Rafa Dan Fatar

Rafa Dan Fatar
Bab 8.


__ADS_3

Dikantor William. Didalam ruangnya.


“Tuan. Ini informasi yang anda inginkan” Jack menyerahkan dan meletakkannya diatas meja William.


“Oke. Sekarang kau boleh pergi.”


“Baik. Saya permisi keluar.” Jack pun pamit keluar.


Setelah Jack keluar. William mulai membuka file tersebut. Betapa kaget nya William karena semua informasi tentang Lilis berbeda dengan informasi yang dulu pernah dicari nya. Dulu dari KTP Lilis, William mencari info kalau Lilis dari keluarga Hartono seorang pengusaha sukses yang terkenal. Lilis pewaris dan penerus nya. Tapi informasi sekarang, kalau Lilis punya anak kembar dan bekerja sebagai pelayan di sebuah restoran milik Tania dan juga bekerja di cafe minuman. Kehidupannya sangat sederhana beda dengan kehidupannya dulu yang serba mewah. Anak kembarnya bernama Rafa dan Fatar. Lilis juga dekat dengan seorang pemuda yang bernama Dimas Pratama di tempat kerjanya. Pokoknya semua info Lilis telah di dapatkannya. Beserta Foto-foto juga. Baik itu Foto Tania, Dimas, Lilis dan anak kembarnya. Juga foto rumah tempat tinggalnya sekarang serta alamat nya juga.


“Rafa dan Fatar... kedua anak kembar ini yang ku jumpai di mini market. Jadi mereka anak-anak mu Lis...” Ucap William saat memandangi Foto Lilis bersama anak-anaknya.


“Baiklah. Sampai bertemu kembali Lis...” William tersenyum.


***


Lilis dan anak-anaknya kini bersama Dimas. Mereka jalan-jalan ke kebun binatang. Sungguh sangat menggembirakan.


“Om Dimas... asik sekali disini. Banyak sekali binatang-binantangnya.” Rafa yang jarang jalan-jalan sangat senang dibawa jalan-jalan kali ini.


“Ini kebun binatang kak. Jelas banyak binatang-binatangnya kak” jelas Fatar ke Rafa.


“Kalau kalian mau kita akan sering kesini tiap week end” Dimas memandang si kembar sambil tersenyum.


“Bener Om...” Tanya Rafa.


“Iya. Kalau Mama kalian memberi ijin.”


“Tidak boleh sering-sering.” Ucap Lilis kemudian.


“Yah.. Mama...” Rafa nampak kecewa.


“Kak jangan sedih ya... ada Fatar yang nemanin.” Ucap Fatar.


“Tiap hari juga kita bersama.” Ucap Rafa.


Kedua nya sibuk melihat-lihat binatang yang begitu banyak. Ada harimau, singa, ular, kijang, merak, burung-burung, jerapah, monyet dan lai-lain.


“Dim... Makasih ya udah ajak anak-anak kemari” Lilis berterima kasih.


“Gak masalah Lis. Kok dilarang anak-anak yang mau ke kebun binatang lagi Lis...” Tanya Dimas.


“Aku tak ingin mereka jadi berharap lebih kepada mu Dim”


“Maksud nya? menjadi Papa mereka begitu ya Lis”


“Iya Dim...”


“Kalau aku gak masalah Lis...”


“Tapi aku gak bisa Dim...”


“Kenapa Lis...”


“Karena kita teman” Lilis tak bisa karena ia dan Dimas hanya berteman. Lilis pun tak punya rasa apa pun ke Dimas.


“Kalau aku ingin lebih dari teman bagaimana Lis?” Dimas memandang ke arah Lilis.


“Hahaha...”


“Kok tertawa Lis...”


“Jangan bercanda Dim...”


“Kenapa? Apa aku gak layak. Karena kita sama-sama hanya seorang pegawai restoran.”


“Bukan seperti itu Dim...”


Lalu apa?”


