
“Kau pilih yang mana, anak-anakmu atau Wanitamu??”
William kaku dan terdiam mendengarkan ucapan Max. Orang-orang yang baru tiba dibawah tadi telah naik ke atas juga. Setelah semuanya di atas, Wanita bertopeng itu menyuruh anak buahnya menjatuhkan tubuh Lilis di atas lantai. Agar William bisa dengan jelas melihat kalau memang Lilislah yang mereka bawa.
“Kau siapa pula?” Tanya William ke wanita bertopeng itu.
“Aku??? Hahahaha...kau tak mengenaliku kah?” Ucap wanita bertopeng itu.
William tak tahu siapa wanita bertopeng itu. Dia pikir kalau Max selama ini bertindak sendirian. William tak sangka kalau Max punya rekan dalam aksinya selama ini. Atau ini kah Nona LL yang sempat di lacak oleh Katty. Tapi siapa Nona LL. William tak pernah mengusiknya. William menatap ke Max.
“Ku pikir kau beraksi sendiri ternyata ada temannya juga” William menatap tajam ke Max.
“Kami memang berkerja sama selama ini. Ku rasa kau mengenal Nona LL” Ucap Max ke William.
“Lalu nama akun Nona LL dan Dim P adalah kalian berdua. Kalian lah dalang hilangnya uang di beberapa Bank di beberapa negara kan. Dan penanaman serta pialang saham yang terus melonjak dan mendapatkan keuntungan besar terus adalah kalian berdua juga kan.” Analisis William setelah memikirkan beberapa info yang dia ketahui.
“Tepat sekali.” Max membenarkannya.
Lilis kemudian tersadar dari pingsannya. Ia melihat banyak orang di sekitarnya. Juga meliaht William dan anak-anaknya yang terikat juga ada bom di tubuh anak-anaknya.
“Rafa... Fatar...” Panggil Lilis ke anak-anaknya. Ia berusaha bangun. Tapi wanita bertopeng menendang Lilis.
Lilis mengaduh kesakitan. William tak tega dan segera mengarahkan pistolnya ke arah wanita bertopeng tersebut.
“Kau yakin? Aku akan memencet tombol ini maka akan memicu bomnya. Dan anak-anakmu akan meledak bersama dengan bomnya.” Ancam Max.
William menjatuhkan pistolnya. Ia tak berdaya. Ia hanya bisa melihat Lilis terus ditendang dan kesakitan.
“Cukup hentikan... Lepaskan Lilis dan anak-anakku. Cukup aku saja yang kalian siksa”
“Itu tak akan menyenangkan” Ucap wanita bertopeng itu.
Puas menendang. Wanita bertopeng tersebut mulai hendak melayangkan tinjunya. Tapi Max menghentikan.
“Hentikan...” Max mendekatin Wanita bertopeng itu. “Kau bisa membuatnya terbunuh” Bisik Ma ke Nona LL.
Nona LL hanya tersenyum sinis. “ Apa aku peduli?” Tatap Nona LL ke Max.
“Ingatlah perjanjian kita” Max nampak peduli dengan Lilis.
Nona LL menahan diri. Ia lalu diam dan membiarkan saja Lilis yang masih meringkuk kesakitan.
William hendak mendekatin Lilis. Tapi Max mengarahkan pistolnya ke William.
“Jangan bergerak dari tempatmu. Tetaplah di situ” Max mengarahkan pistolnya. William mengurungkan niatnya. Ia tak jadi bergerak ke arah Lilis. William diam di tempat.
“Apa maumu, katakan?”
“Aku ingin kau memilih antara anak-anakmu dan Lilis, siapa yang akan kau pilih? Pilihlah salah satunya saja”
“Kenapa kau ingin aku memilih? Kalau harus memilih maka aku memilih mereka semua.”
“No.. No...” Max menolak. Ia lalu menembak ke arah William. Di tembaknya paha William sebelah kiri.
