
Jack kemudian kepikiran seseorang. Ia lalu melakukan panggilan tanpa sepengetahuan William.
“Halo...” Ucap suara diseberang sana menjawab telepon dari Jack.
“Ini aku Jack...” Jack memberitahukan identitasnya ke orang yang diteleponnya.
“Jack siapa??” Tania yang sedang dirumah Lilis menerima telepon dari Jack. Saat ini Lilis sedang didapur dan Tania sedang di ruang tamu sendirian duduk di sofa.
“Mungkin Nona Tania sudah bertemu Lilis dan mendengar semua kisahnya. Jadi bisa kita ketemuan dan bicara.” Jack berharap Tania bersedia.
“Soal Lilis dan William kah?” Tania mulai mengerti maksud dari Jack.
“Iya.”
“Baiklah. Katakan dimana dan kapan. Segera sms atau chat aku.”
“Ok. Sekarang saja kalau bisa. Aku akan mengirimkan alamat tempat kita bertemu.”
“Baik kalau begitu” Tania pun setuju saja.
Telepon dimatikan. Tepat Tania baru saja menutup teleponnya, Lilis kembali ke ruang tamu dan duduk kembali bersama Tania.
“Tan... ini ku buatkan Teh dan ada camilan kue. Dinikmatin ya Tan...” Lilis menawarkan makan dan minum.
“Makasih Lis...” Tania meminum teh tersebut dan mengambil satu kue untuk dicicipi. Kemudian sebuah pesan chat masuk. Tania membacanya. Setelah itu ia hendak pamit.
“Lis... Aku pergi dulu ya. Ada urusan. Kalau nanti kau butuh bantuan segera hubungi aku.” Pesan Tania ke Lilis. Jika perlu bantuan hubungi saja dirinya.
“Oke. Hati-hati dijalan.”
Tania pun pamit dan segera menaiki mobilnya menuju tempat yang di beritahukan Jack melalui pesan chat barusan. Ia menuju sebuah cafe yang berada di tengah kota. Tania memparkirkan mobilnya. Kemudian turun dan berjalan masuk ke cafe tersebut. Didalam cafe sudah ada Jack menunggunya. Tania datang mendekat.
“Jack??? Itu kau kah?” Tanya Tania yang berdiri didekat Jack.
“Iya. Silahkan duduk Nona Tania. Sudah ku pesan kan minumannya. Jus orange semoga suka. Kalau mau pesan yang lain pun silahkan”
“Oh.. Tak masalah. Ini saja juga gak apa-apa.”Tania duduk di kursi yang satu meja dengan Jack. Ia duduk dihadapan Jack. Jack memesan kopi hitam untuknya sendiri. Ia menyeruput kopinya. Sedangkan Tania mulai meminum Jus nya.
“Maaf jika aku memintamu kemari. Ada yang mau ku minta tolongi. Aku rasa Nona Tania sudah tahu cerita dan situasinya” ungkap Jack terus terang ke Tania.
“Apa yang mau kau bahas. Dan tunggu dulu. Panggil saja aku Tania. Tak perlu embe-embel Nona. Oh iya darimana kau tau nomer hape ku” Tania agak bingung darimana ia tahu nomernya.
“Maaf sebelumnya. Baik aku tak akan formal lagi. Aku memperoleh nomermu karena sebelumnya bukankah kau pernah dijodohkan Pak siregar dengan William Smith. Kau pasti ingat kejadi lalu.”
Tania mengingat hari itu, ia meminta Lilis menjadi dirinya untuk menolak perjodohan tersebut.
“Iya. Aku ingat.”
