
“Kau mau memohon atau tidak kepadaku Lis...??” Ucap William santai.
“Hah!!”
Lilis menatap ke arah William. Ia nampak aneh menatapnya. Apa maksud William? Begitulah pikir Lilis.
“Maksudmu apa? Aku memohon padamu?” Ucap Lilis.
“Iya. Jika kau ingin orang tuamu dan perusahaanmu selamat, maka memohonlah padaku. Ingat hanya aku yang bisa menolongmu. Dan masalah anak-anak, jika aku mau maka dengan gampang aku mengambil mereka dari mu Lis” William kemudian berjalan ke arah kursi santainya yang ada dikamarnya tersebut dan duduk di kursi santainya.
“Aku...”
“Jangan salah bertindak Lis. Aku punya kekuasaan. Jika kau salah mengambil keputusan maka kau bisa kehilangan anak-anak dan kedua orang tuamu juga perusahaan keluargamu bisa hancur ku buat.”
“Kenapa kau jadi kejam Will? Tadi aku baru saja membantu mu. Sekarang kau malah menyuruhku memilihkah. Antara orang tua ku atau anak-anakku begitu?” Lilis serasa tak percaya kalau William akan berbicara seperti itu.
“Menurutmu begitukah Lis?? Jadi aku harus mmbuatmu memilih antara anak-anak dan orang tuamu. Padahal aku belum sampai memikirkan hal tersebut. Baiklah. Pilihlah salah satunya. Siapa yang kau pilih.” William menatap tajam ke Lilis.
“Kau...”
“Kenapa? Kau tak bisa memilih kah?”
“Mana mungkin aku memilih salah satunya.”
“Kau tak bisa serakah untuk memiliki semuanya kan”
Lilis gundah. Ia tak bisa kehilangan anak-anaknya. Ia tak mau juga kalau orang tuanya dan perusahaan Hartono masih dibawah kendali Wenny. Ia mau menyelamatkan Orang tuanya dan Perusahaan Hartono. Tapi ia tak mau melepaskan anak-anaknya juga. Ia bingung harus bagaimana. Lama Lilis mematung dan diam dalam pikirannya. William memperhatikan wajah Lilis. Dilihatnya kalau Lilis sangat gusar.
“Atau...” William menghentikan ucapannya.
“Atau apa?” Lilis kembali menatap William.
“Kau berlutut dihadapanku dan memohon saja”
Lilis memandang William dengan perasaan campur aduk. Jadi ia harus berlutut kah agar William mau melepaskannya. Jika dengan berlutut dan memohon dapat menolong orang tuanya dan perusahaan tanpa mengorbankan anak-anaknya, maka akan Lilis lakukan walau itu akan menghancurkan harga dirinya.
“Baiklah..” Setelah memikirkannya Lilis menyetujuinya.
“Tapi kau harus menolong orang tuaku dan perusahaan Hartono. Dan anak-anak tidak kau usik kembali. biarkan aku bahagia dengan anak-anak”
“Jadi kau rela memohon dan berlutut dihadapanku”
“Iya”
Lilis berjalan melangkah ke depan mendekatin William. Ia lalu langsung berlutut di hadapan William. Ia tunduk di hadapan William. Ia menahan harga dirinya yang sudah hancur dihadapan William.
Namun kemudian, William bangkit dari duduknya. Ia melangkah ke Lilis lalu memeluknya.
“Kau wanita bodohkah?”
Lilis terkejut dengan yang dilakukan William.
__ADS_1
“Mana mungkin aku akan tega begitu padamu Lis..” William memeluk erat Lilis.
Lilis kemudian menangis. Ia menangis dalam elukan William.
“Tanpa kau minta aku pasti akan tetap membantumu sayang. Jangan cemaskan masalah orang tuamu dan perusahaan Hartono. Dan masalah anak-anak juga tak perlu kau cemaskan Lis..”
William melepaskan pelukannya. Ia melihat ke arah Lilis yang sedang menangis. William hapus air mata Lilis. Di usapnya dengan lembut. Bulir-bulir air mata yang terus mengalir perlahan berhenti dan di hapus oleh William. William tak ingin wanitanya menangis.
