Rafa Dan Fatar

Rafa Dan Fatar
Bab 6.


__ADS_3

Setelah Tania membawa Lilis ke Butik dan memilih kan baju untuk Lilis serta merias Lilis dengan sangat cantik. Mereka pun langsung pergi ketempat pertemuan yang dijanjikan.


Sebuah restoran VIP dan sudah memesan ruangan VIP juga. Tania sengaja meminta di tempat yang bukan restorannya karena takut akan ketahuan nanti jadi memilih tempat yang jauh dan beda.


“Ok. Aku tinggalkan ya. Nanti telpon lah aku kalo sudah selesai.” Tania memandang ke Lilis.


“Oke.” Lilis agak gugup. Karena ia harus berakting. Tapi ia sudah terlanjur janji ke Tania.


Tania pun keluar dari ruangan VIP tersebut. Kini hanya Lilis sendirian diruangan tersebut.


Sampailah William dan Jack diruangan yang dijanjikan. Mereka diantar oleh pelayan tersebut.


“Silahkan Tuan. Nona Tania sudah menunggu didalam ruangan ini” Kata pelayan yang mengantarkan.


“Terima kasih” kata William.


Pelayan pun pamit undur diri.


“Ingat Jack.. kau jadi William Smith dan aku jadi Yudha Hadinata” Ucap William mengingatkan kembali.


“Baik Tuan” Jack hanya pasrah menikuti perintah.


Masuklah kedua Pria tersebut kedalam ruangan VIP itu.


Lilis melihat pintu terbuka, menoleh ke arah Pintu. Dan masuklah dua Pria tampan. Yang satu Pria Tampan dan satunya lagi Pria yang sangat sangat Tampan.


“Kau...” William terkejut. Ia kaget melihat wanita didepannya.


Jack hanya memandang ke arah Bos nya.


“Halo Tuan... Saya Tania. Tania Putri Siregar” Bohong Lilis di depan kedua Pria tersebut. Namun Lilis bingung yang mana yang mau dijodohkan ke Tania.


“Ehem...” Jack berdeham, karena dilihat nya Bos nya nampak kaget dan termenung.


Sekita William pun cepat sadar.


“Halo Nona Tania. Saya Yudha Hadinata asisten Tuan Smith.” William mulai memperkenalkan dirinya sebagai Yudha Hadinata


“Halo Nona Tania. Saya William Smith” Ucap Jack mengulurkan tangannya.


“Mari duduk.”Lilis menjabat tangan Jack dan William bergantian.


Kini ketiganya sedang duduk bersama. Meja nya bulat bundar dan diatas meja sudah ada teh hangat yang dipesan Lilis. William menatap ke arah Lilis. Ia agak bingung.


“Baiklah mari kita pesan saja menu makanannya.” Ucap William.


Jack dan Lilis pun menganggukan kepalanya. William memanggil pelayan dan memesan makanan. Tak berapa lama kemudian sudah banyak makanan di meja mereka.


“Silahkan dimakan Nona.”


“Terima Kasih.”


Mereka makan bertiga dengan tenang. Awal nya Lilis bakal gugup kalau hanya berdua saja tapi ternyata mereka bertiga. Jadi ia agak lebih tenang.


Lilis sedang memikirkan cara bagaimana caranya agar Pria ini tidak menyukai nya. Tapi belum ada ide yang terlintas. Bahkan saat makanan pun sudah selesai mereka makan pun belum juga ide terlintas dikepala Lilis.


William memberikan Kode ke jack dengan sebuah pesan singkat dari HP.


“Jack. Kau keluarlah. Tunggu aku di mobil” Begitulah pesan singkat William dari HP.


Jack menerima pesan tersebut. Setelah membaca pesan tersebut. Ia langsung berdiri.


“Nona Tania. Saya permisi keluar duluan.” Ucap Jack.


“Hah? Eh... iya silahkan.” Lilis agak bingung padahal belum ada apa pun yang dilakukan nya. Tapi kok sudah mau pergi.


Jack pun kemudian pergi meninggalkan William dan Lilis diruang tersebut berduaan.


“Ehem... Nona sudah selesai makannya?” William memulai pembicaraan.


“Eh iya. Sudah selesai. Tapi kenapa Tuan Smith pergi duluan?”


“Oh beliau ada urusan. Jadi saya akan menemanin Nona.”


“Oh begitu. Seperti nya Tuan Smith orang yang sibuk ya...”


“Ya begitulah...”

__ADS_1


“Jadi Tuan adalah asisten Tuan Smith.”


“Tidak perlu panggil Tuan. Saya hanya seorang asisten. Saya Yudha Hadinata. Panggil saja Yudha” William menyembunyikan jati dirinya.


“Oh iya.. Pak Yudha.”


“Yudha saja.”


“Eh iya. Yudha”


“Bagaimana menurut Nona Tania tentang Bos saya.”


“Eeemmm... Tampan.”


“Kalau dibandingkan saya bagaimana? William tersenyum.


“Hah? Kok tiba-tiba...?” Lilis jadi bingung.


“Tidak apa-apa. Apa Nona teringat sesuatu setelah melihat wajah saya.” William mengatakan sesuatu yang agak membingungkan.


“Maksudnya?” Lilis bingung. Apa Maksud nya itu.


“Tidak apa-apa.” Senyuman William seperti ada yang disembunyikannya.


“Oh... Maaf. Karena tidak ada Tuan Smith jadi sebaiknya saya pergi dahulu. Saya masih ada pekerjaan lain”


“Kenapa harus buru-buru. Apa Nona tidak mau bertemu dengan Bos saya lagi. Mungkin sebentar lagi ia akan kembali.”


