
Lilis, Tania dan Jack melihat ke arah mobil satunya lagi. Kemudian terbuka. Dan keluarlah seorang pria.
“Eloh...”
Keluarlah seorang Pria keren dengan setelan jas hitam keluaran dari desainer terkenal dan mahal tentunya. Mobilnya pun, mobil hitam merk Lamborgin yang sangat terkenal. Sepatu kilat hitam yang mahal pun mengimbangi setelan pakaian dan mobilnya. Pria tersebut berjalan dan mendekatin Lilis, Jack dan Tania.
“Halo... Nona malam ini sangat cantik” Pria itu meraih tangan Lilis dan mencium punggung tangan Lilis.
“..” Lilis hanya tersenyum kecil.
“Hey... Kau.. Sejak kapan bisa seperti ini Dim...” Seru Tania ke Dimas. Iya. Pria itu adalah Dimas. Pria yang menjadi teman Lilis selama ini.
“Bagaimana? Aku tampan dan keren kan..” Dimas terlihat bangga.
Tania takjup dan tak percaya. Pria keren ini ternyata adalah Dimas.
“Ya sudah. Ayo kita gerak. Sebentar lagi jam 7 malam. Acara akan mulai sebentar lagi.” Ajak Jack.
Tania pun ikut dengan Jack, bersama naik mobil Jack. Mereka pun mulai melajukan mobilnya. Sedangkan Lilis bersama Dimas. Dimas membantu Lilis naik ke mobil. Membukakan pintunya untuk Lilis. Naik mobil mahal dan mewah bersama Dimas. Setelah keduanya didalam mobil, Dimas pun melajukan mobilnya menuju tempat acara.
Didalam mobil, Lilis berkali-kali mencuri pandang ke Dimas. Ia tak sangka kalau Dimas bisa sekeren ini.
“Kenapa Lis?” Dimas berkata sambil menyetir mobil.
“Ehem... tak ku sangka kau nampak berbeda dengan tampilan seperti ini.”
“Ini lah aku.”
“Maksudmu Dim?”
“Aku sudah berhenti di Restoran. Karena kau tak ada jadi aku putuskan berhenti saja.”
“Aku makin tak mengerti Dim..”
“Inilah penampilan ku sebenarnya Lis...”
“Hah!!!” Lilis kaget dan serasa tak percaya.
“Sebenarnya aku sangat bosan. Lalu mencari pekerjaan dari kalangan orang bawah. Tak ku sangka malah mengenalmu dan menjadi teman. Ku putuskan untuk terus bekerja saja. Namun sekarang kau sudah berhenti jadi aku kembali saja ke jati diriku. Jadi sudah cukup lama juga aku berhenti di restoran.”
“Oh...” Lilis masih saja terheran-heran.
“Namun aku tetap Dimas yang dulu kok. Yang tetap menyukaimu dan mencintaimu Lis” Ucap Dimas dan melihat Lilis sekilas. Tatapan Dimas sangat hangat saat memandang ke arah Lilis barusan.
“Jadi kau anak orang kaya ya Dim?” Tanya Lilis.
“Hehe.. Aku kaya karena usaha ku sendiri. Aku seorang investor. Pekerjaan ku biasanya adalah penanaman saham. Bergelut dibagian saham. Aku tak punya orang tua Lis. Sejak kecil aku dipanti asuhan. Kemudian beranjak dewasa aku mulai bekerja dan berakhir seperti sekarang.”
“ Wow.. Hebat. Masih muda, tampan dan mapan” Lilis cukup terpukau.
__ADS_1
“Jadi kau tak akan rugi jika bersama ku. Bagaimana? Sekarang aku sebandingkan denga William?”
Lilis terdiam saat Dimas menyebutkan Willam. Dimas pun menyadari hal tersebut. Nampaknya walau Dimas sudah menunjukan apa yang dipunya pun, Lilis masih tertahan oleh William. Padahal Dimas berharap kalau Lilis akan memilih nya saja. Suasana kemudian hening.