“Apa maksudmu Will? Bukannya tadi kau bilang..”
“Ssstt... Aku tak serius.”
“Jadi kau mempermainkanku”
“Bukan. Aku tak pernah berpikir begitu. Kau yang berpikir begitu, aku hanya mengikuti nya. Tapi aku tak sungguh-sungguh dan tak berniat seperti itu. Aku tak akan melukaimu Lis. Aku juga tak pernah berniat mengambil anak-anak dari mu Lis”
“Lalu masalah hak asuh anak di persidangan bagaimana?”
“Aku berkata begitu agar kau tetap bersamaku. Aku tak benar-benar serius dalam melakukannya. Percayalah Lis, anak-anak tak akan ku rebut darimu. Anak-anak akan tetap bersamamu. Dan masalah orang tuamu dan perusahaan Hartono pasti akan ku bantu.”
“Kau serius Will?”
“Iya. Percayalah.”
William membantu Lilis berdiri dan mengajaknya duduk di dekat sofa panjang yang ada dikamarnya juga. Mereka berdua duduk di sofa tersebut.
“Kau kenapa bisa terluka?” Tanya Lilis kemudian.
“Luka saat aku di Inggris”
“Masalah kerjaan.”
“Apa itu?”
William menoleh ke Lilis. Ia menghela nafas.
“Aku tak tahu harus bagaimana mengatakannya.”
“Katakan saja dan jangan berbohong lagi kepadaku Will” Ucap Lilis kepada William.
“Aku takut jika kau tahu, akan membahayakanmu Lis”
“Maksudmu?” Lilis kembali teringat kejadian beberapa tahun yang lalu saat ia pertama kali mengenal William yang pada saat itu mengaku sebagai Fatar. Ia membunuh dua pria asing. Lalu Lilis juga teringat teleponan mereka tempo hari yang dimana William minta di doakan bisa pulang kembali dengan selamat. Dan sekarang Lilis melihat luka luka William.
“Dengan melihat luka-luka ku pasti kau sudah sedikit menebak-nebak kan. Sebenarnya sebelum sampai ke Indonesia. Aku sempat dikejar musuh ku. Namun aku berhasil kabur dengan selamat. Tapi aku terluka. Aku hanya memberikan pertolongan pertama saja ke luka ku. Saat sampai di Indonesia, aku bukannya istirahat dan mengobatin kembali luka ku, malah aku langsung ingin bertemu denganmu. Akhirnya luka ku kembali terbuka apalagi perban belum diganti. Kau sendiri melihat tadikan. Dan kau sendiri yang barusan membantuku membersihkan, mengobatin dan membalut kembali dengan perban baru yang bersih”
“Iya. Jadi yang kau lakukan di Inggris apa? Apa begitu berbahaya kah sampai aku pun tak boleh tahu.”
“Baiklah. Akan ku katakan dengan sejujurnya.”
William pun mulai bercita tentang jati dirinya yang sebagai agen rahasia di pasukan khusus Bos V. Jadi Fatar adalah kode misi William saat bertugas. Dulu Lilis mengenal William dengan sebutan Fatar karena William sedang menyamar dan menjalankan misinya. Ia di rekrut oleh Bos V dan dibawah naungan pemerintah Inggris. Dengan panjang lebar William menjelaskannya. Dan alasannya kenapa bisa menjadi agen rahasia pun ia katakan. Intinya semuanya telah dikatakannya dengan jujur. Dan lukanya ini pun ia dapatkan karena menjalankan misinya.
__ADS_1
“Jadi begitu Lis.” William mengakhiri ceritanya. Ia sudah mengatakan semuanya dengan jujur.
“Jadi kau... kau melakukan tugas berbahaya itu.”
“Iya. Aku sedang mengejar Max. Ia mempunyai Chip berharga yang bisa mengusai seluruh dunia. Dengan chip tersebut semua data pemerintahan bisa dibobolnya. Dengan chip tersebut ia bisa meretas dan menghacker Bank. Sehingga uang di bank bisa pindah dan beralih ke dirinya atau orang lain. Baru-baru ini beberapa Bank kehilangan banyak dana karena chip tersebut. Juga ada permainan saham yang mencurigakan pun terjadi. Max tahu aku mengejarnya. Sehingga ia menyewa beberapa orang untuk menghabisiku. Jadi beberapa hari aku di Inggris, aku mengalami hari-hari yang berat Lis”
“Lalu tugasmu sudah selesai kah?”
