
Di dapur Tania hendak mengambil air. Ia ingin minum. Dan betapa kagetnya ia melihat sesosok Hitam di dapur dan ia pun berteriak..
“Aaaaaaa......”
Lilis dan William yang baru masuk kamar kembali keluar kamar dan segera menuju asal suara...
“Aaaaaa....” Tania berteriak dan Jack pun kaget melihat Tania serba Putih..
“Hah Hantu ...!!!” seru Jack.
Lilis dan William menghidupkan lampu dapur.
Ternyata sosok hitam yang dilihat Tania adalah Jack. Dan sosok putih yang dilihat Jack itu adalah Tania.
“Kau rupanya. Kenapa serba putih begitu. Kukira hantu tadi..” Jack terkaget rasanya.
“Kau juga. Kupikir apalah pakai serba hitam. Kirain hantu atau setan tadi...” Tania lemas rasanya. Dan lega ternyata itu masih manusia yang dilihatnya.
William dan Lilis sudah tertawa terkekeh dan terkikik karena harus menahan tawanya.
“Kenapa kalian?” Tanya Tania heran melihat Lilis dan William.
“Aku rasa kalian sama saja. Yang satu serba hitam dan satunya serba putih. Kalian berdualah hantu nya haha” Ujar William ke Tania dan Jack.
Jack memang memakai kaos hitam dan celana hitam karena gelap jadi ia seperti serba hitam. Ditambah Tania pakai selimut putih dan wajah dengan masker putih menambah suasana ia seperti hantu juga. Bagi William dan Lilis ini adalah hal yang sangat lucu. Jack dan Tania yang menyadari penampilan mereka berdua pun akhirnya sadar dan juga ikut terkekeh.
“Sudah lah kita biarkan mereka Lis. Kita ke kamar saja tidur. Sudah malam.” Ajak William.
“Iya sayang” Lilis menghapus air matanya. Karena tertawa sampai mengeluarkan air mata.
Syukur saja si kembar dengan keributan yang ada tidak terbangun dari tidurnya. Lilis dan William kembali ke kamarnya masing-masing. Tinggallah Tania dan jack yang ada di dapur.
“Kau sedang apa?” Tanya Tania ke Jack.
“Baru saja ambil minum. Dan kau mau apa?” Jack pun bertanya.
“Aku haus. Jadi mau minum juga. Dikamar tak membawa air jadi kedapur mencari air.” Tania menjelaskan.
“Oh...” Jack mengambilkan gelas bersih dan menuangkan air kemudian memberikannya ke Tania.
“Untuk ku?” Tanya Tania.
“Iya..”
“Makasih” Tania menerimanya dan meneguk air sampai tandas.
Jack yang sudah minum ingin kembali ke kamarnya. Tania yang takut sendirian di dapur karena malam pun jadi ia memanggil Jack.
“Tuan Smith... Tunggu aku.”
“Kenapa?” Jack menoleh.
“Aku takut sendirian.”
“Tak perlu takut. Tak ada yang perlu ditakutkan. Malah kau yang menakutkan.”
“Kau...” Tania jadi cemberut.
Jack berjalan dan mematikan lampu dapur. Tania yang takut langsung berlari.
“Eh tunggu...” Seru Tania.
Disaat Tania berlari, ia malah menabrak Jack yang ada didepannya. Tania hampir jatuh, tapi Jack segera menangkap Tania hingga jatuh ke pelukan Jack. Tania melihat ke Jack dan Jack pun melihat kearah Tania. Kedua wajah bertemu dengan jarak yang dekat. Hati Tania dag dig dug tidak karuan. Ia merasa ada yang aneh di hatinya. Jack segera menyeimbangkan tubuh mereka berdua. Ia melepaskan Tania dari pelukannya.
“Kau tak apa-apa. Hati-hatilah. Jangan berlari sembarangan” Jack menasehatin.
“Iya... Iya... bawel ah..” Tania pun berlari kembali dan kabur masuk kamarnya.
Jack hanya menggelengkan kepalanya. Ia pun segera kembali ke kamarnya dan tidur.
Didalam kamar Tania nampak gelisah. Di atas ranjangnya ia tak bisa tidur. Hatinya masih saja berdegup kencang.
“Kenapa aku? Masak iya aku berdebar karena Pria itu? Aku gak mungkin jatuh hati ke Tuan Smith kan... gak... gak mungkin...” gumanan dan bantahan Tania ke dirinya sendiri.
“Tapi kalau dipikir-pikir Tuan Smith ganteng juga kok...” Tania lalu tersenyum.
