Rafa Dan Fatar

Rafa Dan Fatar
Bab 71.


__ADS_3

Dokter menghela nafas dan mulai mengeluarkan suaranya.


“Tapi...”


“Tapi apa dokter... Cepat katakan dok?” Pinta Lilis dengan tidak sabar.


“Tapi Rafa kehilangan banyak darah. Stok darah di rumah sakit juga sudah kehabisan. Kami memerlukan  golongan darah AB- bisa dibilang golongan darah ini yang paling langka. Ini karena jenis golongan darah ini hanya dimiliki oleh 0,36 persen orang di seluruh dunia.” Dokter menjelaskan.


“Lalu?” Lilis mengkerutkan keningnya.


“Jadi jika kita tak segera mendapatkan golongan darah tersebut maka Rafa tak akan tertolong. Saya sudah berusaha sebaik mungkin.”


“Lalu... bagaimana ini??” Lilis sudah menangis.


“Jadi golongan darah AB- dapat menerima donor dari pemilik golongan darah O negatif, A negatif, B negatif, dan tentu saja sesama AB negatif.” Sambung dokter menjelaskan.


“Sedangkan stok tersebut sudah habis semua.” Tambah kata dokter tersebut.


Lilis memandang ke Jack, Tania dan Fatar.


“Aku golongan darahnya B” Ucap Tania.


“Aku juga B” sambung Jack pula.


“Aku aja Ma...” Jawab Fatar.


“Tidak nak. Kau masih terlalu kecil.” Lilis mengelus kepala Fatar.


“Anda sendiri golongan darahnya apa Nona Lilis? Tanya dokter.


“Aku tidak sama dengan Rafa golongan darahnya. Bagaimana ini?” Lilis semakin beruraian air matanya.


“William memiliki golongan darah yang sama dengan Rafa. Tapi saat ini William menghilang” Ucap Jack dengan tertunduk.


Dokter menghela nafasnya.


“Baik lah. Saya akan mencoba konfirmasi ke rumah sakit lain. Jika sampai esok tidak ditemukan golongan darah yang cocok maka kita harus bersiap dengan segala kemungkinan yang terjadi.” Dokter pun pamit.


Lilis sudah terduduk lemas. Tania memeluk Lilis. Fatar juga memeluk Mamanya. Sedangkan Jack segera membuat panggilan telepon dan menyuruh anak buahnya untuk mencarikan darah yang cocok untuk golongan darah Rafa.


***


Sore itu Ayu dan William sudah di pemakaman neneknya. Neneknya Ayu baru saja selesai dikuburkan. Saat diantar ambulance, Ayu segera memproses penguburan jenazah neneknya. Saat ini Ayu, William dan ketiga teman ayu sedang di makam neneknya. Tanah makam neneknya masih merah. Dan baru saja ditaburi bunga. Bahkan papan nisannya baru juga dipasang. Ayu tidak punya uang lebih, ia miskin. Jadi hanya bisa sebatas pemakaman neneknya saja. Setelah sudah selesai Ayu pamitan di makam neneknya dengan berurai air matanya. Ketiga teman Ayu si Desi, Mimi dan Kevin lalu juga langsung pamitan pulang setelah selesai acara pemakaman tersebut.


Ayu dan William kembali ke rumah Ayu yang kecil dan sederhana. Ayu duduk di sisi ranjangnya. Ia menatap foto neneknya. Ia masih menangisi nya. William menghampiri Ayu.


“Sudah jangan terus bersedih ya dik... ikhlaskan ya. Biar nenek Ayu bisa tenang. Ayu harus kuat dan sabar.” Ucap William di sisi Ayu. Ia pun duduk disamping ayu di tepi ranjang.


Ayu melirik William. Ia memeluk William sambil menangis.


“Makasi Om. Di saat keadaan Ayu begini. Om masih ada disisi Ayu. Makasih Om” Ucap Ayu. William yang dipeluk Ayu, langsung mengelus rambut Ayu dengan lembut.


Dalam hati William :” Begitu rapuhnya gadis muda ini”


“Kita makan yuk... apa Ayu gak lapar?” Ajak William.


“Iya Om. Tapi Ayu belum masak. Tunggu Ayu masak bentar ya.”


“Aku bantu ya...”


“Lah... Om tapi gak bisa masak.”


“Kalau gak bisa, kan aku bisa bantu aja.”


“Oh... Oke”


Kedapurlah mereka berdua untuk menyiapkan makan malam,


Selesai makan malam. Ayu karena sudah lelah langsung tidur dikamarnya. Sedangkan William ia juga masuk kekamar yang dulunya kamar neneknya Ayu. William merasa agak lelah karena seharian ini sibuk di warung. Ia rebahan di kamarnya. Lama-lama William tertidur. Saat tidur ia bermimpi. Di dalam mimpinya William melihat Rafa sedang dalam keadaan bahaya. William melihat antara hidup dan matinya Rafa. Sungguh gelap dan mengerikan mimpinya. Di saat itu William kemudian berteriak sambil memanggil nama Rafa.


