Rafa Dan Fatar

Rafa Dan Fatar
Bab 11.


__ADS_3

Kedua bocah berkemas. Membawa barang seperlunya. Kemudian bergegas keluar. Karena Bibi May masih tertidur jadi mereka bisa kabur dengan aman.


“Kita harus cepat. Jangan sampai Mama pulang, kita belum sampai rumah.” Rafa meningatkan Fatar.


“Oke.” Jawab Fatar.


Mereka berjalan sepanjang jalan. Didekat halte Bis mereka menunggu Bis lewat. Saat Bis berhenti si kecil mulai naik.


Dua bersaudara kembar yang tak pernah pergi jauh tanpa orang dewasa ini, memberanikan diri untuk naik Bis. Sampailah mereka di perusahaan yang dituju yaitu I.S.


Rafa dan Fatar turun dari Bis. Mereka masuk ke dalam.


“Wow... besar dan megah sekali kak” fatar mendongak ke atas.


“Sudah.. kagum-kagumnya lain kali saja. Misi kita fokus cari Papa.” Rafa mengingatkan


“Oh iya. Hampir lupa hehe” fatar terkekeh.


Rafa dan Fatar menuju lobi dimana ada kakak resepsionis ada.


“Kakak...” Ucap Rafa sambil tersenyum.


“Oh iya adik-adik yang manis. Ada yang bisa dibantu?”


“Mau bertanya tentang Tuan William Smith ada dikantor gak ya kak?” tanya anak-anak kembar didepannya.


“Tuan Smith?”


“Iya...” Jawab Fatar dengan polosnya.


Didalam hatinya : “kenapa juga anak kecil cari Tuan Smith?”


“Maaf ya adik-adik. Tuan Smith sedang meeting dengan klien di luar. Jadi saat ini tidak ada ditempat”


“Yah...” wajah Fatar dan Rafa nampak kecewa.


“Kakak ada Foto Tuan Smith gak ya?” Tanya Fatar polos.


“Tidak punya dik”


“Sudahlah. Ayo kita pulang. Lain kali kita cari lagi.” Rafa mengajak Fatar pulang.


Diluar gedung saat Rafa dan fatar baru keluar, mereka hampir saja ditabrak sebuah mobil hitam.


Ckit... suara mobil berhenti mendadak.


“Ada Apa?” tanya William didalam Mobil.


“Hampir menabrak anak kecil Tuan” Jawab sang supir.


“Apa!” William segera turun. Jack pun ikut turun.


William melihat ke arah Rafa dan fatar.


“Kalian gak apa-apa?” Tanya William.


“Om Ganteng...” seru Fatar.


“Oh kau rupanya. Kalian berdua gak apa-apa?” William nampak cemas.


“Gak apa-apa kok Om. Cuma kaget aja tadi.” Rafa menjelaskan.


“Syukurlah. Kenapa kalian ada disini?”


“Kami mau cari Pa...” rafa menghentikan ucapan Fatar.


“Kami hanya jalan-jalan Om...”


“Oh... sebaiknya kalian lekas pulang. Aku akan menyuruh supir mengantarkan kalian pulang. Tapi... ah, biar aku saja yang mengantar kalian.” William memberitahukan Jack agar mobil ia yang pegang.


Jack menyuruh Supir turun dan memberikan kunci mobil ke William.

__ADS_1


William mengajak Rafa dan Fatar masuk kedalam Mobil.


“Dimana alamat kalian?” Tanya William yang sekarang sedang mengemudikan Mobilnya. Sebenarnya ia tahu sudah alamat Rafa dan Fatar. Ia menanyakan untuk memastikan saja.


“Di daerah Y  Om” Fatar memberitahukan.


“Oke. Kita kesana?”


William pun melajukan mobilnya menuju rumah Fatar dan Rafa.


***


Di rumah Kontrakan Lilis.


Lilis mondar mandi diruangan tamu bersama Bibi May. Bibi May nampak gelisah, begitu juga Lilis.


“Bibi May, dimana Rafa dan Fatar???” Tanya Lilis gundah. Lilis sudah mencari kesana kemari tapi tak bertemu anak-anaknya.


“Maafkan Bibi ya Lis. Bibi ketiduran. Tak biasanya pun si kembar berkeliaran. Kalau pergi biasanya disekitar sini. Bibi sudah mencari didaerah sini dan tanya tetangga sekitar tapi tak ada yang melihat si kembar. Maaf kan Bibi Lis” Bibi May merasa bersalah.


Suara Mobil terdengar mendekat. Lilis dan bibi May melihat ke arah depan dan membuka pintu depan.


“Mama...” Ucap si kembar bersamaan setelah turun dari Mobil.


“Rafa.. Fatar...” Lilis segera berlari dan mendatangi anak-anaknya.


“Mama...” Rafa dan fatar memeluk Mamanya.


“Kalian darimana saja. Mama sangat cemas. Bibi May juga cemas.” Lilis memeluk anak-anaknya sambil menangis. Hatinya lega karena anak-anaknya sudah kembali pulang.


“Maaf Ma..” Ucap Rafa.


“Maafkan Fatar Ma...” Fatar pun merasa menyesal.


“Lain kali jangan seperti itu lagi ya. kalau kemana-mana itu harus ijin dulu atau harus ada yang nemanin” nasehat Lilis kepada anak-anaknya.


“Iya Mama” Rafa dan Fatar bersamaan menjawab.


“Oh... kau Yudha.” Lilis melepas pelukan anak-anaknya dan menoleh ke arah William.


