
Jantungnya berdebar tak karuan dan ada desiran aneh yang dirasakannya. Kedua mata Vanya menatap ke arah wajah William.
“Kau berhati-hatilah. Lihatlah kalau sedang menyeberang jalan” Ucap William.
William melepaskan pelukannya. Vanya dan William berdiri berhadapan sekarang.
“I-iya. Makasih.” Ucap Vanya serasa gugup.
“Aku pergi kalau begitu.” William meninggalkan Vanya sendirian. William menaiki mobilnya dan melaju pergi.
Sedangkan Vanya masih memandangi sampai mobil William pergi menjauh.
Dalam hati Vanya : “Ada apa ini? Kenapa jantungku berdebar tak karuan rasanya? Aku seperti merasakan sesuatu yang aneh di hatiku...kenapa ya?”
Vanya menghela nafas panjangnya dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ia menelpon Jaka untuk segera menjemputnya.
Dan tak lama kemudian Jaka pun muncul menjemput Vanya.
Vanya masuk kedalam mobil. Ia duduk di sebelah Jaka. Jaka yang menyupir mobil.
Jaka melirik Vanya. Ia melihat bosnya itu nampak diam dan melamun.
“Apa yang dipikirkan Nona?”
“Tak ada.”
“Lalu bagaimana pertemuan dengan Tuan Haris?”
“Tak begitu suka.”
“Aduh Nona... Mau gimana lagi seh yang anda sukai? Apa kata Tuan besar nanti? Presdir pasti pusing jadinya memilihkan calon suami untuk Nona?” Jaka menggerutu.
“Kau bisa carikan data tentang William Smith?”
Jaka menatap sekilas bosnya itu dengan tatapan aneh.
“William Smith? Nona kenapa bertanya? Sebaiknya jangan cari masalah Nona. Kita hanya melakukan kerja sama bisnis saja” Jaka menarik dasinya agar lebih longgar. Ia merasa Nonanya bakal mencari masalah.
“Siapa yang cari masalah. Aku hanya penasaran saja.”
“Penasaran?? Apa Nona tertarik pada Tuan William Smith?”
“Eeemmm... Hanya penasaran saja.”
“Sebaiknya jangan Nona”
“Kenapa?”
“Dia sudah punya istri”
“Istri? Dia sudah menikah kah?”
“Sudah Nona. Nona kan baru pulang dari Paris. Dan baru dua bulan di Indonesia jadi tak tahu menahu tentang kabar ini. Semua media saja memberitakan pernikahan mereka saat itu.”
“Oh... Jadi sudah menikah ya” Ada rasa kecewa yang dirasakan Vanya di hatinya.
“Iya Nona. Jadi lebih baik pilih yang masih single saja.” Jaka tersenyum ramah.
Sedangkan Vanya mencibir dan membuang muka menatap ke jendela kaca mobil.
***
Saat ini Lilis dan Tania sedang pergi berduaan. Tania mengatakan akan membawa Lilis ke seorang pelatih yang Lilis hendaki. Datang lah mereka ke sebuah tempat pelatahian tersebut.
“Selamat siang Nona Lilis dan Nona Tania” Ucap Pelatih tersebut yang bernama Stuart.
Tania dan Lilis menganggukan kepalanya.
“Aku boleh kau panggil Nona tapi kalau yang di sebelah ku panggil dia Nyonya Smith” Tania menunjuk Lilis.
“Panggil saja Lilis” Ucap Lilis bersikap biasa.
“Oke. Panggil aku Stuart ya.”
“Oke.”
Lilis berbisik ke Tania.
“Tan... Tak ada kah pelatih yang wanita saja. Kenapa harus pria?” Bisik pelan Lilis ke Tania.
“Sudahlah Lis. Hanya ini yang bisa ku carikan. Ini pun aku minta bantuan Jack. Jack mengusulkan, dia bilang pelatih Stuart itu sangat bagus.” Bisik Tania juga.
Stuart menatap ke arah dua wanita tersebut. Tania dan Lilis pun jadi tersenyum.
“Tapi bisakah selama pelatihan, anda tak menyentuhku Stuart” Ucap Lilis.
__ADS_1
“Kenapa?”
“Aku tak bisa saja saat ini.”
Stuart menganggukan kepalanya.
“Oke. Baiklah. aku hanya kan memberikan arahan. Jika untuk lawan aku akan menyuruh salah satu murid wanita ku menjadi lawanmu dalam pelatihan.”
“Oke. Terima kasih”
Sejak hari itulah Lilis mulai pelatihan dengan Stuart. Tania menemaninnya. Ia berlatih lari memutari lapangan. Berlatih lari di tempat. Lalu lompat tali. Kemudian gerakan kareta pun di ajarkan. Dilanjutkan juga berlatih dengan samsak untuk melatih tendang dan tinjunya.
Lilis berlatih sangat giat. Setiap jam 9 pagi hingga sore ia berlatih terus setiap harinya. Jadi setelah anak-anak pergi sekolah maka Lilis akan pergi pelatihannya. Dan saat sore ia sudah melihat anak-anaknya pulang.
