
“Apa!!!” William kaget bukan main. Ia jadi cemas dengan Katty. Lilis dan Mamanya jadi menatap ke arah William. Mereka bisa melihat kegelisahan dan kecemasan dari raut wajahnya William.
“Ada apa Will?” Lilis bertanya dan menatap William dengan cemas juga.
“Katty dalam bahaya. Aku pergi dulu ya Lis.” Raut wajah William terlihat kuatir.
Lilis hanya menganggukan kepalanya. William beralih pandangan ke Ajeng, Mamanya Lilis.
“Ma... William pergi dahulu ada hal mendesak.”William mencium punggung tangannya Ajeng. Ajeng menganggukan kepalanya juga.
Setelah pamitan kepada Lilis dan Mamanya, William segera berlari keluar. Ia harus segera menuju ke tempat yang dimaksud untuk melihat keadaan Katty.
Ajeng menatap ke arah putrinya. Lilis pun bisa merasakan tatapan Mamanya.
“Siapa Katty Lis?”
“Teman baiknya William Ma.”
“Kenapa dia dalam bahaya Lis?”
“Lilis juga gak tahu Ma...”
Di lain tempat. William sudah sampai disebuah klinik yang tak jauh dari tempat perusahaannya. Kesanalah Katty dilarikan. Didalam ruangan tersebut, William melihat Katty yang baru saja selesai diberikan pertolongan pertama dan ada Jack di sampingnya Katty. William datang mendekat.
“Bagaimana keadaanmu kat? Apakah parah?” William duduk disamping ranjang Katty. Katty bangun dan duduk juga.
“Aku tak apa-apa Will. Hanya cedera sedikit saja.”
“Bagaimana bisa terjadi hal ini?” William menatap dokter yang baru saja menanganin Katty.
“Saya kurang tahu Tuan Smith. Tapi yang jelas Pak Jack membawa Nona Katty dalam keadaan luka dan berdarah. Saya sudah menolongnya. Lukanya tidak dalam dan tidak parah. Sekarang sudah aman.”
“Oke. Terima kasih Dok”
Dokter pun menganggukan kepalanya. Ia pun pamitan dan meninggalkan William bersama Katty dan Jack.
William menatap Katty dan Jack bergantian. Ia meminta penjelasan.
“Aku kurang tahu apa yang terjadi Will. Saat kembali ke kantor aku sudah melihat Katty sedang terluka. Lalu aku segera membawanya ke klinik terdekat sini. Kemudian meneleponmu” Jack menjelaskan situasinya.
“Kat?” William menatap ke arah katty. Katty menghela nafas panjang.
“Aku tidak tahu siapa yang menyerangku. Namun sepertinya itu suruhan Nona LL. Saat kau dan Jack pergi, aku sendirian dikantor menghabiskan banyak waktu. Kemudian karena lelah dan jenuh, aku keluar sebentar mencari udara seger. Tak tahunya aku dikejar dua orang. Sempatku lawan. Tapi kemudian pisaunya melukaiku. Lalu aku berlari menuju perusahaanmu. Disaat itulah Jack melihatku. Mereka pun kabur setelah melihat Jack.” Katty mencoba menjelaskan apa yang baru menimpanya.
“Lain kali hati-hati lah kat. Syukurlah
tak ada luka parah. Namun beberapa lenganmu terkena pisau.” William masih cemas
melihat keadaan Katty.
“It’s okay Will. Kita kembali saja ke kantormu”
“Are you sure??”
“Yes.”
“Jack urus segera pembayarannya ke dokter yang menanganin Katty. Lalu segeralah kembali lagi kekantor. Aku dan Katty pulang duluan” William memerintahkan Jack. Dan Jack pun segera melaksanakannya.
“Wait. Kita mau pulang Will..” Katty menatap William.
“Iya. Kau sebaiknya istirahat dirumah. Kalau kau butuh komputer atau Laptop dirumah ku juga ada.”
“Oke.”
Katty pun pulang bersama William.
***
Saat ini Wenny baru kembali pulang. Ia pulang kerumah keluarga sudrajat. Saat baru saja sampai kamarnya. Ia melihat Panji baru saja selesai berpakaian rapi. Sepertinya Panji hendak pergi lagi.
“Mau kemana Mas?” Wenny mencegah Panji yang hendak keluar dari kamar mereka berdua.
