
“Lis... Kenapa kau diam saja? Ada apa sayang” William berjongkok melihat kearah Lilis. Dilihatnya badan Lilis gemetaran dan air matanya menetes keluar dengan derasnya. William kaget dan heran. Kenapa dengan Lilis.
“Sayang... kau kenapa?” Dipeluknya tubuh Lilis. Bisa dirasakannya kalau Lilis sedang terguncang.
Lilis melepas kasar pelukan William. Ia menatap William dengan pandangan aneh. Air mata masih saja menetes keluar. Ia menghapus kasar air matanya dengan tangannya secara kasar. Lilis bangkit berdiri walau sedikit oyong. William ingin membantunya berdiri. Namun tangan William ditepis oleh Lilis. William tertegun dengan sikap Lilis yang dirasanya aneh. Keduanya berdiri dengan saling menatap.
“Lis...” Panggil William.
“Ada apa Lis... Apa yang terjadi? Kau kenapa sayang?” William nampak cemas melihat kondisi Lilis.
“Siapa kau sebenarnya?” Ucap Lilis setelah membisu dari tadi.
“Aku??? Apa maksudmu sayang? Aku Yudha sayang... Ada apa dengan mu sayang?” William tak mengerti apa yang terjadi.
Bukannya jawaban, Lilis menunjukan Dompet Hitam ke arah William. Bagaikan disambar petir, William nampak kaget melihat Dompet tersebut. Lilis yang melihat William kaget dan terdiam setelah melihat Dompet tersebut membuat Lilis menjadi semakin sedih.
“Kenapa kau diam... Jadi benarkah itu?” Air mata Lilis mulai membasahi pipinya kembali.
“Lis... Kenapa benda itu ada ditanganmu?”
“Didalam Dompet ini ada semua barang-barangku. Bahkan HP lama ku dan KTP-ku yang hilang sudah lama ada didalamnya. Katakan pada Yud... katakan yang sebenarnya...” Lilis masih menangis. Ia teringat kembali kejadian yang lalu. Gara-gara itu ia terpaksa membuat KTP baru kembali dan gara-gara kejadian lalu tersebut Lilis harus menjalanin masa-masa sulit.
“Kenapa ada padamu Lis?”
“Tak perlu kau tahu bagaimana bisa ada ditanganku. Dan bagaimana aku tahu semuanya. Yang jelas ini yang kau sembunyikan dirumah mu kan... ini yang hampir saja aku ketahui kan jika saja tak kau cegah kemaren di rumahmu”
William diam membisu.
“Kenapa diam??? Katakan padaku....!!!!” Lilis menjerit kuat.
“Kau berbohong kepadaku. Kau selama ini telah berbohong... hiks... hiks....” Air mata Lilis kembali tumpah.
William jatuh berlutut dihadapan Lilis. Ia tak mungkin lagi menutupinya lagi sekarang. Ia akan mengakuinya semuanya. Bahkan hati William sakit saat melihat Lilis menangis seperti itu dihadapannya.
“Maaf Lis... Maafkan aku.” William ingin meraih tangan Lilis yang dihadapannya. Tapi Lilis menepisnya.
__ADS_1
“Jangan sentuh aku..!!!”
Hati William sakit. Rasanya seperti tertusuk-tusuk mendengar penolakan dari Lilis.
“Aku minta maaf Lis karena telah menutupi kebenaran ini selama ini. Aku tak bermaksud membohongimu. Aku berniat untuk mengatakannya semuanya nanti. Aku berniat jujur padamu. Namun aku menunggu saat yang tepat.” Ucap William dengan wajah yang sendu melihat Lilis yang terlihat sedih.
“Kapan?? Kapan kau akan jujur padaku... Saat kau akan menikahi ku? Atau saat Rafa dan Fatar ingin kau rampas dari ku hah?”
“Tidak Lis... Tidak seperti itu... Percayalah padaku.”
“Bagaimana aku percaya. Selama ini kau membohongiku. Ntah berapa banyak kebohonganmu sudah. Jika aku tak tahu hal ini mungkin kau tak akan mengaku.”
“Bukan Lis... Bukan seperti itu. Percayalah...”
“Apa yang harus ku percayai...? Bahkan aku seperti sudah tak mengenalimu lagi..” Lirih kata Lilis penuh kesedihan.
“Aku salah Lis... Aku salah. Maafkan aku. Iya. Aku adalah Pria yang mengaku sebagai Fatar yang menyekapmu dan memperkosamu dulu. Aku salah Lis... Maafkan aku. Nama ku yang asli adalah William Smith. Aku menyamar jadi Yudha Hadinata hanya untuk mendekatimu. Aku bersalah. Aku mau menebusnya Lis. Maafkan aku. Kita besarkan dan rawat Rafa dan Fatar bersama-sama. Kita mulai lagi dari awal Lis... Aku ingin kit....” Ucapan William terhenti karena sebuah tamparan keras telah mengenai wajahnya. William tertegun. Ia melihat Lilis sudah menangis dan tubuhnya bergetar. Matanya memerah. Air matanya mengucur dengan derasnya. Jantung William terasa sakit.
