Rafa Dan Fatar

Rafa Dan Fatar
Bab 108.


__ADS_3

Waktu terus berlalu. Hari demi hari, minggu demi minggu dan bulan demi bulan telah terlewati. Sudah 4 bulan lamanya keadaan Lilis tak ada perubahannya. Setiap hari ia hanya diam membisu. Tanpa bicara apa pun kepada siapa pun. Pandangannya kosong dan ia tak ada reaksi apa pun. Terkadang Lilis akan menjerit histeris, terkadang ia akan menangis pilu dan terkadang hanya diam membisu. William sudah menggunakan segala cara namun Lilis tak ada perubahan. William hanya bisa sabar terus di samping Lilis.


Si kembar pun sedih dengan keadaan Mamanya. Setiap si kembar bertanya, William hanya bilang kalau Mama si kembar sedang sakit. William tak ingin si kembar tahu apa yang menimpa dengan Lilis. Karena itu hanya akan membuat si kembar tambah sedih. Lagian mereka masih kecil. William bisa paham bagaimana perasaan Lilis yang hancur. Ia baru saja kehilangan kedua orang tuanya, lalu nasib naas menimpanya karena perbuatan Laura dan Philip. Pasti membekas dan membuatnya trauma serta sangat sedih. Walau Philip dan Laura sudah mati sekarang, tapi Lilis masih merasakan dampak perbuatan para orang jahat tersebut.


William pun sama sedihnya dan hancurnya melihat nasib dan keadaannya Lilis. Bahkan setiap hari William menyalahkan dirinya karena tak bisa menolong Lilis tepat waktu. Tapi yang bisa dilakukannya hanyalah terus di samping Lilis dan tetap kuat demi Lilis serta anak kembarnya.


Pagi ini William membantu memandikan Lilis. Didalam bathtub ia memandikan Lilis. Di pandanginya wajah cantik istrinya. Tapi istrinya hanya diam tanpa ada respon apa pun. Selesai memandikan, William membantu Lilis berpakaian. Kemudian memberikannya makan dan minum. Seperti itulah setiap harinya William lakukan untuk Lilis dari pagi siang sampai ke malam hingga berlanjut esoknya. Setiap hari terus begitu.


Jika Lilis sedang menjerit dan histeris, maka William datang segera menenangkannya. Terkadang William sampai terluka tapi ia tak masalah. Jika sudah tenang di baringkannya di ranjang. Jika Lilis sedang menangis pilu, dengan sabar juga William membelai lembut dan menenangkan Lilis hingga istrinya itu tertidur lelap. Namun jika hanya diam membisu tanpa respon, William akan menemanin Lilis di sampingnya sambil bercerita tentang cerita kisah cinta mereka atau hal apa pun yang bisa di ceritakannya.


Seperti itulah setiap harinya. Untuk masalah kantor dan perusahaan hanya sesekali saja William hadir, selebihnya ia serahkan semuanya ke Jack. Karena William ingin fokus bersama Lilis, menjaga dan merawat Lilis. Ia ingin tetap di dekat dan di samping Lilis. Karena William berharap suatu saat Lilis akan kembali ceria seperti dulu lagi.


Kini William dan Lilis duduk bersama di dekat kursi yang ada didalam kamar mereka berdua.


“Sayang... Lihat lah foto pernikahan kita ini. Saat itu kau sangat bahagia dan cantik. Itu adalah hari yang membahagiakan untuk kita berdua.” William menunjukan foto-foto pernikahan yang di ambil saat pernikahan mereka.


Dan respon Lilis tak ada. Ia memandang kosong.


Hape William berbunyi. William mengangkatnya.


“Halo...”


“Will... Bisakah kau ke kantor sekarang. Ada hal mendesak yang harus kau urus.” Jack yang berbicara di seberang sana.


“Baiklah. Aku segera ke kantor” William menutup teleponannya.


Ia kembali menatap istrinya.


“Sayang. Aku pergi sebentar ya. Nanti aku akan segera kembali.” William mengecup puncak kening Lilis. Kemudian membawa Lilis ke ranjangnya dan di rebahkannya.


William pun kemudian pergi.


Saat Lilis sendirian, Ia bangun dari pembaringannya. Berjalan dan menatap kembali album pernikahannya. Hatinya sebenarnya tergerak untuk berinteraksi. Namun karena rasa trauma itu masih membekas hingga ia masih belum bisa melupakan kejadian buruk tersebut. Yang berakibat akhirnya seperti ini keadaannya. Ia menangis melihat foto pernikahannya.


Si kembar baru saja sampai rumah. Mereka ingin ke kamar masing-masing. Namun langkah Rafa terhenti.


“Kenapa kak?” Tanya Fatar yang melihat Rafa berhenti.


“Aku kangen Mama yang dulu” Rafa menatap ke arah kamar Mama dan Papanya.


“Papa bilang Mama masih sakit, kita sebaiknya jangan mendekatin Mama dulu. Takutnya penyakit Mama kambuh dan mengamuk nanti”


“Aku tetap mau ketemu Mama...” Rafa berjalan ke arah kamar Papa dan Mamanya. Ia membuka pintu kamar dan masuk. Fatar ingin menghentikan sang kakak tapi Rafa sudah masuk ke dalam. Akhirnya Fatar hanya melihat dari pintu saja.