“Belum. Aku belum selesai. Aku meminta Katty temanku di Inggris untuk melanjutkan penyelidikannya. Ruang gerak kami sudah terbatas, karena Max sudah menandai aku dan Katty. Semoga saja Katty baik-baik saja. Ia menyuruhku kembali ke Indonesia. Sehingga perhatian Max hanya kana tertuju kepadaku. Jadi kalau ada apa-apa, maka Katty akan segera mengabariku dari sana”
Lilis menghela nafas panjangnya. Ia tak tahu kalau William melakukan hal berbahaya. Ia hanya pikir kalau William hanyan sabagai seorang Presdir saja, tapi ia juga seorang agen rahasia.
“Berhenti lah Will. Nyawamu bisa dalam bahaya.” Pinta Lilis.
“Dulu aku tak pernah mempedulikan nyawaku. Namun sekarang ada hal lain yang ku pikirkan. Kau Lis.. dan anak-anak kita. Karena itu aku sudah mengajukan pensiun ke Bos V. Tapi ia memintaku untuk menjalankan misi terakhir ini. Baru aku bisa berhenti. Aku pun sudah menyetujuinya.”
“Kalau misimu belum selesai tapi nyawamu taruhannya bagaimana?”
“Hey.. kau meremehkanku Lis.. Aku salah satu agen terbaik Bos V. Percayalah padaku.”
Lilis sebenarnya masih cemas. William melihat Lilis yang terdiam. Ia lalu memeluk Lilis kembali.
“Jadi apa sekarang kita sudah baikan Lis.. Aku ingin kita kembali bahagia bersama. Kau menerima ku kembali kan” bisik William ke telingan Lilis.
“Berilah aku waktu berpikir Will”
William melepaskan pelukannya. William melihat ke nakas yang tak jauh di tempat ia duduk. Ia membuka lacinya dan mengelurkan box kecil.
“Waktu itu aku sudah menyiapkan acara makan malam indah. Aku menyediakan banyak hal. Booking tempat. Dan ini juga ku siapkan untuk ku berikan kepadamu Lis.” William membuka box kecil tersebut. Sebuah cincin berlian indah terlihat. Lilis menatap cincin tersebut.
“Ini untuk ku?”
“Iya. Aku mau melamarmu. Lamaran resmi. Tapi waktu itu kita malah bertengkar. Sehingga cincin ini tak jadi ku berikan.”
Suasana haru dan hangat menemanin kebersamaan mereka berdua saat ini. Lilis merasakannya. Ia tersentuh. William memang benar-benar nampak tulus.
Nada notifikasi chat William berbunyi. William melihat ke Hapenya yang ia letakkan di dekat ranjangnya. Ia berjalan ke arah ranjang dan mengambil Hapenya. William baca chat tersebut. Nomor tak dikenal. Dan isi pesan chatnya adalah :
“Sepertinya kau bersenang-senang ya.. Kalau begitu aku berikan hadiah untuk mu Fatar. Aku meletakan bom di dekat anak-anakmu. Semoga kau suka. Cepatlah. Kalau tidak, say good bye.” Itulah pesan chat tersebut dan dibawah pesan chat tertulis tertanda dari Max.
Ekpresi wajah William suram dan menggelap. Lilis melihat perubahan wajah William. Ia datang mendekatin William.
“Ada apa Will?”
Bersambung...
Jangan Lupa Klik Vote dan Favorite ya kakak-kakak Readers semuanya. :) Likenya belum tembus 100 nih. Kalau tembus 100 lebih maka UP-nya akan segera Author liris. Makasih semuanya :)
Di like juga semua episodenya ya kak. Tinggalkan Komennya juga. Dukungan kalian akan sangat berarti agar Authornya semangat dan bisa UP cerita secepatnya. Makasih untuk yang sudah mampir ya kak. Love you all :)
__ADS_1