“Iya. Tadi aku bertemu anak-anakmu. Lalu ku antar pulang” William menjelaskan.


“Terima Kasih. Mari masuk dulu kedalam”


“Baiklah.” William pun masuk kedalam.


Karena si kembar sudah pulang, Bibi May pun pamit pulang. Kini William duduk diruang tamu. Lilis membawa sikembar untuk mandi dan berganti pakaian. Setelah mengurus anak-anaknya, Lilis kedapur membuat teh untuk William. Lalu tehnya dihidangkan diruang tamu. Kini Lilis duduk bersama William diruang tamu. Sebelumnya pun Lilis sudah ikut mandi dengan si kembar dan sudah berganti pakaian rumah biasa.


“Silahkan diminum tehnya” Lilis menyuguhkan segelas teh hangat.


“Terima Kasih” kata William sambil menyeruput tehnya.


“Hati-hati masih panas.” Lilis mengingatkan.


“iya.” Ucap William.


“Bagaimana ceritanya kau bisa ketemu dengan anak-anakku?” Tanya Lilis.


“Aku tak sengaja bertemu diperusahaan tempat aku bekerja. Hampir saja Rafa dan fatar tertabrak mobil yang ku naiki. Syukur saja supir sempat menginjak pedal rem”


“Benarkah?”


“Iya”


“Maafkan anak-anak ku.”


“Tak apa-apa.”


“Dan terima kasih sudah diantarkan. Maaf sudah merepotkan mu”


“Gak masalah Lis. Everything is Ok”

__ADS_1


“Jadi kita impas ya” ucap Lilis kemudian.


“Maksudnya?”


“Aku menolong mu siang tadi mengantarkan berkas dan file mu yang tertinggal. Dan kau menolongku mengantarkan anak-anak ku pulang. Jadi kita impas.” Lilis menjelaskan.


“Aku rasa itu tidak bisa diucapkan impas Lis”


“Kenapa?”


“Hutang ku, ku bayar dengan mentraktirmu makan. Aku sudah bilang itu kan”


“Lalu Hutang ku bagaimana?”


“Aku tak pernah memberi mu hutang Lis”


“Aku pun sama Tuan Yudha Hadinata”


Sepertinya keduanya sama-sama mempertahankan argumennya.


“Baiklah. Begini saja Lis. Aku traktir makan, sedangkan kau Lis mencarikan rumah untuk ku tingallin” William memberikan penawaran.


“Rumah? Maksudnya?” Lilis agak bingung.


“Aku tak punya tempat untuk tinggal”


“Lalu sebelumnya kau tinggal dimana?” Lilis mengkerutkan dahinya.


“Sebelumnya aku tinggal bersama teman ku. Aku baru tiba di Indonesia. Tak banyak orang yang ku kenal disini Lis. Aku tak ingin menyulitkan teman ku terus. Jadi aku ingin cari rumah. Jadi bisakah kau carikan untuk ku. Aku kurang paham.” William memberi alasan.


Lilis diam sejenak. Ia nampak berpikir. William memperhatikan ekpresi wajah Lilis. Dilihatnya Lilis semakin cantik saja. William tersenyum kecil.


“Kenapa?” tanya William karena Lilis hanya diam saja.


“Aku lagi berpikir. Mungkin sebaiknya kau tinggal di apartement. Atau perumahan” kata Lilis sambil ia masih berpikir.


“kalau disekitar sini bagaimana?” Tanya William.


“Hah? Disekitar sini?” Lilis menggigit sudut bibir bagian bawah.


“Iya. Sekitar sini saja”


“Kenapa harus sekitar sini? Apa kau tak punya sodara atau sanak saudara atau keluarga lainnya?” Tanya Lilis kembali.


“Aku sebatang kara Lis. Tak punya sodara, keluarga, sanak saudara atau pun Family lainnya. Papa dan Mamaku sudah lama meninggal.” William menjelaskan.


“Oh... maafkan aku”


“Tak masalah. Aku memang biasa sendiri. Di inggris pun aku sendiri. Jadi tak heran kalau di Indonesia pun sendiri”


“Bukan itu maksudku. Maksudku maafkan aku yang tak tahu karena Papa dan Mamamu sudah meninggal.” Tiba tiba wajah Lilis menjadi sedih. Ia teringat kedua orang tuanya.


“Gak apa-apa Lis. Kau kan tidak tahu. Tapi kenapa wajah mu terlihat sedih.” William memperhatikan perubahan ekspresi wajah Lilis.


“Aku teringat dengan kedua orang tuaku”


“Kemana kedua orang tua mu?”


“Mereka masih hidup. Tapi...” Air mata Lilis mulai menetes membasahi wajah Lilis.


“Hey... kenapa?” William duduk mendekat lalu meraih tangan Lilis dan mengelusnya seakan memberikan kekuatan untuk sabar dan jangan bersedih.


“Gak apa-apa. Aku hanya merindukan Papa dan Mamaku” Lilis masih bersedih.


“Jangan bersedih Lis” William kemudian menyentuh wajah Lilis. Disapunya lembut air mata Lilis dengan tangannya. Kini kedua tangan William menangkup wajahnya Lilis.


Lilis sekita terlupakan kesedihannya. Ia malah jadi terdiam dan bingung dengan yang dilakukan oleh William. Sampai ia tak bisa berpikir jernih. Otaknya seakan berhenti berpikir. Malah mulai ada desiran aneh yang dirasakan di hatinya.


Tiba-tiba si kembar muncul.


“Mama dan Om lagi ngpain?” Ucap Rafa dan Fatar bersamaan.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2