Setelah beberapa saat, sampailah mereka di sebuah hotel yang ruangan ballroomnya sengaja disiapkan dan dihias untuk acara ulang tahun perusahaan Keluarga Hartono. Tania dan Jack sudah masuk duluan. Lilis dan Dimas pun menyusul masuk.
Didalam ruangan sangat banyak para tamu dari kalangan atas semua. Ada para direktur, CEO, Presdir, Artis dan Aktor dan para pemegang saham. Juga sanak sodara dan teman-teman serta para staf kantor dan pegawainya keluarga hartono.
Lilis menatap dari kejauhan, Panji dan Wenny sedang bergandengan tangan. Panji nampak enggan menerima gandengan tangan Wenny. Tapi Wenny tak mau melepaskan. Wenny mengenakan gaun indah putih dengan kilauan Kalung berlian dilehernya. Sedangkan Panji memakai setelan Jas hitamnya. Didekat mereka ada Papa dan Mamanya Panji serta Hesti Mamanya Wenny. Dimas menoleh ke Lilis.
“Kenapa Lis?”
“Tak apa-apa”
Lilis melirik ke sekeliling. Ia tak melihat dimana Tania dan Jack berada. Sepertinya mereka membaur dengan tamu lainnya. Seorang pelayan mendekat menghampiri Lilis. Menawarkan Sampanye kepada Lilis dan Dimas, mereka mengambil masing-masing segelas. Kemudian duduk di kursi putih yang dikasi pita merah yang mejanya bundar dihiasin dengan kain kain putih serta pita putih dan ada bunga mawar pink serta merah di setiap mejanya. Lilis dan Dimas memilih duduk agak menyudut agar tidak terlalu diperhatikan para tamu undangan yang sangat banyak di acara tersebut.
Di atas meja sudah disediakan beberapa cake juga. Bahkan di meja panjang berlapis kain putih sudah banyak makanan tersedia utnuk para tamu. Beraneka macam. Semuanya dari kualitas tinggi dan khusus untuk kalangan atas.
Wenny tak henti-hentinya menerima sapaan dari para tamunya. Ia terlihat bahagia. Senyum mengembang cerah di wajahnya. Disaat bersamaan Lilis menatap Wenny, Wenny pun melihat ke arah Lilis. Mereka beradu pandangan. Keduanya seperti ada kilatan api di bola mata masing-masing.
Wenny maju ke tengah dan memegang mikrofon. Ia mulai memberikan kata sambutan.
“Terima kasih kepada para tamu undangan yang telah hadir. Aku sangat senang atas kehadiran kalian semua. Di hari ulang tahun perusahaan ini kebahagianku bertambah berlipat ganda. Selain merayakan pesta ulang tahun perusahaan, aku juga mengumumkan akan segera melangsungkan pernikahan ku nanti dengan tunanganku Mas Panji. Untuk waktu dan tanggal pernikahannya tunggu saja tanggal mainnya ya hehe. Mohon doa para tamu undangan sekalian” tepuk tangan sontak memenuhi ruangan setelah mendengarkan kata-kata Wenny.
Lilis biasa saja mendengarkan hal tersebut. Karena ia dan Panji memang sudah tak ada apa-apa lagi. Wenny saja yang masih berpikiran kalau dia akan mengganggu hubungannya dengan Panji. Padahal tak ada niat Lilis seperti itu.
Sedangkan Panji nampak kaget, ia sebenarnya sama sekali belum menyetujui pernikahan tersebut. Dan kenapa pula Wenny sudah mengatakannya didepan semua orang. Apa lagi banyak tamu penting bahkan para wartawan ada.
Setelah Wenny kembali ke sisi kedua orang tua nya Panji dan Hesti Ibunya, Panji menarik tangannya Wenny. Menariknya agak menjauh dari yang lainnya.
