Rafa Dan Fatar

Rafa Dan Fatar
Bab 68.


__ADS_3

“Hei. Kau tunggu.” Philip mengarahkan pistol ke arah William.


William tertembak di lengan kirinya. Ia mengaduh kesakitan. Laura kaget.


“Hey... Apa yang kau lakukan?” Laura nampak marah.


“Dia telah menembak Papamu dan mengambil senjata Papamu yang baru saja di dapatkan dari transaksi rahasianya” Philip kembali mengejar William. Karena William terjatuh.


Laura tak bisa bergerak. Ia tentu saja syok. Benarkah itu? Laura segera berlari dan menuju ke William dan Philip.


Philip mengarahkan pistolnya ke kepala William. William menatap ke arah Philip. Laura sudah tiba dihadapan mereka.


“Kembalikan senjata dan asteroid itu.” Philip berbicara sambil mengarahkan pitolnya ke William.


“Will.. kau menembak Papaku. Benarkah?” Tanya Laura.


William melihat ke arah Laura. Ia lalu menganggukan kepalanya. Laura serasa tak bisa menerima hal tersebut. Philip sudah tak bisa menunggu. Ia ingin menarik pelatuk senjatanya.


“Hentikan Philip.” Laura meminta Philip berhenti.


“Kau gila kah? Dia musuh” Ucap Philip.


“Aku bilang hentikan.” Laura memapah William. Ia menyetop taksi dan membawa William masuk kedalam taksi. Laura ikut bersama William naik taksi. Philip tak bisa membantah Laura. Ia hanya diam menatap Laura pergi bersama William menaiki taksi tersebut.


Didalam taksi. Baik William dan Laura sama-sama diam. Keduanya tak berbicara. Setelah sudah jauh dan sampailah mereka di sebuah jalan yang sunyi, William meminta supir berhenti.


Ia keluar taksi dan membayar argo taksi. Laura ikut keluar. Taksi pun pergi.


“Will..” Panggil Laura.


“Lupakan semuanya.” William hendak pergi tanpa menoleh.


“Tidak. Aku tak bisa. Aku menyukai dan mencintaimu Will. Kau jugakan William?”


William menghentikan langkahnya. Ia berbalik melihat ke arah Laura.


“Kita tak punya hubungan apa pun” Dengan dingin William mengatakannya.


Laura sudah menangis. Hampir dua bulan mereka dekat dan berhubungan tapi William tak menganggapnya sama sekali. Memang benar mereka berdua tak pernah menyatakan saling suka tapi Laura pikir William akan mengerti perasaannya. Ternyata William tak begitu.


“Lalu kedekatan kita selama ini kau anggap apa?”


“Kita hanya teman. Bukan kah begitu. Tapi sepertinya sudah tak bisa lagi. Jalanmu dan jalan ku berbeda. Dunia kita berbeda.”


Laura menangis. Ia mengarahkan pistol ke arah William. William mengkerutkan keningnya. Ia tak tahu kalau Laura menyimpan Pistol. Laura datang mendekatin William. Ia mengambil tas tersebut yang berisi senjata dan batu asteroid. William tak bergerak karena Laura mengarahkan pistol dikepalanya. Kemudian Laura memeluk William. William terdiam, ia bingung dengan sikap Laura. Kemudian Laura mencium bibir William. Ciuman yang hot dan mesra. William ingin menolak tapi Laura memaksanya berciuman. Karena William hanya diam dan dingin saja kepadanya, Laura pun melepaskan pelukan dan ciumannya. Ia lalu menatap William.


“Kau.. ku lepaskan untuk saat ini. Pergilah Will.” Ucap Laura, kemudian Laura berlari pergi menjauhi William.


William terpaku di tempat. Misinya telah gagal. Padahal ini adalah misi pertamanya. Tapi ia telah gagal. William pun berjalan dan pergi. Ia harus mengobatin luka-lukanya.

__ADS_1


Sedangkan Laura kembali menyetop taksi dijalan. Ia harus kembali ke keluarganya. Philip menelepon. Mengatakan kalau Papa dan Mamanya dirumah sakit. Kesanalah Laura menuju dan menyuruh supir taksi untuk segera melajukan kendaraannya.


Sampai dirumah sakit. Dengan penjagaan super ketat. Laura pun masuk kedalam ruangan VVIP dimana Papanya berada. Papanya terbaring. Laura melihat ada Philip dan Mamanya disamping Papanya. Philip melihat Laura yang datang.


“Kau baru sampai laura”


“Hem..” Laura menyerahkan sebuah tas kerja yang berisi senjata dan batu asteroid tersebut. Ia lalu menghampiri Mamanya.


“Papa bagaimana?”


