
“Kau tahu. Aku sengaja membuat pisaunya meleset. Aku bisa saja membunuhmu sekarang” Mata Lilis berkilat-kilat dengan tatapan yang mengerikan. Tak sia-sia, Lilis belajar bela diri dan belajar memakai senjata.
Vanya terdiam mematung. Ia tak bisa mengerakan tubuhnya.
“Matanya kenapa berubah dingin dan menakutkan” Keluh Vanya dalam hatinya.
Lilis mendekat ke arah Vanya yang terdiam.
“Kau sebaiknya jangan mengganggu aku dan William. Kau tak tahu apa saja yang sudah kami alami berdua selama ini. Kau hanya kenal William dalam hitungan bulan. Sedangkan aku sudah bertahun-tahun mengenalnya. Banyak hal yang sudah kami alami berdua. Jadi pergilah kau menjauh” Bisik Lilis ke telinga Vanya.
Lilis kemudian mencuci tangannya di wastafel dan pergi meninggalkan Vanya sendirian. Vanya merasakan kakinya lemas. Ia oyong. Ia berjalan dengan tangannya memegang dinding.
Lilis kembali ke kerumunan orang banyak. Ia mengatur nafasnya. Ia tersenyum saat mengingat mengancam si Vanya barusan. Ia juga tak sangka bisa seberani itu. Tapi memang benar kan kalau ia dan William sudah mengalami banyak hal bersama bahkan sampai kematian pun sudah pernah mereka hampir alami.
Lilis kembali bersikap seperti tidak ada apa-apa. Ia kembali tersenyum manis di depan semua orang. Ah hati wanita memang siapa yang tahu. Wanita pandai menyimpan rahasia dan luka hatinya.
Lilis melihat William sedang bersama teman-teman bisnisnya. Lilis ingin menghampiri tapi seseorang memanggilnya.
“Lilis..” Sapa seseorang.
Lilis menoleh ke arah suara. Ternyata itu Panji.
“Mas Panji” Lilis heran melihat Panji.
“Kok disini juga Lis”
“Aku bersama suamiku”
“Oh... Pantasan kau ada disini. Ternyata bersama William”
“Iya. Tapi sejak kapan Mas Panji disini? Dan kenapa ada disini juga?”
“Aku mendapatkan undangan dari Tuan Grey. Dahulu aku pernah melakukan kerja sama dengan beliau”
“Oh... Begitu rupanya”
Lilis dan Panji asyik berbincang. Vanya melihat dari samping.
“Siapa dia? Pria itu terlihat akrab dengan Lilis?”
Vanya pun melihat William sedang mencari Lilis di kerumunan orang banyak. Ia lalu memiliki sebuah ide.
Di saat Lilis sedang berbincang dengan Panji. Wenny sengaja menabrak tubuh Panji hingga ia oleng jatuh ke depan Lilis. Lilis dan Panji pun berpelukan. Di saat itulah William melihat dan datang mendekat. Vanya segera pergi menjauh dan memantau dari jauh.
“Lis...” William mendatangi Lilis dan panji.
“William...” Seru Lilis. Lilis dan Panji melihat ke arah William bersamaan. Mereka masih dalam keadaan berpelukan. Dengan refleks segera dilepas pelukan yang tak sengaja tersebut. Panji dan Lilis jadi saling pandang. Dan William menatap heran.
“Apa yang kau lakukan bersamanya Lis?” tatap William dingin. Ia cemburu melihat istrinya berpelukan dengan pria lain.
“Tak ada Will. Itu tadi tak sengaja” Jawab Lilis dan agak panik ia melihat ekspresi William yang terlihat tak senang.
“Maafkan aku Will dan juga kau Lilis. Tadi ada yang menabrakku dari belakang. Dan refleks aku memeluk Lilis. Tak ada maksud lain” Panji menjelaskan.
“Benarkah?” Tatap William dengan tajam.
Ia sudah hendak mengamuk saja rasanya. Lilis mendekatin William. Ia pun berbisik.
“Will, disini banyak tamu jangan membuat keributan apa lagi ini adalah acaranya punya orang” Bisik Lilis.
William menatap ke Lilis. Ia menahan amarahnya. Kemudian memandang ke arah Panji.