“Maaf. Saya tidak bisa. Saya pun tidak tertarik.”


William mengeluarkan HP nya dan mengambil foto Lilis.


“Hey.. apa yang kau lakukan?” Lilis kaget.


“Maaf ini hanya bukti untuk Tuan siregar. Kalau Tuan saya sudah bertemu dengan Nona Tania. Tapi Nona Tania malah mau pergi jadi saya hanya memfoto kalau bukti kita sudah bertemu.”


Didalam hati Lilis : “Waduh gawat. Kalau sampai Papa Tania melihat bukan Tania yang ada disini. Bisa gawat”


Lilis terlihat Panik.


“Kenapa Nona? Anda terlihat Panik” William memperlihatkan sebuah senyum yang nampak ganjil.


“Emangnya anda siapa?” William ingin Lilis mengakui sendiri.


“Baiklah aku akan jujur. Aku bukan Tania. Tania adalah sahabatku. Tania yang meminta ku untuk menggantikannya menemui Tuan Smith.” Lilis akhir nya mengaku.


“Lalu dimana Nona Tania sekarang.”


“Dia ada diluar. Tania tak mau dijodohkan. Maaf. Apakah kau akan melaporkan ke Bos mu Tuan Smith?” Lilis bertanya.


“Baiklah, aku akan membantu kalian.”


“Hah... Sungguh?” Lilis tak percaya rasanya.


“Iya. Akan ku katakan ke Bos ku kalau Nona Tania punya kekasih. Dan yang datang pun bukan Nona Tania. Pasti perjodohannya akan batal.”


“Bisakah seperti itu?” Tanya Lilis


“Tentu saja.” William menyakinkan.


“Syukurlah” Kini Lilis bisa lega dan tenang.


“Dan nama Nona siapa?”


“Saya Lilis. Lilis Hartono.”


“Hartono? Apakah dari keluarga Hartono perusahan yang cukup besar di kota ini.”


“Ah... itu...” Lilis tak ingin menceritakan tentang keluarga nya.


William bisa merasakan ada yang beda.


“Maaf Nona. Seharusnya saya tak banyak bertanya. Baiklah. Pertemuan ini kita sudahi saja. Bukannya Nona hendak pergi.”


“Oh iya. Terima kasih. Dan Maaf kan kebohongan ku tadi.” Lilis pun pamit pergi.


William tersenyum. Setelah Lilis pergi. William kembali ke mobil nya dimana Jack sudah lama menunggunya.

__ADS_1


Didalam Mobil.


“Bagaimana Tuan? Anda menyukai Nona Tania ya..” Jack penasaran.


“Tidak.” Jawab William.


“Lalu.. Kenapa tadi anda menyuruh saya keluar.”


“Aku hanya ingin memastikan sesuatu. Karena aku tahu kalau wanita tadi bukan Nona Tania.”


“Hah... jadi yang tadi bukan nona Tania .”


“Iya. Bukan. Dia Lilis Hartono”


“Bagaimana anda bisa tahu Tuan? Anda kan belum pernah ketemu Nona Tania.”


“Karena aku sudah pernah bertemu dengan Lilis.”


“Maksud anda Tuan?” Jack jadi makin bingung.


“Nona Tania menyuruh temannya berpura-pura menjadi dirinya. Lilis tadi adalah sahabatnya Nona Tania. Tadi dia sudah mengakuinya”


“Lalu bagaimana anda mengenal Nona Lilis?”


“Itu Rahasia Jack...” Ada sebuah senyuman yang mencurigakan dari wajah William.


Kemudian William memberi perintah ke Jack.


“Jack. Kau coba cari informasi tentang Lilis Hartono. Dimana dia sekarang? Apa yang dilakukannya? Bagaimana kehidupannya? Semua tentang dia carilah tahu.” Perintah William ke Jack.


“Bukan kah anda lebih ahli tentang hal tersebut Tuan.”


“Aku menyuruh mu jadi jalankan saja perintah ku”


“Baik Tuan”


***


Tania yang sudah bertemu kembali dengan Lilis, mulai menanyakan bagaimana pertemuan tadi.


“Bagaimana?” Tania penasaran.


“Berjalan lancar.”


“Serius... jadi perjodohannya ditolak.”


“Iya. Asistennya akan membantu kita. Mengatakan kalau kau sudah punya kekasih”


“Loh kok asistennya.” Tania bingung.


“Aku tadi ketahuan. Kalau aku bukan dirimu Tan.... Aku menjelaskan perihal kau yang gak mau dijodohkan, akhirnya dia bilang akan membantu.”


“Jadi kau ketahuan...”


“Iya. Intinya sekarang kau aman. Jadi tenanglah ya.”


“Oke. Makasih ya Lis...”


“Tan... Apa kau masih ingat dengan Panji.”


“Oh... Panji calon tunangan mu itu.”


“Iya. Sebelumnya aku bertemu dia tadi. Dia bersama Wenny. Mereka sekarang sudah bertunangan.”


“Apa!! Bagaimana bisa??”


“Entahlah. Aku pun tak tahu.”


“Apa Panji sudah melupakanmu Lis?” Tania memandang Lilis. Ia tahu betul gimana dulu hubungan Lilis dan Panji.


“Itu sudah masa lalu Tan... Masa depan ku sekarang adalah anak-anak ku.” Lilis tersenyum melihat kearah Tania.


“Dan tak pernah kah kau ingin mencari Papa dari si kembar.”


“Aku saja tak tahu siapa dia” Lilis terlihat sendu sekarang.


“Lalu Dimas bagaimana?”

__ADS_1


“Dimas??”


“Iya. Dimas bagaimana sekarang?”


__ADS_2