Rafa masuk dan mendekatin Mamanya. Dilihatnya Mamanya melihat album foto pernikahan dengan diam membisu. Rafa makin mendekat dan sekarang ada dihadapan Lilis. Tapi seperti biasa. Lilis tak menghiraukan orang-orang disekitarnya. Seakan tak mengenalinya.


“Mama... Rafa kangen. Mama cepat sembuh ya.” Rafa memeluk Mamanya dan menangis dalam pelukan Mamanya.


“Rafa gak tahu apa sakit Mama, tapi Mama harus sembuh Ma... Kasian Papa yang sedih setiap hari. Rafa lihat kesedihan di mata Papa. Jadi Mama harus cepat sembuh ya. Demi Papa dan juga Rafa serta Fatar. Kami sayang sama Mama. Tanpa Mama maka kebahagian kami gak akan lengkap. Kuatlah demi kami Ma. Sehatlah dan cepat sembuh Ma. Rafa kangen Mama yang dulu. Rafa sayang banget sama Mama” Ucap si kecil Rafa yang sambil terisak memeluk Mamanya.


Dan entah bagaimana hati Lilis tergerak melihat Rafa yang menangis memeluknya. Lilis menggerakkan tangannya dan memeluk Rafa.


Rafa tertegun dengan tindakan Lilis. Biasanya Mamanya itu akan diam dan tak ada reaksi. Tapi kali ini Mamanya juga memeluknya. Rafa melepaskan pelukannya. Ia menatap wajah Mamanya.


“Mama...” Panggil Rafa.


Lilis pun menoleh ke arah Rafa. Ia mengelus rambut Rafa dengan lembut. Tapi masih belum ada ucapan sepatah kata pun. Namun begitu hal ini pun sudah membuat Rafa bahagia. Rafa mengecup pipi Mamanya.


“Rafa berjanji akan menjaga dan melindungi Mama. Biar gak ada yang sakitin Mama. Rafa juga akan bercita-cita jadi dokter. Akan Rafa wujudkan cita-cita Rafa itu. Jadi jika Mama sakit, biar Rafa yang sembuhkan.” Senyum Rafa kecil ke Mamanya sambil menghapus air matanya.


Fatar yang memperhatikan dari pintu kamar meneteskan air matanya juga. Ia cepat-cepat menghapus air matanya. Fatar pun berjalan mendekatin Rafa dan Mamanya. Sesungguhnya Fatar pun sudah sangat rindu dengan Mamanya.

__ADS_1


“Mama... Fatar juga kangen sama Mama. Cepatlah sembuh ya Ma.” Peluk Fatar juga ke Mamanya.


Rafa kembali memeluk Mamanya, sehingga Rafa dan Fatar sama-sama memeluk Lilis. Ketiganya saling berpelukan.


Adegan itu terlihat oleh William. William telah kembali karena ada yang tertinggal jadi ia kembali. saat kembali William melihat adegan ibu dan anak tersebut. William bisa melihat hati Lilis mulai tersentuh karena si kembar. William pun berdoa semoga ini adalah pertanda baik untuk kesembuhan Lilis.


“Ehem.. Rafa... Fatar... kalian sudah pulang sekolah?” William bertanya ke anak kembarnya. Rafa dan Fatar melepaskan pelukannya dan menoleh ke William.


Rafa dan Fatar berjalan menuju William.


“Iya Pa. Kami baru aja tiba dirumah. Papa dari mana?” Tanya Rafa.


“Maaf Pa... Kami masuk dan nemui Mama” Ucap Fatar pula.


“Iya. Tak masalah. Papa tadi dari luar, mau ke kantor, ada yang tertinggal jadi kembali lagi ke rumah. Kalau kalian mau terus menemanin dan nemui Mama juga gak masalah. Sekarang gantilah seragam sekolah kalian. Lalu makan ya.”


“Iya Pa...” Ucap si kembar bersamaan.


Si kembar lalu pergi keluar kamar dan melaksanakan perintah Papanya tadi. Kini William melihat ke arah Lilis. Ia mendekatin Lilis.


“Sayang... Kenapa duduk lagi disini? Bukankah tadi di ranjang. Apakah melihat album ini?” William menoleh album foto di dekat Lilis. Tapi Lilis masih diam dan tak menjawab.


William mengambil album foto dan menutupnya. Serta meletakannya di atas meja kecil yang ada didekat mereka. Lalu William kembali membawa Lilis ke ranjang dan merebahkannya.


“Apa tadi hatimu tergerak melihat si kembar? Rafa dan Fatar anak kita... Kau masih ingatkan dengan si kembar anak kita berdua. Aku harap kau segera sembuh sayang. Sekarang istirahatlah disini.” William menyelimutin tubuh Lilis dengan selimut.


Ia lalu keluar dan menutup pintu kamar. William mengambil berkas yang hendak ia bawa ke kantor. Di ruang tengah William melihat si kembar kembali.