“Kau jangan dekatin istriku. Menjauhlah” William meraih tangannya Lilis dan segera membawanya pergi.
Panji menatap sendu ke arah Lilis. Ia memang harus merelakannya.
Dari kejauhan Vanya menatap puas. Ia bisa melihat kalau William terlihat marah.
William menarik tangan Lilis. Mantel bulu Lilis segera di ambil. Mereka pun pergi meninggalkan acara tersebut.
Didalam mobil William diam membisu. Ia tak berbicara sepatah kata pun. Lilis melirik ke arah William. Namun William fokus ke jalanan menyetir mobilnya dengan lajunya.
Sampai dirumah, William langsung turun dari mobil dan meninggalkan Lilis. Lilis segera turun juga dan menyusul William. Didalam kamar William segera ke kamar mandi untuk mandi dan selesai mandi ia berganti pakaian tidur. Lilis pun yang sudah dikamar menatap William yang sudah keluar dari kamar mandi dengan sudah memakai pakaian tidurnya.
William naik ke ranjang dan pergi tidur. Ia tak menghiraukan istrinya.
Lilis menghela nafas panjang. Ia duduk di tepi ranjang.
“Sayang... Apa kau marah?”
Lilis bertanya. Tapi William hanya diam dan matanya terpejam.
“Maafkan aku sayang. Tapi percayalah. Tadi memang tak sengaja. Kau tahu kan. Aku mencintaimu sayang” Lilis masih menatap ke arah suaminya.
William bangun dan duduk. Ia melihat ke arah Lilis.
“Kau tahu kan aku cemburu?”
__ADS_1
“Iya. Aku tahu. Tapi itu tak seperti yang kau pikirkan”
“Lantas kenapa kalian berpelukan lama?”
“Ya ampun Will. Percayalah padaku. Vanya saja terus lengket padamu. Apa kau tak sadar?” Lilis menyipitkan matanya.
“Dia hanya teman. Rekan kerja. Relasi bisnis” Jawab William.
“Kalau dia menganggapmu lain bagaimana?” tatap Lilis dengan tajam.
“Aku dan dia tak ada apa pun. Aku hanya mencintaimu”
“Nah. Seperti itulah aku juga”
Lilis dan William saling menatap. Awalnya bersitegang tapi kini William dan Lilis sama-sama melembut.
William bergesar dan memeluk Lilis. Lilis kaget dengan gerakan tiba-tiba William. William sudah terlalu lama bersabar. Ia sudah tak bisa sabar lagi. Ia memeluk erat Lilis dan mulai membelainya mesra. Kemudian di kecupnya bibir merah Lilis yang dari tadi sudah menggodanya. Di kecupnya dengan mesra dan bibir mereka berdua saling mengulum dan bertautan.
William menarik tubuh Lilis dan keduanya jatuh di atas ranjang. William masih mencium Lilis dengan mesranya. Sudah lama hasrat ini ditahan William. Ia sudah tak tahan lagi. Lilis mulai memberontak. Ia mulai ragu dan mulai teringat bayangan gelap itu lagi. Tapi William masih mengecupinya dengan mesranya. Lambat laun Lilis pun melunak. Dan jatuh dalam pesona suaminya itu. Dan mulai menikmatin perlakuan mesra William. Setiap kecupan dan belaian mesra William lama-lama menghapus bayangan gelap tersebut. Kini hanya kenikmatan yang ia rasakan bersama William.
“Aku mencintaimu Lis” Bisik William di telinga Lilis sambil terus tangannya menelusuri setiap bagian tubuh Lilis. Kemudian dibukanya dress hitam Lilis. Dan melucuti satu persatu pakaian istrinya hingga polos tanpa ada benang sehelai pun. Kini William segera membuka seluruh pakaiannya sampai ia sama polosnya tubuhnya seperti Lilis. Dan di malam itu mereka melakukan penyatuannya. Suara kenikmatan pun mulai terdengar dari bibir Lilis sambil sesekali ia menyebutkan nama William. William pun melepaskan seluruh kerinduannya. Rindu akan suara Lilis di saat mereka melakukan penyatuan. Rindu akan aroma tubuh istrinya.