William mengaduh kesakitan. Lilis melihat ke arah William.
“Tidak... Hentikan. Tolong lepaskan kami” Pinta Lilis saat melihat William tertembak di paha kirinya. William oyong dan jatuh. Ia berusaha bangkit walau setengah berdiri. William menahan rasa sakit terkena peluru.
“Lepaskan.. itu tak mungkin” Nona LL mengatakan hal tersebut ke Lilis. “Perhatikan priamu kesakitan. Apa kau rela kalau ia terluka seperti itu? Jika tidak maka pergilah tinggalkan dia sendirian disini. Pergilah bawa anak-anakmu saja” Nona LL mempengaruhi Lilis.
“Itu tak mungkin. Aku tak bisa meninggalkan William” Lirih kata Lilis.
Max mendekatin William. Ia lalu meninju William. William terjatuh kembali. dan berusaha bangkit kembali. berkali-kali Max meninjunya, dan William terus bertahan dan berusaha bangkit kembali.
__ADS_1
“Pilihlah William? Yudha kah? William kah? Atau Fatar namamu hah?? Kau terlalu banyak identitas. Seorang Presdir juga seorang agen rahasia begitu” Ucap Max.
“Dan kau pun sama” William menyunggingkan senyumnya.
“Apa maksudmu hah” Max hendak meninjunya kembali. tapi terhenti oleh ucapan William berikutnya.
“Dimas Pratama itu kau kan Max.” William tajam menatap ke arah Max.
Max tak jadi meninju William. Ia lalu tertawa.
“Kenapa kau tertawa? Aku benarkan itu kau Dimas” Ucap William kembali.
Lilis yang mendengar terkejut.
“Apa? Dia adalah Dimas. Benarkah???” Lilis serasa tak percaya.
Max diam. William kemudian bangkit. Ia berusaha berdiri tegak.
“Bagaimana aku bisa tahu begitu? Itu gampang, setelah temanku mendapatkan seluruh data dan info mu maka dengan mudah aku mengetahuinya. Kau cukup hebat menyembunyikannya selama ini. Tapi dari mana kau tahu tentang aku?”
Max tertawa. Ia membuka topengnya. Dan benar saja wajah Max yang di sembunyikan selama ini adalah Dimas.
Lilis begitu terkejut melihatnya. Ia tak sangka pria jahat itu adalah Dimas yang ia kenal.
“Kau kah itu Dim?? Tapi mengapa?” Lilis masih tak percaya. Tapi itulah kenyataan yang sebenarnya.
“Jadi bukan aku saja yang menyembunyikan jati diri dan berbohong kepada Lilis kan. Kau pun sama. Cuma bedanya, aku sudah jujur ke Lilis. Sedangkan Kau malah ingin terus bersembunyi. Apa karena cinta mu ditolak jadi kau sampai seperti ini” William nyalang bertatapan dengan Max.
“Hebat.. kau akhirnya mengetahuiku. Sama seperti aku yang cepat mengetahuimu. Saat aku kembali ke club 21 ternyata aku mendengar kalau kau mencariku dan jati dirimu cepat ku ketahui karena saat berjumpa di Resto kau memakai pin kecil metal berbentuk V, dari situ aku cepat mengetahuinya. Chip di tanganku segera ku pakai untuk membobol data penting di inggris baik itu pemerintahannya dan juga divisi Bos V. Dari data yang kubobol, kalau Fatar ditugaskan untuk misi Max. Yaitu aku. Makanya aku tahu kau mengejarku. Apalagi datamu terus ku temukan Fatar alias William Smith yang juga menyamar sebagai Yudha. Ku datangi tempatmu dan ku geledah semuanya. Dan binggo aku mendapatkan Dompet hitam yang berhubungan dengan masa lalu Lilis. Disitulah permainan di mulai dengan menghasut Lilis. Membeberkan rahasiamu. Dan agar kau berpisah dengan Lilis. Awalnya kupikir berhasil. Tapi nyatanya sekarang malah lain. Di toilet itu, acara ulang tahun perusahaan Hartono, aku melihat kalian saling berciuman. Dari situ ku tahu maka usahaku gagal. Jadi aku jalankan rencana ini.” Ucap Max panjang lebar.
