Rafa Dan Fatar

Rafa Dan Fatar
Extra Part 1. (Cerita tentang Panji)


__ADS_3

Panji saat ini sedang sibuk mengurusin berkasnya dikantor. Ia sangat kesal akibat sekretaris barunya si Mutiara yang agak lambat. Namun Panji tak pernah tega memarahinya. Karena tiap kali dia ingin marah maka akan melihat wajah sedih Mutiara. Apa lagi gadis muda itu sangatlah polos dan hidup sebatang kara, sehingga Panji tak pernah tega memecatnya atau pun marah padanya.


“Tiara...” Panggil Panji.


Tiara yang mendengar segera berlari ke ruangan bosnya. Tiara mengetuk pintu dan dan masuk ke dalam.


“Iya Pak. Ada apa?”


“Mana berkas dari kerja sama dengan pak surya? Kenapa tidak ada di meja ku?”


“Maaf Pak. Aku lupa dimana meletakannya”


“Ya ampun Tiara.” Panji menggelengkan kepalanya.


“Mutiara Pak. Namaku Mutiara”


“Iya. Aku tahu. Tiara kan sama aja. Tiara kan namamu juga” Panji terlihat kesal.


“Dasar bos galak. Duda lagi. Syukur aja ganteng” Gerutu Mutiara dan gumamnya sendirian.


Panji menoleh ke Mutiara.


“Apa kau bilang?” tatap Panji.


“Hehehe... kagak ada bos” Mutiara salah tingkah. Ia berharap bosnya tak dengar tadi.


“Ya sudah. Ayo ikut aku. Sebentar lagi kita meeting di luar. Siap-siap cepat” Perintah Panji.


“Oke bos” Mutiara memberi hormat lalu pamit keluar ruangan. Ia kembali ke mejanya dan segera bersiap dan berkemas. Tas nya segera ia selempangkan.


Panji keluar dan berdiri di depan meja Mutiara.


“Ayo jalan”


“Siap bos”


Panji dan Mutiara berjalan bersisian. Kemudian turun ke lantai bawah dengan menggunakan Lift.


Sampai di parkiran bawah, Panji masuk kedalam mobil dan Mutiara juga duduk di sebelah bosnya.


Supir pun segera melajukan mobilnya.


Di sepanjang perjalanan Panji melihat ponselnya. Ia melihat foto Lilis dahulu yang bersamanya. Saat itu adalah masa-masa bahagianya. Namun sudah lama kandas dan Panji juga harus merelakan Lilis bersama kebahagiaannya sendiri.


Panji menghela nafasnya. Mutiara melihat ke arah bosnya.


“Kenapa Bos?” Mutiara mencuri pandang. Dilihatnya kalau bosnya melihat sebuah foto di ponselnya.


Panji hanya diam saja.


Foto seorang wanita cantik. Mutiara pikir mungkin itu mantan istri bosnya. Mutiara baru bekerja dengan Panji selama 6 bulan ini. Ia sempat mendengar kalau bosnya itu pernah menikah tapi sudah lama bercerai.


Apa mungkin itu foto mantan istrinya? Sepertinya masih cinta? Kok cerai ya? keluh mutiara dalam hatinya.


Karena tak tahan, ia utarakan juga.


“Bos... foto siapa bos? Cantik ya bos? Mantan istri bos ya hehe” Mutiara hanya cengir.


Panji melirik ke arah Mutiara.


“Dia wanita yang pernah ku cintai. Namun sudah tak bisa ku miliki. Dia sudah memiliki kebahagiaanya sendiri.”


“Bos masih sayang ya sama mantan istrinya bos?”


“Dia bukan mantan istriku. Kalau mantan istriku tak pernah ku cintai. Aku membenci mantan istriku” Panji nampak marah setiap mengingat Wenny. Syukur saja Wenny sudah lenyap. Ia mendengar dari William dan Jack tentang kabar Wenny yang sudah meninggal. Ia puas dengan apa yang menimpa Wenny. Karena nyawa kedua orang tuanya sudah dihabisi oleh Wenny. Jadi apa yang menimpa pada Wenny pun sudah tak peduli lagi.


Mutiara melihat ke arah Panji. Terlihat ada amarah saat membicarakan mantan istrinya. Lalu siapa wanita yang ada di ponsel bosnya.


“Lalu siapa wanita yang ada di ponsel bos?”


Panji kembali melihat ke arah Mutiara. Ia mengkerutkan keningnya.


