
“Bukannya kau dan dia sekarang menjalin hubungan kasih. Kau masih mencintainya Lis??”
Dimas memperhatikan raut wajah Lilis. Lilis diam tanpa ekspresi.
“Atau karena kebenaran yang kuberikan itukah jadi hubungan mu dan dia jadi rusak. Kalian sudah putus?” Kata Dimas kembali.
“Dim... Bagaimana bisa kau menemukan Dompetku dan ID serta barang-barangku yang lama hilang di rumah William?” Lilis penasaran saja. Gimana ceritanya itu bisa di tangan Dimas.
“Sebenarnya aku menerima sebuah paket. Isinya adalah benda-benda milik mu. Di catatan paketnya ada sebuah pesan yang mengatakan ia menemukan dirumah Fatar yang sekarang menyamar jadi Yudha. Karena itu aku segera memberitahukannya ke kau Lis. Ternyata jati dirinya yang asli adalah William Smith. Presdir dari Perusahaan I.S (Internasional Smith)” Tutur kata Dimas.
“Oh... kau hanya menerima paket. Dari siapa?? Kenapa waktu itu kau bilang menemukannya”
“Aku tak tahu siapa yang mengirim Paketnya. Tak ada nama pengirimnya. Karena pengirim tanpa nama bilang menemukan dirumah Yudha jadi aku bilang hal sama kepadamu. Saat itu dia kan menyamar jadi Yudha. Dipesan itu juga dikatakan kalau Fatar dan Yudha adalah orang yang sama.”
“Oh... Begitu rupanya.”
“Iya. Jati dirinya yang asli adalah William Smith saja aku tahunya dari mu Lis... kan baru saja kau ceritakan kepadaku”
“Ah.. iya-iya.”
“Jadi apa kau masih mencintainya Lis?” Dimas memandang ke wajah Lilis dengan serius.
Lilis menghela nafas. Ia memandang langit-langit. Dimas memandang Lilis yang nampak gusar.
“Maafkan aku Lis... Kalau kau tak mau jawab tak apa-apa Lis..”
“Aku masih mencintainya. Namun aku takut untuk mencintainya. Bayang-bayang masa lalu masih menghantuiku. Jadi aku tak bisa. Aku pun takut kalau Rafa dan Fatar akan diambil oleh William. Karena itu aku memintamu menjadi Papa dari anak-anakku. Maaf merepotkanmu menjadi berpura-pura.”
“Tak apa-apa Lis. Aku suka rela melakukannya” Dimas tersenyum. Bagi Dimas ini adalah kesempatan baginya untuk mendekatin Lilis. Ia masih menyukai Lilis. Jadi Dimas berharap kalau Lilis bisa jadi miliknya.
Hape Lilis berdering. Lilis melihat ke Hapenya. Ternyata Panji menelepon. Lilis heran kok Panji meneleponnya. Ia tak menghiraukannya. Kemudian pesan chat masuk dari Panji tapi Lilis juga tak peduli. Karena baginya Panji juga hanya masa lalunya.
“Dim... mungkin sebentar lagi William akan sampai. Aku sudah bilang kalau kita akan bertemu di cafe ini. Nanti kau bantu aku ya jadi papa anak-anakku.” Lilis meminta ke Dimas.
“Oke”
Beberapa saat kemudian, William benar-benar sampai ke Cafe tersebut. William melihat Lilis duduk bersebelahan dengan Dimas. William pun datang mendekat dan lalu duduk juga.
“Maaf lama. Tadi ada kerjaan dikantor” Ucap William sambil ia duduk.
“Tak masalah. Silahkan pesan minumnya” Dimas menawarkan.
“Tak perlu. Langsung saja dengan intinya” William nampak cuek bertemu dengan Dimas. Ia dari awal memang tak suka dengan Dimas.
“Jadi begini... Aku dan Dimas meminta mu bertemu agar kau mendengar langsung kalau Dimas lah Papa dari anak-anakku.” Lilis berbicara dan lalu menoleh ke Dimas sambil tersenyum.
__ADS_1
“Iya. Benar. Aku adalah papa kandung dari Rafa dan Fatar.” Dimas jyga membenarkan kata-kata Lilis.
“Jadi karena itu kau tak perlu lagi bertemu dengan anak-anakku dan mengganggu ku lagi” Timpal Lilis kembali.
William tertawa kecil. Sungguh Lilis sangat berusaha sekali agar ia tak boleh mengakui anak-anaknya sendiri. Kenapa Lilis begitu menjauhkan dirinya ke anak-anaknya.
“Apa betul Rafa dan Fatar anak kalian berdua?”
“Iya. Tentu saja. Aku yakin.” Ucap Dimas.
“Lalu kenapa kau tak menikahi Lilis dan kenapa kalian hanya teman saja.”
“Sebenarnya aku dan Lilis tak dapat restu dari kedua orang tua ku karena itu kami susah untuk menikah. Tapi aku selalu berusaha menyakinkan orang tuaku agar suatu saat mereka mau menerima Lilis dan anak-anakku. Lilis mengatakan aku hanya temannya selama ini karena ia kesal. Soalnya kau belum juga memberikan kebahagian yang di maunya.” Dimas meberikan alasan yang sangat menyakinkan.