“Kau gila kah Dim.. bukan seperti ini dirimu Dim... Dimas yang ku kenal adalah orang baik.” Lirih kata Lilis.
“Kau tak mengenalnya dengan baik nona” Ucap Nona LL ke Lilis.
“Lalu yang menyerang ku terus di inggris pas aku beberapa hari di Inggris adalah kau juga kah Max?” William menanyakan perihal dirinya dan Katty yang hampir mati berkali-kali dibuat orang suruhan Max.
“Aku hanya ingin melenyapkannya” Max nampak kesal.
“Ingat batasanmu Max” Nona LL nampak garang. Hawa dingin keluar menyelimutin orang disekitarnya.
Di saat Max dan Nona LL nampak tak akur, kesempatan ini dipakai William untuk bergerak. Ia mengambil pistolnya di lantai dan menembak beberapa anak buah mereka yang bersama Nona LL dan di dekat Lilis.
Beberapa kali tembakan di arahkan William. Semua anak buah Nona LL telah jatuh dan tewas semuanya. Nona LL dan Max kaget. Max segera menembak pula. Dan dengan sigap William mengelak. Walau ia terluka tapi ia tetap bisa bergerak dengan gesit. Rasa sakit tak dipedulikan William lagi.
Max mendekatin William. William mengarahkan tendangan kakinya hingga senjata Max terlempar. Ia mengarahkan pistolnya tapi sudah kehabisan peluru. Max mengambil kesempatan dan mengarahkan tinjunya. William menahan tinjuan Max. Kini kedua pria sedang berkelahi. Saling mengadu kekuatan fisiknya. Di saat Max menendang dan meninju, William segera mengelak. Ia pun membalas serangan Max. Baku hantam masih terus berlanjut. Walau beberapa kali William terkana pukulan Max. Tapi Max juga mendapatkan pukulan dari William berkali-kali juga. Kedua nya luka dan berdarah. Keduannya sama-sama meninju dan menendang hingga keduanya jatuh dan mundur kebelakang bersamaan.
Tepat di saat itu sebuah tembakan di udara dilayangkan oleh Nona LL. Ia menghentikan adu jontos di antara William dan Max.
“Kalian hentikan. Atau nyawa wanita ini akan ku habisi.” Ancam Nona LL yang menodongkan pistolnya ke kepala Lilis.
Kedua pria berhenti dan menatap ke arah Lilis.
“Kau jangan sakiti Lilis” Pinta William.
“Lepaskan dia” Ucap Max juga.
“Hey... kenapa kalian berdua malah memikirkan nasibnya. Aku kecewa Max”
“Apa mau mu?” Ucap Lilis ke Nona LL.
“Max itu dulunya wajahnya tak seperti itu. Dulu wajahnya sama kayak sepertiku bule. Namanya Max Xavier. Ia membawa lari chip berharga hingga jadi buronan. Setelah kabur, Max merubah wajahnya dan identitasnya. Ia merubah diri menjadi Dimas dan menyamar menjadi orang biasa bekerja di restoran. Tak disangka malah bertemu dengan wanita seperti ini. Dan hampir melupakan misinya denganku. Tapi belakangan ini kami sudah sepakat. William untuk ku dan Kau untuk Max. Serta menjalankan misi untuk mengusai dunia” Nona LL berkisah.
“Maaf Max, aku terpaksa berkata begini agar wanita yang kau sukai ini tahu tentang dirimu”
__ADS_1
“Apa maksudmu aku untuk Max dan William untuk mu?” Tanya Lilis ke arah Nona LL
“Hey.. seharusnya kau mengertikan.” Nona LL lalu mengarahkan pistol ke arah William.