Ayu terbangun karena suara William. Ia langsung bangkit dan berlari ke arah kamar William. Ayu mendekatin William dan memanggilnya .


“Om... Om... sadar Om. Kenapa Om?”


“Rafa.... Tidak!!!!” jerit William. Lalu ia terbangun.


“Kenapa Om?” Ayu bingung.


“Eh Ayu. Gak. Gak apa-apa kok. Emang kenapa Yu?” Ayu bangun dan segera duduk.


“Tadi Om nyebut nama Rafa? Siapa Rafa Om?”


“Gak tahu. Jadi tadi aku menyebutkan nama Rafa?” William menatap Ayu dengan berkerut keningnya.


“Iya. Om mimpi buruk ya.”


“Mungkin lah.”


“Ya sudah. Tidur lagi Om. Baca doa biar gak mimpi buruk.” Ayu kembali ke kamarnya.


William pun kembali berbaring. William merasa aneh dengan yang baru di mimpikannya. Lalu nama Rafa tadi siapa. Begitulah pikir William.

__ADS_1


Malam semakin larut namun ia tak dapat tidur lagi. Hingga, hingga menjelang esok pagi pun tiba.


Ayu bangun di subuh hari. Ia kaget melihat William malah duduk di kursi sambil melamun. Ayu menghampiri William.


“Om Leo... kok disini. Gak tidur dikamar ya? Atau udah bangun?” Tanya Ayu.


“Gak bisa tidur lagi setelah bangun di tengah malam.”


“Oh... Ayu mau siap-siap mandi habis tu kepasar. Mau ikut gak. Kalau mau mandi gih cepat.”


“Oke. Aku ikut aja.”


Ayu mandi duluan. Setelah itu William yang mandi. Setelah keduanya berpakaian rapi, berangkatlah mereka ke pasar di subuh hari.


“Sejuk sekali dan dingin.” Ucap William.


“Ya Om... tapi seger kan udara di jam segini.”


“Mau beli apa ke pasar?”


“Ya belanja untuk bahan-bahan jualan dapur sekalian makan kita”


“Yang semalam sudah habis”


“Kita itu harus belanja untuk satu hari aja Om. Kalau kebanyakan dan ternyata gak habis semua kan sayang. Udah itu gak fresh dong Om masak asik yang semalam. Maka itu tiap hari belanja dan masak lagi. Gitu Om”


“Oh.. eh gak antar susu dan koran.”


“Hari ini libur Om. Yang lain yang ngantar. Kan Ayu juga libur. Ini kan hari minggu.”


“Oh... Kau antar susu dan koran mengikutin jadwalmu setiap hari sekolah aja.”


“Iya Om.”


William menganggukan kepalanya. Mereka belanja Ayam, ikan, udang, telur, sayuran dan lain-lain. Setelah semuanya sudah dibeli. Mereka kembali ke rumah untuk memasak. Karena pasar cukup jauh dari rumah maka pergi pulang naik angkot yang gerak di subuh dan pagi-pagi hari. Sampai dirumah, semua bahan segera di siapkan. Dan mulailah Ayu memasak. William ikut membantu.


Ayu berpikir, sungguh baik sekali Om ini. Ia sangat membantu banyak hal. Apa karena Ayu memberikan tempat tinggal makanya Om ini baik juga ke dirinya. Mungkin saja ya. begitulah pikir Ayu.


Setelah semua selesai dimasak, mereka pun menata di tempat untuk dibawa ke warung di depan jalan sana. Berjalanlah mereka ke depan jalan untuk membawa semua bawaannya. Sampai diwarung langsung ditata di tempatnya.


Baru saja Warung dibuka, sudah banyak orang yang datang untuk sarapan. William dan Ayu langsung melayanin. Dan dua orang perawat pun singgah untuk sarapan di warungnya Ayu.


“Katanya disini enak loh. Yuk kita cobain” Kata seorang perawat.


“Oke” Jawab temannya.


Perawat itu pun memanggil dan memesan pesanannya.


William menghampiri kedua perawat tersebut.


“Oke. Pakai lauk apa Mbak?”


“Aku pakai Ayam ya Mas...”


“Aku juga sama. Jangan lupa sayuran dan lalapannya ya. minumnya teh manis dua”


“Oke.”


William kembali ke ayu dan menyebutkan pesanan kedua perawat tersebut. Ayu menyiapkan pesanannya.


Setelah selesai. William menghidangkan di meja kedua perawat tersebut.


“Ini silahkan Mbak.”


“Makasih Mas. Masnya ganteng banget ya...”


“Iya nih... Orang bule ya mas...”


“Hehehe... bule kere kayaknya mbak...” William bergurau dengan kedua perawat tersebut.


Kemudian William membereskan meja sebelah yang pelanggannya sudah selesai makan dan sudah membayar juga.


Saat William membereskan dan membersihkan meja tersebut, kedua perawat yang sedang melahap makanannya makan sambil berbincang. William tak sengaja ikut mendengarkan.


“Oh iya. Pasien semalam gimana ya?”


“Oh anak kecil itu ya.”


