
“Mama kalian...” William bingung menjawab pertanyaan anak-anaknya. Si kembar menatap William dan menunggu jawaban William. William menatap sedih kedua anak kembarnya. Ia tak tahu harus bagaimana menjawab pertanyaan anak-anaknya.
Rafa menatap Papanya, namun William masih saja diam dan tak meneruskan perkataannya.
“Papa...??”
“Mama...” Belum sempat William melanjutkan kata-katanya, suara jeritan histeris terdengar dari kamarnya William dan Lilis. Itu suara Lilis yang sedang menjerit.
Sontak saja semua yang mendengar kaget.
“Pa... Itu suara Mama kan? Mama kenapa?” Rafa mengkerutkan keningnya.
“Kok Mama jerit-jerit di kamar ada apa sih?” Fatar juga penasaran.
William yang mendengar langsung berlari ke kamar. Ia masuk kedalam kamar. Rafa dan Fatar hendak mengikutin Papanya masuk kedalam kamar tapi Jack menghalangai. Ia tak mau si kembar melihat keadaan Mamanya.
“Rafa... Fatar... kalian disini saja. Biarkan Papa kalian saja yang melihat Mama kalian” Ucap Jack ke Rafa dan Fatar.
Si kembar menoleh ke Jack.
“Loh... Kenapa Om?” Tanya Fatar.
“Iya. Kenapa Om? Kok kami gak boleh ikut lihat Mama seh Om? Dan kenapa Mama jerit-jerit gitu. Kita kan kuatir” Rafa merasa gelisah. Ia mau melihat Mamanya.
“Mama kalian gak apa-apa. Jadi kalian disini aja bersama Om dan Tante Tania.”
“Om jangan bohong. Dosa tau” Ucap Fatar.
“Iya nih. Kami tetap mau lihat Mama. Kami kangen sama Mama dan juga cemas.” Rafa tak mempedulikan ucapan Jack. Ia berlari menuju kamar Papa dan Mamanya. Fatar pun mengikutin jejak kakaknya.
Jack menghela nafas panjang. Tania melirik ke Jack. Tania belum tahu keadaan Lilis.
“Ada apa Jack? Lilis kenapa? Dan kenapa kau melarang si kembar bertemu Mamanya?”
Jack menoleh ke Tania.
“Lilis sedang trauma. Dia sedang terganggu mental dan jiwanya. Jika si kembar melihat keadaannya maka mereka pasti sedih.”
“Apa yang terjadi? Kenapa bisa seperti itu?” Tania penasaran.
Jack akhirnya menceritakan apa yang terjadi. Tania tentu saja kaget luar biasa. Ia tak sangka nasib malang tersebut akan menimpa Lilis. Tania pun jadi sedih.
Di dalam kamar William mendekatin Lilis yang sedang menjerit-jerit. Bahkan terkadang ia menangis.
“Lis... Sayangku. Tenanglah. Kau sudah aman sekarang. Aku disini bersamamu.” Ucap William dan terus berusaha mendekatin Lilis.
“Pergi... Pergi...” Teriak Lilis. Sambil menjerit dan menangis.
“Ini aku sayang. Suamimu. Aku William.”
“Pergi...!!!!!” Lilis mengusir William. Lilis seperti tak mengenali William. Ia menjerit-jerit dan terus menangis.
William begitu sedih melihat keadaan istrinya. Si kembar pun masuk ke dalam kamar. Dan betapa kagetnya si kembar melihat keadaan Mamanya.
“Mama...” Ucap Rafa.
“Mama kenapa” Kata Fatar pula.
Si kembar datang mendekat. Tapi Lilis malah mengusir si kembar. Lilis seperti orang yang takut di dekatin. Ia terus menjerit dan berteriak. Bahkan menangis. Ia tak mau di dekatin oleh orang lain. Bahkan ia tak mengenali anak-anaknya dan William.
Lilis melempar beberapa barang yang ada didekatnya. William yang melihat hal tersebut segera memeluk si kembar dan membawanya keluar kamar.