“Aku tak pernah membayangkan seorang teman bakal jadi Papa untuk anak-anak ku. Lagian tanpa seorang suamipun aku bisa merawat anak-anak ku.”


“Tapi beban mu akan sedikit berkurang Lis jika ada seorang Pria disamping mu”

__ADS_1


“Maksud mu aku menikah. Aku belum siap Dim”


“Kenapa? Apa kau masih mengharapkan Papa dari anak-anak mu”


“Maksudmu Dim? Papa kandung anak-anak ku?”


“Iya”


“Tidak... selama ini aku bersama anak-anak ku saja. Sampai sekarang pun begitu. Dan itu sudah cukup.”


Dimas merasakan kalau Lilis menutup hatinya. Dimas ingin mengungkapkan perasaaannya namun melihat Lilis dan kata-katanya jadi nya ia urungkan dahulu. Ia akan mencoba mendekati hati Lilis dahulu baru mengatakan isi hatinya.


Seharian mereka habiskan waktu dikebun binatang, saat sudah sore hari mereka pun pulang. Dimas mengantarkan Lilis dan anak-anaknya pulang.


Sesampainya dirumah Lilis. Lilis melihat seseorang ada didepan teras sedang menunggu.


“Siapa Lis?” Tanya Dimas setelah mereka turun dari mobil Jeep milik Dimas. Mobil second yang dipunya Dimas.


“Entahlah.” Jawab Lilis.


“Perlu ku temanin.”


“Boleh. Sambil bantu aku membawa Fatar dan Rafa yang sudah ketiduran.” Didalam mobil ternyata Rafa dan fatar ketiduran.


Lilis menggendong depan Rafa dan membawa masuk kerumah. Sedangkan fatar digendong oleh Dimas.


Sampai didepan pintu rumah nya. Lilis kaget ternyata Panji yang datang.


“Mas Panji...”


“Hai Lis...” panji menyapa Lilis dan dilihat nya seorang Pria lain bersama Lilis. Juga ada dua anak kembar dilihatnya sedang tertidur.


“Sebentar ya Mas...” Lilis membuka Pintu rumahnya dengan kunci rumah yang sudah dipegangnya. Setalah masuk Lilis merebahkan Rafa di tempat tidur. Begitu juga Dimas merebahkan Fatar di sebelah Rafa.


Dimas pun mulai bertanya ke Lilis.


“Lis.. siapa Pria itu?”


“Dia Panji. Dulu kami akan bertunangan tapi gagal. Bisa temanin anak-anak disini Dim?”


“Makasih Dim. Aku keluar sebentar.”


“Iya.”


Lilis keluar dan Dimas menemanin si kembar yang tertidur dikamar.


Diluar. Didepan teras rumah.


“Silahkan masuk mas Panji. Maaf ruangnya sempit dan sederhana” Lilis membawa masuk Panji kedalam ruang tamunya.


“Tidak apa-apa.” Panji masuk dan duduk diruang tamu bersama Lilis.


“Mau minum apa Mas..?”


“Gak usah Lis...”


“Udah lama nunggu di luar Mas...?”


“Lumayan lah..”


“Kok Mas tahu alamat saya disini.”


“Aku mencari tahu tentang mu Lis. Aku menyuruh asisten ku. Ku ingat kau bersama Tania pas kita terakhir jumpa. Lalu mendapatkan alamat mu. Jika saja aku bergerak lebih cepat menemukan mu maka akan lebih baik Lis...”


“Mas... untuk apa kemari?”


“Aku ingin mengajak mu pulang”


“Pulang kemana?”


“Kerumah mu Lis... Keluarga Hartono. Ibu mu sangat merindukanmu Lis. Setiap kali ketemu Tante Ajeng, ia selalu sedih jika mengingat mu Lis. Pulang lah bersama ku.”


“Gak mas... Papa marah padaku. Papa bilang agar aku tidak lagi menginjak kan kaki ku dirumah keluarga Hartono. Walau aku sangat merindukan orang tua ku tapi aku gak bisa Mas... Papa menolak anak-anak ku. Aku tak bisa kembali.”

