
Sebelah tangan William yang tidak di genggam oleh Lilis mulai bergerak pelan. Namun Lilis dan Jack tak melihatnya. Mereka tak memperhatikannya.
Setelah sudah cukup lama, Jack mengajak Lilis untuk pulang. Lilis pun menganggukan kepalanya. Lilis kecup keningnya William lalu berpamitan pulang.
“Aku pulang ya Will. Nanti aku kemari lagi. Cepatlah sadar ya. Ku mencintaimu”
Lilis pun lalu keluar dan pulang bersama Jack.
Beberapa saat kemudian tangan William bergerak lagi dengan perlahan. Seorang perawat masuk seperti biasa mengecek keadaannya William. Setiap dua jam sekali selalu dipantau keadaannya William.
Perawat tersebut memeriksa semuanya. Dilihatnya tak ada masalah maka perawat tersebut hendak keluar juga. Tapi pandangannya terhenti. Ia melihat tangan pasien bergerak perlahan. Perawat segera berlari dan memanggil dokter.
Tak lama kemudian datanglah dokter bersama perawat yang tadi. Dokter mulai memeriksa.
“Kau yakin dia telah bergerak.” Tanya sang dokter.
“Iya Pak Dokter. Tadi tangannya pasien bergerak perlahan.”
Dokter memeriksa sekali lagi. Dan mata William terbuka perlahan. William telah sadar dari tidur panjangnya.
“Anda sudah bangun Tuan Smith?” Tanya sang Dokter.
“Air..” William nampak haus.
Perawat segera mengambil air yang ada di dalam ruangan VVIP tersebut. Ada sebuah dispenser air. Perawat mengambil gelas bersih dan mengambil airnya. Lalu menyerahkan ke pasien.
Dokter membantu William untuk duduk.
“Ini airnya Tuan.” Ucap si Perawat.
William masih terlalu lemah. Sehingga si perawat membantu memberikan minumnya ke William dengan diberikan pipet sedotan agar William mudah meminumnya. Setelah selesai minum, dokter mulai bertanya kembali.
“Apa yang anda rasakan sekarang Tuan? Apakah ada keluhan atau rasa sakit” Tanya dokter.
“Aku dimana ini?”
“Anda di rumah sakit Tuan? Sudah lama anda terbaring di ruangan ini”
“Anda siapa? Lalu aku siapa?” William merasa kebingungan.
Dokter dan perawat saling pandang.
“Apakah anda tak ingat kejadian terakhir yang anda alami Tuan? Dan Nama anda juga?” Tanya Dokter menatap serius ke arah William.
“Aku tak ingat apa pun. Lalu siapa namaku?”
“Dok... Pasien sepertinya kehilangan ingatan.” Ucap perawat berbisik di telinga sang dokter.
Dokter menganggukan kepalanya.
“Anda mengalami musibah beberapa tahun lalu. Nama anda adalah Tuan Smith. Sebaiknya anda kembali istirahat. Nanti kita akan melakukan pemeriksaan lanjutan. Saya akan menelepon Pak Jack sekarang.” Setelah berkata seperti itu Dokter pamitan dan perawat juga ikut serta dengan dokter keluar ruangan.
William terdiam dan bingung dengan semua hal. Ia mulai bangkit dari tempat tidurnya. Dan mulai berjalan keluar kamarnya. Di luar kamar ada banyak penjaga yang berjaga.
“Anda sudah bangun Tuan? Anda mau kemana?” Tanya salah satu penjaga.
“Aku mau menghirup udara segar. Jangan ganggu aku.” Ucap William kepada para penjaga. Para penjaga tentu saja menurut. Karena mereka tak berani kepada William.
William berjalan keluar. Menyusuri lorong-lorong rumah sakit. Semuanya bernuansa warna putih.
Sampai di luar rumah sakit, William menghirup udara segar. Ia duduk di kursi luar di dekat taman rumah sakit. Tenang dan damai rasanya saat itu.
Didekatnya seorang gadis muda sedang terisak. Ia terlihat sedih. Air matanya terus mengalir. William mendekat dan lalu bertanya.