__ADS_1
“Malas aku jumpa mu Wen... Oh iya sekalian ini.” Panji menyerahkan sebuah amplop coklta besar ke Wenny. Raut wajah Panji terlihat tak suka dan tak senang melihat Wenny.
Wenny menerimanya dan membuka isinya. Sebuah surat. Dan isinya surat perceraian antar panji dan Wenny. Wenny kaget bukan main. Ternyata Panji benar-benar akan menceraikannya.
“Apa ini Mas?”
“Kau bisa bacakan. Seharusnya sudah paham.”
“Aku gak mau bercerai.”
“Kau gak punya pilihan lain selain bercerai denganku. Karena aku sudah tanda tangan duluan, jadi kau tanda tanganin surat cerai itu juga secepatnya. Aku mau pergi dulu”
Tanpa menunggu jawaban Wenny, Panji langsung pergi begitu saja meninggalkan Wenny sendirian terpaku diam mematung didalam kamar.
Wenny sangat marah. Ia mencengkram surat di tangannya. Lalu merobeknya. Ia sangat kesal. Ia tak terima kalau Panji hendak menceraikannya.
“Kau mau perang dengan ku Mas Panji. Akan kuberikan hadiah untukmu” Wenny tersenyum licik.
Wenny pergi ke arah dapur. Ia membuat sesuatu. Dua cangkir teh hangat yang di campur racun. Sebelumnya ia memang sudah membeli racun saat diluar tadi. Dan sekarang ia menjalankan niat jahatnya.
Wenny pergi ke ruang tengah. Dimana kedua orang tuanya Panji sedang bersantai sambil menonton TV.
“Ma.. Pa... Ini Wenny buatkan teh. Silahkan diminum” Wenny memasang wajah semanis mungkin.
“Makasih ya Wen...” Ucap Bambang Sudrajat, Papanya Panji.
“Aduh menantu ku memang baik sekali. Makasih ya Wen...” Belinda Sudrajat, Mamanya Panji juga berterima kasih dan tersenyum ke arah Wenny.
Wenny duduk tak jauh di dekat sofanya yang dimana kedua orang tua Panji juga sedang duduk santai.
Wenny hanya memperhatikan saja saat kedua orang tuanya Panji meminum teh tersebut. Tak ada curiga sedikit pun mereka terhadap Wenny. Wenny tersenyum licik.
Beberapa saat kemudian, reaksi racun pun mengeluarkan gejalanya. Kedua orang tua Panji kejang-kejang kemudian mengeluarkan busa di mulutnya dan akhirnya mati. Wenny tersenyum puas.
“Selamat menuju ke alam baka ya Mama Papa mertuaku...” Wenny lalu bangkit dan melangkah pergi.
Panji yang sedang diperjalanan kemudian mendapatkan telepon rumah. Ia awalnya hendak kembali kekantor lagi saja. Atau kemana aja yang penting menjauh dari Wenny. Tapi karena ia menerima telepon rumah, akhirnya Panji kembali pulang ke rumah. Karena pembantu dirumahnya berkata kalau dia menemukan Tuan besar dan Nyonya dalam keadaan yang mengenaskan, terlhat pembantunya panik sekali. Panji pun bergegas pulang. Ia memutar balik mobilnya menuju rumah.
“Papa... Mama...” Isak tangis Panji saat melihat keadaan kedua orang tuanya. Panji tak sangka hal ini akan menimpa kedua orang tuanya.
“Kenapa bisa seperti ini Bik?” Tanya Panji kemudian ke pembantunya.
“Gak tau Den Panji. Bibik lihat udah seperti ini” Pembantunya panik sekali.
“Wenny dimana?”
“Non Wenny gak tahu Den... saya panggil-panggil dan cari diseluruh rumah tapi Non Wenny gak ada.”
“Sialan. Cepat panggil dokter dan lapor polisi.”
“Baik Den.”
Panji meminta pembantunya melapor ke polisi agar ditindak lanjuti. Karena ia merasa kematian orang tuanya nampak aneh. Ia juga minta di panggil kan dokter supaya mayat kedua orang tuanya cepat di otopsi agar diketahui gejala dan penyebab kematiannya.
Di lain sisi.
Wenny kembali pulang ke rumah keluarga Hartono.
