
“Please... Don’t leave me Lis” Gumam William dengan perasaannya yang sedih saat ini.
Dua jam kemudian.
Dokter berhasil menyelamatkan Lilis. Kini Lilis berada di ruangan pasien. Kamar VVIP.
William kini menungguin Lilis. Ia duduk di samping kursi yang ada di dekat ranjang pasien yang Lilis tempatin. Wajahnya sendu dan sedih melihat ke arah Lilis yang masih terpejam.
Jack datang dan masuk ke ruangan.
“Will..” Sapa Jack.
William meneloh ke arah Jack.
Setelah Lilis berhasil diselamatkan, William langsung mengabarin Jack.
Jack mendekatin William.
“Bagaimana keadaan Lilis?”
“Sudah lewat masa kritisnya Jack. Si kembar bagaimana Jack?”
“Si kembar di jaga oleh Tania di rumah. Beberapa pengawal juga aku tempatkan bersama mereka”
“Jack. Aku ingin kau membantuku. Aku mau membereskan Vanya”
“Apa dia yang berulah sampai hal ini terjadi?”
“Lakukan saja Jack. Sekalian pesan sebuah obat untuk ku. Aku ingin obat itu segera ada.” William memberikan secarik kertas yang telah ia tulis sebelumnya.
“Baik” Jack segera melaksanakan perintah William.
William ingin menyelesaikan segera masalah ini. William mengecup puncak keningnya Lilis. Ia lalu pergi keluar dari ruangan kamar pasien. Beberapa pengawal telah William tempatkan untuk menjaga ruangan kamar pasien tempat Lilis di rawat.
William mengendari mobilnya. Ia menelepon seseorang dan meminta pertemuan rahasia dengannya. Kemudian ia menelepon Vanya juga meminta untuk bertemu.
Mobil William melaju dengan kecepatan sedang. Ia menuju tempat pertemuannya dengan seseorang tersebut.
Kemudian ia sekalian akan menuju tempat pertemuannya dengan Vanya. William juga mengirimkan pesan chat ke Jack untuk perintah selanjutnya.
Dua jam kemudian, William tiba di tempat pertemuannya bersama Vanya. Mereka bertemu di sebuah restoran. Saat William tiba, ia sudah melihat Vanya duduk menunggunya. William pun mendekat dan duduk di hadapan Vanya.
“Hai Will” Vanya tersenyum manis.
“Hem...” William hanya menganggukan kepalanya.
“Aku senang kau mengajak ku bertemu. Ada hal apa Will?”
William menunjukan wajah dinginnya tanpa ekspresi di hadapan Vanya. Sehingga Vanya tak tahu apa yang di kehendaki oleh William.
“Kau ingin aku bertanggung jawabkan?” Ucap William dengan wajah datar.
“Iya Will” Wajah Vanya berubah senang mendengar perkataan William.
“Baik. Kalau begitu aku turuti”
“Benarkah? Kau serius Will?”
“Iya”
“Kalau begitu bagaimana kalau dua bulan lagi kita menikah?”
“Baik. Bulan depan pun bisa”
Vanya merasa tak sangka William akan luluh juga padanya. Ia senang bukan main. Hatinya berbunga-bunga.
“Aku senang sekali Will”
“Hem...”
Namun raut wajah William tetap dingin dan datar saja. Tak ada perubahan.
Vanya menatap ke arah William.
“Lalu Lilis bagaimana?”
“Dia minta cerai”
“Jadi kalian akan berceria saja kah?”
“Iya”
Vanya tersenyum bahagia. Ia pikir keinginannya bakal terwujud. Bisa bahagia bersama William. Begitulah pikir Vanya.
William melirik ke arah waiter. Seorang waiter telah membawa dua minuman jus orange. Kemudian meletakkannya di meja Vanya dan William.
“Loh... Aku tak pesan jus. Siapa yang memesan?” Vanya melirik ke arah waiter.
“Aku yang pesan untuk kita berdua” William yang menjawabnya dan waiter pun pamit undur diri.
“Oh... Padahal aku sudah pesan ice lemon tea loh. Tapi karena kau sudah pesankan, maka aku akan meminumnya” Karena Vanya terlalu bahagia, ia pun meminum jus tersebut tanpa ada curiga sedikit pun.
William tersenyum dan menaikan sebelah alisnya. Vanya pikir William tersenyum padanya sehingga Vanya membalas senyuman William. William pun ikut meminum jusnya.
5 detik kemudian, Vanya merasa pusing. Ia melihat ke arah William dan terasa berbayang-bayang pandangannya.
__ADS_1
“Will... Kok aku pusing ya. kenapa denganku...” Usai berkata tersebut Vanya pun pingsan.
William menyunggingkan senyumannya.
Jack muncul di dekat William.
“Bawa dia” Ucap William dan ia segera membayar bill minuman mereka dan membayar waiter tadi juga yang sudah membantunya. Kemudian ia melangkah pergi.
