
“Hah?”
“Papa?”
Lilis dan Ibunya saling pandang.
“Iya nek Papa” Ucap Rafa.
“Betul nek. Kami kan sudah ada Papa?” Fatar juga ikut bicara.
Ibunya melihat kerah Lilis.
“Lis... apa maksud dari yang diucapkan anak-anak mu?”
“Aku pun tak mengerti Ma”
Lilis nampak bingung dan ia pun bertanya.
“Rafa.. Fatar... kalian gak boleh bohong. Apa maksud nya dengan Papa?” tanya Lilis.
“Kami kan punya Papa loh Ma. Kami gak bohong. Iya kan Fatar.” Rafa menoleh ke adiknya.
“Kakak benar Ma... Papa kami kan ada” Fatar bersikap sama dengan Rafa.
“Maksudnya?” Lilis semakin bingung dan dahi nya menjadi berkerut karena kebingungan.
“Rafa dan fatar ayo coba jelaskan ke nenek dan mama kalian..” Ajeng Ayu Hartono meminta penjelasan.
“Kami menemukan Papa” kata Rafa.
“Iya benar Ma.” Kata Fatar pula.
“Dimana? Siapa Papa yang kalian maksud?”
“Di perusahaan I.S namanya William Smith.” Ucap Rafa dan Fatar bersamaan. Wajah kedua bocah tersebut nampak berbinar-binar.
“Apa!!! I.S??? William Smith???” Lilis sangat kaget mendengarnya.
“Kenapa Lis?” Tanya Ibunya Lilis.
“Maaf Ma... sepertinya anak-anakku terlalu banyak berkhayal.”
“Mereka sepertinya menginginkan sosok seorang Papa.”Ibunya memberikan pemahaman ke Lilis.
“Atau Om ganteng saja Ma... yang jadi Papanya Fatar. Fatar akan setuju saja.” Fatar tersenyum.
“Siapa lagi itu Om ganteng.” Tanya Ibunya Lilis.
“Oh... dia kenalan ku Ma.. Namanya Yudha Hadinata. Anak-anak ku cukup dekat ke dia.”
“Kalau anak-anak mu setuju, kenapa tidak di iyakan saja.”
“Mama...” Lilis menatap ibunya.
Sedangkan Fatar dan Rafa malah berceloteh.
“Fatar... kok om ganteng seh?? Kan papa kita William Smith”
“Kak.. William Smith kita gak tahu wajahnya. Om ganteng kita kenal. Jadi Om ganteng saja.”
“William Smith papa kita”
“Om ganteng..”
“William Smith ku bilang.”
“Om ganteng. Titik.”
Lilis malah melihat anak-anaknya jadi ribut.
“William Smith” Kata Rafa lagi.
“Om ganteng...” Fatar tak mau kalah.
“Hey.. kalian berdua kenapa?” Lilis melihat kedua anaknya
“Rafa mau Papa William Smith Ma...” Rafa sudah mulai merengek.
“Gak Ma... Om ganteng aja Ma yang jadi Papanya Fatar” Fatar masih memilih Om gantengnya.
“Sudah... sudah... hentikan. Disini ada nenek. Kalian malah ngeributkan hal lain. Hentikan.” Lilis nampak Marah.
Rafa dan fatar terdiam. Baru kali ini Mamanya nampak Marah. Dan cukup mengerikan.
“Maaf Ma...” Rafa menyesal.
__ADS_1
“Fatar juga minta maaf..” Fatar pun sama.
“Ya sudah. Mama mau pergi kerja. Kalian sama nenek baik-baik dirumah ya.” perintah Lilis.
“Iya Ma...” Rafa dan fatar menjawab bersamaan.
“Mama. Lilis berangkat kerja. Titip anak-anak ya Ma... nanti juga ada Bibi May yang bantu kesini jaga anak-anak.” Lilis berpamitan kepada Ibunya.
“Iya. Hati-hati nak.”
Lilis pun pergi kerja. Dan tinggallah anak-anaknya bersama neneknya.