“Nah.. datamu dan juga nomer hapemu sudah kami selidiki. Awalnya William juga tak begitu tertarik untuk dijodohkan. Namun Pak Siregar ingin sekali melihat putrinya berjodoh dengan William. Karena itu ia berusaha menjodohkan kalian. Tapi William ingin melihat dulu dirimu Tan. Karena itu ia meminta ku jadi William Smith. Malah dipertemuan itu William bertemu Lilis kembali. Setelah itu ia menyuruhku meminta data dan semua informasi Lilis. Jadi semua data Lilis dan anak kembarnya, pekerjaannya, tempat tinggal dan teman-teman yang berinteraksi dengannya sudah kami punya datanya. Begitulah aku tahu tentang mu Tan. Dan begitu juga aku tau tentang nomer Hapemu.” Jack menjelaskan dengan agak sedikit dipersingkatnya.
“Oh begitu. Jadi... Tunggu dulu. Jadi namamu siapa sebenarnya?? Jack apa?? Kau anak buah William begitu.”
__ADS_1
“Begini. Nama asli ku Jack Smith. Dipanggil Jack. Bisa dibilang aku ini seperti sodara angkat untuk William. Aku tangan kanannya William, asistennya juga wakil direktur diperusahaannya. Namun aku juga teman William dari ia kecil, juga bisa dibilang sahabatnya.”
“Oh... seperti itu hubungan kalian.”
“Iya. Dan sebenarnya aku kurang tahu detail gimana masa lalu Lilis dan William. Namun William bercerita sedikit kepadaku. Ia mengaku sebagai Fatar dimasa lalu dan memperkosa Lilis. Di masa sekarang ia telah kembali bertemu Lilis. Selama ini ia di Inggris. Ia ada pekerjaan disana. Saat kembali ke Indonesia, William berniat mencari Lilis. Karena ia masih ingat kesalahannya. Ia merasa bersalah. Ketahuilah ia tak sengaja melakukan hal tersebut ke Lilis. Dan tak disangka William bertemu Lilis kembali hingga ia menyamar jadi Yudha Hadinata untuk mendekati Lilis.”
“Hem... Jadi benar itu. Fatar dimasa lalu Lilis dengan Yudha adalah orang yang sama. Dan dia sebenarnya adalah William Smith sesungguhnya. Bukan kau William Smith. Tapi dia. Fatar, Yudha dan William Smith adalah orang yang sama.”
“Iya. Itu benar. Aku rasa kau sudah tau semuanya dari Lilis”
“Iya. Lilis sudah cerita semuanya kepadaku. Sesungguhnya ini sangat rumit bagiku.”
“Aku tahu. Memang rumit sekali. Ntah apa yang dipikirkan William hingga ia membuat semuanya jadi rumit.”
“Kenapa tidak dari awal saja jujur ke Lilis?”
“William bilang ingin mendekati Lilis dahulu baru memberitahukannya nanti. Tapi... sepertinya sekarang terlalu rumit dan bermasalah. Situasi dan keadaannya kau pasti sudah pahamkan.”
“Iya aku tahu”
“Karena itulah. Aku ingin meminta bantuanmu”
“Aku tak bisa membantu. Maafkan aku.”
“Tolong pertemukan mereka berdua. Biarkan mereka berbicara dari hati ke hati berduaan.”
“Aku rasa Lilis tak akan mau. Ia terlalu tersakiti.”
“Apakah ini jalan terbaik. Aku rasa tidak.”
“Setidaknya kasi kesempatan ke William untuk menjelaskan semuanya ke Lilis. Bantu aku pertemukan mereka berdua.”
“Tapi...” Tania ragu.
“Tan... Tolonglah.” Jack yang tak pernah meminta bantuan seseorang sampai segitunya, sekarang malah sangat memelas pertolongan. Ia lakukan ini hanya demi William. Ia memegang tangan Tania. Meminta bantuannya.
Tania terdiam. Saat Jack menyentuh tangannya meminta bantuannya, ia merasakan desiran aneh dihatinya. Ia jadi goyah. Karena Jack terus memohon bantuannya sambil meraih tangannya Tania.
“Baiklah. Aku akan coba.” Tania akhirnya mengiyakannya.
Jack tersenyum dan berterima kasih ke Tania.
“Terima Kasih” Ucap Jack ke Tania.
“Ya. Sama-sama” Tania pun jadi tersenyum.
