
Plak... Suara tamparan terdengar.
Wenny mengaduh kesakitan. Wajahnya ditampar. Dan ia menoleh. Ternyata Tania yang menamparnya.
“Tania...” Lilis melihat Tania.
“Kau terlalu baik Lis untuk menamparnya. Biar aku yang menampar wajahnya.” Tania maju membela Lilis.
“Kau... tak perlu ikut campur” Wenny kelihatan kesal.
“Kenapa? Mau balas. Silahkan” Tantang Tania.
“Sudah Tan... malu dilihat banyak orang.” Lilis mencegah Tania. Ia takut Tania akan bertengkar dengan Wenny.
“Untuk racun seperti dia memang pantas digitukan Lis...” Tania ingin Wenny mendapatkan balasan.
“Kau Lis... jauhi Panji. Panji sekarang tunangan ku. Aku pergi sekarang” Wenny pergi dan tak jadi membeli kain ditoko tersebut.
“Ya sudah... pergi sana...” Teriak Tania.
“Sudah Tan... dan kau kenapa ada disini?” Tanya Lilis.
“Aku mencari mu. Kenapa tak masuk kerja hari ini. Kulihat ada di sini langsung ku hampiri eh tau nya malah melihat Wenny mengganggumu. Ku hajar saja lah dia.”
“Oh iya. Aku lupa. Aku mau bilang kalau aku sekarang bekerja di I.S jadi mungkin akan berhenti direstoran mu dan dicafe pun aku akan berhenti. Aku lupa bilang. Maaf.”
“Wow. Bagaimana ceritanya kau bisa kerja di I.S . itu keren sekali.” Tania berbinar-binar matanya menatap Lilis.
“Nanti kuceritakan ya. Sekarang aku harus buru-buru. Sampai nanti”
“Oke.”
Lilis pun pamit dan segera membawa contoh kain yang sudah diambil karyawati toko tersebut. Ia harus seger kembali ke kantor.
***
Dikediaman keluarga Hartono.
Wenny pulang dengan sangat kesal. Ia pun langsung masuk kamar. Hesti melihat perilaku anaknya nampak lain dan segera menghampiri ke kamarnya.
“Kenapa sudah kembali Wen...” Tanya Hesti.
“Aku kesal Ma... tadi aku ketemu dengan Lilis dan temannya.” Jawab Wenny.
“Kenapa kau kesal.?”
“Awalnya aku ingin menghina Lilis dan melarangnya menjauhi Panji. Eh temannya datang dan menamparku. Wajahku masih perih sampai sekarang” Wenny mengusap-usap wajahnya.
“Kurang ajar... beraninya Putri kesayangan ku disentuh. Kita harus balas dia.”
“Iya Ma. kita harus balas.”
“Wen... sekarang sudah waktu yang tepat kau ambil perusahaan Om Bram. Kau sudah bekerja diperusahaan nya bahkan jadi CEO. Jadi sebaiknya sekarang kita ambil alih saja terus perusahaannya.”
“Om Bram masih aktif di perusahaan Ma. Bagaimana aku bisa ambil alih sepenuhnya.”
__ADS_1
“Kau ini biasanya ada ide. Kenapa sekarang malah kehabisan ide. Buat Bram jadi stroke. Jadi ia tak bisa kemana-mana lagi. Lalu perusahaannya kau ambil alih. Ajeng yang sibuk mengurus suaminya tak akan sempat memperhatikan perusahaan juga. Bahkan butiknya pun bisa kita ambil.”
“Baik Ma... kita buat Om Bram jatuh sakit dan Tante Ajeng sibuk ngurus suaminya. Lalu perusahaan ku ambil alih dan butik tante ajeng juga kita ambil.”
“Bagus. Urus semua berkasnya secepatnya. Cap stempelnya akan Mama curi dilaci meja nya Bram.”
“Oke Ma..”
Keduanya sudah menyusun rencana. Rencana yang busuk. Dan rencana itu akan segera mereka lakukan.
Sore itu saat Bram Hartono baru pulang kerja. Saat ingin ke lantai atas, ada yang menaruh sesuatu di tangganya. Bram terpleset dan jatuh terguling-guling ditangga. Dari atas ke bawah.
Wenny dan Hesti hanya memperhatikan dari jauh.
Bram mengaduh kesakitan dan meminta pertolongan.
“Tolong... tolong...” tapi tak ada yang dengar. Lalu ia pingsan.
Ajeng Ayu Hartono mendengar suara ada yang jatuh. Ia bergegas keluar dari kamar. Dan dilihatnya, Bram sudah terbujur dilantai dan ada darah di kepalanya. Ia cepat memanggil pelayan.
“Mbok minah... Mbok iyem... kalian dimana?” ia mendekati suaminya dan berusaha memapahnya.
