Rafa Dan Fatar

Rafa Dan Fatar
Bab 60.


__ADS_3

Sepanjang perjalanan Lilis terus memeluk si kembar. Si kembar kemudian sadar. Mereka nampak bingung setelah bangun dari tidurnya.


“Ma.. Kita dimana? Kok naik Mobil?” Rafa baru bangun bertanya karena merasa bingung.


“Tadi Fatar kayaknya juga masih dirumah bibik May. Kok kita malah disini Ma?” Fatar juga merasa bingung.


“Kalian sudah bangun nak. Tidak apa-apa nak. Tidurlah kembali.” Ucap Lilis yang berusaha mengusai dan menenangkan perasaannya. Ia masih memikirkan William yang bersimbah darah di mobil satu lagi yang beriringan dibelakang dengan mobil yang di naiki Lilis.


“Mama kok luka-luka. Terus kok ada darah Ma?” Rafa memperhatikan keadaan Lilis yang memang kurang baik saat ini. Rafa jadi cemas.


“Iya. Kenapa dengan Mama?” Fatar juga jadi cemas dengan Mamanya.


Jack menoleh kebelakang. Karena posisi Jack didepan didekat supir.


“Rafa.. Fatar... Kalian saat ini biarkan Mama kalian tenang ya. Saat ini kita sedang dalam musibah. Jadi kita sama-sama tenang ya” Jack meminta si kembar untuk tenang, agar semua tidak panik ataupun cemas. Memang agak susah membuat anak-anak mengerti. Tapi si kembar dengan patuh mendengarkan Jack dan diam dengan tenang. Walau mereka masih banyak pertanyaan dikepala si kembar.


Setelah perjalanan cukup panjang. Sampailah mereka di ebuah rumah sakit. Jack meminta dokter yang dipercaya untuk menanganin masalah tersebut agar tidak di ekspos atau pun masuk berita. Bagaimana pun William adalah seorang Presdir dari Perusahaan ternama jadi semuanya harus dilakukan dengan tenang.


William dan Max dibawa masuk ke ruangan khusus. Max dinyatakan sudah meninggal dan tak tertolong lagi. Sedangkan si kembar dan Lilis juga dibawa masuk agar diperiksa dan di rawat dokter. Namun Lilis yang baru masuk langsung meminta ke ruangan William.


“Jack... aku mau melihat William. Apa William masih bisa selamat?” Jack hanya diam. Sudah jelas William kehilangan banyak darah. Jadi ia pun tak tahu.


“Titip si kembar sebentar ya Jack” Karena Jack hanya diam, Lilis langsung menyerahkan si kembar. Ia lalu berlari ke ruangan khusus tempat William dilarikan untuk ditanganin para dokter ahli.


“Mama...” Rafa dan fatar memanggil bersamaan.


Si kembar menatap ke arah Jack.


“Om... Mama kenapa? Terus kok nanya Papa William? Apa Papa udah pulang dari Inggris?” Rafa menanyakan banyak hal.


“Papa udah di Indonesia Om” Fatar juga bertanya.


Jack memandangi wajah kedua bocah kembar. Ia ingin menjelaskan namun nampak bingung.

__ADS_1


“Sebelum kalian tertidur, apa saja yang kalian ingat?” Jack bertanya di hadapan si kembar.


“Kami masih dirumah bibi May. Bermain sambil menunggu Mama pulang” Rafa menjawab.


“Kemudian Om Dimas datang. Menanyakan Mama udah sampai apa belum. Kami bilang belum. Lalu Om ikut bermain bersama kami. Habis itu Om Dimas kayak dapat pesan tapi kami gak tahu apa pesannya dan dari siapa. Lalu Om Dimas ngasih kami permen. Kemudian kami ngantuk dan tertidur.” Fatar mengatakan apa yang di ingatnya.


“Kemudian pas bangun kami sudah berada di mobil sama Mama dan sekarang di rumah sakit” Sambung Rafa juga.


“Oh... ya sudah. Kalian istirahatlah di dalam kamar VVIP ini ya. nanti ada dokter periksa kesehatan kalian saja ya.” Ucap Jack. Jack pun berpikir ternyata si kembar tak tahu apa pun yang sudah terjadi. Berarti saat kejadian mereka tertidur terus.


Baru saja Jack berkata untuk istirahat saja, namun si kembar malah berlari keluar untuk mencari Mamanya.


“Eh... Kalian mau kemana?” Jack mengikutin si kembar.


Si kembar berlari kesana kemari mencari sang Mama. saat di ujung koridor di ruangan UGD Khusus mereka melihat Lilis masuk. Mereka pun ikut kesana. Dan didalam sana dilihat oleh mereka kalau William bersimbah banyak darah. Si kembar melihat Mamanya terus menangis sambil memanggil nama Papa mereka.


“Will.. William.. Bangun lah. Jangan tinggalkan aku. Ku mohon tetap di sisiku.” Ucap Lilis beserta isakan tangisannya.


Si kembar kaget. Sungguh kaget melihat pemandangan tersebut. Keduanya jadi diam membisu. Melihat Mamanya sungguh histeris.


Jack pun tiba. Ia melihat si kembar diam terpaku. Dan melihat Lilis yang masih histeris terus sambil memanggil nama William. Beberapa dokter dan perawat yang ada merasa bingung dalam menanganin Lilis yang masih histeris tersebut. Mereka mencoba menenangkan Lilis dan mencoba membawa Lilis untuk keluar agar bisa ketempat lain yang tenang. Tapi Lilis tak mau beranjak pergi. Ia ingin di sisi William. Lama-kelamaan Lilis merasa pandangannya kabur dan samar-samar. Kemudian gelap. Lalu Lilis jatuh pingsan.