Keduannya masih berpegangan tangan. Jack dan Tania merasa hangat satu sama lain. Kemudian Jack menyadari kalau ia masih memegangi tangan Tania. Ia segera menarik tanganya menjauhi tangannya Tania. Ia meminta maaf. Namun Tania hanya tertawa kecil. Karena Tania sudah mengiyakannya maka ia harus menepatinnya. Ia akan berusaha melakukannya sesuai yang diharapkan Jack. Kini keduannya kembali menikmatin minumannya. Dan kemudian hanya berbincang yang ringan-ringan saja. Keduanya kelihatan mulai akrab.
***
Lilis menjemput anak-anaknya pulang sekolah. Kini mereka sudah naik taksi pulang ke rumahnya. Sesampai dirumah si kembar mulai bertanya ke Lilis.
__ADS_1
“Mama.. Tumben Mama jempu kita pulang. Biasanya Papa yang sempatkan jemput Rafa dan Fatar” Rafa menanyakan perihal tersebut ke Lilis.
“Iya Ma... terus kok seharian ini Papa gak kelihatan?” Fatar melihat ke arah Mamanya sambil meminta jawaban.
Lilis bingung menjawab pertanyaan anak-anaknya. Tak mungkin Lilis menceritakan apa yang terjadi ke anak anaknya. Ia jadi diam membisu.
“Mama..??” Rafa menatap Mamanya.
“Itu karena Papa sibuk. Jadi tak sempat menemui kalian. Dan Mama lagi istirahat jadi punya banyak waktu dengan kalian. Sementara ini Mama tidak akan bekerja.” Hanya ini yang bisa dijelaskan Lilis ke anak-anaknya.
“Oh...” Jawab si kembar bersamaan.
“Ya sudah. Sana ganti bajunya. Lalu makan ya...” perintah Lilis ke anak-anaknya.
“Iya Ma...” Jawab si kembar kompak dan berlari ke arah kamar mereka untuk ganti pakaian sekolahnya dan kemudian memakai pakaian biasa.
Lilis lalu duduk di sofa diruang tamunya. Ia menghela nafas beratnya. Sedangkan didalam kamar Rafa berbicara dengan Fatar. Ia sudah mencurigai tingkah laku Mamanya.
“Fatar.. kau merasa ada yang aneh gak” Ucap Rafa ke adiknya.
“Iya kak Rafa. Aku merasa ada yang aneh dengan Mama. Sepertinya Papa dan Mama bertengkar Kak.” Fatar menebak sangat tepat.
“Aku rasa pun begitu. Soalnya sesibuk apa pun Papa pasti akan tetap menyempatkan waktu untuk kita walau itu sebentar. Iya kan” Rafa juga merasakan hal yang sama dengan Fatar.
“Iya kak. Itu benar”
“Lalu gimana menurutmu?”
“Kita buat Mama baikan dengan Papa yuk Kak.” Usul Fatar.
“Oke. Kalau begitu nanti kita cari Papa ya...” Ajak Rafa ke sang adik.
“Oke. Oh iya. Aku telepon Papa ya kak. Kita kan ada Hape pemberian Papa. Nomer Papa dan Mama sudah kita save.”
“Oh iya. Benar juga. Telepon Papa sekarang Fatar.”
“Oke kak.”
Fatar mengambil HP-nya. Ia kemudian mencari nomer William. Setelah itu Fatar menekan tombol memanggil.
Saat telepon mulai tersambung, Lilis datang ke kamar.
“Rafa... Fatar... sedang apa kalian nak” Lilis masuk ke kamar.
Rafa dan Fatar jadi saling pandang.
Bersambung...
Jangan Lupa Klik Vote dan Favorite ya kakak-kakak Readers semuanya. :)
Di like juga semua episodenya ya kak. Tinggalkan Komennya juga. Dukungan kalian akan sangat berarti agar Authornya semangat dan bisa UP cerita secepatnya. Makasih untuk yang sudah mampir ya kak. Love you all :)
__ADS_1