Sedangkan Jack bersama dua anak buahnya membawa tubuh Vanya yang telah pingsan.
Setengah jam kemudian.
Di sebuah tempat yang gelap dan tak tahu entah ada dimana, Vanya bangun dari pingsannya. Saat bangun ia terikat di sebuah kursi. Ia nampak bingung dengan situasi yang ada.
“Dimana ini? Kenapa aku ada disini? Kenapa aku terikat?” Ucap Vanya dengan bingung dan panik.
Suara langkah kai mendekat. Dan ternyata itu William.
Vanya melihat ke arah William. Ia kaget melihat William yang berdiri di hadapannya.
“Will?” Vanya mengkerutkan keningnya.
“Apa maksudnya ini?” Tanya Vanya.
William hanya tersenyum dingin.
“Jack...” Panggil William. Dan Jack pun muncul di hadapan William.
“Will... ada apa ini? Bukankah kau bilang kita mau menikah? Kenapa kau lakukan ini padaku?”
“Siapa yang mau menikah denganmu? Aku kan sudah menikah dan punya istri” tatap William dengan penuh aura mengerikan.
“Lalu... apa ini? Tapi tadi kau bilang kita akan menikah. Jadi semua itu bohongkah?”
“Aku kasih kesempatan sekali lagi padamu Vanya. Apa yang terjadi dikamar hotel waktu itu di antara kita??”
Vanya tertawa.
“Oh... Jadi karena ini kah? kau kan sudah tahu sendiri kalau kita telah tidur bersama, kenapa masih tanya lagi seh?”
“Aku tak percaya. Kau bisa saja menipu ku”
“Terserah. Yang penting sudah ku bilang. Apa kau tak mau tanggung jawab padaku Will?” Vanya mulai menangis. Air mata buaya. Dia memang sangat pandai berakting.
Sayangnya hal itu tak mempengaruhi William. William memadang ke arah Jack. Jack pun memahami tatapan William. Ia kemudian mengeluarkan jarum suntik. Vanya menatap heran.
“Apa yang mau kalian lakukan padaku? Jangan macam-macam. Jika kalian melakukan hal yang tidak-tidak, Papaku pasti akan marah dan membalas kalian” Ancam Vanya.
Namun Jack melangkah mendekatin Vanya. Ia menyuntikkan jarum suntik tersebut ke lengan Vanya. Vanya meringis kesakitan akibat suntikan tiba-tiba tersebut.
“Apa yang kalian suntikan padaku?” Tanya Vanya panik.
William datang mendekat dan melangkah ke arah Vanya. Kini ia tepat di hadapan Vanya. Sangat dekat. Ia membuka ikatan yang mengikat tubuh Vanya. Setelah itu ia biarkan Vanya.
Vanya yang berniat lari dan kabur, malah tak bisa bergerak. Sedetik kemudian, ia merasa lemas.
“Apa yang kau inginkan dan lakukan padaku?” Ucap Vanya yang sudah merasakan efek obatnya. Tubuhnya melemas, dan ia seperti dalam pengaruh obat yang aneh dirasakan oleh tubuhnya.
“Jack mulai merekamnya” Perintah William.
Jack pun melakukan perintah William. Ia mengeluarkan hapenya dan mulai merekam.
“Vanya... Aku tanya, apa yang terjadi di antara kita saat di hotel waktu itu?” William menatap serius di hadapan Vanya.
“Aku menjebakmu. Dan memberikan minuman padamu. Minuman tersebut telah ku beri obat. Setelah kau meminumnya, kau pingsan Will. Aku melepaskan semua pakaianmu juga pakaianku. Kemudian menunggu Lilis mencarimu. Lalu aku merebahkan mu di atas ranjang dengan aku disisimu. Kita tanpa busana. Jadi saat Lilis melihat kita, maka ia kan berpikir kalau kita telah tidur bersama” Ucap Vanya yang dalam pengaruh obat.
William tersenyum. Idenya telah berhasil.
“Jadi apakah kita telah tidur bersama?” tanya William kembali.
“Tidak. Bagaimana mau tidur bersama. kau saja pingsan dan tak bisa melakukan apa pun padaku”
“Jadi kau tak ku sentuh sedikit pun kan”
“Tidak. Bahkan aku masih perawan sampai sekarang. Tak ada yang terjadi apa pun pada kita di hotel saat itu”
“Jadi benar, kau berbohong dan menjebakku?”
“Iya”
“Jadi di antara kita tak ada apa pun yang terjadi kan?”
“Tidak ada apa pun yang terjadi di antara kita”
“Bagus...” William tersenyum puas.
William pun melirik ke arah Jack. Jack pun menganggukan kepalanya. Rekaman video pun segera di simpan oleh Jack.
Vanya menyadari apa yang ia katakan. Ia pun memandang ke arah William.
“Kenapa aku berkata seperti ini? Apa yang kau perbuat padaku?”