“Iya Nyonya... loh Tuan besar kenapa?” tanya Mbok Minah.
“Gak tahu. Mungkin jatuh. Cepat segera panggil dokter.”
“Baik Nyonya..”
Bram dibawa kekamar dan dibaringkannya.
Dokter pun akhirnya datang. Ia langsung memeriksa dan mengobati luka-luka Bram.
“Kepalanya yang luka sudah saya obatin. Untung tidak parah. Luka-luka lainnya juga sudah saya obatin. Untuk kondisi lainnya nanti kita akan tahu setelah Pak Bram sadar.”
“Oke. Makasih Dok”
“Kalau ada apa-apa segera kabarin saya. Sementara saya kasi resep ini dahulu.”
“Oke Dok.”
Dokter pun Pamit. Kini Ajeng menemanin suaminya dikamar. Suaminya masih belum sadar. Hesti dan Wenny masuk kedalam.
“Loh Mbak... Mas Bram kenapa?” Tanya Hesti pura-pura cemas.
“Om Bram kenapa Tante?” Wenny pun ikut berakting.
“Aku juga gak tahu. Sepertinya jatuh dari tangga.” Jawab Ajeng.
“Waduh Parah gak?” Hesti bertanya.
“Udah diobatin dokter. Semua gak apa-apa.” Ajeng melihat catatan resep obat suaminya.
“Itu apa Tante.?” Wenny memperhatikan kertas ditangan Ajeng.
“Ini resep obat dari dokter.”
__ADS_1
“Oh... Biar Wenny aja yang cari di apotik. Tante urus Om saja dahulu. Jagain Om Bram.” Bujuk Wenny.
“Baiklah. Tolong ya Wen...”
“Iya Tante...”
Wenny dan Hesti pergi keluar. Ajeng menemanin suaminya dikamar.
“Wen... ganti obatnya dengan obat lumpuh. Jadi seakan Bram sakit stroke.” Perintah Hesti.
“Ok Mama” Hesti tersenyum licik.
Sejam kemudian Bram sadar. Saat sadar sudah ada Wenny, Hesti dan istrinya Ajeng.
“Mas... udah sadar...” Dilihatnya suaminya sudah sadar.
“Ah... kepala ku sakit.” Bram memegang kepalanya. Ia berusaha duduk. Ajeng membantunya.
“Jangan banyak bergerak Mas...” Hesti pura-pura perhatian.
“Om... ini obatnya diminum.” Wenny memberikan obat. Dan Bram meminumnya.
Wenny dan Hesti saling pandang dan tersenyum licik.
“Mas harus banyak istirahat. Jangan capek-capek” Ajeng menasehati suaminya.
“Iya Mas... biar perusahaan Wenny yang urus. Iya kan Wen” Hesti menatap Wenny.
“Iya Om. Biar Wenny yang urus. Om jaga kesehatan aja dulu. Biar cepat sembuh” Wenny menambahkan kata-kata juga.
Ajeng nampak aneh dengan tingkah lalu Hesti dan Wenny.
“Baiklah. Tolong ururs perusahaan Om ya Wen...” Ucap Bram kemudian.
“Iya Om” Wenny pura-pura baik.
Setelah kejadian itu obat yang dari Wenny terus diberikan ke Bram. Bukannya makin baik malah tambah parah. Ia tak bisa bergerak. Kakinya tak bisa dijalankan. Sedangkan perusahaan sudah Wenny yang mengendalikannya. Hari-hari yang dilalui Bram hanya berbaring di tempat tidurnya.
Ajeng yang sibuk mengurus suaminya tak bisa lagi mengawasi Hesti dan Wenny.
Kini hesti dan Wenny semakin berkuasa atas harta dan perusahaan keluarga Hartono.
Berita Bram Jatuh sakit telah masuk media koran. Dan kabar Wenny mengambil alih sudah masuk koran juga.
Lilis yang sedang makan siang di kantin perusahaan tak sengaja melihat beritanya di koran yang dipegang salah satu pegawai kantor.
“Maaf. Boleh saya lihat berita di koran ini.” Lilis meminta dengan sopan.
“Oh.. silahkan.” Jawab salah satu staf pria itu.
Lilis membaca berita dikoran bahwa Bram Hartono jatuh sakit dan CEO Wenny mengambil alih perusahaan Hartono. Lilis kaget dan tak percaya. Sepanjang yang ditahunya kalau papanya sangat menjaga kesehatan. Kalau sakit pun tak pernah sakit parah seperti sekarang ini.
“Apa yang terjadi sebenarnya? Ini gak mungkin..” gumam Lilis sendirian.
Lilis pun merasa pusing lalu jatuh pingsan.
__ADS_1
“Lilis....” Seseorang memanggil dan menggendong Lilis yang telah pingsan.
Bersambung...