
Hati Lilis meleleh rasanya memandang ke arah suaminya sendiri. Ia pun akhirnya menganggukan kepalanya menyetujui ajakan suaminya tersebut.
Lilis dan William menghabiskan winenya dan cakenya. Kemudian William membawa Lilis masuk ke kamar yang sudah disediakan di kapal pesiar tersebut.
Saat sudah di dalam kamar, keduanya saling bertatapan. Kemudian William memeluk istrinya dan membawanya ke atas ranjang. Ia mengecup bibir istrinya. Kecupan yang semakin hangat dan mesra. Setiap belaian dan sentuhannya membuat Lilis merasakan kehangatannya. Ciuman semakin panas dan akhirnya semua pakaian dilepas satu persatu hingga keduannya sama-sama polos. Kemudian penyatuan pun terjadi dan suara kenikmatan pun lolos dari bibir Lilis dan William. Keduanya menikmatin suasana tersebut sepanjang malam hingga keduanya kelelahan dan akhirnya tertidur dengan saling berpelukan.
Esok harinya.
Lilis terbangun dengan William yang masih memeluknya. Ia perlahan-lahan melepaskan pelukan William dan turun dari ranjangnya. Lilis menutupi tubuh William dengan selimut. Ia tersenyum memandang ke arah William. Tadi malam William benar-benar membuatnya tak bisa tidur, tak tanggung-tanggung tiga kali ronde tadi malam keduanya bercinta.
Sekarang saja Lilis bangunnya kesiangan. Matahari sudah tinggi. Ia berjalan ke arah kamar mandi yang ada di kamar tersebut. Ia mandi dan membersihkan dirinya.
Setelah selesai mandi Lilis keluar hanya dengan memakai handuk yang dililitkan pada tubuhnya. Ia menatap suaminya yang masih terlelap tadi malam.
Lilis mendekatin ranjang dan mencoba membangunkan William.
“Sayang... bangunlah. Sudah siang” Lilis mengelus wajah William dengan lembut.
William pun terbangun. Ia membuka matanya perlahan-lahan. Dan pemandangan yang dilihatnya sewaktu baru bangun adalah istrinya yang sudah mandi dan nampak segar sekali. William duduk dan langsung menarik Lilis hingga jatuh ke pangkuannya.
“Kiss me” ucap William penuh sensual. Lilis tersenyum.
“Mandi sana gih... habis tu kita makan dan pulang”
“No... aku inginkan dirimu sayang”
“Lagi... tadi malam saja sudah tiga ronde sayang. Apa kau tak lelah?”
“Tidak. Aku sangat bersemangat” William mengecup bibir Lilis. Ia pun menarik Lilis hingga Lilis berbaring di ranjang dan berada dibawah William.
William mengecup puncak keningnya Lilis. Lilis memejamkan matanya. Kemudian turun kehidungnya lalu kedua matanya dan kedua pipi mulus Lilis di kecupnya dengan lembut. Lalu turun ke bibirnya. Berlama-lama di bibirnya Lilis saling mengulum dan memilin lidah keduanya. William puas mengulum bibir istrinya tersebut kemudian turun ke leher dan meninggalkan jejak kepemilikan di kedua lehernya Lilis dan semakin turun hingga melepaskan handuk yang melilit tubuh Lilis.
Kini keduanya kembali sama-sama polos dan William menikmatin setiap bagian tubuhnya Lilis. Dan ia pun melakukan kembali penyatuan dengan Lilis. Sehingga di kamar tersebut kembali terdengar suara kenikmatan mereka berdua. Dikamar itu pun menjadi saksi bagi mereka yang saling memadu kasih dan bercinta dengan sangat panas.
Usai keduanya bercinta, William mandi bareng dengan Lilis. Selesai keduanya mandi, keduanya kini sama-sama memakai handuk saja di tubuhnya masing-masing.
“Kita tak membawa pakaian ganti. Apa pakai pakaian yang semalam saja ya sayang?” Lilis melirik suaminya.