__ADS_1
“Kenapa kau menangis?” William menatap gadis muda tersebut.
“...” Gadis muda itu tak menjawab. Ia menoleh ke arah William. Seorang pria yang sangat tampan, begitulah pikir gadis muda tersebut.
“Kenapa kau diam? Bisu kah?”
“Siapa bilang aku bisu.” Gadis muda itu merengut. Ia sudah sedih malah diledeki.
“Nah... ada suaranya juga rupanya. Siapa namamu dik? Dan kenapa kau menangis?” Tanya William.
“Nama ku Ayu Hastari. Panggil Ayu. Nenek ku baru saja meninggal di rumah sakit ini.” Gadis muda itu pun mulai menangis kembali.
“Orang sudah waktunya meninggal maka jangan ditangisin terus. Kau hanya akan membuat nenekmu sedih.”
“Tapi hanya nenek yang ku punya. Aku sudah tak punya siapa pun lagi” Ayu masih saja menangis.
“Kemana kedua orang tuamu?”
“Mereka berdua sudah meninggal dua tahun lalu. Ayah dan ibuku kecelakaan”
William merasa kasian pada gadis muda tersebut. Dilihat dari penampilannya sepertinya masih berusia sekitar 15 atau 16 tahun berarti masih pelajar SMA.
“Keluarga lain atau sanak saudara mu?”
“Tak punya. Sekarang aku sebatang kara. Hanya nenek yang ku punya. Tapi sekarang sudah tiada. Tadi kan sudah ku bilang. Hiks... Hiks...”
“Iya. Iya. Sudah jangan menangis lagi. Mau es cream?” Bujuk William.
“Es cream... Mau. Mana es cream nya.”
“Ayo kita cari”
Pergilah William dan gadis muda itu berduan. Mereka berjalan ke arah luar mencari mini market. Sesampainya di mini market, keduanya memilih es cream coklat. Lalu membayar ke kasir. Tapi William tak membawa uang rupanya. Ia menatap si gadis muda.
“Hah... tadi kau yang nawarkan tapi kok jadi aku yang bayar.” Gadis muda itu mengeluarkan uang nya dan membayar di kasir.
Kini keduanya sudah keluar dari mini market. Didepan mini market William menghentikan langkahnya. Gadis muda itu lalu menoleh ke arah William.
“Kenapa?”
“Tak apa-apa. Cuma maaf. Tadi aku yang ngajak malah kau yang bayar.”
“Om... umurmu berapa? Kok suka es cream? Seperti anak-anak saja.”
“Ntah lah. Aku tak ingat umur ku. Tapi aku memang suka sekali es cream ini.” William mulai memakan es creamnya.
“Loh... Ada pula orang gak tahu umurnya. Terus namamu siapa Om?”
“Jangan panggil Om. Aku bukan Om mu. Lagian aku masih muda.”
“Kau sudah tua kali Om... Aku tak tahu namamu. Jadi apa ku harus memanggilmu”
“Aku.. Aku... Aku... Aku tak tahu. Aku tak ingat apa pun.” William kemudian merasakan sakit kepala.
“Loh... kau kenapa om?” Tanya Ayu.
“Kepala ku sakit.”
“Kalau begitu kita ke rumah sakit tadi saja ya...”
“Tidak. Aku tak mau ke rumah sakit.”
“Kalau begitu ikut aku saja ya.”
__ADS_1
Gadis muda itu menyetop taksi yang lewat dan membawa William bersamanya pulang ke rumahnya.
Di sisi lain. Seorang perawat yang kembali ke ruangan William, ia nampak kaget karena tak melihat pasien. Ia segera memanggil dokter dan mengabari perihal William hilang.
Dokter yang mendapatkan informasi dari perawatnya,bukan main kagetnya. Ia berusaha menelepon Jack segera. Tadi dia juga menelepon Jack, ingin mengabarin kalau William telah sadar. Namun Hape Jack selalu sibuk. Sekarang dokter nampak panik. Ia kembali menelepon Jack.
