
Lilis diam membisu tapi tatapan matanya melihat lurus ke arah William. William pun melihat ke arah Lilis juga. Keduanya saling bertatapan.
“Ehem.... Jadi kau dijebak Will?” Lilis menjadi canggung.
William menatap lembut ke arah Lilis.
“Iya. Bukankah kau sudah meluhat rekaman tersebut. Jika kurang percaya kau bisa menanyakannya ke Papanya Vanya, Tuan Grey Steele pasti akan mengatakan kebenaran yang sama seperti yang aku ucapkan”
Lilis kini percaya ke William. Ia menyesal karena sempat marah dan menyalahkan William.
“Maafkan aku sayang” Lilis menundukan kepalanya.
“Tidak sayang. Jika di posisimu pun aku pasti begitu. Kita hanya perlu saling mempercayai. Lis, kau sudah lama mengenalku kan sayang. Jadi percayalah padaku” William tersenyum.
“Iya sayang” Lilis pun terseyum.
William meraih tangannya Lilis dan mencium punggung tangannya. Lilis tersenyum hangat.
Dalam hati Lilis : “ Syukurlah rumah tanggaku masih bisa dipertahankan dan selamat”
Dan di dalam hati William : “ Syukurlah akhirnya Lilis percaya padaku dan hubungan kami kembali membaik”
William berdeham.
“Ehem... Jadi kau tak akan meminta cerai padaku kan? Hal itu tak jadi kan?” Goda Wiliam sambil menatap nakal ke Lilis.
Ah... Lilis kangen sikap William yang seperti ini.
Lilis tertawa kecil.
“Tidak. Mana mungkin aku akan meninggalkan keluarga kecil ku. Aku mencintai suami ku yang tampan dan aku sayang dengannya” Ucap Lilis dengan tulus.
William terkekeh dan tersenyum bahagia. Ia mengecup puncak kening Lilis.
“Makasih sayang. Aku juga mencintaimu”
Lilis pun menganggukan kepalanya.
***
Di kediaman rumah keluarga Steele.
Saat ini di dalam kamarnya Vanya. Vanya sedang berbaring di tempat tidurnya. Berangsur-angsur keadaanya membaik dan pengaruh obat telah hilang. Ia bangkit dari tempat tidurnya. Grey Steele yang duduk di dekat sofa ruangan kamar Vanya menatap putrinya dengan raut wajah dinginnya.
Vanya menatap ke arah Papanya. Baru kali ini ia melihat ekspresi Papanya yang nampak dingin padanya.
“Pa...” Panggil Vanya.
__ADS_1
“Kau akan Papa kirim kembali ke Paris. Di Paris ada kantor cabang kita. Uruslah kantor cabang kita yang di sana. Jangan membantah. Jika kau tak menurut maka selamanya kau tak perlu pulang kembali. Kalau kau sudah menyadari kesalahanmu dan bisa berubah maka barulah kau bisa kembali pulang kemari” Perintah tuan Grey Steele yang tak bisa di bantah.
“Tapi Pa...” Vanya hendak menolaknya.
“Tidak ada tapi Vanya. Masih syukur Papa tidak memaksamu menikah dengan Haris saat ini. Kau putri Papa satu-satunya. Anak tunggal Papa. Kebanggaan Papa. Kita dari keluarga terhormat dan terpandang, tak seharusnya kau berbuat tindakan tak terpuji seperti itu. Syukurlah Tuan Smith mau melepaskanmu. Jika tidak apa kau pikir masih bisa ada dihadapan Papa saat ini. Papa menyayangimu dan memanjakanmu bukan berarti kau berbuat sesukanya Vanya. Semua kekayaan, kekuasaan dan apa pun itu bukan untuk di salah gunakan atau pun bersombong diri Vanya.” Grey menatap kecewa pada putrinya.
Vanya menundukkan kepalanya.
“Setelah Mama mu meninggal sehabis melahirkan mu, hanya kau Vanya satu-satunya harta Papa dan keluarga Papa. Jika Mama mu masih hidup, maka dia akan kecewa melihat putrinya saat ini. Dimana gadis manis, putri Papa yang baik hati dan kebanggaan Papa itu? Dimana putri Papa yang selama ini Papa kenal punya sikap yang baik dan polos? Apakah kau berubah setelah mengenal cinta yang tak seharusnya? William Smith adalah suami orang nak. Tak seharusnya kau merebut dan menghancurkan rumah tangga orang lain. Itu bukan lah tindakan yang baik. Papa tak pernah mengajarkan mu perbuatan tercela tersebut. Kau dibesarkan dan diberi pendidikan yang baik agar bisa menjaga sikapmu dan bertanggung jawab dengan sikapmu, berhati-hati dalam bertindak. Lupakan dia. Dan esok pergilah ke Paris segera” Grey berkata dengan panjang lebar agar putrinya memahaminya.