“Kau kepo sekali Tiara. Itu bukan urusanmu. Lagian sudah masa lalu dan sudah berlalu. Kita jalanin hidup masing-masing”


Mutiara mencibir.


“Gaya... masih cinta juga tuh” gerutu Mutiara.


Panji kembali menoleh ke arah Mutiara.


“Kenapa?” tatap Panji.

__ADS_1


“Gak bos. Gak apa-apa” Mutiara melihat ke arah lain.


Kini suasana di dalam mobil kembali hening.


Sampailah mereka di sebuah tempat pertemuan meeting dengan kliennya.


Panji dan Mutiara turun dari mobil dan berjalan bersisian. Saat hendak masuk ke dalam resto, Mutiara tersandung dan Panji refleks menangkapnya.


Deg.


Mutiara jatuh kepelukan Panji. Keduanya saling menatap untuk beberapa saat. Mata keduanya menatap satu sama lain. Hati Mutiara berdebar gak karuan. Panji segera menstabilkan tubuh mereka. Mutiara kembali berdiri tegak.


“Maaf Pak” Mutiara menunduk.


Panji hanya menggelengkan kepalanya. Ia lalu berjalan masuk ke dalam resto. Mutiara segera menyusul di belakang bosnya.


Selama dua jam pertemuan berjalan, sambil makan siang bersama juga. Setelah itu Panji dan Mutiara kembali menuju mobilnya untuk kembali ke kantor. Tapi kemudian Panji menoleh ke arah Mutiara.


Mutiara yang tak melihat Panji berbalik ke arahnya, alhasil Mutiara menabrak dada bidangnya Panji.


“Eh...” Mutiara kaget dan melangkah mundur tiga langkah.


“Maaf bos. Gak lihat” Mutiara menunjukan wajah polosnya.


Panji melihat wajah polos Mutiara sehingga tak jadi memarahinya. Ia mau menegur Mutiara sebenarnya. Tadi saat meeting dengan klien, mutiara itu sibuk dengan makanannya. Ntah di catatnya ntah enggak hasil meeting tadi.


“Bos...” Mutiara melihat bosnya.


“Tadi kau catat gak hasil pertemuan meeting barusan?”


“Eh... Lupa bos... Hehe”


“Ya ampun Tiara... kenapa aku masih memperkerjakanmu?” Panji mengelengkan kepalanya. Ia mau marah tapi tak tega melihat wajah Mutiara yang polos tersebut.


“Emang tadi apa aja ya bos yang dibahas?” tanpa dosa Mutiara bertanya ke bosnya.


“Kau ini sekretaris apa bos nya seh?”


“Anda bosnya lah bos” Jawab Mutiara polos. Mutiara gadis usia 22 tahun. Masih muda dan fresh. Lulusan S1 yang baru saja lulus. Dan baru 6 bulan bekerja dengan Panji. Polos dan nampak lambat dalam bertindak. Hanya satu yang buat Panji mempertahankannya. Panji kasian pada gadis yang hanya hidup sebatang kara tersebut.


“Nah... itu tahu. Makanya jangan makanan aja yang dipikirin”


Panji langsung masuk ke dalam mobil. Dan Mutiara ikut juga masuk.


Waktu berjalan hingga waktunya pulang kerja. Mutiara diberikan banyak tugas oleh Panji. Hingga jam 8 malam barulah ia bisa pulang.


Sampai di luar gedung perusahaan, Mutiara menunggu taksi lewat.


Cukup lama juga ia menunggu.


Kemudian Panji lewat dengan mobilnya dan berhenti di depan Mutiara.


“Loh.. Pak Panji?” Tatap Mutiara heran.


“Kok belum pulang Tiara?” Tanya Panji.


“Masih tunggu taksi Pak”


Kebetulan si supir sudah disuruh Panji pulang duluan, sehingga Panji yang menyupir sendirian kali ini.


“Kalau gitu ayo barengan. Cepat. Bentar lagi mendung. Nanti kau kehujanan kalau berdiri di situ terus”


Mutiara pun menganggukan kepalanya. Ia pun masuk ke dalam mobil Panji. Mutiara duduk di sebelah Panji. Dan Panji pun mulai melajukan mobilnya.


“Dimana kau tinggal biar ku antar?”


“Wah... jadi merepotkan bos. Lurus aja bos. Ntar jalan gang bunga nah ada tempat kost gitu. Nah disitu aku tinggal.”