***
Seharian Lilis sibuk bekerja di restoran. Karena banyak tamu untuk dilayanin. Begitu juga pas bekerja di cafe yang tak hentinya melayanin pelanggan yang memesan minuman.
Waktu pun berlalu hingga malam. Saat malam hari ia sudah sangat lelah. Lilis pun langsung pulang karena sudah merasa lelah seharian bekerja. Ia pulang seperti biasa naik Bis.
Sampai di halte dekat rumahnya ia pun turun. Baru saja turun dari Bis, Lilis sudah berjumpa dengan Panji.
“Lis...” sapa Panji.
“Mas Panji...” Lilis bingung buat apa lagi Panji mencarinya. Baginya Panji bukan siap-siapanya lagi.
“Baru sampai...?” tanya Panji.
“Iya Mas... aku lelah jadi hendak pulang dan istirahat.”
“Ku dengar tante Ajeng ke rumahmu ya Lis?”
“Darimana kau tau Mas...?”
“Tadi aku menelpon tante, beliau berkata sedang main di rumah mu. Mau pulangkan. Ayo bareng dengan mobil ku.”
“Gak usah Mas... dekat kok. Jalan kaki sebentar juga sampai.”
“Ayolah. Sekalian saja.”
“Baiklah.”
Lilis pun naik mobil dengan Panji. Sebenarnya tak perlu naik mobil jalan sebenatr saja pasti sampai. Tapi karena sepertinya Panji sudah lama menunggunya akhirnya ia ikut saja masuk kemobil. Panji mengendari mobilnya menuju rumah Lilis. Setelah sampai Lilis turun dari mobil di ikutin oleh Panji.
Saat turun, Lilis melihat ada sebuah mobil juga parkir didepan rumahnya.
“Siapa ya?” tanya lilis dalam hatinya.
“eh.. iya.”
Saat Lilis dan Panji masuk ke dalam rumah, ternyata didalam rumah ada Ibunya Lilis dan Yudha (William).
“Mama... masih disini?” Tanya Lilis setelah masuk ke rumah.
“Iya. Ada teman mu Lis yang nemanin Mama” jawab ibunya.
“Yudha..?”
“Hai Lis...” William tersenyum ke Lilis.
“Halo Tante...” Panji memberi salam ke Ibunya Lilis.
“Oh Panji ikut kemari juga ya...” Ibu Lilis baru melihat ada Panji.
“Iya Mama” Jawab Lilis.
Kini ke empatnya duduk bersama di ruangan tamu.
“Rafa dan Fatar dimana Ma?” Lilis melihat si kembar tak nampak.
“Sudah tidur. Dari tadi main dengan nak Yudha. Setelah mandi dan makan langsung ketiduran” Ibunya memberitahukan Lilis.
“Tumben cepat sekali. Jam 10 malam sudah tidur. Biasanya selalu menunggu Lilis.” Lilis agak heran.
“Mungkin karena ada nak Yudha... jadi anak-anak mu cepat tidur. Mereka asik sekali seharian ini bermain.” Tukas Ibunya Lilis kembali.
“Mama kok belum pulang? Apa bibi May gak kemari?”
“Tadi siang dia kemari. Nemanin Mama jagain si kembar. Tapi setelah Yudha datang, bibi May pamit pulang.”
“Oh...”
Lilis dan Ibunya sibuk berbicara berdua. Sedangkan William menatap tajam ke arah Panji. Panji juga merasakan tatapan tajam tersebut. Ia merasa aneh.
“Oh iya. Sampe lupa. Lis... siapkan minuman untuk Panji. Sekalian buatkan untuk nak Yudha.”
“Iya Ma...” Lilis pun beranjak ke dapur dan di ikutin oleh Ibunya.
__ADS_1
Kini hanya Panji dan William yang berada diruang tamu.
“Halo. Saya Panji sudrajat.” Panji memperkenalkan dirinya.
“Hem...” William hanya memberikan isyarat saja.