“Loh... kok disini?”


“Pa... Rafa mau belajar ilmu bela diri boleh Pa.. Kayak karate gitu Pa”


“Iya Pa. Fatar juga mau ikut belajar.”


“Buat apa kalian belajar karate? Bukannya kalian sudah banyak eskul. Lagian kalian kan harus giat belajar”


“Mau buat jaga Mama dan Papa. Jadi kalau ada orang jahat maka kami akan bisa menjaga papa dan mama” Rafa ingin sekali belajar karate.


“Iya Pa. Bener kata kak Rafa” Fatar pun sepemikiran sama dengan kembaranya.


“Kalian masih terlalu kecil. Lebih baik fokus dengan belajar. Tapi nanti Papa pertimbangkan dan pikirkan permintaan kalian ini ya.” William tersenyum ke anak-anaknya.


“Iya pa.” Si kembar menjawab bersamaan. Kemudian pergi ke kamarnya masing-masing.


William lalu bergegas pergi karena Jack sudah menunggunya.


Sore hari tiba. Di sore itu si kembar baru selesai mengerjakan PR yang diberikan oleh gurunya. Setelah makan siang tadi mereka langsung mengerjakan PR hingga sampai sore hari barulah selesai. Soalnya tugas sekolahnya banyak sekali. Mereka berdua sedang di ruang keluarga.


“Oke. Selesai” Ucap Rafa.


“Punya ku juga selesai kak.” Ucap Fatar.


“Good job” senyum Rafa dan di balas senyuman juga oleh Fatar.


Fatar kemudian berlari-lari. Sedangkan Rafa hanya mengelengkan kepalanya.


“Hey... Jangan lari-lari Fatar. Bahaya tau.”


“Gak apa lah kak. Orang rumah luas gini hehehe” Fatar berlari menuju kamarnya sendiri. Namun tiba-tiba Fatar tersandung hingga jatuh terguling-guling dari tangga.


“Fatar...!!!” Teriak Rafa.

__ADS_1


Rafa mendekatin Fatar. Fatar sudah pingsan dan luka-luka. Rafa tentu saja panik.


Dan Lilis mendengar suara teriakan Rafa. Hatinya kembali tergerak. Ia bangkit dari ranjangnya dan keluar dari kamar.


Ia berjalan ke arah suara Rafa yang sedang menangis. Di saat itu Lilis melihat Rafa yang menangis dan Fatar yang tergeletak luka-luka dan ada darah di kepalanya Fatar.


Sontak Lilis pun tergerak. Hatinya tergerak melihat anaknya sedang terluka. Hingga akhirnya ia berlari ke arah anaknya.


Rafa masih di samping Fatar. Memanggil nama Fatar dan menggoyang-goyangkan tubuh Fatar.


“Bangun Fatar... Fatar... Hiks...Hiks...” Ucap Rafa dengan isak tangisnya.


Lilis sampai di hadapan anak-anaknya.


“Fatar...!!!” Seru Lilis. Ia lalu langsung memeluk tubuh Fatar.


Rafa tertegun dan kaget melihat reaksi Mamanya.


Kegaduhan tersebut terdengar juga oleh beberapa pembantu rumah tangga. Mereka datang mendekat dan melihat. Dan salah seorang pembantu langsung menelepon majikannya. Yaitu William.


Bersambung...


Apa yang terjadi selanjutnya ya???


Yang suka dengan karya ini, ikutin terus kisahnya sampai akhir ya kakak readers semuanya :)


No Plagiat ya. Hargai usaha dan kerja keras seseorang dalam berkarya. Jadi katakan tidak pada meniru karya seseorang dan tidak menjiplaknya. No Plagiat. Makasih untuk yang sudah mampir ya kak. Love you all :)


Karya ini sedang mengikutin lomba, jadi mohon dukungannya terus ya kak.


 


 


Cara mendukungnya gampang yaitu :


1. Like semua episodenya / bab-nya ya kak. Dibaca juga semua babnya :)


2. Klik Vote setiap hari dan setiap saat ya kak. Dan setiap hari senin juga :D


3. Klik Favorite juga ya kak


4. Selalu berikan dukungannya ya kak setiap saat :D


5. Tinggalkan komen ya kak :)


6. Kasi bintang 5 ya kak untuk karya ini sebagai menyukai karya ini dan apresiasi ke karya saya ini.


Makasih semuanya. Dukung terus karya ini ya kakak readers semuanya, biar Author semangat UP ceritanya. Love you all  :)


Yuk kak buat karya ini makin bersinar, ajak gitu semuanya buat like semua babnya, komen, vote serta favoritekan yak. Jangan lupa kasi bintang 5 nya ya. karya ini sedang mengikutin lomba, semoga masuk 10 besar yak. Karena itu butuh dukungan dari kakak readers semuanya. Yuk kak buat karya ini masuk 10 besar gitu hehehe.


Yuk... Vote yang banyak dan Like yang banyak yak :D Makasih buat semuanya.


Tembus 200 lebih like segera di UP kembali.


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2