya. Seperti sebuah keluarga utuh, layaknya keluarga normal pada umunnya.


***


Di inggris.


William sedang memandangi pemandangan di Inggris. Ia sedang duduk santai di sebuah cafe. Sambil meminum kopi hitamnya, William kemudian menatap ke sebuah box kecil. Didalam box tersebut ada sebuah cincin indah yang niatnya untuk melamar Lilis. Cincin tersebut terus dipandanginnya. Ada rasa sedih dihati William.


Seorang wanita cantik dan seksi dengan rambut panjang bergelombang serta bola mata berwarna biru datang mendekatin William. Ia duduk dihadapan William.


“Hai Will.. Apa kabarmu? Sudah lama kau tak menghubungiku. Ada apa sekarang tiba-tiba menghubungiku??” Jawab wanita cantik dan seksi tersebut.

__ADS_1


“Aku baik. Aku butuh bantuanmu Katty...” William menatap wanita cantik dan seksi didepannya. Wanita didepannya sama sekali tidak berubah. Nama wanita cantik tersebut Katty Wilson.


Katty melihat ke box kecil dan cincin berlian indah yang masih di pegang William.


“Bantuan apa? Jangan bilang kau mau melamarku ya” Goda Katty.


William tersenyum. Cincinnya di masukan kembali ke boxnya. Dan disimpan kembali ke dalam saku celananya.


“Jelas bukan.”


“Oh... ku pikir hehe.. soalnya kau memegang cincin.”


“Aku perlu bantuan mu mencarikan data Max.”


“Bukannya biasanya kau bisa melakukannya.”


“Dia berganti wajah. Aku tak tahu wajahnya sekarang. Sepertinya pun dia tahu kalau Bos V menyuruh ku untuk mengejarnya. Max sedang mengawasi ku. Karena itu aku butuh bantuanmu.”


“Hem... Lalu apa yang ku dapat.”


“Apa yang kau mau dan kau perlukan akan ku berikan.”


“Bagaimana kalau dirimu. Aku inginkan kau Will”


William tersenyum ke arah Katty. Ternyata Katty masih seperti dahulu. William dan Katty sudah lama kenal. Mereka yang sama-sama tinggal di inggris dan satu divisi tentu saja saling mengenal. Dahulu sebelum William mengenal Lilis, dan sebelum tragedi naas bersama Lilis, William dan Katty adalah sepasang kekasih. Satu divisi, satu tempat tinggal dan sama-sama dibawah naungan Bos V. Namun mereka sudah lama putus. Katty pernah mengajak William balikan. Namun William sudah terlanjur kenal Lilis dan hatinya sudah diberikan ke Lilis. Ia pun sudah punya anak dari Lilis. Jadi tak mungkin lagi ia berbagi hati dengan yang lain.


“Kau tak menjawab ku Will” Tatap Katty lurus ke William. Tangannya di tompangnya di dagunya. Katty tersenyum dengan sangat cantik.


“Serius lah Kat... Aku benar-benar butuh bantuanmu.”


“Hanya kau yang ku percayai.” William menyerahkan sebuah card yang ada angka dan huruf aneh. Card ini pernah ditemukannya pas sedang mencari Max. Sekarang ia serahkan ke Katty.


“Ini apa?”


“Coba kau cari tahu ini. Aku rasa ini bisa mengarah ke Max.”


“Baik. Ku coba. Tapi kabulkan permintaanku.”


“Apa itu?”


“Bermalam lah di tempat ku malam ini...” Katty tersenyum manis.


“Aku tak bisa...”


“Kenapa? Apa karena wanita itu..?” Senyum manis Katty menghilang. Iya. Katty tahu tentang Lilis dan William. Karena William pernah menceritakannya. Karena perihal kejadian dimasa lalu itulah, maka Katty dan William tak bisa balikan. Bahkan Katty berpikir kalau mereka putus mungkin karena Lilis.


“Kat... ini tak ada hubungannya dengan dia.” William sudah berkali-kali menjelaskan. Namun Katty masih tak percaya.


“Lalu..?”


“Aku hanya tak bisa”


“Cincin tadi untuk dia kan?”


“Iya..”


“Kau mau melamarnya?”

__ADS_1


“Dia ibu dari anak-anakku”


“Anak-anakmu?”


“Iya. Anak kembarku”


Katty cukup syok saat mendengar kalau William sudah punya anak. Dia tahu kejadian Lilis dan William. Tapi masalah anak, baru ia ketahui.


“Kau mencintainya Will? Bukan karena rasa bersalahmu kepadanya?”


“Aku benar-benar mencintainya”


Nyut. Hati Katty terasa sakit. Pasalnya selama ini, ia masih mengharapkan William. Bahkan sampai sekarang. Ia pikir mungkin suatu hari dirinya dan William bisa kembali bersama. Tapi setelah mendengar hal tersebut, nampaknya hal itu tak mungkin lagi.


“Wah.. Selamat. Ku doakan kau bahagia Will” Katty tersenyum lembut.


“Makasih Kat. Tapi sepertinya hal itu masih panjang.”


“Kenapa? Kau lamar saja dia sekarang. Kalian kan sudah punya anak bersama.”


“Dia sedang marah padaku Kat..”


“Oh... kalau begitu berikan saja cincinnya untuk ku. Kalau dia tak mau, untuk ku saja hehe...”


William hanya mengeleng-gelengkan kepalanya. Ia nampak malas dengan candaan Katty.


“Boleh ku lihat cincinnya. Tenang saja. Tak akan ku curi.”


“Oke.” William mengeluarkan kembali box kecil tersebut dan memberikannya ke Katty.


Katty menerimanya dan membukanya. Ia memandangi cincin berlian yang indah tersebut.


“Cantik dan Indah sekali. Pasti sangat mahal.” Ucap Katty sambil melihat Cincin tersebut.


“Iya... oh iya. Aku ke toilet sebentar ya. Cincinnya awas hilang.”


“Oke-oke”


William berdiri dan melangkah ke arah toilet. Katty masih saja memandangi cincin tersebut. Ia sedikit iri. Ia ingin sekali kalau William memberikan cincin tersebut ke dirinya. namun itu tak mungkin. Katty menghela nafas panjangnya.


Kemudian Hape William berdering. Ternyata Hape William ditinggalkan di meja. Katty melirik ke Hape tersebut.


“Dasar ceroboh. Kenapa meninggalkan Hape disini. Syukur saja aku yang lihat.” Ucap Katty sambil meraih Hape William. Ia langsung mengangkat panggilan tersebut tanpa melihat nama si penelepon.


“Iya. Halo..” Jawab Katty.


“Ha-halo..” Suara Lilis diseberang sana berkata sambil terbata-bata.


Bersambung...


Jangan Lupa Klik Vote dan Favorite ya kakak-kakak Readers semuanya. :)


Di like juga semua episodenya ya kak. Tinggalkan Komennya juga. Dukungan kalian akan sangat berarti agar Authornya semangat dan bisa UP cerita secepatnya. Makasih untuk yang sudah mampir ya kak. Love you all :)


 


 

__ADS_1


__ADS_2