“Baik Pa dan Maafkan aku Pa” Vanya kini menyesal.
Keesokan harinya.
Dirumah sakit Lilis sendirian. William saat ini berada di kantor bersama Jack. Sedangkan si kembar sekolah dan Tania yang membantunya mengurus si kembar.
Ia sebenarnya sudah bosan. Lilis ingin segera keluar dan kembali ke rumahnya. Namun William menyuruhnya agar tetap di rumah sakit dahulu. Nanti sore barulah ia akan kembali pulang sekalian William akan menjemputnya nanti.
Pintu diketuk dari luar. Lilis mendengar pun menyuruh masuk. Ia kira para pengawal yang di luar mungkin atau suster atau mungkin dokter.
Tapi ternyata Vanya yang masuk.
Lilis mengkerutkan keningnya. Sambil berpikir buat apa lagi si rubah ini menemuinya. Mau trik apa lagi yang ia pakai kali ini. Begitulah yang dipikirkan oleh Lilis.
Vanya mendekatin Lilis. Wajahnya terlihat ragu tapi akhirnya ia membuka suaranya.
“Hem...” Lilis menjawab singkat. Ia sama sekali tak mau melihat ke arah Vanya.
“Aku mau minta maaf untuk semua yang telah terjadi ya Lis” Vanya menatap serius ke arah Lilis.
Lilis membulatkan kedua bola matanya menatap Vanya dengan ekspresi yang sebenarnya ia bingung mendengar perkataan Vanya.
“Apa maksudmu? Jika kau mau menyakitiku atau menggangguku lagi, maka ku pastikan sebuah pisau akan ku lemparkan ke arahmu saat ini juga. Jangan kau ganggu lagi rumah tanggaku” Lilis sudah bersiap dengan pisau yang ada disampingnya. Yang selalu ia selipkan didekatnya.
Vanya tersenyum.
“Mungkin kau tak percaya. Tapi ini terakhir kali kita bertemu. Aku akan pergi jauh. Sampaikan maafku juga pada William. Aku benar-benar minta maaf padamu Lis” Vanya sudah menyesali semuanya. Ia tulus meminta maaf.
“Cinta William hanya kepadamu Lis. Tak bisa ku goyahkan. Ia tak pernah melirik ku. Di hatinya hanya ada kau. Dan di hotel itu sama sekali tak terjadi apa pun di antara kami” Ucap Vanya.
Lilis menatap Vanya yang terlihat serius dalam berkata-kata. Lilis pun jadi diam dan hanya mendengarkan Vanya.
“Kau mau memaafkan aku kan? Walau aku tak bisa mengharapkan hal itu. Karena mungkin kau akan susah memaafkan ku”
“Memang sulit mempercayaimu. Tapi baiklah. Aku maafkan”
Vanya tertegun melihat kearah Lilis. Ia kemudian tersenyum.
__ADS_1
“Pantas saja William hanya mencintaimu. Karena hatimu sungguh baik Lis. Oke. Terima kasih. Semoga kau sehat selalu dan bahagia dengan keluarga kecilmu. Aku pamit pergi” Vanya pun melangkahkan kakinya keluar ruangan kamar pasien tersebut. Lilis menganggukan kepalanya.
Vanya pun pergi dan tak menampakkan dirinya lagi di hadapan Lilis atau pun William.
Sore harinya. William datang menjemput Lilis. Lilis sudah dibolehkan pulang. Dan si kembar pun ikut menjemput Mamanya.
Lilis begitu bahagia di jemput William dan anak-anaknya. Mereka pun pulang ke rumah bersama-sama.
Bersambung...
Semoga tak ada massalah lagi ya Lilis dan William. Dan keluarga kecil mereka bahagia selamanya. Aaammiiinn :D
Yang suka dengan karya ini, ikutin terus kisahnya sampai akhir ya kakak readers semuanya :)
No Plagiat ya. Hargai usaha dan kerja keras seseorang dalam berkarya. Jadi katakan tidak pada meniru karya seseorang dan tidak menjiplaknya. No Plagiat. Makasih untuk yang sudah mampir ya kak. Love you all :)
Karya ini sedang mengikutin lomba, jadi mohon dukungannya terus ya kak.
Cara mendukungnya gampang yaitu :
1. Like semua episodenya / bab-nya ya kak. Dibaca juga semua babnya :)
2. Klik Vote setiap hari dan setiap saat ya kak. Dan setiap hari senin juga :D
3. Klik Favorite juga ya kak
4. Selalu berikan dukungannya ya kak setiap saat :D
5. Tinggalkan komen ya kak :)
6. Kasi bintang 5 ya kak untuk karya ini sebagai menyukai karya ini dan apresiasi ke karya saya ini.
Makasih semuanya. Dukung terus karya ini ya kakak readers semuanya, biar Author semangat UP ceritanya. Love you all :)
Tembus 200 lebih like segera di UP kembali.
__ADS_1