William memdang ke arah Vanya.
“Aku memberimu obat. Obat ini sangat mahal. Dan aku sengaja memesannya. Hanya untuk di gunakan padamu. Jadi saat disuntikkan padamu, maka obatnya akan langsung berkerja pada dirimu. Kau akan mengatakan semua kejujuran yang aku tanyakan. Kau tak akan bisa bergerak atau pun mengelak” William menunjukan senyum kemenangannya.
__ADS_1
“Sialan kau Will” Teriak Vanya yang terlihat marah. Namun tubuhnya lemas sekali. ia tak berdaya untuk melawan.
Di saat itu lah beberapa langkah kaki terdengar mendekat.
William menatap kedatangan seseorang yang sudah bertemu dengannya sebelumnya dengan rahasia.
“Aku rasa ada yang akan menjemputmu Vanya” Ucap William.
Vanya melihat orang yang datang mendekat. Ternyata itu adalah Grey Steele.
“Papa?” Vanya mengkerutkan keningnya.
Grey Steele menatap Vanya.
“Papa kecewa denganmu Vanya. Kenapa kau sampai melakukan perbuatan tercela ini?” Grey Steele terlihat kecewa pada Vanya. Ia telah mendengar semuanya yang dikatakan oleh Vanya tadi.
Vanya tertegun dan kaget memandang ke arah Papanya.
Grey Steele menatap ke arah William.
“Maafkan tindakan dan kelakukan putri saya Tuan Smith. Saya akan membereskan sisanya. Saya pastikan Vanya tak akan mengganggu anda dan keluarga anda lagi” Grey Steele pun mengulurkan tangannya pada William. Dan William pun menyambutnya dan mereka berjabat tangan.
Setelah itu Grey memanggil anak buahnya untuk membawa Vanya bersamanya. Mereka pun pergi meninggalkan tempat tersebut.
Kini hanya tinggal William dan Jack serta dua anak buahnya.
Jack menepuk pelan pundak William.
“Sudah Will. Semuanya sudah beres dan aman” Jack mengirimkan rekaman tersebut ke hape William.
“Iya. Sekarang kita ke rumah sakit” Willliam tersenyum ke arah Jack.
William pun pergi dari tempat tersebut di ikutin Jack dan anak buahnya. William segera menuju rumah sakit.
Sampai di rumah sakit, William langsung ke ruangan kamar pasien dimana Lilis di rawat.
Saat ia masuk, Lilis sudah sadar. William pun mendekatin Lilis. Lilis yang melihat William datang mendekat segera membuang muka. Ia tak mau melihat William. Ia memandang ke arah lain.
William duduk di samping ranjang Lilis.
“Lis... Sayang. Kau sudah sadar ternyata”
Namun Lilis tetap diam membisu, tak mau bicara dengan William.
William menghela nafas panjang.
“Apa kau masih marah padaku sayang?” William menatap ke arah Lilis penuh kasih sayang. Tapi Lilis hanya diam.
“Lis... percayalah padaku sayang. Dan lihatlah rekaman ini” William memberikan hapenya dan menunjukan rekaman yang telah dikirimkan Jack tadi ke hapenya.
Lilis tak mau melihat awalnya. Namun ia penasaran dengan apa yang ada pada rekaman tersebut.
Lilis pun menerima hape William dan melihat rekaman tersebut. Ia melihat dengan ekspresi kaget luar biasa. Setelah rekaman selesai dilihatnya, Lilis kembalikan hape tersebut pada William.
Lilis diam membisu tapi tatapan matanya melihat lurus ke arah William. William pun melihat ke arah Lilis juga. Keduanya saling bertatapan.
Bersambung...
Semoga kalian berdua bahagia ya Lilis dan William. Aaammmiiinnn. :D
Yang suka dengan karya ini, ikutin terus kisahnya sampai akhir ya kakak readers semuanya :)
No Plagiat ya. Hargai usaha dan kerja keras seseorang dalam berkarya. Jadi katakan tidak pada meniru karya seseorang dan tidak menjiplaknya. No Plagiat. Makasih untuk yang sudah mampir ya kak. Love you all :)
Karya ini sedang mengikutin lomba, jadi mohon dukungannya terus ya kak.
Cara mendukungnya gampang yaitu :
1. Like semua episodenya / bab-nya ya kak. Dibaca juga semua babnya :)
2. Klik Vote setiap hari dan setiap saat ya kak. Dan setiap hari senin juga :D
3. Klik Favorite juga ya kak
4. Selalu berikan dukungannya ya kak setiap saat :D
5. Tinggalkan komen ya kak :)
6. Kasi bintang 5 ya kak untuk karya ini sebagai menyukai karya ini dan apresiasi ke karya saya ini.
Makasih semuanya. Dukung terus karya ini ya kakak readers semuanya, biar Author semangat UP ceritanya. Love you all :)
Tembus 200 lebih like segera di UP kembali.
__ADS_1