Jack yang baru saja kembali ke rumahnya dan habis berganti pakaian, kemudian dikejutkan oleh panggilan masuk di Hapenya. Jack menerima telepon tersebut. Dan betapa kagetnya ia pas dokter menyampaikan berita William hilang. Awalnya ia senang karena Dokter mengatakan William telah sadar. Tapi sewaktu dikatakan William telah hilang, raut wajah Jack nampak panik. Ia segera meraih kunci mobilnya untuk segera ke rumah sakit. Jack juga memberikan pesan chat ke nomer Hape Lilis.
Sesampainya dirumah sakit, Jack langsung menemui dokter yang bertanggung jawab tentang William.
“Bagaimana dokter?” Jack menatap cemas.
“Maaf Pak Jack. Saya juga kurang tahu. Tadi Tuan Smith sadar. Saya berusaha menelepon anda, tapi nomer anda sibuk terus. Kemudian perawat ingin mengecek Tuan Smith untuk melakukan pemeriksaan lanjutan. Mau saya periksa ke ruangan lain lagi untuk pemeriksaan lanjutannya. Tapi perawat yang saya suruh membawa Tuan Smith mengatakan kalau Tuan Smith telah hilang. Itulah kenapa saya langsung menelepon anda pak. Maafkan kami” Dokter tersebut meminta maaf. Ia menyesal.
“Bagaimana bisa ini terjadi?” Ucap Jack kesal.
Mereka saat ini berbicara didepan pintu kamar rawat William. Jack menatap para penjaga yang dia tempatkan.
“Kalian apa melihat William?”
“Maaf Pak. Tadi Tuan William Smith berjalan keluar. Katanya mau menghirup udara segar. Kami dilarang menganggunya. Tapi ternyata tidak balik-balik juga. Kami sudah mencari ke seluruh ruangan rumah sakit ini tapi Tuan Smith tidak terlihat. Maaf pak.” Penjaga tersebut juga meminta maaf, ia menyesal karena telah lalai.
“Kenapa kalian biarkan dia sendirian. Seharusnya tetap kalian awasi. Dari jauh pun bisa. Yang penting masih dalam pengawasan kalian. Kenapa kalian bodoh sekali semuanya.” Jack benar-benar marah. Baru kali ini Jack terlihat marah. Semua tak ada yang berani menatapnya. Bahkan membantahnya pun tak ada. Para penjaga, perawat dan dokter menundukan kepalanya.
“Lalu bagaimana keadaan William dok?” jack kembali menoleh ke dokter.
“Dia... Dia... Se-sepertinya kehilangan ingatannya” Dokter menjawab agak tergagap.
“Apa!!!” Ucap Lilis yang barusan tiba. Jack menoleh ke Lilis. Lilis barusan mendengar apa yang dikatakan oleh dokter tersebut. Lilis nampak syok.
Bersambung....
Hai kak readers semuanya. Akhirnya bisa UP kembali. Gimana nih nasib William dan Lilis selanjutnya?? Williamnya hilang nih di bawa gadis muda, bakal ketemu lagi gak ya sama Lilis.
Di like juga semua episodenya ya kak. Tinggalkan Komennya juga. Dukungan kalian akan sangat berarti agar Authornya semangat dan bisa UP cerita secepatnya. Makasih untuk yang sudah mampir ya kak. Love you all :)
Kenapa yang baca ribuan sampe 33 ribu lebih tapi yang like hanya beberapa puluh orang saja.. Hiks... Sedih atuh... Apa hanya membaca dalam diam ya... Jempolnya digerakkan juga ya kakak. di klik likenya ya :)
Like nya masih sikit nih. Gak tembus belum... jadi UP nya agak lama gak apa-apa kan... saya usahakan selalu UP tiap hari ya.
Tapi jika tembus 200 lebih like akan segera di UP kembali.
Tinggalkan komen yah...
Di like, di vote dan klik Favorite yah sebagai tanda telah membaca dan menyukai karya ini, juga sebagai apresiasi ke karya ini.
__ADS_1