“Oke”


Panji pun mengantarkan Mutiara. Sepanjang perjalanan Mutiara melihat ke arah Panji. Ia curi-curi pandang.


“Bos Panji ganteng juga ya...hehe kalau ingat yang tadi jantung dan hati ku rasanya mau copot euy. Debarannya bikin hatiku seperti genderang yang terus dipukul bertalu-talu. OMG.” Mutiara jadi senyum-senyum sendirian.


Panji melihat sekilas ke arah Mutiara.


“Napa? Kesambet yak?”


“Kagak bos. Bos ganteng deh. Aku suka... eh” Mutiara segera menutup mulutnya. Dan merutuki dirinya sendiri. Ia membantin dalam hatinya. Kok bisa keceplosan gitu ngomongnya.


Panji agak kaget juga mendengarnya. Dilihat dari reaksi Mutiara, kalau ia keceplosan bicara. Panji lalu tersenyum.

__ADS_1


OMG. Bos Panji lagi senyum. Aduh. Baru kali ini lihatnya. Keluh Mutiara dalam hatinya.


“Kau suka padaku Mutiara?”


“Eh...” Kok tiba-tiba seh. Ucap Mutiara dalam hatinya.


“Eeemmmm” Mutiara bingung dalam menjawab.


Panji menghentikan mobilnya. Ia menatap ke arah Mutiara.


“Kau suka atau tidak seh?” bentak Panji yang membuat Mutiara kaget.


“Suka bos... eh..” Refleks Mutiara menjawab. Ia lalu malu dan menutup wajahnya. Tak berani menatap Panji.


Panji tersenyum. Hatinya tiba-tiba bergetar untuk gadis polos di depannya ini. Ia lalu tersenyum lembut di hadapan Mutiara.


“Tiara...” Panggil Panji.


Mutiara membuka tangannya dan melirik ke arah Panji.


“I-iya bos” Mutiara tergagap menjawabnya. Ia gugup.


“Kalau kau bersedia, maukah kau jadi kekasihku? Aku ingin melupakan masa lalu. Jadi mau kah kau membantuku. Walau kesannya seperti pelampiasan tapi sesungguhnya aku ingin mencoba menjalanin hidup baruku. Dan ku harap itu bersama mu.”


Mutiara membulatkan kedua bola matanya. Mulutnya terbuka lebar dan membentuk huruf O bulat.


“An-da... Anda... Lagi kesambet yak bos? Biasanya juga selalu kesal saya aku kan?” Mutiara menatap heran ke arah Panji.


“Aku serius. Kalau kau tak mau ya sudah”


“Aku mau” Jawab Mutiara malu-malu. Walau Panji terkesan agak keras padanya. Tapi sesungguhnya Panji baik padanya. Dan selalu memaafkan kesalahannya di kantor. Karena ia emang selalu ceroboh.


“Benar kau mau jadi kekasihku Tiara?”


“Iya Bos.”


“Jangan panggil Bos. Panggil Panji saja.”


“Baik. Tapi kalau di kantor ku panggil Bos saja ya” Mutiara tersenyum hangat.


Panji tergetar hatinya. Ia menganggukan kepalanya. Kemudian mendekatin Mutiara. Wajah keduanya sangat dekat dan bibir keduanya pun terpaut. Saling mengulum dan menikmatin manisnya berciuman.


Saat Mutiara kehabisan nafasnya, barulah Panji melepaskan ciumannya.


“Walau kau kadang bikin kesal, tapi It’s fine. Masih manis kok. Dan suatu hari ku ajak kau menikah, kau akan setuju kan Tiara” tatap Panji melembut ke arah Mutiara.


“Iya. Aku pasti mau”


Keduanya tersenyum bahagia. Panji kembali menghidupkan mobilnya dan melajukan mobilnya mengantar Mutiara pulang.


 


Tamat.


 


 


 


Happy ending for Panji dan Mutiara.


 


 


 


No Plagiat ya. Hargai usaha dan kerja keras seseorang dalam berkarya. Jadi katakan tidak pada meniru karya seseorang dan tidak menjiplaknya. No Plagiat. Makasih untuk yang sudah mampir ya kak. Love you all :)


 


 


Like, Vote dan Komen ya :D kasi bintang 5 nya juga dong. Dukungan kalian semua sangatlah berarti Klik Favoritenya jangan di hilangkan yak :) Makasih kepada semua pembaca setia yang baik hati. Baca dari awal sampai bab akhir yak. Jangan di skip ya... Makasih semuanya :D


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2