“Iya. Dia kehabisan banyak darah. Rumah sakit kehabisan stok darah yang cocok untuknya.”


“Oh... katanya masih dicarikan golongan darah yang cocok. Kalau tidak ketemu maka anak kecil itu gak selamat.”


“Kasian ya. masih kecil padahal. Ibu dan adik nya menangis semalaman kulihat.”


“Iya. Kasian banget.”


Kedua perawat kembali makan. William yang mendengar malah penasaran. Ia pun bertanya.


“Maaf mbak... tadi butuh pendonor darah ya. golongan darahnya apa?”


Kedua perawat mendongak melihat William dan saling pandang.

__ADS_1


“Maaf. Tadi gak sengaja aku mendengarnya.” Ucap William kembali.


“Golongan darah yang diperlukan AB-“


“Boleh aku membantu.”


“Mas golongan darahnya apa?”


“Kayaknya AB- .”


“Wah kebetulan sekali. kalau gitu Mas nanti ikut kami saja ketempat rumah sakit tempat kami bekerja.”


“Baik. Aku selesaikan kerjaanku dahulu ya mbak. Nanti kita sama-sama ke rumah sakitnya.”


“Oke.” Kedua perawat tersebut tersenyum bahagia.


William kembali mengerjakan tugasnya. Setelah itu ia menghampiri Ayu.


“Ayu. Nanti aku kerumah sakit dahulu ya. kau ku tinggal sebentar gak apa-apa kan.”


“Loh... Mau kemana Om?”


“Kerumah sakit”


“Ngpain?”


“Nolong anak kecil yang butuh donor darah”


“Lah... emangnya Om ingat golongan darah Om?”


“Kayaknya AB-.”


“Dari mana Om tahu. Katanya gak ingat apa pun”


“Perasaan Om mengatakan seperti itu. Nanti kan dicek dirumah sakit juga.”


“Oh... Ayu ikut deh.”


“Loh... Warung gimana?”


“Ditutup sebentar gak apa-apa kok Om.”


“Oke lah.”


Setelah semua pelanggan yang sudah selesai makan telah pergi. Maka Ayu dan William segera menutup warung sementara dan nanti siang dibuka lagi. Mereka ikut bersama kedua perawat yang udah nunggu mereka. Kedua perawat tersebut rela menunggu demi menyelamatkan pasien yang butuh darah tersebut.


Mereka naik angkot. Setelah setengah jam kemudian sampailah di rumah sakit tersebut.


William dan Ayu dibawa kedua perawat ke ruangan pendonor darah. Sebelumnya darah William dicek. Setelah menunggu cukup lama ternyata darah William memang cocok. William pun segera di arahkan ke ruangan untuk diambil darahnya untuk menolong Rafa.


Di ruangan lain. Lilis masih bersama Jack, Tania dan fatar. Dari semalaman mereka tak bisa tidur dengan tenang. Dan tak ada yang kembali pulang. Semuanya masih dirumah sakit.


Seorang dokter dan perawat datang menghampiri Lilis.


“Nona Lilis...” Sapa Dokter.


“Iya Dok.”


“Kita ada kabar baik. Setelah di cari kemana-mana belum juga ada stok golongan yang cocok untuk Rafa. Tapi sekarang barusan saya dapat info dari perawat saya ini dia menemukan seorang pria yang cocok dengan golongan darah Rafa. Jadi Rafa bisa selamat.”


“Benarkah dok?” ada harapan dan sinar cerah mulai dilihat Lilis.


“Iya...”


"Syukurlah..."


Jack, Tania dan Fatar ikut senang mendengarnya. Lilis tersenyum begitu juga dokter dan perawat. Mereka pun tersenyum.


“Kalau begitu saya akan bersiap melakukan operasi kembali. Sus segera disiapkan.” Ucap Dokter ke susternya.


“Iya Dok.” Ucap perawat tersebut.


“Boleh saya tahu siapa yang mendonorkan darahnya?” Tanya Lilis ke dokter dan perawat.


Bersambung...


Akhirnya bisa UP kembali. Hore Rafa bisa tertolong. Dan yang nolong Papanya sendiri loh... Selanjutnya gimana ya. ikutin terus ya kak Readers semuanya :D


Di like juga semua episodenya ya kak. Tinggalkan Komennya juga. Dukungan kalian akan sangat berarti agar Authornya semangat dan bisa UP cerita secepatnya. Makasih untuk yang sudah mampir ya kak. Love you all :)


Like nya masih sikit nih. Gak tembus belum... jadi up nya agak lama gak apa-apakan... saya usahakan selalu UP tiap hari ya. Yang baca karya ini ada 34 ribu lebih pembaca. Jempolnya digerakan juga ya untuk like dan vote jadi gak hanya baca dalam diam hehehe :D


Tembus 200 lebih like segera di UP kembali.


Tinggalkan komen yah... Maaf baru bisa UP kembali dikarenakan ada sedikit masalah.


Di like, di vote dan klik Favorite yah sebagai tanda telah membaca dan menyukai karya ini, juga sebagai apresiasi ke karya ini.


 


 

__ADS_1


__ADS_2