Karena kesibukannya berlatih terus. Lilis jadi jarang bertemu William. Jika pagi hanya bertemu pas sarapan. Jika sore William kadang pulang kadang malam. Sedangkan di malam hari Lilis tidur di kamar Fatar.
Sampai seminggu berlalu, Lilis masih terus berlatih giat. Fatar pun sudah kembali bersekolah seperti biasanya bersama Rafa.
Kemudian dua minggu pun berlalu, Lilis semakin pandai dan bisa mengikutin semua arahan dan pelajaran pelatihan yang diberikan Stuart. Ia semakin lihai. Dan Stuart memberikan lawan tandingnya selama pelatihan juga. Lilis benar-benar serius dalam berlatih.
Sedangkan dikantor J and Co.
Vanya mondar mandir di ruangannya. Ia gelisah sekali. Pikirannya terus tak tenang. Ia masih saja memikirkan William. Sampai di rumah pun ia masih saja kepikiran pria yang sudah beristri tersebut.
Vanya heran kenapa ia terus memikirkan pria itu. Apa yang terjadi padanya pun ia bingung. Lama-lama ia berpikir, ia pun akhirnya memtuskan suatu hal. Apa aku telah jatuh cinta padanya? Begitulah pikir Vanya.
Grey Steele memperhatikan putrinya dengan sangat aneh. Ia melihat Vanya duduk di depan Tv tapi pikirannya tidak di tempat. Grey pun menegur putrinya.
“Vanya...”
“Iya Pa” Vanya menoleh ke Papanya. Papanya duduk disebelah Vanya.
“Ada apa? Apa kau memikirkan sesuatu? Oh iya bagaimana pertemuan Haris? Sudah dua minggu berlalu, baru sekarang Papa ingat bertanya”
“Itu... Aku tak suka pa”
“Vanya... Haris itu yang terbaik Papa pilih untukmu sayang. Mau yang gimana lagi yang harus Papa carikan untukmu nak?” Grey menggelengkan kepalanya. Ia menghela nafas panjang.
“Pa... Aku sepertinya menyukai seorang pria. Tapi pria ini tak ada dalam pilihan Papa” Vanya ragu-ragu mengutarakan ke Papanya.
Grey menatap putrinya dengan serius dan tajam. Ia bisa melihat kalau kali ini Vanya terlihat serius dan sungguh-sungguh. Grey pun berpikir, pria mana yang akhirnya bisa meluluhkan hati putrinya yang seperti es tersebut. Yang tak mudah jatuh cinta kepada pria manapun. Yang sangat susah di atur dan susah di luluhkan. Grey merasa kalau pria itu pasti orang hebat.
“Apa ada yang kau sukai Vanya? Siapa pria itu?”
“Papa tak akan marah kan?”
“Aku sepertinya suka dengan William Smith Pa”
“Apa!!!” Grey terkejut bukan main. Ia tak sangka putrinya menyukai dan jatuh hati pada William Smith.
“Kau tak bercanda kan Van...” Grey memastikan kembali.
“Tidak Pa. Aku benar-benar jatuh hati padanya. Maafkan aku Pa”
Grey melipat kedua tangannya di dadanya. Ia mentap lurus Vanya. Vanya bisa merasakan tatapan tajam Papanya.
“Vanya, kau tahu tidak kalau William Smith itu sudah menikah?”
“Tahu Pa. Tapi aku masih saja memikirkan dia di hati dan di pikiranku”
“Kalau kau tahu, seharusnya kau tidak membiarkan hati mu berkembang untuknya. Jangan jatuh cinta padanya”
“Tak bisa Pa. Aku sudah terlanjur jatuh cinta padanya Pa”
“Vanya!!!” Suara Grey meninggi. Ia tak mau putrinya disebut pelakor. Karena mereka dari keluarga terpandang. Itu hanya akan merusak citra nama baik keluarga saja.
“Papa tak setuju kah?” Vanya menatap lirih Papanya. Baru pertama kali Vanya merasakan cinta. Dan baru kali ini dia merasakan hal ini. Tapi Papanya sepertinya menentang.
“Tentu saja tidak. Dia pria yang sudah menikah. Aku tak mau kau mencoreng nama baik keluarga kita”
Vanya merasa sedih.
“Kau lupakan dia secepatnya Vanya. Atau Papa akan menikahkan mu secepatnya dengan siapa pun”
Vanya menatap Papanya dengan perasaan kesal. Ia tak setuju. Vanya bangkit dari tempat duduknya. Ia melangkah ke arah pintu. Papanya berteriak pun tak didengarkannya.
Ia menaiki mobilnya. Ia melajukan mobilnya ke tempat yang tak tentu arah.
Lama-kelamaan ia menyetir, malah sampai di perusahaan I.S.
Vanya menatap gedung tinggi perusahaan I.S tersebut. Ia turun dari mobil dan melangkah ke arah perusahaan tersebut dan masuk kesana.
Sampai di lobi depan. Vanya jadi kebingungan.