“Wen... kapan aku bilang kita kan menikah?” Tanya Panji sambil berbisik.
“Loh... Apa aku salah? Kita kan sudah cukup lama bertunangan, jadi apa salahnya kita menikah. Tentu saja aku menikah dengan tunanganku yaitu kau Mas Panji.” Bisik Wenny juga ke Panji.
“Tapi aku belum menyetujuinya Wen..”
“Kenapa lagi? Mau sampai kapan di tunda. Aku mencintaimu mas. Dan kita sudah tunangan jadi segera menikah tak ada salahnya.”
“Aku tidak mencintaimu Wen...”
“Kau masih mencintai Lilis kah?”
“Iya. Dan aku berniat kembali ke Lilis”
Sakit hati Wenny mendengar perkataan Panji. Tunangannya sendiri malah mencintai wanita lain. Ia tak terima.
“Hal itu mungkin tak bisa Mas..” Ucap Wenny dan kemudian berlalu menjauh dari Panji.
Panji nampak kesal. Tapi ia tak tahu harus bagaimana. Dan Wenny berjalan melewatin para tamu sambil tersenyum. Ia terus melangkah dan sampai di meja Lilis.
__ADS_1
“Hai Lis... Kau datang juga rupanya” Sapa Wenny dengan menyunggingkan senyumannya.
“Ya... Selamat untuk pernikahan kalian nanti. Jangan lupa undangannya” Lilis menoleh Wenny dan bersikap biasa saja.
“Tentu. Aku pastikan kau menerima undangannya” Wenny kemudian melirik pria di sebelah Lilis.
“Dia kekasihmu kah Lis?” Wenny memandang ke arah Dimas.
Dimas bangkit dan mengulurkan tangannya.
“Perkenalkan namaku Dimas Pratama” Dimas tersenyum ramah.
“Aku Wenny Herlambang. Sepupu Lilis.” Wenny menerima uluran tangan Dimas.
“Kau kekasihnya Lilis kah? Maaf Tuan Dimas Pratama?” Ucap Wenny kembali.
“Panggil saja Dimas. Aku adalah..” Dimas melirik ke Lilis.
“Dia temanku Wen” Sambung Lilis.
“Oh hanya teman. Ku pikir Kekasihmu. Tapi tentu saja. Siapa yang mau dengan wanita sepertimu.” Senyum licik Wenny mengembang.
“Jangan sembarangan Wen...” Lilis terlihat garang.
“Kenapa? Mau melawan dan jadi tontonan gratis. Mungkin mereka akan suka mendengar cerita kisah mu Lis... dimulai dengan pemerkosaan kah?”
Dimas agak bingung dengan suasana Wenny dan Lilis. Ia memang kurang tahu dengan cerita Lilis dan Wenny. Karena Lilis memang belum pernah cerita apa pun. Dimas hanya tahu cerita Lilis dan William saja. Namun Dimas memperhatikan dari samping saja.
Tangan Lilis dikepalkannya. Ia sangat marah dan kesal. Matanya nyalang menatap ke arah Wenny.
Disaat suasana panas di antara Wenny dan Lilis. Pintu Ballroom terbuka kembali. Ada yang masuk ke ruangan. Seorang pria gagah, keren, Ateletis dan sangat tampan memakai Jas setelan mahal melangkah masuk kedalam. Semua mata tertuju ke orang yang baru masuk tersebut. Begitu juga Lilis dan Wenny serta Dimas. Mereka pun menatap ke arah pintu tersebut.
Pria itu adalah William.
“William..” Gumam Lilis.
Bersambung...
Jangan Lupa Klik Vote dan Favorite ya kakak-kakak Readers semuanya. :)
Di like juga semua episodenya ya kak. Tinggalkan Komennya juga. Dukungan kalian akan sangat berarti agar Authornya semangat dan bisa UP cerita secepatnya. Makasih untuk yang sudah mampir ya kak. Love you all :)
__ADS_1