Ia masuk kedalam rumah dan duduk di ruang tengah di kediaman rumah keluarga Hartono. Hesti yang melihat putrinya kembali lagi, akhirnya mendekatin putrinya dan duduk di samping Wenny.
“Loh Wen... Kok balik lagi kemari. Mama pikir kau akan dirumah mertuamu.”
“Mereka sudah mati Ma...”
“Apa!!! Mati??” Hesti terkejut bukan main. Dan ia merasa kalau putrinya mungkin bercanda.
“Jangan becanda Wen... Gak lucu.”
“Aku serius Ma. Mertuaku sudah mati. Aku yang bunuh. Aku kasi mereka racun sehingga kedua orang tuanya Panji meninggal.”
“Ya ampun Wen... kenapa kau melakukan itu? Itu tindakan kriminal. Kau bisa di penjara” Hesti kaget sekaligus panik.
__ADS_1
“Diamlah Ma. Itu pantas mereka dapatkan. Karena Mas Panji hendak meninggalkan ku dan menceraikan ku”
“Jadi karena itu kau racun mertuamu. Karena Panji mau menceraikanmu?”
“Iya Ma. enak saja dia mau cerai. Harus ku kasi pelajaran dia.”
Hesti bangkit dan mondar mandir. Ia terlihat panik dan cemas sekali.
“Aduh... Bagaimana ini?”
“Aduh Ma... Pusing aku lihatnya. Jangan mondar mandir didepanku.”
“Apa kau tak takut Wen?”
“Tidak. Buat apa takut. Kan gak ada yang tahu. Gak ada yang lihat aku yang melakukannya.”
“Aduh Wen... apa kau ceroboh begini. Kemana Wenny ku yang pintar?”
“Maksud Mama?”
“Mereka bisa saja memeriksa dan melaporkannya. Ntah itu polisi atau dokter. Kau harus cepat kabur Wen. Sembunyi lah.”
Wenny tertegun mendengar kata-kata Mamanya. Ia baru sadar. Ia belum membersihkan sidik jarinya. Aduh. Kenapa aku ceroboh begini. Itulah keluh Wenny dalam hatinya.
“Aku mau sembunyi kemana Ma? Lalu perusahaanku bagaimana?”
“Jangan pikirin itu dulu. Pikirkan keselamatanmu dahulu Wen...”
Di saat ibuk dan anak ini sedang berbicara dan berdebat, sebuah gelas pecah terdengar. Bik Minah mendengar percakapan mereka.
Wenny dan Mamanya kaget mendengar gelas pecah itu. Mereka langsung mendatangi asal suara tersebut. Namun Bik Minah segera bersembunyi.
“Apa itu tadi Ma??” Wenny melihat sekeliling dan melihat gelas yang pecah di lantai.
“Entahlah... mungkin kucing Wen..” Hesti mengira kucing.
“Bukan Ma. Ada yang dengarkan percakapan kita. Dia harus dilenyapkan juga.”
Bik Minah yang sedang sembunyi, merasa ketakutan. Ia bisa mendengar kalau Wenny hendak melenyapkan orang yang mendengarkan percakapan mereka.
Bersambung...
Aduh Bik Minah dalam bahaya nih... gimana ya kira-kira??? Ternyata Wenny dan Laura sama gila nya ya....
Halo-halo... Semoga tetap stay dan setia di karya ini ya kak. Dari awal sampai akhir nanti. Makasih yang selalu setia di karya ini. Thank you all :)
Yuk kak... Gerakan jempolnya yak :D
Di Like yang banyak ya kakak readers semuanya... kasi Vote juga banyak-banyak ya :D
No Plagiat ya. Hargai usaha dan kerja keras seseorang dalam berkarya. Jadi katakan tidak pada meniru karya seseorang dan tidak menjiplaknya. No Plagiat. Makasih untuk yang sudah mampir ya kak. Love you all :)
Jangan lupa kasi bintang 5 nya ya kak di karya novel ini... :D
Ikutin terus kelanjutannya ya kak :D
Jangan lupa dukungannya ya kak agar semangat UP.
Di like juga semua episodenya ya kak. Tinggalkan Komennya juga :D
Di like, di vote dan klik Favorite yah sebagai tanda telah membaca dan menyukai karya ini, juga sebagai apresiasi ke karya ini.
Tembus 200 lebih like segera di UP kembali.
__ADS_1