“Aduh... Kenapa aku jadi sampai sini? Apa hatiku yang membawaku sampai sini?” Vanya menggigit bibir bawahnya. Ia merasa agak linglung. Merasa tak seharusnya ke tempat tersebut. Vanya oun berbalik arah hendak keluar. Tapi tatapannya malah tertuju ke William yang baru saja keluar dari Lift. William berjalan bersama Natasya dan Jack. Mereka sedang bersiap meeting rapat bulanan.
__ADS_1
Tepat saat Vanya melihat ke arah William, William pun melihat Vanya. Ia pun menyuruh Jack dan Natasya duluan ke ruang meeting.
William lalu mendatangi Vanya.
“Kenapa Nona Steele malah ke perusahaanku? Apa kita ada janji rapat atau pertemuan hari ini?” William menatap Vanya yang masih menatapnya dengan tatapan aneh.
“Oh... Tidak kok. Tidak ada. Aku hanya ingin berbicara padamu. Bolehkan?” Vanya agak ragu tapi ia katakan juga.
“Baiklah. kalau sebentar kurasa bisa.”
Vanya dan William berjalan bersisian. Mereka memilih tempat yang agak sepi dan jauh dari yang lainnya.
Setelah sudah cukup jauh dan sepi, Vanya menatap William dan mulai berbicara.
“Bolehkan aku panggil kau William?”
“Iya. Boleh.”
“Panggil aku Vanya ya”
“Oke.”
“Aku mau bilang, kalau aku...”
Vanya menghentikan perkataannya, ia menatap ke arah William.
“Ada apa? Apa ada masalah dengan kerja sama kita? Tapi tak mungkin sampai kau datang sendirian kemarikan?”
“Aku mau bertanya, jika ada wanita lain yang suka dengan mu. Seperti perasaan antara pria dan wanita. Dan dia wanita cantik dan masih muda sekali, apa kau akan suka?” Vanya menatap lurus ke William.
William mengkerutkan keningnya. Ia merasa aneh. Kenapa Vanya menanyakan hal tersebut.
“Kenapa bertanya seperti itu? Aku rasa akan aneh kalau wanita muda dan cantik menyukaiku. Karena aku sudah tua dan tak pantas dengan wanita muda.”
“Tapi kau tak terlihat tua kok. Masih gagah dan tampan sekali.”
William tertawa kecil. Ia akui masih banyak wanita memang yang jatuh hati padanya. Tapi ia tak mempedulikannya dan selalu dingin dengan yang lainnya.
“Aku sudah sangat tua. Tapi kalau memang ada wanita muda dan cantik menyukaiku dan berharap hubungan antara pria dan wanita terjadi, maka akan ku suruh berhenti”
“Kenapa?” Vanya merasa sedih mendengar jawaban William.
“Karena aku sudah menikah. Punya dua anak kembar. Serta istriku juga sangat cantik.” Jawab William dengan tegas.
Bersambung...
Wah...Vanya baru aja jatuh cinta eh mendengar jawaban William seperti itu malahan, patah hati gak tuh si Vanyanya...
Kakak Readers semuanya, milih William tetap sama Lilis aja kah? Atau milih Vanya dengan William? Soalnya si Lilis masih belum mau disentuh tuh :D
Yang suka dengan karya ini, ikutin terus kisahnya sampai akhir ya kakak readers semuanya :)
No Plagiat ya. Hargai usaha dan kerja keras seseorang dalam berkarya. Jadi katakan tidak pada meniru karya seseorang dan tidak menjiplaknya. No Plagiat. Makasih untuk yang sudah mampir ya kak. Love you all :)
Karya ini sedang mengikutin lomba, jadi mohon dukungannya terus ya kak.
Cara mendukungnya gampang yaitu :
1. Like semua episodenya / bab-nya ya kak. Dibaca juga semua babnya :)
2. Klik Vote setiap hari dan setiap saat ya kak. Dan setiap hari senin juga :D
3. Klik Favorite juga ya kak
4. Selalu berikan dukungannya ya kak setiap saat :D
5. Tinggalkan komen ya kak :)
6. Kasi bintang 5 ya kak untuk karya ini sebagai menyukai karya ini dan apresiasi ke karya saya ini.
Makasih semuanya. Dukung terus karya ini ya kakak readers semuanya, biar Author semangat UP ceritanya. Love you all :)
Yuk kak buat karya ini makin bersinar, ajak gitu semuanya buat like semua babnya, komen, vote serta favoritekan yak. Jangan lupa kasi bintang 5 nya ya. karya ini sedang mengikutin lomba, semoga masuk 10 besar yak. Karena itu butuh dukungan dari kakak readers semuanya. Yuk kak buat karya ini masuk 10 besar gitu hehehe.
Karya ini akan segera Tamat, jadi akhir bulan ini rencananya akan di Tamatkan. karena itu Vote yuk kak yang banyak dan Like sebanyak-banyaknya. Makasih semuanya :D
Tembus 200 lebih like segera di UP kembali.
__ADS_1