Rafa Dan Fatar

Rafa Dan Fatar
Bab 24.


__ADS_3

Dilayar HP tertera nama Bos V


William mengangkat HP-nya.


“Halo...” Jawab William.


“Halo Fatar...” Sahut Bos V di seberang telepon.


“To the point Bos..” Pinta William.


“Ok. Informasi yang di dapat, kalau saat ini Max sering muncul di Club 21. Coba segera kau selidiki. Ingatlah perjanjian kita.”


“Baik Bos V. Ku harap kau menepatin janji kalau ini yang terakhir.”


“Fatar, kau mengenal ku dengan baik kan”


“Yes Bos”


Telepon di tutup William. Malam itu ia yang awalnya hendak langsung tidur tak jadi. Ia berganti pakaian kemudian keluar dan melajukan mobilnya menuju Club 21.


Sesampai ditempat William segera masuk ke Club. Banyak orang yang sedang berdansa di lantai dansa juga ada yang minum mabuk-mabukan.


William duduk dekat bartender.


“Mau pesan apa Tuan?” Bartender bertanya ke William.


“Long Island Iced Tea Mocktail satu saja”


“Ok.” Bartender pun membuatkan minumannya.


“Silahkan Tuan.” Bartender menyajikan di depan William.


“Thanks” William meminumnya.


William melihat sekeliling. Tapi tak ada orang yang mencurigakan. Ia lalu menoleh ke Bartender.


“Bro... Kau mengenal seseorang bernama Max sering ke Club ini.”


“Max?” Bartander mengernyitkan keningnya. Ia nampak berpikir.


“No Sir...” Bartender menjawab sambil mengelengkan kepalanya. Ia berpikir kalau William orang bule. Karena wajah William memang lebih kebarat-baratan.


William meneguk minumannya sampai tandas. Ia membayar ke bartender. Kemudian berjalan berkeliling. Beberapa gadis mendekat, mereka terpukau dengan ketampanan William. Namun William tak menghiraukannya. Ia lalu ke arah Toilet. William berpapasan dengan seseorang.


“Kau...” Ucap William melihat ke arah Dimas yang baru keluar dari Toilet.


“Oh... Kau...” Ucap Dimas yang melihat William hendak ke Toilet.


“Sedang apa kau disini?” William nampak aneh.


“Itu urusan ku. Kenapa pula kau ada disini?” Dimas lebih aneh dengan William.


“Itu urusan ku juga” William menatap tajam ke Dimas.


“Apa kau sering kemari?? Bagaimana dengan Lilis? Apa dia tahu kelakuanmu?” Dimas tak kalah tajam melihat ke William.


Kedua hawa dingin menyeramkan sungguh mencekam disekitar mereka berdua.


“Tak ada urusan mu menanyakan hal tersebut. Kau sendiri buat apa tanyakan Lilis.” Jawab William.


“Tentu saja ada urusan ku. Karena aku menyukai Lilis.”


“Sepertinya kau terlambat. Karena Lilis adalah milik ku. Kau sendiri sepertinya suka ke tempat ini”

__ADS_1


“Apa maksudmu milik mu??? Kau sendiri sepertinya suka kemari” Dimas tak kalah tajam mulutnya juga.


“Aku urusan kerjaan disini. Kalau kau?? Kau buang saja perasaan mu untuk Lilis karena aku dan Lilis sudah menjalanin hubungan serius.” William tak kalah tajam.


“Apa kau bilang? Hubungan serius dengan Lilis?? Apakah Lilis tak bekerja di Restoran lagi karena mu?”


“Iya. Kau sebaiknya mulai sekarang lupakan dan jauhi Lilis.” William berlalu pergi dan meninggalkan Dimas.


Dimas masih mematung. Ia yang selama ini bersama Lilis dan menemanin Lilis selama kesulitannya. Dan selalu jadi teman yang baik untuk Lilis dan berharap agar bisa meluluhkan Lilis namun malah berakhir beda. Ia tak terima. Ia harus menemui Lilis. Begitulah pikir Dimas. Dimas kemudian berlalu pergi.


Di dalam Toilet William tak sengaja menemukan sebuah card. Card tersebut ia ambil. Ada tertulis to Max di card tersebut. Dan hanya ada angka yang aneh digabung huruf alpabet. William segera memeriksa seluruh Toilet namun ia tak menemukan siapapun.


“Max? Apa tadi dia disini?” Ujar William sambil memandangi Card tersebut. Ia simpan Card tersebut di saku bajunya.


William keluar dari Toilet. Ia berkeliling Club. Mencari sosok yang dikiranya mencurigakan. Setelah dua jam di Club tersebut. Ia pun memutuskan untuk pulang.


William mengirimkan pesan singkat ke Bos V yaitu “Negatif”


Ia lalu melajukan mobilnya pulang.


***


Pas siang hari di jam istirahat makan siang. Lilis sudah ijin ke Ivanka untuk makan di luar. Lilis keluar kantor sendirian. Ia menuju sebuah cafe yang tak jauh dari kantornya. Disana sudah ada Tania yang menunggu.


