
“Kekasih??? Sempat jadi kekasih???” Kening Lilis makin berkerut.
Waduh, Lilis bisa marah lagi nih. Batin William mengeluh dalam hatinya.
Lilis menatap tajam ke William. William hanya berdeham dan kembali menghabiskan sarapannya lalu meminum kopinya.
“Anak-anak kalian di antar oleh pak supir ya. oke. Cepat habiskan makan dan minumnya.” Perintah Lilis.
“Baik Ma...” Ucap si kembar bersamaan.
Sarapan pun selesai. Si kembar pergi sekolah diantar oleh supir. Sedangkan Lilis sudah bersiap hendak kebutiknya. William di depan menunggu Lilis. Dan Katty bersama William.
“Mau pergi sayang?” William bertanya saat Lilis sudah muncul di teras depan rumah.
“Iya. Mau ke butik.” Lilis menjawab dingin.
Dilihat Lilis, Katty ada di samping William.
“Kok belum berangkat ke kantor? Nungguin siapa? Aku pergi dengan mobil ku sendiri saja” Lilis sudah mau melangkah mendahului William.
William meraih tangannya Lilis. Lilis berhenti dan menoleh William.
“Lis..”
“Iya. Ada apa lagi?”
“Aku... Aku dan Katty hanya teman. Itu serius. Kau tak marahkan” William ada rasa gelisah dirasakannya.
“Terserah aja Will... Apa hubungan kalian juga sudah tak peduli aku. Aku mau pergi. Urus saja urusanmu” Lilis nampak ketus.
Katty yang melihat dari samping, ia lalu mulai buka suara.
“Lis... Maafkan aku. Aku tadi hanya iseng. Maaf kalau becanda ku kelewatan. Kami memang hanya teman” Katty merasa tak enak hati. Ia mencoba menjelaskan ke Lilis.
Lilis hanya diam. Bercanda katanya. Hal seperti itu harus dibuat becandaan kah. Sedangkan Lilis baru mengenal Katty. Jadi mana bisa di anggap nya hanya becanda. Itulah keluh Lilis dalam hatinya.
William melihat Lilis hanya diam, mulai berbicara kembali.
“Lis... Nanti siang kita Fitting baju pengantinnya kan. Nanti siang aku pasti meluangkan waktu ku. Aku janji sayang.”
“Hem...”
“Nanti ku kabarin dari Hape. Oke sayang”
“Hem...” Lilis lalu melangkah dan memasuki mobilnya kemudian melanjukan mobilnya meninggalkan William dan Katty.
William hanya menghela nafasnya.
“Sabar ya Will... Dengan wanita memang harus lebih banyak pengertian.” Katty memandang ke arah William.
“Yah mau gimana lagi. Tapi kenapa hanya kau yang bisa mengerti aku Kat.” William melirik ke Katty.
“Mungkin karena kita sudah lama kenal hehe... Sudahlah. Jangan bersedih atau pun marah.”
“Iya. Kalau gitu ikutlah denganku.”
“Oke.”
William dan Katty menaiki mobil yang sama dengan William. Pergilah mereka bersama-sama ke kantor William.
Satu jam kemudian sampailah Lilis di butiknya. Karena jalanan macet ia membutuhkan waktu yang lama ke butik. Sampai di butik ternyata Jack dan Tania sudah ada dibutik. Mereka edang mencoba pakaian yang akan dikenakan mereka berdua di acara pernikahan Lilis.
Lilis pun menyapa Jack dan Tania.
“Wah... Cocok sekali untuk kalian berdua. Tak ku sangka bagus sekali.” Puji Lilis ke Tania dan Jack.
“Makasih. Bajunya juga cantik. Makasih ya udah buatkan baju sepasang untuk ku dan Jack.” Tania nampak bahagia.
Lilis telah membuatkan dan menyiapkan pakaian untuk Tania dan Jack. Tania mengenakan dress panjang dengan warna gold disertai bordiran yang cantik dan Jack memakai stelan Jas gold dan celana panjang gold juga di padu warna kuning yang lembut. Membuat sepasang kekasih ini nampak seperti Wow dan Wah sekali.
“Tapi aku hendak mengenakan setelan jas hitam saja Tania.” Keluh Jack.
“Hey... ini acara pernikahan sahabatku dan orang terdekat kita, masak kau selalu pakai setelan Jas hitam. Harus beda dong sayang. Pakai ini saja. Titik.”
Jack akhirnya hanya pasrah dan menurut. Lilis tersenyum melihat kedua sejoli tersebut. Namun sedetik kemudian ia kembali sendu.
Tania memperhatikan sahabatnya.
__ADS_1
“Kenapa kau Lis...?”
“Tak apa-apa.”
