
Sekarang hari-hari yang terlewatin pun sangat damai dan bahagia. Setiap pagi Lilis sarapan bersama dengan suami dan anak-anaknya. Setelah suaminya pergi ke kantor dan anak-anaknya pergi sekolah, maka Lilis akan ke butiknya dan siang akan kembali ke rumah menunggu anak-anaknya pulang sekolah.
Atau terkadang Lilis akan ikut mengantar si kembar ke sekolah baru ke butiknya kemudian sore baru dirumah. Namun biasanya di siang hari Lilis menunggu si kembar dan makan siang bersama anaknya. Sore hari kumpul keluarga dengan ada William juga yang pulang ikut berkumpul dengan istrinya dan anak-anaknya. Malam harinya makan malam bersama setelah itu berkumpul bersama di ruangan Tv bersenda gurau bersama antara Lilis , William dan si kembar. Hingga waktunya tidur, si kembar tidur di kamarnya masing-masing. Sedangkan William dan Lilis, melakukan rutinitas kegiatan malamnya di ranjangnya.
Tapi ada kalanya William lembur sehingga malam baru pulang, saat pulang ia sudah melihat si kembar sudah tidur. Dan ia langsung ke kamarnya dimana sang istri di ranjang sedang terlelap tidur. William akan langsung ke kamar mandi kemudian berganti pakaian tidur dan tidur disisi istrinya.
Dan di hari week end terkadang mereka menghabiskan waktu kebersamaannya atau jalan-jalan sekeluarga. Pokoknya hari-hari yang di lalui sangatlah indah, damai dan bahagia sekarang.
Malam ini William masuk ke kamarnya saat mereka selesai makan malam tadi, si kembar sudah duluan masuk kamarnya. Di lihatnya istrinya baru keluar kamar mandi dan sudah berganti pakaian tidur. William mendekatin istrinya.
“Sayang... malam ini kita hangatkan ranjang yuk” Isyarat perkataan yang William katakan saat mengajak istrinya bercinta.
Lilis tersenyum menatap suaminya.
“Sepertinya malam ini tak bisa sayang”
“Loh... kok gak bisa. Biasanya sekarang setiap malam kita lakukan” William merajuk seperti anak kecil.
Lilis terkekeh melihatnya. Lilis menggelengkan kepalanya.
“Tidak bisa” Lilis langsung naik ke atas ranjang dan merebahkan tubuhnya.
William nampak kecewa. William ke kamar mandi untuk menyikat giginya dan berganti pakaian tidur. Kemudian ke arah ranjangnya dan tidur disamping istrinya. Ia melirik ke arah Lilis.
“Sayang...” William berusaha membujuk Lilis. Ia memeluk Lilis.
Lilis menoleh ke arah William. Lilis menghela nafasnya.
“Gak bisa sayang”
“Aku inginkan dirimu sayang...”
“Setiap malam kan sudah sayang... semalam juga... tapi kali ini gak bisa sayang”
“Kenapa?” William mengkerutkan keningnya.
Lilis mendekatkan bibirnya di telinga William.
“Aku sedang datang bulan” Lilis lalu terkekeh.
William akhirnya paham. Ia pun tersenyum.
“Wah sepertinya aku akan puasa nih...” William terkekeh saat mengatakannya.
“Hem...” Lilis menjawab singkat.
“Kan ada masanya di setiap bulan aku mengalami menstruasi sayang. Jadi bersabar lah ya. Libur dulu. Sekarang tidur lah” Lilis tersenyum.
William mengecup kening istrinya.
“Selamat malam sayang. Have a nice dream” William memeluk istrinya sambil tidur.
“Good night too. Have a nice dream too honey” Lilis pun tidur di samping William sambil memeluk William juga.
***
Esok harinya. Setelah sarapan dan Si kembar sudah berangkat ke sekolah.
Lilis memandang ke arah William yang saat ini masih di rumah.
“Loh... kok belum juga berangkat sayang? Hari ini apa gak ke kantor?” Lilis melihat William duduk santai di sofa ruang tamu dan Lilis ikut duduk di sampingnya.
William memandang ke arah Lilis istrinya dan merentangkan tangannya dan memeluk istrinya.
“Sedang malas sayang. Mau di rumah saja denganmu. Hari ini gak ke butikkan?” tatap William ke istrinya.
“Hemm... Mau ke butik seh” Lilis memandang ke arah suaminya.
“Di rumah aja ya... ya ya ya..” Bujuk William.
“Oke lah. Nanti aku hubungi ke pegawaiku. Oh iya sayang. Perusahaan Hartono sekarang di bawah naungan perusahaan I.S. jadi rumah peninggalan orang tua ku bagaimana?”