“Hai Lis..” Sapa Tania.


“Hai juga.. Maaf kalau aku lama” Lilis duduk disebelah Tania.


“Pesan apa? Kalau aku sudah pesan duluan”


“Apa sajalah.”


“Oke.”


Tania memanggil waiter dan memesankan makanan yang sama dengannya.


“Oke.”


Lilis menceritakan semuanya ke Tania. Ia berhenti dari Cafe tempat nya dulu bekerja. Juga berhenti dari Restoran Tania. Lalu masuk ke Perusahaan I.S dan hubungannya dengan Yudha. Serta cerita lainnya juga ia ceritakan semuanya.


“Jadi begitu Tan... Maaf tak sempat memberikan kabar. Aku hanya menulis surat resign ke cafe dan ke manager Restoran mu.” Lilis mengakhirin kata-katanya.


“Oke. Tak apa-apa. Yang penting sekarang kehidupan mu jadi lebih baik Lis. Aku ikut bahagia. Aku juga bahagia akhirnya kau mau membuka hatimu untuk seorang Pria. Namun aku tak menyangka Pria itu adalah si Yudha. Asisten Tuan Smith. Kalian belum lama kenalkan.”


“Iya. Tapi anak-anakku sudah sangat dekat dengannya. Aneh banget kan si kembar bisa akrab sekali dengan Yudha.” Tutur kata Lilis.


“Mungkin karena si kembar ingin sosok Papa Lis”


“Iya. Mungkin saja.”


“Aku jadi ingin kenal dengan Yudha... lain kali kenalkan ke aku ya Lis” Pinta Tania.


“Oke.”


HP Lilis menerima sebuah pesan dari William.


“Sayang, kau dimana? Makan siang bareng yuk..” Pesan singkat William.


Lilis tersenyum membaca pesan tersebut. Tania malah jadi kepo. Tania pun melirik ke HP Lilis. Ia pun ikut tersenyum


“Cie... ada yang kangen nampaknya. Doi ngajak makan siang noh...” Tania sedikit menggoda Lilis.


“Hahaha... Tan, biasa aja lah. Aku sedang makan siang dengan mu bagaimana aku bisa pergi dengannya.” Lilis hanya tersenyum.

__ADS_1


“Kayaknya kau juga jatuh cinta ya dengannya... lihat saja tingkah mu. Baru dapat sms darinya saja sudah senyum senyum sendiri. Hahaha” Tania terkekeh.


“Berisik ah... aku mau balas dulu.”


Lilis pun membalas pesan William.


“Maafkan aku. Aku sedang makan siang bersama Tania saat ini. Lain kali saja ya. Ok”


Beberapa saat kemudian William membalas.


“Yah... Oke sayang. Lain kali kita makan bersama ya sayang. Janji ya ” Pesan balasannya William.


“Oke. Janji.” Balasan pesan Lilis.


Karena Lilis sibuk mengsms dengan William. Ia tak sadar kalau makanannya sudah tersaji dimejanya.


“Hei... yang lagi kasmaran, nanti lagi dilanjutkan ya. sekarang kita makan dulu. Nanti lagi ya pacarannya.” Tania mengajak Lilis makan.


“Oke bawel... ayo kita makan” Lilis pun akhirnya makan juga.


Di lain tempat.


William sedang dikantornya. Ia baru saja selesai membaca sms dari Lilis.


“Tuan...” Sapa Jack.


“Iya...” William hanya menjawab singkat dan meletakan HP-nya dimeja kerjanya.


“Jadi makan siangnya.?”


“Tak jadi Jack. Kekasihku sudah makan duluan.”


“Kalau gitu makan siang bersama ku bagaimana?” Ajak Jack.


“Gak asik Jack... hehehe”


“Maksudnya?” Jack sudah menyipitkan matanya ke arah William.


“Aku mau bertemu si kembar saja. Ayo temanin aku. Temui ponakanmu Jack” William berdiri dan meraih HP dan kunci mobilnya.


“Baik” Jack mengikutin William.


Kembali ke Cafe..


Tania dan Lilis sudah selesai makan siang. Lilis bermaksud hendak kembali kekantor saja.


“Lis.. lain kali aku main ke tempat kerja baru mu ya?” Tania ingin ke perusahaan I.S


“Oke. Kabarin saja kalau kau mau datang”


“Oh iya. Sudah lama aku tak jumpa si kembar. Lain kali aku akan berkunjung juga ke rumah mu. Oke”


“Oke.”


“Aku akan ke Restoran. Aku ingin memantau restoran ku hari ini. Jadi sampai nanti lagi ya. Bye” Tania pamitan.


“Oke. Bye” Lilis melambaikan tangannya yang dibalas lambaian juga oleh Tania.


Baru saja Lilis melangkahkan kakinya. Sebuah panggilan masuk ke Hpnya da tertera nama Dimas.


“Dimas... kok nelpon ya? ada apa ya?” pikir Lilis. Ia lama menatap layar HP-nya.


Bersambung...

__ADS_1


 


 


__ADS_2