
“Om Yudha adalah William Smith...” gumam Rafa setelah melihat KTPnya William yang ada di dompet juga. Ia lalu segera meletakan kembali kedalam dompet. Dan menaruhnya ke posisi semula.
William kembali bersama Fatar dengan dua mobilan yang sudah dipilih. Kini semuanya sudah dibayar oleh William. Semuanya diangkut ke mobilnya. Rafa dan Fatar masuk kedalam mobil juga.
“Oke. Semua sudah di mobil kan??” Tanya William menoleh ke kursi belakang
“Iya Om...” Jawab si kembar kompak.
“Ok. Kita let's go..” William lalu melajukan mobilnya.
Didalam mobil Rafa dan Fatar berbisik-bisik.
“Bagaimana kak?” Fatar menoleh ke kakaknya.
“Oke. Aman.” Rafa memberikan jempolnya.
“Hasilnya?”
“Hasilnya membahagiakan.. Hehehe...”
“Apa seh kak? Bilang dong..”
“Om Yudha adalah William Smith”
“Jadi Dia Papa kita donk.”
“Iya. Sudah pasti. Kau masih ingat pencarian kita kan tentang Papa kandung kita adalah William Smith. Dan KTP om Yudha ternyata bernama William Smith. Jadi artinya Om Yudha adalah William Smith. Dia Papa Kandung kita” Rafa bahagia akhirnya menemukan Papa kandungnya.
“Benerkah kak???” Fatar membelakakan matanya.
“Iya. Itu sudah pasti benar.”
“Syukurlah kak. Keinginan ku Om Ganteng adalah Papa kita. Ternyata malah memang Papa kandung kita. Hehe” Fatar pun ikut bahagia.
“Akting mu tadi bagus sekali Fatar...”
“Tentu saja... Fatar gitu loh.. Hehe..” Fatar membanggakan dirinya.
“Tapi...”
“Tapi kenapa kak?”
“Kenapa Papa harus menyamar dan berbohong sebagai Om Yudha? Dan kenapa Mama gak mengenali Papa kita?” Rafa menyadari sesuatu.
“Benar juga ya kak.. Aneh sekali.” Fatar juga merasa aneh.
William memperhatikan ke dua bocah melalui kaca spion mobilnya.
“Kalian berdua bisik-bisik apa?” William akhirnya bertanya.
“Hehehe... gak ada kok Om” Rafa menunjukan senyum manisnya.
“Om kita selanjutnya mau kemana?” Fatar pun bertanya.
__ADS_1
“Mau jemput Mama kalian”
“Mama...” Si kembar saling pandang.
“Iya..” William tersenyum.
Sampailah William dan si kembar ke perusahaan I.S. William memparkirkan mobilnya di parkiran khusus Presdir. Ia lalu menelpon Lilis.
“Halo..” Jawab Lilis di seberang telepon.
“Lis.. Ini aku bersama anak-anak. Kami ada diparkiran di perusahaan I.S. Kemarilah ya” William mengajak Lilis.
“Aku tak bisa. Aku sedang memeriksa gaun dan sketsa desain yang diberikan kak Ivanka.”
“Ayolah sebentar saja. Aku akan menelpon Ivanka. Tenang saja. Gak akan masalah.”
“Baiklah. Aku turun ke parkiran.”
10 menit kemudian Lilis sudah berada di parkiran. Lilis mendekati mobilnya William.
William keluar dan membukakan pintu mobilnya. Lilis masuk ke mobil dan disusul William juga ikut masuk.
“Mama...” Teriak si kembar
“Rafa.. Fatar...” Lilis tak menyangka kalau anak-anaknya benar-benar datang bersama Yudha (William).
“Mama sudah kerja disini ya?” Rafa datang lalu memeluk Mamanya.
“Mama hebat” Fatar juga memeluk Mamanya.
Rafa dan Fatar kembali duduk ke posisinya semula.
“Bagaimana bisa kau bawa anak-anak kemari Yud?” Lilis menoleh ke William.
“Aku kangen dengan Rafa dan Fatar. Kau ada hutang makan bersamaku. Jadi kita makan bersama saja. Bagaimana?” Ajak William.
“Sekarang?? Tapi kita sedang kerja Yud..”
“Tenang saja. Gak masalah”
“Tapi apa kata Tuan Smith nanti... Lalu Mbak Ivanka pasti memerlukanku”
“Lis... Kau tenang saja. Ikutin saja apa kataku ya...”
“Hah... Emangnya kau Bos nya? Bos perusahaan ini kan bukan kau?” Lilis mendengus agak kesal.
“Hehehe... Tenang saja ya Bidadari cantik... kalau marah nanti makin cantik.” William menggoda.
“Kau... ada anak-anak. Jangan bicara sembarangan.” Lilis tersipu malu. Apalagi ada si kembar, ia makin malu.
“Iya. Tenang saja. Kau kan memang cantik. Sangat cantik malahan” William masih saja menggodanya.