Malam itu mereka melakukan hubungan suami istri pada umumnya di ranjangnya. Hal yang sudah lama William rindukan dan ia dengan sabar menahannya akhirnya sekarang sudah terbayarkan. Hingga keduanya kelelahan dan tertidur barulah mereka berdua berhenti.
***
Esoknya dikantor, William tersenyum sendirian. Padahal saat ini dia sedang duduk di kursi Presdirnya dan memegang beberapa berkas. Tapi pikiran dan hatinya sedang ke tempat lain.
Jack memperhatikan dari tadi merasa aneh.
“Kau kenapa Will?” tanya Jack mulai bingung dan heran.
“Tak ada apa-apa. Aku hanya lagi bahagia Jack” William tersenyum hangat. Jack kaget melihatnya. Kesambet apaan ni orang pikir jack dalam hatinya.
“Jack... Sudah siang. Aku pulang ya. selanjutnya kau yang urus ya” William bangkit dan hendak melangkah keluar. Jack yang melihat langsung bertanya.
“Mau kemana kau Will?” Jack merasa aneh dan heran.
“Mau bertemu istriku lah. Aku sudah kangen padanya” William langsung keluar dan pergi.
Jack tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
“Syukurlah. Hubungan kalian sudah membaik” Gumam Jack sendirian.
William kini dalam mobilnya. Ia sudah tak sabar ingin bertemu Lilis. William mengirimkan pesan chatnya ke nomor Lilis.
“Sayang... Aku kangen. Sebentar lagi aku akan menemuimu” William kirimkan pesan chatnya.
Beberapa saat kemudian hapenya berdering. William sudah senang dan melihat layar hapenya. Dan yang menelepon bukan Lilis ternyata. Tapi Vanya. William mengkerutkan keningnya. Ia pun menerima panggilan telepon tersebut.
“Halo..” Jawab William.
“Halo Will. Bisa bantu aku sebentar, ada beberapa masalah pekerjaan. Jumpailah aku di hotel...” Vanya menyebutkan alamat hotel dan kamar berapa tempat dia berada.
“Sekarang ya Will..”
“Buat apa?” William merasa aneh.
“Ayolah masalah pekerjaan ini. Cepat ya . ku tunggu” ucap Vanya diseberang sana.
“Baiklah” William mematikan panggilan tersebut.
Ia memutar arah dan menuju tempat yang disebutkan Vanya.
Di tempat lain.
Lilis saat ini berada di rumah. Tadi ia baru saja dari butiknya. Saat sampai dirumah, Lilis melihat pesan chat dari William. Ia membacanya dan tersenyum.
Tapi setelah sejam berlalu kok William belum juga tiba di rumah. Lilis pun menelepon hape William. Dan terkejutnya Lilis mendengar suara Vanya yang mengangkat bukan William.
“Halo...” Ucap Vanya di seberang sana.
“Siapa ini? Bukan kah ini hape William?” Ucap Lilis dengan wajah tegang.
“Ini aku Vanya dan kami sedang di hotel” Suara tawa kecil terdengar dari Vanya di seberang sana.
Lilis meremas hapenya sampai buku-buku tangannya memutih. Cengkraman tangannya sangat lah kuat.
“Hotel dimana kalian sekarang berada?”
“Kau mau tau saja. Jangan mengganggu kami” Vanya memutuskan panggilan telepon.
Lilis segera melacak lokasi William melalui hapenya. Hape Lilis dan William terhubung jadi ia bisa melacak lokasinya.
Lilis segera bergegas menaiki mobilnya dan mengendarinya.
Setelah beberapa waktu kemudian sampailah Lilis di hotel tersebut. Ia melihat hapenya untuk mencari di kamar nomer berapa William berada. Di GPS hape ia melihat di kamar nomor 1980 di lantai atas ke tiga.
__ADS_1
Jantung dan hati Lilis berdebar tidak karuan. Ia memikirkan hal-hal yang tidak-tidak. Tapi ia tak percaya kalau William akan seperti itu.
Ia membuka pintu kamar yang ternyata tak terkunci. Lilis pun masuk ke dalam kamar.