“Tentu saja sekarang kosong sayang. Semua pekerja yang dulu bekerja di rumah keluarga Hartono ku pekerjakan disini”
“Sayang sekali kalau kosong. Di sana banyak kenanganku bersama alamarhum kedua orang tuaku”
“Tapi disana juga banyak derita yang pernah terjadi kan. Apa sebaiknya ku jual saja? Tapi terserahmu seh sayang. Karena itu semua atas nama mu sekarang. Perusahaan Hartono pun atas namamu sayang. Kalau kau mau jadi CEO disana pun bisa sayang”
“Tidak. aku malas mengurus perusahaan. Kau saja yang urus. Aku urus butik ku saja. Sedangkan rumah peninggalan Papa dan Mamaku jangan di jual sayang. Aku sayang untuk menjualnya. Biarkan saja. Kalau kangen aku akan kesana”
“Baiklah. aku akan suruh orang untuk mengurus dan menjaganya. Kunci rumahnya ku letakkan di laci meja riasmu ya sayang”
“Ya. Baiklah”
__ADS_1
William kemudian mengecup pipinya Lilis. Dan Lilis tersenyum bahagia.
“Sayang, aku merindukanmu”
Lilis terkekeh.
“Setiap hari kita bertemu dan kau masih merindukanku sayang” Lilis memiringkan wajahnya.
“Bukan itu sayang. Kalau jumpa setiap hari memang. Tapi aku merindukanmu di atas ranjang” William mengedipkan mata nakalnya ke Lilis.
Lilis terkekeh. Dasar. Baru sehari libur sudah seperti ini.
“Wah... sayang sekali. masih libur. Dan harus menunggu beberapa hari ya sayang” Lilis tersenyum ke William.
William menghela nafas panjangnya.
“Iya deh... iya. Oh iya. Beberapa bulan lagi Tania dan Jack akan menikah sayang, kau sudah tahu kan?”
“Sudah. Tania sudah cerita padaku. Tak sangka ya mereka berjodoh juga”
“Iya. Sama seperti kita yang berjodoh” William memainkan mata nakalnya.
Lilis terkekeh.
“Apa kau selalu seperti ini sayang?”
“Hanya kepadamu sayang. Ke yang lain tidak”
“Syukurlah” Lilis tersenyum.
“Tapi waktu itu aku hampir saja seh tergoda dengan Vanya. Bayangkan saja. Vanya cantik, menarik dan masih muda. Kau tak mau ku sentuh, jadi bagaimana aku bisa kuat menahan godaan di depan mata”
Lilis yang mendengar sudah berubah raut wajahnya. Ia kesal dan terlihat marah.
“Oh... jadi sempat tergoda gitu” Lilis melepaskan pelukan William.
William malah terkekeh.
“Jangan marah dong ah... Cuma bercanda. Cinta ku hanya untukmu sayang” William menatap lembut ke arah Lilis.
Lilis mencibir dan membuang muka. Ia menatap ke arah lain.
William lupa kalau Lilis sedang datang bulan. Wanita kalau lagi datang bulan itu sangat sensitif maka amarahnya bisa naik turun. Mungkin beberapa wanita ada juga yang tidak seperti itu tapi saat ini Lilis terlihat kesal pada William.
“Hem...”
“Udah dong... Jangan ngambek ya”
“Jatahnya lebih lama ya puasanya”
William tertegun.
“Eloh... kok gitu”
Lilis mengangkat kedua bahunya. Ia bangkit dari tempat duduknya dan hendak melangkah pergi. Namun William segera mencegahnya.
“Ya udah. Maaf ya sayang. Oke” William hendak mencium bibir Lilis namun Lilis mengelak.
“Aku mau pergi belanja. Persediaan dapur tinggal sedikit”
“Kalau gitu aku temanin ya” William ikut bangkit dan menikutin langkah kaki Lilis.
Didalam mobil yang di naiki oleh Lilis dan William, sepanjang jalan Lilis hanya diam saja. William sengaja menyupir sendiri dan tak menyuruh pak supir, karena ia ingin berduaan dengan sang istri.
Sampai di supermarket, mereka turun dari mobil dan berjalan bersisian.
William bingung apa yang harus di omongkan. Karena dari tadi Lilis hanya diam saja.
Lilis memilih beberapa bahan dapur yang diperlukan. Troli mereka pun penuh dengan beberapa bahan dapur tersebut.