“Jangan cemas. Aku sudah memesan pakaian untuk kita berdua. Tunggu ya” William menelepon seseorang dengan hapenya. Tak lama kemudian seorang pelayan mengetuk pintu dan datang membawa dua setel pakaian. Satu stel pakaian pria dan satu stel lagi pakaian wanita. William membuka pintu dan menerima pakaian tersebut. Dan pelayan pun undur diri.
William menyerahkan satu stel pakaian wanita. Dress berwarna jingga di serahkannya pada Lilis. Sedangkan William sendiri memakai kemeja biru muda dengan jas hitam plus celana hitam.
“Ini sayang. Pakailah” William menyerahkan dress tersebut.
“Thanks” Lilis menerimanya.
“Pakailah di hadapan ku sayang” Goda William dengan senyuman nakalnya. Alisnya trangkat sebelah saat mengatakannya kepada Lilis.
Lilis tertawa kecil.
“Jangan menggodaku. Aku akan pakai di kamar mandi saja”
“Oke. Cepatlah. Makanan kita sudah disediakan”
Lilis menganggukan kepalanya. Lilis masuk kamar mandi dan memakai pakaian di dalam kamar mandi. Sedangkan William memakai pakaiannya di tempatnya sekarang berdiri.
__ADS_1
Setelah keduanya selesai, mereka langsung keluar dari kamar dan menuju tempat yang disediakan untuk makan berdua.
William menarikan kursi untuk Lilis bisa duduk duluan. Setelah mempersilahkan kan Lilis duduk, William pun duduk di hadapan Lilis hanya meja bulat yang menghalangi mereka berdua. Dan di atas meja sudah tersedia satu gelas teh dan satu gelas kopi hitam bahkan ada juga dua gelas jus orange. Menu makanannya scotch egg, bubble and squeak, fish and chips, dan terkahir ada stick toffe pudding.
Lilis dan William menikmatin makanan yang ada di hadapan mereka. Mereka makan dengan lahap karena sudah terlalu siang memang dan juga sudah sangat lapar.
Selesai makan, kedua nya berniat untuk turun dari kapal. Tapi ternyata kapal masih berlayar dan masih di tengah lautan.
“Will... Kita masih di tengah lautan?” Lilis memandang lautan yang sangat indah sekali.
“Hem... sebaiknya kita nikmatin dahulu pemandangnya” William tersenyum hangat sambil memeluk Lilis dari belakang.
Lilis mengambil hapenya dan mengambil foto kebersamaan mereka berdua saat ini. Sungguh hari yang indah dan menyenangkan.
Setelah dua jam berlalu, barulah kapalnya sampai kembali di dermaga dan menepi. Lilis dan William turun dari kapal. Mereka berjalan bersisian dan saling bergandengan tangan. Kemudian berjalan menuju mobilnya William yang sudah diparkirkan dan dititipkan sama penjaga di dekat dermaga tersebut.
William mengambil kunci mobil dan Lilis dan William naik ke mobilnya untuk menuju rumah. Mereka hendak pulang dan bertemu dengan si kembar di rumah.
Beberapa jam kemudian sampailah William dan Lilis di rumah. Karena sudah sore hari, si kembar sudah pulang dari sekolah dan menyambut Mama dan Papanya. Si kembar mencium pipi Mamanya sambil mengucapkan Happy Birthday. Rafa dan Fatar juga memberikan kado ke Mamanya. Lilis sungguh bahagia dan tersenyum manis. Ia memeluk dan mencium kedua anak kembarnya. William pun ikut serta mencium si kembar dan memeluk istri dan anak-anaknya.
***
Waktu terus berjalan. Bulan demi bulan pun berlalu. Sudah tiga bulan berlalu.
Dan siang itu Lilis sedang di butiknya. Ia baru saja membuat desain baru untuk pakaian yang akan dibuat oleh toko butiknya.
“Oke. Selesai. Seperti ini saja nanti kau buat ya Nay” Ucap Lilis menatap Naya pegawainya di butik.