Di atas tempat tidur, begitu terkejutnya Lilis melihat pemandangan yang tak seharusnya. Ia melihat William berpelukan dengan Vanya dan mereka hanya ditutupi selimut.
Lilis menahan gejolak dalam hatinya. Ia mendekatin dan memastikan lagi apakah benar itu William. Tapi itu memang William. Ia mulai menangis. Ia tak sangka suaminya akan berkhianat di belakangnya.
“William!!!!” Jerit Lilis dan membuat William terbangun. Ia refleks melihat ke sekitar. Dilihatnya Lilis dihadapannya sudah menangis. Dan dilihatnya disampingnya adalah Vanya yang sedang memeluknya. William heran. Apa yang terjadi. Begitulah pikirnya.
“Ada apa ini?” Ucap William bingung.
“Ada apa kau bilang? Kau berpeluk mesra dengan wanita lain dan kalian ada di atas satu ranjang. Kenapa kau tega Will?” Lilis sudah terisak.
William merasa ini tak benar. Ia segera melihat tubuhnya yang tanpa pakaian. Ia melihat pakaiannya berserakan di lantai. William segera bangun dan mengambil pakaiannya yang berserakan. Ia memakainya dengan tergesa-gesa. Sedangkan Lilis sudah tak tahan. Ia segera hendak berlari pergi. William yang melihat segera berlari mengejar Lilis.
Ia mencegah Lilis pergi. William menarik lengan Lilis.
“Lepaskan” Ucap Lilis disertai isak tangisnya.
“Tunggu sayang. Aku akan jelaskan dulu. Tenanglah dahulu”
“Apa yang mau kau jelaskan? Jelaskan telah tidur dengan Vanya begitu? Kau bilang tak ada apa pun di antara kalian tapi kalian malah...” Lilis tak bisa meneruskan perkataannya. Ia malah menangis tersedu-sedu. Bagaimana pun ia tetaplah wanita. Ia akan merasakan sakit hati jika melihat suami yang dicintainya bersama wanita lain.
“Lis... Percayalah padaku”
Vanya bangun dari tempat tidur. Ia hanya menutupi tubuhnya yang polos dengan selimut saja. Ia berjalan ke arah Lilis dan William.
“Oh... Lilis. Maaf. Ini aku juga gak tahu kok bisa begini” Vanya mulai berakting manis.
“Diam kau Vanya!!!” Bentak William. Ia terlihat sangar dan dingin pada Vanya. Vanya tersentak kaget.
Sedangkan Lilis ia masih menangis dan sangat sakit hati. William kembali melihat ke arah Lilis.
“Lis. Sayang ku. Percayalah padaku. Ku mohon sayang” William terlihat sendu.
Lilis menggelengkan kepalanya. Ia pun kabur pergi. William berteriak memanggil Lilis tapi Lilis terus berlari menjauh.
William menatap Vanya yang ada dibelakangnya.
“Apa yang kau lakukan Vanya? Kau menjebakku kah?” tatapan mata William dingin dan sangar. Ia terlihat menakutkan.
Bersambung...
Yang suka dengan karya ini, ikutin terus kisahnya sampai akhir ya kakak readers semuanya :)
No Plagiat ya. Hargai usaha dan kerja keras seseorang dalam berkarya. Jadi katakan tidak pada meniru karya seseorang dan tidak menjiplaknya. No Plagiat. Makasih untuk yang sudah mampir ya kak. Love you all :)
Karya ini sedang mengikutin lomba, jadi mohon dukungannya terus ya kak.
Cara mendukungnya gampang yaitu :
1. Like semua episodenya / bab-nya ya kak. Dibaca juga semua babnya :)
2. Klik Vote setiap hari dan setiap saat ya kak. Dan setiap hari senin juga :D
3. Klik Favorite juga ya kak
4. Selalu berikan dukungannya ya kak setiap saat :D
5. Tinggalkan komen ya kak :)
6. Kasi bintang 5 ya kak untuk karya ini sebagai menyukai karya ini dan apresiasi ke karya saya ini.
Makasih semuanya. Dukung terus karya ini ya kakak readers semuanya, biar Author semangat UP ceritanya. Love you all :)
Tembus 200 lebih like segera di UP kembali.
__ADS_1