“Sayang... kenapa tidak beli banyak sekalian saja. Jadi tidak bolak balik belanjanya?” Pandang William ke arah Lilis.
“Jangan berlebihan. Beli lah seperlunya. Kalau habis baru beli lagi”
“Kenapa tidak pembantu saja yang belanja? Biasanya kan pembantu yang belanja keperluan dapur”
“Hari ini aku mau, aku sendiri yang belanja. Kalau kau mau pulang, pulang lah Will” Lilis masih sewot ke William.
“Enggak sayang. Gak gitu. Aku akan menemaninmu” Ucap William sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Lilis diam saja dan kembali memilih bahan belanjaannya. Ia masukan apa saja yang diperlukan ke dalam trolinya. Dan William yang mendorong trolinya.
Saat keduanya lagi sedang memilih bahan belanjaan. Dua orang wanita cantik melirik beberapa kali ke arah William.
__ADS_1
“Lihat... Pria itu sangat tampan”
“Iya. Hati ku meleleh melihatnya. Kenalan yuk”
“Yuk”
Kedua wanita yang masih muda dan cantik itu mendekat ke arah William.
“Maaf Tuan...” Sapa salah seorang di antara dua wanita tersebut.
William menoleh.
“Aku?”
“Iya”
“Ada perlu apa? Apa kita kenal?” William merasa tak mengenal kedua wanita yang ada di dekatnya sekarang.
“Kami berdua hendak berkenalan. Aku Sita. Dan ini temanku Rita” kedua wanita tersebut tersenyum manis di depan William.
Lilis yang melihat adegan tersebut semakin kesal.
“Sial. Itu siapa lagi dua wanita dekat-dekat sama suami aku. Gak lihat apa ada aku di samping William” keluh Lilis dalam hatinya.
William melihat ke arah istrinya, ia bisa merasakan kalau Lilis terlihat kesal.
“Waduh. Gawat. Semakin kesal Lilis, bisa-bisa jatahku semakin diperpanjang puasanya” Keluh dalam hati William pula.
William lalu melihat ke arah kedua wanita yang mendekatinnya.
“Maaf. Aku sedang berbelanja dengan istriku. Jadi jangan mengganggu kami” William terlihat cuek dan dingin kepada kedua wanita tersebut.
Kedua wanita tersebut pun akhirnya menyadari Lilis yang ada di samping William. Mereka pun undur diri sambil mengatakan maaf.
Setelah kedua wanita itu pergi, Lilis memandang ke arah suaminya. William juga melihat ke arah istrinya.
“Kenapa sayang?” Ucap William melihat sang istri.
“Tidak. Tidak apa-apa. Aku senang kau berbuat hal tersebut” Lilis kagum dengan suaminya yang cuek dan dingin pada wanita lain. Dan hanya hangat kepadanya.
William tersenyum. Iya. Dia tak mau membuat hati istrinya terluka. Atau pun kesal. Jadi ia menjaga jarak dengan namanya wanita lain.
“Kalau begitu aku minta hadiah ku ya sayang” Ucap William sambil melirik nakal ke arah Lilis.
Lilis yang awalnya hendak mengambil sekotak susu malah tak jadi dan menolah ke arah suaminya.
“Hadiah?” Lilis mengerutkan keningnya.
Bersambung...
Lagi dua-duaan malah ada aja pengganggu yak hehehe :D syukurlah segera di hempaskan oleh William. Gitu dong Will... Jaga lah hati dan perasaan istrimu :D
Yang suka dengan karya ini, ikutin terus kisahnya sampai akhir ya kakak readers semuanya :)
No Plagiat ya. Hargai usaha dan kerja keras seseorang dalam berkarya. Jadi katakan tidak pada meniru karya seseorang dan tidak menjiplaknya. No Plagiat. Makasih untuk yang sudah mampir ya kak. Love you all :)
Karya ini sedang mengikutin lomba, jadi mohon dukungannya terus ya kak.
Cara mendukungnya gampang yaitu :
1. Like semua episodenya / bab-nya ya kak. Dibaca juga semua babnya :)
2. Klik Vote setiap hari dan setiap saat ya kak. Dan setiap hari senin juga :D
3. Klik Favorite juga ya kak
4. Selalu berikan dukungannya ya kak setiap saat :D
5. Tinggalkan komen ya kak :)
6. Kasi bintang 5 ya kak untuk karya ini sebagai menyukai karya ini dan apresiasi ke karya saya ini.
Makasih semuanya. Dukung terus karya ini ya kakak readers semuanya, biar Author semangat UP ceritanya. Love you all :)
Tembus 200 lebih like segera di UP kembali.
__ADS_1