“Jawab yang jujur” Tania mendesak.
Akhirnya Lilis pun bercerita.
“Sialan. Kok wanita itu dibawa ke rumah seh. William gimana seh?” Dengus Tania setelah mendengar Lilis bercerita. Ia nampak kesal.
“Ntah lah Tan. Aku tak mengerti. Siang ini dia janji mau fitting baju denganku. Kita lihat saja, apa kali ini William menepatin janjinya. Tidak melupakan seperti semalam.” Lilis duduk di sofa nya.
Tania dan Jack ikut duduk di sofa juga.
“Setahu ku William tak pernah membawa wanita lain masuk ke rumah keluarga Smith. Kecuali para pembantu dan pelayan yang bekerja, tak ada yang spesial yang dibolehkan masuk ke rumah Smith. Dan hanya kau Lis yang dibolehkan setahu ku.” Ucap Jack dihadapan Lilis dan Tania.
Hati Lilis jadi kebat kebit. Tak karuan rasanya.
“Nah.. tu kan bener. Pasti ini ada apa-apa.” Tania menerka.
“Kita jangan berasumsi dulu sayang” Jack menatap Tania.
“Loh... kan udah jelas. Selama ini hanya Lilis kan. Kenapa sekarang si Katty malah di bolehkan masuk dan tinggal di rumah Smith. Aneh kan. Pasti ada apa-apa Lis” Tania semakin sengit berkata.
Lilis menghela nafas panjang.
“Oh iya. Aku pernah ingat. Dulu William berkata kalau ia pernah punya kekasih di Inggris. Mungkin saja itu Katty. Tapi aku yakin dia dan Katty sudah tak ada apa-apa lagi. Hanya kau Lis yang ada dihati dan di hidup William” Sambung Jack kembali.
“Sama aja lah itu. Mau masih ada hubungan kek. Atau sudah mantan kek. Gak seharusnya William bawa Katty ke rumahkan... Gak betul itu.” Tania sama bersikeras dengan pendapatnya.
“Benarkah itu Jack. William dulu punya kekasih di Inggris. Tadi pagi Katty juga bilang kalau mereka sempat jadi kekasih.” Lilis jadi muram.
“Nah... kan...” Tania berseru.
“Sudah lah Lis. Percaya lah dengan William Lis. Kalian hendak menikah jadi jangan berpikiran hal-hal yang tidak- tidak.” Ucap Jack ke Lilis. Kemudian Jack menoleh ka Tania : “Oh iya, bajunya aku segera lepas ya Tan. Aku mau berganti pakaian ku tadi. Aku mau ke kantor sekarang” Jak melihat arlogi di tangannya. Sudah waktunya ia masuk kantor.
Tania menganggukan kepalanya. Sedangkan Lilis hanya diam melamun. Dan Jack pun segera berganti pakaian dan langsung kekantor.
Kini Tania dan Lilis yang berdua di Butik Lilis selain para staf pekerja Lilis tentunya. Namun para stafnya Lilis sibuk dengan pekerjaan mereka. Ada yang merapikan baju-baju di patung manikin. Ada yang sedang menyapu dan mengelap kaca dan ada yang sedang memeriksa pembukuan.
Lilis dan Tania masih duduk di sofa.
“Sudah lah Tan. Aku rasanya capek.”
“Dari pada kau yang stres, bagusan kau tanya ke William langsung saja Lis. Kau tegas saja ke William” Saran Tania ke Lilis.
“Hem... Baiklah.”
Di kantor. Jack yang sudah dikantor langsung masuk ruangan dan terkejutnya Jack melihat William dan Katty ada didalam ruangan. Katty sedang duduk dikursi Presdirnya William dan mengotak atik Laptopnya Willliam. Sedangkan William sibuk memeriksa berkas di sofanya.
Jack duduk di dekat William. Ia bertanya ke William.
“Kenapa Katty juga ada dikantor dan ruangan ini?”
“Dia ku suruh mengerjakan tugas lain.”
“Prihal apa? Jika ada hal lain bukan kah aku yang biasanya kau suruh.”
“Itu beda Jack. Katty bukan mengurusin masalah perusahaan. Kalau kau mau bantu. Sebaiknya bantu aku memeriksa semua berkas ku ini.”
“Oke. Baiklah.” Jack pun menurut saja.
***
Siang itu Lilis dan William sudah janjian jumpa di sebuah cafe di dekat Butik Lilis. Lilis sudah tiba lebih dahulu. Ia menunggu sambil meminum Jus melonnya. Tak lama kemudian William telah tiba. William pun langsung duduk di dekat kursi yang satu meja dengan Lilis.
“Maaf sayang agak lama. Tadi sekalian rapat bulanan dengan para pegawai.” William mencium pipi Lilis sekilas dan kemudian duduk.