Semua dokter dan perawat kaget melihat Lilis pingsan. Si kembar panik dan memanggil Mamanya. Dan Jack segera membawa Lilis agar segera ditanganin dokter juga.


***


Beberapa tahun telah berlalu.


Kenangan buruk dan kejadian buruk tersebut kadang masih terpatri dipikiran dan di hati Lilis. Tapi ia berusaha tetap tegar dan kuat demi anak-anaknya. Tahun demi tahun sudah dilewati beberapa kali. Kini si kembar sudah berusia 10 tahun dan meraih banyak penghargaan dan piagam untuk setiap lomba yang mereka ikutin.


Rafa sering mengikutin Lomba matematika. Ia memang handal dalam menghitung cepat sehingga mendapatkan julukan si ahli matematika. Bahkan untuk lomba sains pun ia menangkan banyak penghargaan. Rumus fisika dan kimia dengan gampang ia kerjakan. Ia benar-benar anak yang  genius.


Sedangkan Fatar beberapa kali mengikutin lomba dalam bidang IT. Ia memang menyukai IT. Terakhir kali ia membuat model robot anjing dan kucing sehingga mendapatkan penghargaan dan mendali dari beberapa lomba yang di ikutin nya. Fatar sangat ahli tentang komputer hingga ia dijuluki Genius IT.  Rafa dan Fatar malah mendapatkan undangan untuk bersekolah di luar negeri. Namun si kembar memilih sekolah khusus anak pintar saja yang ada di Indonesia. Mereka ingin bersama-sama dengan Mamanya.

__ADS_1


Lilis pun sekarang sudah mempunyai karir yang baik. Ia mengikutin lomba desain dan memenangkannya. Ia pun sempat menetap di Paris 6 bulan untuk karirnya tersebut. Sekarang ia menetap di Indonesia untuk kembali bersama anak-anaknya. Namanya menjadi terkenal dan ia membuka usaha yang sukses juga cukup terkenal. Namanya melambung tinggi dan terkenal dimana-mana sehingga Butiknya sangat terkenal dimana-mana. Banyak orang yang menyukai desain pakaiannya sehingga butiknya selalu rame dikunjungi pelanggan. Ia pun mempunyai beberapa staf untuk membantunya mengurusin butiknya. Lilis lah perancang pakaiannya sendiri di butiknya. Namanya yang sudah terkenal sehingga dengan mudah menjual pakaian-pakaian yang selalu dipajang dibutiknya. Butiknya pun di desain dengan sangat elegan dan mewah. Ruangannya yang luas dengan beberapa perabot dan fasilitas yang lengkap dan nyaman sehingga para pelanggan bisa puas memilih pakaian yang di inginkan.


Sekarang Lilis dan anak-anaknya tinggal ditempat yang lebih baik. Jack menyuruh Lilis dan anak-anaknya untuk menempatin Rumah Keluarga Smith. Lilis awalnya tak mau, tapi Jack yang memintanya. Karena Jack sudah punya rumah sendiri jadi ia meminta Lilis dan anak-anaknya tinggal di rumah William. Bagaimana pun itu rumah dari Papanya si kembar jadi si kembar dan Lilis berhak tinggal dirumah William. Akhirnya Lilis pun mengiyakan permintaan Jack untuk tinggal di rumah William bersama anak-anaknya.


Untuk perusahaan I.S sekarang Jack yang meneruskannya. Ia terus melakukan yang terbaik agar perusahan semakin berkembang pesat dan maju.


Saat ini Lilis sedang berada di sebuah cafe. Ia duduk sendirian dengan menikmatin minuman coffe americanonya. Ia membuka tablet canggihnya untuk mengecek semua jadwalnya. Dan hal penting yang perlu dilakukannya. Setelah itu ia melihat ke isi tas yang ia pakai dan diletakkan di sebelah kursinya. Ia ingin meletakkan Tabletnya didalam tas. Namun perhatiannya terhenti saat melihat box kecil didalam tas. Dikeluarkan Lilis dan dibuka. Terlihat sebuah cincin berlian indah.


Waktu itu saat ia pingsan, ditangan William masih menggenggam cincin tersebut. Jack melihatnya dan menyimpannya. Setelah Lilis sadar, ia menerima cincin tersebut dari Jack. Lilis pun menyimpan cincin tersebut selama bertahun-tahun ini. Sekarang Lilis kembali memandangi cincin tersebut. Ia kembali teringat William. Ia kembali menangis.


“Will... Aku kangen” Gumam Lilis.


Seorang Pria datang menghampiri Lilis. Ia datang mendekat dan menyapa Lilis.


“Hai Lis..”


Lilis segera mengusap air matanya. Ia tak ingin orang melihatnya menangis. Jadi segera di hapusnya. Lilis menoleh ke asal suara tersebut.


“Kau...” Ucap Lilis.


Bersambung...


Siapa yang datang menyapa dan menghampiri Lilis ya???


Di like juga semua episodenya ya kak. Tinggalkan Komennya juga. Dukungan kalian akan sangat berarti agar Authornya semangat dan bisa UP cerita secepatnya. Makasih untuk yang sudah mampir ya kak. Love you all :)


Like nya masih sikit nih. Gak tembus belum... jadi up nya agak lama deh... saya usahakan selalu UP tiap hari ya.


Tembus 200 lebih like segera di UP kembali.


Tinggalkan komen yah...


Di like, di vote dan klik Favorite yah sebagai tanda telah membaca dan menyukai karya ini, juga sebagai apresiasi ke karya ini.

__ADS_1


 


 


__ADS_2