Wanita mana yang tak suka dipuji cantik. Lilis walau sering mendengar kata cantik tersebut. Namun saat Yudha (William) yang mengatakan ntah kenapa hatinya jadi berbunga-bunga. Ada desiran hangat menyelimuti hatinya. Ia pun merasa agak malu hingga tersipu-sipu.
__ADS_1
“Ma... Mama memang cantik kok” puji Rafa juga.
“Iya. Cantik banget malahan. Yang lain mah lewat.” Fatar tak kalah juga ingin memuji sang Mama.
“Oh... Kalian semua sekongkol ya... Sejak kapan bisa kompak begini sih” Lilis memandang ketiganya bergantian.
“Hehehe... Sudah lah. Ayo kita gerak sekarang” Ucap William.
“Ok. Let’s go...” Rafa dan Fatar pun kompak.
Lilis akhirnya menyerah dan hanya mengikutin saja.
William awalnya ingin mengajak makan siang namun ternyata si Rafa dan Fatar meminta ingin sekali ke wahana bermain. Akhirnya ia membawanya ke wahana taman bermain.
Sesampainya disana Rafa dan Fatar senang sekali. Mereka bermain banyak wahana. Ada Komedi putar, Biang lala. Kicir-kicir, Halilintar, Bumper Car dan masih banyak lagi permainan lainnya. Tapi jika permainannya agak ekstrem Lilis akan melarangnya. Karena baginya anak-anaknya masih kecil.
Disaat si kembar lagi asyik bermain, Lilis duduk di dekat bangku yang tersedia. Dan William menemanin duduk disebelah.
“Anak-anak terlihat bahagia ya Lis...” William memandang ke arah si kembar.
“Iya. Bahkan hari ini kelihatan lebih bahagia. Terima kasih Yud... Udah ajak Rafa dan Fatar kemari.” Lilis tersenyum memandang ke arah si kembar lalu menoleh ke arah William.
William pun tersenyum ke arah si kembar dan kini beralih ke arah Lilis. Hati keduanya berdebar dan ada desiran manis yang bersarang dihati keduanya. William meraih tangan Lilis dan menggenggamnya dengan hangat. Seperti ada magnetnya saja. Tubuh keduanya saling mendekat. Bahkan makin mendekat. William pun berkata dengan lembutnya.
“Lis... Aku menyukaimu. Mau kah kau menerima cintaku? Walau kesannya terlalu cepat tapi jujur ku katakan aku mencintaimu..” Kedua bola mata William terasa lembut dan hangat apa lagi saat William mengatakan hal tersebut.
“Aku...” Walau Lilis tersentuh dan hatinya pun bergetar untuk William, Tapi ada rasa keraguan dihatinya. Ia belum bisa langsung menjawabnya.
Lilis belum menjawab apa pun namun William sudah mendekatkan wajahnya ke wajah Lilis. Ia melihat bibir manis Lilis yang sangat menggoda. William pun kemudian mencium bibir Lilis. Dan Lilis malah menerima ciuman tersebut. Manis rasanya. Keduanya saling mencium dengan mesranya, saling mengulum dan *******. Bahkan bibir Lilis terasa panas karena ciuman William yang sangat mesra dan hot dirasakannya.
Takut terlalu terbawa suasana. William segera melepaskan ciumannya. Karena ia kemudian sadar, kalau ini di tempat umun. Lilis pun tersadar, bahkan wajahnya merona merah karena malu. Ntah kenapa setiap bersama William ia jadi lupa diri. Apalagi kalau disentuh dan di cium William, ia jadi tak bisa mengendalikan tubuh dan dirinya.
“Maaf... Aku lupa kita di tempat umum” Ucap William.
“Aku juga. Maaf ya...” Lilis masih nampak malu. Ia tak berani menatap wajah William.
William tersenyum melihat tingkah Lilis. Ini kah wanita yang sudah dewasa dan punya anak dua. Kenapa tingkahnya sangat lucu dan menggemaskan pikir William.
Lilis mencuri pandang dan melihat William tersenyum ke arahnya.
“Kau kenapa tersenyum? Apa yang lucu?” Lilis heran namun wajahnya masih merona merah.
“Kau sangat menggemaskan...” William serasa tak tahan ingin di cubitnya pipi mulusnya Lilis yang memerah karena tersipu itu.
“Aku? Menggemaskan?”
“Iya... Apalagi dengan wajah memerah yang tersipu malu-malu semakin menggemaskan hehehe” William kini terkekeh dan lalu mencubit pelan pipi Lilis.
“Aduh... Kenapa aku dicubit? Dan siapa yang memerah wajahnya...? Jangan sembarangan” Lilis tak mau mengakuinya.
“Baiklah. Aku mengalah saja. Aku salah. Hehehe...”
“Iiihhh... Apaan sih...” Lilis agak kesel. Ia lalu bangkit dan berdiri namun tangannya ditarik oleh William.
__ADS_1
“Eh...”
Bersambung....