“Papamu tak apa-apa. Tertembak dibahunya dan sudah dikeluarkan dokter pelurunya. Hanya cedera di bahunya. Sudah tak apa-apa sekarang. Saat ini Papamu sedang istirahat dan tertidur.” Jawab Lou Ling Ling ke Putrinya.


“Hem...” Laura terlihat lelah. Laura menuju kursi yang ada diruangan tersebut. Ia duduk disana.


“Philip sudah cerita semuanya. Hanya Philip dan Mama yang tahu tentang ini. Kita rahasiakan saja. Tapi kau lupakan dia. Kau paham kan Laura.” Lou Ling Ling mengingatkan dan memberi peringatan ke Laura.


“Apa Papa tak tahu?” Laura melirik ke Mamanya.


“Tidak. Hanya kita bertiga saja. Mama udah minta Philip untuk tutup mulut. Kejadian ini kita lupakan. Lagian senjatanya sudah kau dapatkan kembali. Kau dan dia berbeda dunia Laura. Jadi jangan lagi dibahas.” Ada penekanan dan kalimat tersembunyi yang dikatakan oleh Lou Ling Ling ke Laura, Laura paham maksud sang Mama.


Sejak saat itu William dan Laura tak pernah bertemu kembali. Bahkan Laura tak tahu kabar William.


Hingga beberapa tahun kemudian. Saat laura dan philip sedang menjalankan transaksi seperti yang diminta Papanya. Mereka pergi ke inggris. Di saat Laura dan Philip hendak ke sebuah hotel, dijalan ia tak sengaja melihat William sedang berbocengan naik sepeda motor dengan seorang gadis.


Laura yang penasaran malah mengikutinnya. Sampailah di sebuah cafe. Disana keduanya makan bersama dengan suasana bahagia. Laura pun kemudian menyelidikinya. Hasil penyelidikannya ternyata William bersama kekasihnya Katty. Mereka adalah sepasang kekasih yang sudah dua tahun berpacaran. Laura kaget dan tak terima mendengar informasi tersebut. Ia sangat marah. Dia yang lebih dahulu mengenal WIlliam, tapi William malah menjalin kisah cinta dan berpacaran dengan Katty. Di situlah ia ingin membalas. Jika tak dapat memiliki maka hancurkan saja, begitulah pikir Laura. Tapi ia masih ada tugas dari Papanya. Dan Mamanya juga sudah mengingatkannya tentang larangan kalau ia tak boleh lagi berhubungan dengan William. Akhirnya ia tak menemui William. Ia hanya memantau William dari jauh. Ia pun kembali bersama Philip ke kanada dan melaksanakan semua tugas yang diberikan Papanya. Namun begitu Laura terus memantau William dari jauh. Hingga suatu hari Laura mengetahui kabar William putus dengan Katty dan William kemudian punya hubungan dengan Lilis. Laura jadi tertarik. Ia jadi mau merusak hubungan mereka. Ia pun lalu bertemu dengan Max dan bekerja sama. Dan selanjutnya sudah tahu kan bagaimana ceritanya.


Kembali lagi ke masa sekarang dimana Laura bersama Mamanya dan Philip di ruang tamunya.


“Mama sudah tahu tentang kejadian di Indonesia. Yang mana kau hampir mati. Syukur saja Philip datang tepat waktu. Jika tidak apa kau masih bisa duduk disini bersama Mama” Lou Ling Ling menatap putrinya dengan serius.


“Apa kau selalu memberi tahukan semua hal ke Mama kah, Philip?” Laura menatap Philip.


“Aku...” Philip jadi bingung.


“Jangan salahkan Philip. Jika Philip tak memberitahukan pun Mama akan tetap tahu. Coba kau bayangkan dan pikirkan. Kejadian bertahun-tahun lalu, jika Mama katakan sejujurnya ke Papamu bagaimana? Mungkin saja William sudah mati kan.”


“Ma... Kalau pun William mati itu harus ditanganku.” Tatapan Laura berubah dingin.


“Jangan gegabah Laura. Dia dari divisi V yang bekerja sama dengan pemerintahan Inggris. Bukankah kita sudah mencari tahu jati dirinya. Jangan lupakan itu. Kau tak boleh sembarangan.”


Lou Ling Ling menghela nafas panjang. Ia tak mau putrinya berurusan dengan pemerintah Inggris atau pun divisi V. Dengan begitu organisasi Mafia Alexander dan anggota gengsternya tak akan berurusan dengan mereka juga. Bukankah lebih baik tak saling mengganggu. Tapi sangat sulit memberikan pengertian ke Laura. Laura sangat keras kepala dan terkadang nekat.