“Maaf. Apa kita pernah jumpa sebelumnya? Kenapa kau terus menatapku?” Panji merasa aneh.
“Kau Panji kan. Aku sudah tau. Mantan tunangan Lilis kan. Atau lebih tepatnya mantan calon tunangan.” William memberikan tatapan tajam.
“Darimana kau tau? Apa Lilis yang cerita? Kau siapanya Lilis?”
“Siapa aku bukan urusanmu. Kau yang tak ada hubungan lagi dengan Lilis buat apa datang kembali ke kehidupannya.”
“Maksudmu?”
“Kau membiarkannya sendirian menderita. Apa itu yang namanya tunangan. Eh... salah, kalian sekarang sudah mantan calon tunangan. Tak ada lagi yang perlu dibahas.”
“Kau... kau tak tahu apa pun tentang aku dan Lilis.”
“Aku lebih banyak tau dari pada kau sendiri. Bukannya kau sudah bertunangan. Berita pertunangan mu sudah masuk berita. Apa kata tunangan mu nanti, kalau dia tahu kau ada disini..”
“...” Panji tak dapat berkata apa-apa. Dia heran darimana Pria ini tahu tentang dirinya.
“Sebaiknya jangan kau ganggu hidup Lilis. Dia sudah bahagia sekarang. Kau urus saja tunanganmu. Jangan sampai dia mengamuk jika tahu kau ada disini.” William menatap tajam ke arah Panji.
Panji merasakan tatapan Tajam dan dingin dari William. Seperti hawa membunuh. Kemudian suara telepon Panji berdering.
“Iya. Halo.” Ucap Panji.
“Mas Panji kemana?” Wenny diseberang telepon.
“Aku sedang main ke rumah Lilis”
“Hah? Rumah Lilis?”
“Iya”
“Buat apa Mas kesitu. Cepatlah pulang. Aku sedang bersama Om Bambang Sudarajat dan Tante Belinda Sudarajat”
“Sedang apa kau bersama orang tuaku?”
“Aku dirumah mu Mas. Kau yang keluyuran diluar sana. Cepat pulang. Om dan Tante mencarimu”
“Baiklah.”
Telepon terputus.
Lilis dan Ibunya sudah kembali dari dapur membawa dua cangkir minuman dan beberapa cake di piring. Lalu diletakan diatas meja.
“Silahkan dinikmatin ya Mas Panji dan kau juga Yudha..” Lilis menawari makanan dan minumannya.
“Terima kasih.” Ucap William.
“Lis... Tante... aku pulang dulu.”
“Loh... kok pulang nak panji.” Tanya Ibunya Lilis.
“Mama dan Papa mencariku jadi permisi dahulu.”
Pamitlah Panji ke Lilis dan Ibunya Lilis. Ia pun lalu Pulang. Kini hanya Lilis, William dan Ibunya.
“Diminum nak Yudha?” tawar bu Ajeng Ayu Hartono.
“Terima Kasih Tante.” William pun meminum minumannya. Dan mencoba memakan cake yang dihidangkan.
“Yud... kau tak pulang? Sudah larut malam loh...” Lilis mengingatkan.
“Lis... tamu kok di usir.” Ibunya menasehati.
“Bukan begitu Ma... aku lelah. Ingin istirahat tidur.”
“Tidak apa-apa tante. Sebentar lagi aku pulang. Tadi hanya berkunjung melihat si kembar. Oh iya Lis... aku sudah mendapatkan rumah baruku.”
“Hah.. dimana? Padahal aku belum menemukannya” ucap Lilis.
“Disebelah sini” Ucap William santai.
“Hah disebelah sini??? Dimana???” Tanya Lilis dengan heran.
Bersambung...
Jangan Lupa Like dan Komen ya kakak Readers semuanya. Klik Favorite dan Vote juga agar Author semangat buat UP ceritanya. Dukungan para kakak-kakak Readers semua sangat berarti sekali. Makasih yang udah mampir ya :) :) :)
__ADS_1