“Mama kenapa Pa? Kok kayak gitu?” Rafa merasa sedih.
“Iya Pa... Mama kenapa seh? Kok kayak gak kenal sama kita” Fatar pun sedih.
“Mama lagi sakit. Jadi kalian harus mengerti keadaan Mama ya. Doakan saja Mama cepat sembuh ya”
Si kembar menganggukan kepalanya.
“Sekarang biarkan Mama kalian dulu ya. kembali lah ke kamar kalian dan istirahatlah ya.”
William memeluk anak-anaknya. Di kecupnya kening si kembar bergantian. Lalu dilepaskannya. Si kembar pun membiarkan Mamanya dikamar. Si kembar lalu berjalan menuju kamar mereka dan masuk ke kamar mereka masing-masing.
__ADS_1
William menghela nafas berat. Ia kembali ke dalam kamarnya. Ia masih melihat Lilis yang menjerit dan menangis histeris. William kembali mendekat. Tapi Lilis menolaknya.
Tapi William tak pergi. Ia tetap sabar mendekatin dan menghadapi Lilis. Lilis melempar beberapa barang kembali ke arah William. Dan mengenai kepala William. Walau sakit tapi tak di pedulikan oleh William. William tetap mendekati ke Lilis. Dan akhirnya ia sampai ke Lilis. William peluk tubuh Lilis. Dan berusaha menenangkannya. Lilis masih menjerit-jerit dan menangis. Tapi William tak melepaskan pelukannya. ia membelai dengan lembut. Rambut Lilis di usapnya dengan lembut.
“Tenanglah sayang. Ini aku. William mu” Bisik William di telinga Lilis.
Berangsur-angsur Lilis pun tenang. Dan dia diam. Namun diam dengan tatapan kosong. William yang melihat Lilis sudah diam dan tenang, kembali merebahkan Lilis di ranjangnya. William duduk di tepi ranjang dan menatap sedih ke Lilis.
“Sayang... cepatlah kembali seperti dahulu. Anak-anak butuh dirimu sayang. Aku juga masih disini menanti dirimu. I love yoo honey” William mencium puncak kening Lilis.
William selimutin tubuh Lilis dengan selimut. William bereskan semua benda yang berserakan di lantai. Setelah semua sudah rapi. Ia memanggil pembantu untuk membereskan sisanya. Lalu William kembali ke ruangan tengah duduk disana, dimana Jack dan Tania masih ada di ruang tengah sedang duduk juga.
“Bagaimana Lilis, Will?” Tanya Jack saat melihat William kembali dan duduk.
“Iya Will... Bagaimana?” Tania pun cemas.
“Ya begitulah... sekarang Lilis sudah tenang. Namun dia membisu dan pandangannya kembali kosong.” William mengusap kasar wajahnya dengan kedua tangannya.
“Sabar ya Will..” Jack menepuk pelan bahu William.
William hanya menganggukan kepalanya.
“Aku akan tetap bersabar hingga Lilis kembali seperti sebelumnya. Walau itu harus menghabiskan banyak waktu dan menghabiskan seluruh hidupku. Mau itu waktu demi waktu, hari demi hari, bulan demi bulan, bahkan tahun demi tahun, pasti aku akan tetap bersabar dan sabar menanti Lilis kembali seperti sedia kala.” Lanjut kata William di depan Jack dan Tania.
“Aku terharu mendengarnya Will. Lilis beruntung punya dirimu di sisinya. Teruslah di sisi Lilis dan sabar dalam menghadapi semuanya.” Ucap Tania pula.
“Iya. Pasti” William tersenyum tipis dan menganggukan kepalanya.
Malam hari pun tiba. Jack dan Tania memutuskan pulang ke rumah mereka masing-masing. Sehabis makan malam si kembar kembali ke kamarnya masing-masing. Sedangkan William setelah ia makan malam, William membawakan makan malam ke kamarnya dimana Lilis sedang duduk terdiam dan tak mempedulikan sekitarnya.