__ADS_1


“Lis...”


“Maaf Mas... semua sudah masa lalu. Sekarang aku hanya Lilis yang sederhana saja.”


“Lalu kedua anak kembar tadi apakah anak mu Lis?”


“Iya Mas... Rafa dan Fatar adalah anak ku. Aku sangat menyayangi anak-anak ku. Syukur saja aku tidak mengikuti keinginan Papa ku. Jika ku ikutin mungkin aku tak akan pernah tahu kedua anak kembar ku. Keputusan ku benar dengan mempertahankan janin ku. Aku sekarang mempunyai dua anak kembar yang sehat dan pinter. Kami hidup bahagia.”


“Lalu Pria yang bersama mu? Siapa dia?”


“Dia teman ku ditempat kerja”


“Kelihatannya kalian dekat.”


“Ya cukup dekat Mas. Terkadang anak ku sangat manja kepada Dimas. Mereka seakan menganggap Dimas Papanya”


“Jadi nama Pria itu Dimas... apa kau menyukai nya?”


“Kami hanya teman Mas...”


“Lis... Apa masih ada aku dihatimu?”


“Mas... Maaf. Hubungan kita hanya masa lalu saja. Sekarang Mas sudah tunangan dengan Wenny pun. Jadi hal itu tak pantas lagi ditanyakan Mas.”


“Aku masih mencintai mu Lis” Panji menatap lilis dengan sendu. Hatinya hanya untuk Lilis.


“Maaf Mas... Lupakan aku. Dan berbahagia lah dengan Wenny” Lilis tulus mendoakan Panji bersama Wenny. Baginya Panji memang hanya masa lalu.


“Baiklah. Tapi apa kau tak ingin berjumpa dengan ibu Lis... Tante sangat merindukanmu.”


“Sampaikan salam ku untuk Mamaku. Katakan padanya kalau aku hidup dengan bahagia dan baik-baik saja.”


“Baiklah. Kalau begitu aku pamit pulang Lis. Jika kau perlu apa-apa atau butuh bantuan telepon lah aku. Simpanlah kartu namaku ini.” Panji menyerahkan kartu namanya. Ia tahu lilis mengganti nomer HP jadi ia berharap kalau suatu saat Lilis menghubunginya.


Lilis hanya menerima kartu nama tersebut.


Panji pun akhirnya pulang. Lilis menutup Pintu rumahnya. Ia kembali ke kamar anak-anak.


“Sudah pulang tamumu Lis?” tanya Dimas.


“Sudah.”


“Kenapa ia tiba-tiba kemari?”


“Dia mengatakan kalau Mamaku merindukan ku”


“Lalu..”


“Ya hanya itu saja”


“Nama nya siapa Lis...”


“Hei... Kenapa kau jadi kepo. Namanya Panji Sudrajat”


Rafa terbangun.


“Siapa Ma.... Panji Sudarajat?” Tanya Rafa dengan mengucek-ucek matanya.


“Rafa terbangun. Maafkan Mama. Mama membuat Rafa terbangun ya sayang” ucap Lilis sambil mendekati Rafa dan mengelus rambutnya.


“Tidur lagi ya sayang...”


“ Panji Sudarajat siapa Ma? Apa tadi ada orang ke rumah?”


“Dia... em...” Lilis jadi bingung mengatakannya.


“Bukan siapa-siapa Rafa... kau salah dengar.” Ucap Dimas ke Rafa.


“Enggak kok Om. Rafa jelas dengarnya. Siapa Panji Sudrajat Ma?” Tanya Rafa kembali.


“Dia...” Lilis bingung mencari alasan.


“Dia mantan Tunangan Mama kan? Apakah Dia Papa kandung Rafa dan Fatar?” Tanya Rafa dengan serius menatap Lilis.

__ADS_1


“Hah... Mantan tunangan? Tau dari mana hal itu Rafa? Lilis kaget mendengarnya.


Bersambung...


__ADS_2