Dor.. Dor... Dor...
Nona LL berkali-kali menembak ke arah William. William banyak mengeluarkan darah. Ia mendapatkan banyak tembakan tapi tak di daerah fatal. William ambruk berlutut. Ia bersimbah darah.
“Tidak...!!! Hentikan!!!” Jerit Lilis dengan cucuran air mata yang terus mengalir membasahi pipinya.
William menatap ke arah Lilis. Ia memandang Lilis dengan hangat.
“Lis... Aku minta maaf ya... Maafkan aku” William memandang lurus ke Lilis.
“Tidak Will... jangan berbicara seperti itu” Ucap lirih Lilis.
“Jaga dirimu baik-baik ya Lis.. Jaga anak-anak kita”
“Will...” Lilis memandang William sambil menangis.
“Aku mau bertanya Lis.. Aku pernah kau cintai kan?”
“Iya...” Lilis menganggukan kepalanya.
“Kalau Sekarang? Sekarang kau masih mencintaiku?” William terbatuk dan mengeluarkan darah.
“Aku mencintaimu Will.. Selalu dan selamanya” Lilis masih saja menangis. Ia bahkan tak perduli dengan pistol yang masih di todongkan Nona LL di kepalanya.
“Sebenarnya aku... aku ingin kita menikah. Bersediakah kau menikah denganku Lis?” William mengeluarkan Box cincin di saku nya dan mengeluarkan cincin tersebut. Terlihatlah kilauan indah dari Cincin berlian tersebut.
“Will... Jangan banyak bergerak. Aku bersedia, Aku mencintaimu” air mata Lilis semakin deras.
“Baguslah. Baguslah kalau begitu. Aku... Aku... Aku tidak akan sanggup hidup jika tidak melihatmu Lis. Tidur tak nyenyak. Tidak selera makan dan tidak bisa bernafas. Bagian sini begitu sakit dan sesak hingga sulit untuk bernafas.” William memegang jantungnya.
“Will...” Lilis semakin menangis terus.
“Kita lupakan masa lalu yang kelam ya Lis. Lupakan semua masalah yang ada di antara kita. Aku mencintaimu Lis. Aku akan selamanya mengukir namamu di hatiku sampai mati tak akan ku lupakan. Kau juga kan Lis?”
“Iya. Aku tak akan lupa Will”
“Aku...”
“Sudah hentikanlah...” Ucap Max, dan Max mengarahkan pistolnya ke arah William. Nona LL yang melihat juga mengarahkan pistolnya ke arah Max. Ia mau menghentikan Max.
Dan Dor... Suara tembakan bersamaan. Nona LL menembak ke arah tangan Max yang sedang memegang pistol. Sedangkan Max mengarahkan pistolnya ke arah jantung William.
“Tidak....!!!!” Jerit Lilis dengan deraian air matanya.
William jatuh tersungkur dengan tembakan yang ia terima. Darahnya bersimbah kemana-mana.
Bersambung...
Kasian William kena tembak. Terus gimana nasib Lilis yah...
Jangan Lupa Klik Vote dan Favorite ya kakak-kakak Readers semuanya. :) Likenya belum ada 200 nih. Kalau ada 200 lebih maka UP-nya akan segera Author liris. Makasih semuanya :)
Di like juga semua episodenya ya kak. Tinggalkan Komennya juga. Dukungan kalian akan sangat berarti agar Authornya semangat dan bisa UP cerita secepatnya. Makasih untuk yang sudah mampir ya kak. Love you all :)
Episode dan bab khusus nih. Sampai panjang Author buatnya.
Tembus 200 lebih like segera di UP kembali.
Tinggalkan komen yah... di like, di vote dan klik Favorite yah sebagai tanda telah membaca dan menyukai karya ini, juga sebagai apresiasi ke karya ini. Jangan lupa dukungan selalu untuk Author ya.
__ADS_1