“Baik buk”
Tiba-tiba Lilis merasa pusing. Naya memeprhatikan bosnya tersebut yang terlihat agak pucat saat ini.
“Kenapa Buk? Sakit buk? Anda kelihatan pucat sekali” Naya mencemaskan bosnya.
“Aku tak apa. Mungkin hanya kecapekan. Tadi pagi aku tak selera makan. Bisa jadi karena hal itu”
“Sebaiknya Buk Lilis periksakan diri ke dokter” Naya menyarankan.
“Tidak usah. Tak perlu Nay. Sudah ya. Aku mau pulang”
“Baik Buk”
Lilis tersenyum ke Naya dan berbalik hendak keluar dan hendak pulang. Namun baru saja ia sampai pintu depan, Lilis merasakan pusing kemudian ia pingsan. Naya kaget dan segera berlari ke arah bosnya. Ia memanggil beberapa staf lainnya untuk membantunya.
“Nay.. Buk Lilis kenapa?”
“Gak tahu. Cepat panggil dokter” Ucap Naya.
“Tak usah. Panggil suaminya saja”
Naya pun mengambil hape Lilis dan menekan tombolnya dan mencari nomor suami dari bosnya tersebut.
Di tempat lain. Di kantor William.
William saat ini sedang rapat dengan para pegawainya. Biasalah rapat bulanan. Hape William berbunyi dan bahkan berkali-kali berbunyi karena tak diangkat juga oleh William. Ia masih fokus ke rapat yang masih berlangsung. Jack memperhatikan ponsel William. Ia melihat nama dilayar hape. Jack pun berbisik.
__ADS_1
“Will... Sepertinya itu Lilis yang menelepon” Bisik Jack ke telinga William.
William pun menoleh dan melirik hapenya. Ia pun mengangkat panggilan tersebut.
“Sayang... Aku sedang rapat. Nanti akan ku telepon balik ya” Ucap William.
Namun bukan suara Lilis yang terdengar tapi suara Naya.
“Maaf Pak. Ini saya Naya. Bukan buk Lilis”
William mengkerutkan keningnya.
“Naya? Kemana istriku? Ada apa kau menelepon?”
“Buk Lilis pingsan Pak. Saat ini di butik Pak”
“Hah!!!” William tentu saja panik dan kaget. Ia berdiri dari tempat duduknya. Jack yang disebelahnya pun sampai melirik ke arah William.
Semua yang hadir di rapat juga menoleh ke arah William. Bahkan yang sedang persentasi didepan saat rapat ini pun juga menoleh ke William. Semua diam dan melihat ke arah William.
Bersambung...
Lilis pingsan, William panik dan semua orang pun jadi kebingungan. :D
Yang suka dengan karya ini, ikutin terus kisahnya sampai akhir ya kakak readers semuanya :)
No Plagiat ya. Hargai usaha dan kerja keras seseorang dalam berkarya. Jadi katakan tidak pada meniru karya seseorang dan tidak menjiplaknya. No Plagiat. Makasih untuk yang sudah mampir ya kak. Love you all :)
Karya ini sedang mengikutin lomba, jadi mohon dukungannya terus ya kak.
Cara mendukungnya gampang yaitu :
1. Like semua episodenya / bab-nya ya kak. Dibaca juga semua babnya :)
2. Klik Vote setiap hari dan setiap saat ya kak. Dan setiap hari senin juga :D
3. Klik Favorite juga ya kak.
4. Selalu berikan dukungannya ya kak setiap saat :D
5. Tinggalkan komen ya kak :)
6. Kasi bintang 5 ya kak untuk karya ini sebagai menyukai karya ini dan apresiasi ke karya saya ini.
Makasih semuanya. Dukung terus karya ini ya kakak readers semuanya, biar Author semangat UP ceritanya. Love you all :)
Tembus 200 lebih like segera di UP kembali. Like yang banyak dan vote sebanyaknya ya kak. Thanks.
__ADS_1