__ADS_1
“Eh... apaan ini. Kok jadi mikirin dia. Udahlah tidur. Tidur Tania... Tidur Tania..” Ucap Tania ke dirinya sendiri. Malam semakin larut dan lambat laun pun ia tertidur.
Esok harinya...
Semuanya bangun dan nampak segar. William mengajak semuanya berlayar dengan kapal pesiarnya. Semuanya nampak senang. Tadi pagi mereka sarapan hanya dengan telur ceplok, roti selai dan susu. Jadi William berniat memancing dan ingin makan ikan nanti siang. Kapal pesiar di berhentikan di tengah lautan. William dan Jack mulai memancing ikan. Sedangkan Lilis dan Tania berjemur di atas dek Kapal pesiarnya dengan kursi santai yang mereka duduki. Dan untuk Rafa serta fatar mereka sibuk berfoto-foto dan mengambil beberapa pemandangan yang menurut mereka indah dan bagus.
“Will... Apa kita akan dapat ikan ditengah laut ini” Jack tak pernah memancing jadi ia kurang yakin.
“Ntahlah Jack. Tapi aku ingin memancing sekalian kita semua menikmatin keindahan laut ini. Kan asik kan.” William menghirup udara segar di lautan.
“Kalau tak dapat ikannya bagaimana?”
“Kalau tak dapat, kita beli saja di restoran yang ada di hotel di pulai ini”
“Itu namanya bukan mancing”
“Sudah lah Jack. Tak usah dibuat repot. Dan jangan sebut namaku. Nanti mereka dengar.”
“Kau juga menyebut nama ku” Jack menyipitkan matanya.
“Oh iya iya... hehe. Kita lanjut mancing saja. Aku mau merasakan suasana mancing” William belum pernah memancing ikan.
Di tempat Tania dan Lilis yang sedang berjemur. Tania sibuk melihat ke arah Jack. Sepertinya kelakuannya itu diperhatikan oleh Lilis.
“Kenapa Tan?”
“Apanya Lis”
“Dari tadi kau melirik ke arah Tuan Smith ya... kenapa?”
“Gak apa-apa...”
“Bener... ntar kau suka ya dengannya” ledek Lilis.
“Please deh... gak lah... kelihatannya ia lebih tua.”
“Dia berumur 30 tahun... sudah cukup matang untuk berkeluarga.”
“30 tahun? Benarkah?” Tania agak kaget.
“Kenapa? Tua sekali ya...”
“Kalau tak salah Yudha 28 tahun. Dia pernah bilang gitu. Kenapa tadi kau bilang Tua. Sekarang kau bilang tampan. Jangan-jangan.... kau suka tuan Smith ya” seru Lilis.
“Eh... gak kok.”
“Ayo ngaku saja. Dari tadi kau melirik ke arahnya.” Lilis menyelidiki Tania.
“Enggak kok...” Tania membantahnya.
Lilis tak mau banyak berdebat. Ia diam. Jadi ya sudah dibiarkannya saja.
Rafa dan Fatar mendekatin William. William melihat kedatangan sikembar lalu tersenyum.
“Papa.. sudah dapat ikannya?” Rafa datang mendekat dan duduk disebalah William.
“Ikannya mana Papa?” Fatar juga duduk disebelah William.
“Belum dapat... hehe Papa belum dapat ikannya.”
Kemudian alat pancingnya bergerak. Sepertinya seekor ikan memakan umpannya. William menarik dan cukup susah ditariknya. Setelah berhasil ternyata seekor ikan besar telah ia dapatkan. Rafa dan fatar kegirangan.
“Hore... Papa berhasil...” Rafa tepuk tangan.
“Keren Pa... Ikannya besar” Ujar kata Fatar.
William senang sekali. Ia berhasil memancing. Jack sedikit prustasi. Karena umpannya tak ada ikan yang memakannya. William masukan ikannya kedalam tong kecil yang ada airnya. Kemudian mendekatin Lilis.
“Sayang lihat. Aku berhasil memancing” William menunjukan Ikan hasil pancingannya.
“Wow besar sekali. Untuk kita pasti cukup.” Ujar Lilis ke William.
“Papa hebat kan Ma...” Rafa tersenyum.
“Ikannya sungguh besar.” Fatar kasi jempol dua.
__ADS_1
Mereka berempat kegirangan sedangkan Jack agak suram disudut buritan kapal. Umpannya belum dimakan ikan. Tania mendekatin.
“Kenapa?? Gak dapat Ikan ya?” Tania menghampiri Jack.