“Hahaha...” Akting kalian sungguh hebat. Lis... segitunya kah kau membantah aku. Padahal aku Papa kandung Rafa dan fatar.” William hanya terkekeh melihat usaha Lilis yang sangat gigh sampai menyuruh Dimas berbohong juga.
“Kami tak bohong kok” Tukas Lilis.
‘Kau masih tak mau mengakui aku adalah Papa kandung dari anak-anakmu Lis...”
“Karena memang bukan. Dimaslah papa kandung Rafa dan Fatar.”
“Jangan berbohong Lis...”
:Kami tak berbohong” Ujar Dimas juga.
“Baik. Kalau begitu ayo sekarang kita jemput Rafa dan Fatar di sekolah. Kita lakukan tes DNA. Bagaimana Dim? Lis? Kalian setuju?” William menaikan alis matanya sebelah.
Dimas dan Lilis saling pandang. Lilis jadi agak bingung. Jika dilakukan maka akan ketahuan kalau William lah papa kandungnya Rafa dan Fatar. Ia dan Dimas bisa ketahuan bohong.
‘Dim... bagaimana ini?” Bisik Lilis ke Dimas.
“Kau tenang saja Lis” Bisik Dimas pula.
“Bagaimana ???” William bertanya kembali karena dilihatnya Lilis tak menjawab juga. Dimas dan Lilis hanya berbisik berdua saja.
“Untuk apa tes DNA. Apa kau tak percaya pada kami?” Dimas menatap William tajam.
“Aku adalah Ibu dari anak-anakku. Jadi aku yang lebih tahu. Dimas lah papa dari anak-anakku” Ucap Lilis dengan kelihatan nampak serius.
William mengeleng-gelengkan kepalanya. Ia mengeluarkan sebuah kertas dari saku baju jasnya. Ia menunjukkan didepan Lilis dan Dimas.
“Ini.. Aku punya hasil tes DNA-nya. Hasilnya Rafa dan Fatar adalah darah dagingku. Aku lah Papa kandung dari anak-anakmu Lis.” William melihat ekspresi Lilis yang kaget setelah ia menunjukan kertas hasil tes DNA.
Dimas pun terdiam. Ia pun tak sangka kalau William sudah punya hasil tes DNA-nya. Lilis melihat ke surat hasil Tes DNA tersebut. ia sangat syok.
__ADS_1
“Bagaimana bisa?” Ucap Lilis tak percaya.
“Kenapa? Kau bingung Lis... sebelumnya aku sudah melakukan tes DNA dari jauh hari. Bahkan Rafa dan Fatar sudah tau kalau aku adalah papa kandung mereka.”
Lilis semakin kaget setelah mendengar perkataan William tersebut.
“Rafa dan Fatar sudah tahu...” gumam Lilis.
“Iya. Mereka sudah tahu. Sekarang kau tak bisa mengelak lagi Lis..” William tersenyum.
Dimas mendengus kesal. Ia nampak marah. William juga menatap tajam ke arah Dimas.
“Dan kau Dim... Jangan mengaku-ngaku sebagai Papa dari anak-anaku. Paham kau!!” Ada penekanan didalam kalimat William barusan untuk Dimas.
Dimas mengepalkan tangannya. Ia nampak kesal. Ia pikir akan mudah membuat William percaya. Tapi William yang cerdas tentu saja sudah mempersiapkan semuanya.
“Aku... Aku...” Lilis tak dapat berkata-kata lagi.
“Tapi tetap saja tak ada guna Tuan William Smith” Ucap Dimas tiba-tiba.
“Maksudmu?” William mengkerutkan keningnya.
“Karena Aku dan Lilis akan segera menikah. Iya kan Lis.. Kami benar-benar menjalin hubungan cinta. Iya kan Lis..” Dimas memandang ke arah Lilis.
Sedangkan Lilis malah jadi kaget dan terbengong dengan ucapan Dimas. Ia tak dapat berkatakata lagi. Karena Lilis tak menjawab, Dimas menyenggol kaki Lilis. Lilis pun jadi sadar.
“Ah... iya. Aku dan Dimas hendak menikah.” Waduh kok jadi begini ucap dalam hati Lilis. Lilis jadi makin mumet.
William yang mendengar menjadi syok. Ia hampir tak percaya.
“Baiklah. Kalau begitu selamat untuk kalian berdua. Jangan lupa undang aku.” William berdiri dan hendak pergi. Namun ia berbalik kembali. Menoleh ke Lilis dan Dimas.
“Oh iya Lis... Aku akan mengambil hak asuh Rafa dan Fatar. Sampai jumpa dipersidangan.” Setelah berkata hal tersebut William langsung melangkahkan kakinya keluar dan pergi.
“Hah!!! Apa!!!” Lilis nampak syok kembali. Dimas melihat ke arah Lilis yang nampak cemas.
Bersambung...
Jangan Lupa Klik Vote dan Favorite ya kakak-kakak Readers semuanya. :)
Di like juga semua episodenya ya kak. Tinggalkan Komennya juga. Dukungan kalian akan sangat berarti agar Authornya semangat dan bisa UP cerita secepatnya. Makasih untuk yang sudah mampir ya kak. Love you all :)
__ADS_1