“Lagian bukan kah masih ada pria lain Laura. Lihat lah Philip yang selalu setia disampingmu” Lou Ling Ling dari dulu sudah menjodohkan Laura dengan Philip. Philip adalah anggota keluarga dari Alexander Luther. Papa dan Mama Philip sudah lama meninggal karena itu Philip dirawat oleh keluarga Alexander. Papa Philip dan Papa Laura adalah sodara sepupuan. Mereka sama-sama dari keluarga Luther. Karena itu Laura dan Philip Sodara sepupuan. Mamanya sangat menyukai Philip. Karena itu lah ia menjodohkan Philip dan Laura. Apalagi Philip sangat setia. Bahkan suaminya menyukai dan menyetujui perjodohan tersebut. Hanya saja Laura selalu mengelak.


“Mama... Hentikanlah.” Selalu seperti itu Laura. Ia malas jika Mamanya selalu mengungkit hal tersebut. Laura bangkit dan berjalan kekamarnya. Ia masuk kamar dan berbaring di kamarnya. Mamanya hanya mengelengkan kepalanya. Lalu Lou Ling Ling menatap ke arah Philip.


“Philip. Tetaplah selalu bersama Laura ya. Jagalah putriku itu. Dia lah putri ku satu-satunya.”


“Baik tante.”

__ADS_1


***


Di Indonesia, di kediaman Lilis.


Tania hari ini ingin menginap dirumah Lilis. Ia ingin tidur sekamar dengan Lilis mengingat masa-masa mereka dahulu kuliah yang pernah jadi teman sekamar. Namun di saat ini Lilis menceritakan semua yang telah terjadi dan yang di ketahui dikatakan serta diceritakan oleh Lilis ke Tania semuanya. Mereka berdua ada dikamar tidur Lilis.


“Jadi gitu Tan. William masih hidup” Lilis mengakhiri ceritanya.


“Apa!!! Jack sungguh luar biasa menutupinya selama ini dari kita.” Ujar Tania pula.


“Iya. Tapi sekarang William telah hilang.”


“Hah!! Hilang. Bagaimana bisa?”


“Aku juga gak tahu Tan. Jack sedang berupaya mencari William.”


“Lalu bagaimana William bisa selamat? Ku pikir ia telah lama meninggal”


“Iya. Kupikir juga gitu. Tapi ternyata William selamat. Jack dan Dokter yang merawat William berkata, kalau tembakan waktu itu meleset satu milimeter ke samping jantungnya William. Karena tak tepat mengenai Jantungnya makanya William masih bisa selamat. Namun ia kehabisan banyak darah dan banyak luka. Sehingga operasinya sangat sulit. Saat operasi berhasil, William malah tertidur lama dan sekarang malah menghilang. William juga hilang ingatan Tan.” Lilis menghela nafas panjangnya.


“Hah? Hilang ingatan? Kok bisa?”


“Dokter bilang dikarena kan William terbering terlalu lama sehingga ingatannya hilang. Tapi seiring berjalannya waktu ingatannya akan kembali lagi. Namun hal itu belum tahu kapan bisa terjadi.”


“Yang sabar ya Lis...”


Disaat Lilis dan Tania sedang bercerita berduaan, ternyata Rafa sedang lewat didepan pintu kamar Lilis. Rafa telah mendengar semuanya. Rafa terpaku cukup lama. Fatar kemudian muncul. Ia hendak memanggil Rafa. Tapi Rafa dengan cepat menutup mulut Fatar.


Fatar memberikan kode. Apa yang terjadi? Dengan isyarat tangan dan kepalanya. Rafa menarik Fatar. Mereka masuk ke kamar Rafa. Rafa mengunci pintu kamarnya.


“Ada Apa kak?’ Tanya Fatar.


“Papa masih hidup...” Ucap Rafa.


“Hah!!!” Fatar tentu saja kaget.


Bersambung...


Akhirnya bisa UP kembali. Tetap selalu setia ngikutin cerita ini sampai akhir ya kakak readers semuanya.:D Makasih.


Di like juga semua episodenya ya kak. Tinggalkan Komennya juga. Dukungan kalian akan sangat berarti agar Authornya semangat dan bisa UP cerita secepatnya. Makasih untuk yang sudah mampir ya kak. Love you all :)


Like nya masih sikit nih. Gak tembus belum... jadi UP nya agak lama gak apa-apakan... saya usahakan selalu UP tiap hari ya. Yang baca karya ini ada 34 ribu lebih pembaca. Jempolnya digerakan juga ya untuk like dan vote jadi gak hanya baca dalam diam hehehe :D


Tembus 200 lebih like segera di UP kembali.


Tinggalkan komen yah...


Di like, di vote dan klik Favorite yah sebagai tanda telah membaca dan menyukai karya ini, juga sebagai apresiasi ke karya ini.

__ADS_1


 


 


__ADS_2