“Begitulah... Agak kesal juga.” Jack jadi kesal.
“Hehe... Jangan kesal. Kalau tak dapatkan juga tak apa-apa” Tania tersenyum sangat manis.
Jack menoleh ke Tania dan melihat senyum manis Tania. Jack terpukau dengan senyum manis Tania. Tania terlihat cantik. Untuk sekilas ia terpesona. Ia palingkan wajahnya melihat ke lautan. Untuk menghilangkan rasa aneh yang dirasakannya.
“Kenapa? Kok malah lihat ke lautan.” Tania memiringkan kepalanya.
“Tak apa.”
Alat pancing Jack bergerak-gerak. Dan seekor ikan memakan umpan Jack. Jack girang dan mulai menarik. Kemudian terlihat seekor ikan yang cukup besar hasil pancingannya. Jack senang. Tania tersenyum. Ikannya Jack masukan ke sebuah ember.
“Hore... berhasil juga.” Tania menepuk bahu Jack pelan.
“Iya.” Jack pun senang.
“Eh... Maaf” Tania menarik tangannya. Jack menatapnya dan mengernyitkan keningnya.
Lilis menatap Jack dan Tania.
“Sayang.. kurasa ada sesuatu antara Tania dan Tuan Smith” tebak Lilis tiba-tiba.
“Masak iya. Pria itu sama sekali tak pernah jatuh cinta. Wanita mana pun tak ada yang bisa meluluhkannya. Selain aku nomor satu tertampan. Pria itu nomor dua tertampan di I.S” William membanggakan ketampanannya. William memang sangat tampan.
“Idih.. pede bangetnya. Kenapa kau menanggilnya Pria itu. Dia Bos mu sayang.”
“Oh iya ya... hehehe”
Siang itu mereka makan siang dengan ikan hasil tangkapan mereka. Kemudian mereka kembali bersenang-senang karena itu hari terakhir mereka berlibur. Berselancar. Main banana boat. Berenang. Semua hal yang menyenangkan. Bahkan mengambil foto untuk kenangan.
Setelah puas berlibur dipulau tersebut. Mereka kembali pulang. Malam hari baru mereka sampai dirumah masing-masing. William membawa masuk Rafa dan Fatar yang sudah terlelap tidur dan membaringkannya di kamarnya yang ada dirumah kontrakan Lilis. Lilis menunggu di ruang tamu. William pun menghampiri Lilis.
“Sudah malam aku pulang Lis... Istirahatlah.. esok kita harus kembali masuk kantor” William hendak pamit pulang.
“Tunggu... ku bantu bawakan Kopermu ya sayang. Kau pasti capek kan Yank” Lilis membantu membawakan kopernya William.
“Gak usah Lis...”
“Tak apa”
Lilis membawa koper. William mengikutin. Lilis mengunci pintu rumahnya dahulu baru berjalan kesebelah rumahnya. William pun mengikutin. William membuka pintu rumah yang disebalh rumah Kontrakan Lilis.
“Lis... Masuklah.” Ajak William.
“Oke.” Ini kali pertama Lilis masuk ke tempat William.
“Ini..” William memberikan kunci cadangannya.
“Kok kunci?”
“Ini kunci cadangan rumahku. Kalau ada apa-apa peganglah satunya ya”
“Oke” Lilis menerimanya.
“Aku mandi dahulu. Badan terasa lengket. Koper ku letakkan saj dikamar. Nanti aku yang rapikan.”
“Oke” Lilis membawa koper masuk kekamar.
William pergi mandi. Setelah selesai meletakkan dekat kamar, Lilis melihat sekeliling kamar William yang nampak sederhana dan tak begitu banyak perabotan atau pun barang. Lilis duduk diranjang tidur William. Ia lalu teringat, oh iya Rafa dan fatar tak boleh ditinggalnya terlalu lama. Ia pun buru-buru berjalan dan kaki nya tersandung sebuah kotak dibawah kolong ranjang. Lilis menoleh dan berjongkok melihat isinya. Kotaknya terbuka. Ia melihat sebuah Dompet Hitam.
“Sepertinya Dompet Hitam ini dulu aku pernah punya...” Gumam Lilis.
Bersambung...
Jangan Lupa Vote dan Klik Favorite ya kakak-kakak readers semua. Klik like dan silahkan tinggalkan komentarnya ya kak. Biar mendukung Author dalam berkarya. Biar semangat untuk UP ceritanya kak :) makasih untuk yang udah mampir ya kak :) :) :)
__ADS_1