William datang mendekat dan duduk di tepi ranjang disebelah Lilis. William menyuapi Lilis makan. Awalnya Lilis tak mau, tapi William terus membujuknya hingga akhirnya Lilis mau juga makan. Namun tanpa ekspresi dan pandangan kosong terus yang ada. Setelah makannya selesai. William menaruh di atas nakas piring yang sudah kosong isinya. William memberikan minum dan Lilis meminumnya. Kemudian. Ia merebahkan Lilis. Dan William kekamar mandi untuk membersihkan dirinya. setelah mandi dan berganti pakaian baju tidur, William ikut tidur disamping Lilis. Memeluknya. Lilis hanya diam tanpa berkata apa pun. Bahkan seakan mayat hidup saja diri Lilis sekarang.
“I will always love you my honey, dalam hidupku dan bagaimanapun dirimu, aku akan selalu sayang dan cinta padamu” William kecup puncak kening Lilis. Ia pun berbaring disamping Lilis dengan memeluknya.
Dan lirik lagu Ungu - Dirimu Satu menemanin William dan Lilis saat ini.
I will always love you kekasihku
Dalam hidupku hanya dirimu satu
Selamanya takkan pernah terganti
Ku mau menjadi yang terakhir untukmu
Ku mau menjadi mimpi indahmu
Cintai aku dengan hatimu
Seperti aku mencintaimu
Sayangi aku dengan kasihmu
Seperti aku menyayangimu
I will be the last for you
And you will be the last for me
I will always love you kekasihku
Dalam hidupku hanya dirimu satu
__ADS_1
Ku mau menjadi yang terakhir untukmu
Ku mau menjadi mimpi indahmu
Cintai aku dengan hatimu
Seperti aku mencintaimu
Sayangi aku dengan kasihmu
Seperti aku menyayangimu
I will be the last for you
And you will be the last for me
I will be the last for you
And you will be the last for me
William lama-lama tertidur di samping Lilis. Ia masih memeluk Lilis. Sedangkan Lilis tiba-tiba malah meneteskan air matanya. Ia menangis dalam diam.
Bersambung...
Hiks... Hiks... Author sedih lihat Lilis dan William kayak gini. Semoga William terus sabar ya dan tetap disisi Lilis terus.
Yang suka dengan karya ini, ikutin terus kisahnya sampai akhir ya kakak readers semuanya :)
No Plagiat ya. Hargai usaha dan kerja keras seseorang dalam berkarya. Jadi katakan tidak pada meniru karya seseorang dan tidak menjiplaknya. No Plagiat. Makasih untuk yang sudah mampir ya kak. Love you all :)
Karya ini sedang mengikutin lomba, jadi mohon dukungannya terus ya kak.
Cara mendukungnya gampang yaitu :
1. Like semua episodenya / bab-nya ya kak. Dibaca juga semua babnya :)
2. Klik Vote setiap hari saat ya kak. Dan setiap hari senin juga :D
3. Klik Favorite juga ya kak
4. Selalu berikan dukungannya ya kak setiap saat :D
5. Tinggalkan komen ya kak :)
6. Kasi bintang 5 ya kak untuk karya ini sebagai menyukai karya ini dan apresiasi ke karya saya ini.
Makasih semuanya. Dukung terus karya ini ya kakak readers semuanya, biar Author semangat UP ceritanya. Love you all :)
Yuk kak buat karya ini makin bersinar, ajak gitu semuanya buat like semua babnya, komen, vote serta favoritekan yak. Jangan lupa kasi bintang 5 nya ya. karya ini sedang mengikutin lomba, semoga masuk 10 besar yak. Karena itu butuh dukungan dari kakak readers semuanya. Yuk kak buat karya ini masuk 10 besar gitu hehehe.
Yuk kak readers semuanya, kasi Vote yang banyak dan Like yang banyak yak :D Makasih buat semuanya.
Tembus 200 lebih like segera di UP kembali.
__ADS_1