Sedangkan Lilis mendengar pengakuan dan kebenaran dari mulut William langsung merasa sangat sakit. Hatinya terasa teriris-iris. Sakit rasanya hati dan jantungnya menusuk kedalam relung sanubarinya. Dia seperti tak mengenal lagi Pria yang ada dihadapan nya ini. Inikah lelaki yang dicintainya?? Inilkah lelaki yang dipilihnya untuk menjadi Papa anak-anaknya?? Inikah lelaki tempat dia berlabuh?? Inikah lelaki itu??? Kenapa begitu menyakitkan. Pria yang dulu menghancurkan hidupnya sekarang dihadapannya, dan selama ini disampingnya, didekatnya , bersandiwara dan membohonginya selama ini. Lilis merasa dirinya sangat bodoh karena sudah di bohongi selama ini.
Lilis mengetahui kalau Yudha adalah Fatar lelaki yang memperkosanya saja sudah membuatnya terguncang. Apalagi mendengar kalau jati dirinya sebenarnya adalah William Smith, membuat Lilis sangat syok. Dan ia merasa kalau terlalu banyak kebohongan Yudha (William)
William bangkit berdiri dan mencegah Lilis pergi.
“Lis... Tunggu. Jangan pergi... Aku salah. Maafkan aku.” Cegah William.
“Kau dan aku tak punya hubungan lagi. Jangan temui aku. Jangan temui anak-anakku. Aku membencimu.” Ucap Lilis penuh kebencian dan kesedihan.
“Apakah kau akan melarangku menemui anak-anakku.”
“Rafa dan Fatar bukan anak-anakmu...”
“Kau jangan bohong Lis... Rafa dan Fatar adalah anak-anakku. Mereka darah dagingku”
“Mereka bukan anak-anakmu. Mereka anak-anakku!!!”
__ADS_1
“Lis...”
“Aku benci kau...” Lilis pergi dengan deraian air mata.
Sedangkan William terdiam dan terpaku di tempat. Ia hanya melihat Lilis melangkah semakin jauh pergi meninggalkannya. Kemudian sosok Lilis hilang setelah menaiki sebuah Taksi yang lewat di stop oleh Lilis.
William tak tahu harus bagaimana. Ia ingin mengejar Lilis. Namun tatapan Lilis, air mata Lilis dan ucapan Lilis membuatnya tak dapat bergerak. Ia hanya melihat kemarahan, kebencian dan kesedihan Lilis. Hatinya pun sakit melihat Lilis terluka. Ia telah melukai Lilis sangat dalam.
Sedangkan Lilis hanya bisa menangis didalam taksi yang terus mengarah pulang ke rumahnya.
***
Lilis sampai kerumah. Ternyata si kembar sudah tidur. Bibi May melihat keadaan Lilis nampak kusut dan sepertinya gundah. Tapi ia tak berani bertanya lebih banyak karena sepertinya Lilis ingin sendiri. Akhirnya bibi May pamit pulang.
Setelah menutup pintu dan menguncinya, Lilis ke kamar melihat kedua anaknya yang tertidur lelap. Ia melihat dengan sendu. Lilis gak tahu harus bagaimana nantinya. Ia terduduk lemas dengan menangis dalam diam.
Lilis membenci William. Tapi ia juga membenci dirinya sendiri karena sudah dibodohi oleh William dan karena dilubuk hatinya yang terdalam ia telah jatuh cinta ke William. Ini membuat hati dan pikirannya menjadi sakit. Ia tak bisa menerima kenyataan kalau Yudha itu Fatar yang memperkosanya. Dan Yudha ternyata William Smith adalah orang sama pula. Semuanya membuatnya pusing. Ia membencinya namun mencintainya juga. Ia mencintainya namun dilukai olehnya yang membuat trauma di masa lalunya.
***
Di Club Malam...
William memesan banyak minuman keras dan meminumnya. Ia mabuk berat. Ia ingin meluapkan semua masalahnya dengan minum-minuman keras.
Panggilan masuk ke HP William dari nomer tak dikenal. William melihat namun tak menghiraukannya. Tapi sampai 3 kali terus berdering menelpon William. William lalu mengangkatnya.
“Halo...” Ucap William.
“Hahahaha....” Hanya suara tawa terdengar. Dan suara ini bukan kah yang pernah menelpon William. Suara yang disamarkan itu.
Bersambung...
Jangan Lupa Klik Vote dan Favorite ya kakak-kakak Readers semuanya. :)
Di like juga semua episodenya ya kak. Tinggalkan Komennya juga. Dukungan kalian akan sangat berarti agar Authornya semangat dan bisa UP cerita secepatnya. Makasih untuk yang sudah mampir ya kak. Love you all :)
__ADS_1