“Hem...”
William mengkerutkan keningnya pasalnya Lilis terlihat agak dingin.
“Sayang. Kita mau langsung fitting aja atau makan siang bersama dahulu.”
“Terserah saja.”
“Kok gitu sayang.”
__ADS_1
“Entahlah”
William meraih tangan Lilis sebelah kanan dan di genggamnya erat.
“Apa masih kejadian tadi pagi ya...?”
“Entahlah”
“Bisa katakan hal lain selain entahlah Lis”
“Katakan hal lain saja”
“Lis... Aku terlalu lelah Lis.. jangan seperti ini ya sayang.”
“Oke. Kalau begitu ayo katakan sejujurnya. Apa hubungan mu dengan Katty? Apa benar tadi pagi itu hanya iseng saja seperti yang Katty katakan?”
“Sayang...” William menatap Lilis lekat-lekat. Namun yang di tatap malas menatap balik.
“Katakan Will... Aku mau kejujuran. Jack ada berkata padaku kalau kau di inggris pernah punya kekasih. Lalu apa kau masih berhubungan dengan nya? Apa dia adalah Katty?” Kini Lilis menatap tajam ke William.
William menghela nafasnya.
“Baiklah. Aku akan jujur. Aku bukan bermaksud menyembunyikannya. Aku hanya merasa kalau hal ini tak perlu di bahas. Karena apa? Karena kita hendak menikah. Dan masa lalu hanya masa lalu bagi ku. Iya benar. Dulu aku punya kekasih di Inggris. Dan orang itu memang Katty yang kau kenal. Tapi aku sudah lama putus dengan Katty. Sekarang kami hanya teman Lis. Kenapa aku meminta nya tinggal bersama kita, karena dengan penjagaan ketat di rumah maka keselamatan Katty terjamin. Katty juga di incar para musuh ku. Katty berkali-kali menolong ku dan aku banyak hutang budi padanya. Jadi apa salah aku memberikan tempat tinggal dan perlindungan untuknya. Lis... percayalah pada ku. Aku dan Katty murni hanya sebatas teman.”
“Seharusnya tak perlu kau tutupin Will... Jika lebih terus terang mungkin aku lebih bisa menerimanya.”
“Maaf sayang. Aku hanya merasa masa lalu perlu di lupakan saja.”
“Sudahlah kalau begitu. Lalu ada perihal apa Katty kemari dan menemui mu?”
“Katty dan aku adalah rekan kerja dulu di divisi V. Kami bekerja di divisi yang sama Lis. Saat ini kami sedang mencari penjahat. Dan misi Bos V terakhir harus ku tuntas kan segera. Karena itu Katty bersama kita.”
“Hem. Baiklah. Kalau begitu. Aku akan menerimanya dirumah.”
“Terima kasih sayang. Kau memang wanitaku yang terbaik” William tersenyum hangat.
Lilis pun mulai menghangat kembali.
“Jadi kita mau makan atau langsung ke butik saja.”
“Ke butik saja ya. Oke.”
“Oke. Nanti kita makan siang saja di butik mu. Gimana?”
“Baiklah.”
Lilis dan William bangkit dari duduk nya. mereka hendakmembayar ke kasir dan beranjak pergi dari tempat tersebut. Namun saat berbalik William malah bertabrakan dengan seseorang.
William terkejut melihat orang yang tak sengaja ia tabrak. Lilis terheran dengan ekspresi William.
“Eh... Kau William. Apa kabar?” Sapa Laura. Iya. Laura lah yang di tabrak William dengan tak sengaja.
Lilis mengkerutkan keningnya. Siapa wanita ini? Kelihatannya sangat mengenal William. Dan kenapa wajah William agak aneh? Keluh Lilis dalam hatinya.
Bersambung...
Loh... Loh... Kok Laura malah tiba-tiba muncul seh??? Mau ngpain lagi tu wanita sinting tersebut???
Selalu setia pada karya ini ya kak readers semuanya :D
No Plagiat ya. Hargai usaha dan kerja keras seseorang dalam berkarya. Jadi katakan tidak pada meniru karya seseorang dan tidak menjiplaknya. No Plagiat. Makasih untuk yang sudah mampir ya kak. Love you all :)
Jangan lupa kasi bintang 5 nya ya kak di karya novel ini... :D
Ikutin terus kelanjutannya ya kak :D
Jangan lupa dukungannya ya kak agar semangat UP.
Di like juga semua episodenya ya kak. Tinggalkan Komennya juga :D
Di like, di vote dan klik Favorite yah sebagai tanda telah membaca dan menyukai karya ini, juga sebagai apresiasi ke karya ini.
Tembus 200 lebih like segera di UP kembali.
__ADS_1