
Belum sempat William menjawab, Lilis pun telah tiba di tempat mereka. Wenny melirik ke arah Lilis dan kaget. Buat apa Lilis ada disini juga? Begitulah ucap Wenny dalam hati.
“Will...” Sapa Lilis. William pun bangkit dan mencium pipi kanan Lilis.
“Baru sampai sayang.” Ucap William setelah mencium pipinya Lilis.
“Iya.”
Wenny hanya diam sambil melihat adegan sepasang kekasih tersebut yang sedang mesranya.
“Ayo kita duduk bersama sayang” Ajak William.
“Enggak. Kita langsung saja Will.”
“Oh baiklah. Kebetulan Nona Wenny juga hendak pergi. Ya kan” William menatap Wenny.
“Oh iya.” Jawab Wenny sekilas.
Jack pun bangkit dari tempat duduknya. Ia pun bersiap menuju mobil.
“Kalau begitu ayo Nona Wenny. Kita ke rumah anda bersama-sama” Ucap William ke Wenny.
Wenny pun hanya bisa menurutinya.
Pergilah mereka semua ke rumah kediaman keluarga Hartono.
Jack satu mobil dengan supir. William naik mobil dengan Lilis. Sedangkan Wenny naik mobilnya sendiri.
Ketiga mobil pun melaju menuju rumah Keluarga Hartono.
Setelah 1 jam kemudian sampailah di rumah keluarga Hartono.
Tiga buah mobil masuk kedalam dan melewati gerbang depan lalu masuk terus ke halaman rumah. Setelah sampai didekat teras, ketiga mobil pun berhenti.
Wenny turun lebih dahulu, disusul William dan Lilis. Begitu juga Jack, ia pun ikut serta.
Beberapa penjaga didepan pintu mencegah Lilis masuk. Karena sebelumnya sudah ada larangan. Namun Wenny memberikan isyarat agar membiarkan semuanya masuk.
Kini semuanya telah masuk ke dalam rumah. Mereka sekarang ada di ruang tengah.
“Dimana kedua orang tua ku Wen?” Tanya Lilis.
“Cari saja di dalam kamar mereka.” Wenny malas memandang ke arah Lilis.
Lilis langsung menuju kamar orang tuanya. Dan William menemaninnya. Sedangkan Jack tetap di dekat Wenny untuk mengawasi gerak geriknya. Wenny kemudian duduk di kursi yang ada di ruang tengah. Tak lama kemudian Hesti muncul. Ia heran dan bertanya kepada putrinya.
“Ada Wen?” Hesti berbisik ke Wenny.
“Tuan putri datang dengan pangerannya mau jemput dua orang tua bangka.” Wenny juga berbisik ke Mamanya.
“Sialan. Kenapa kau biarkan Wen? seharusnya kau larang. Nanti tidak ada alat kita lagi untuk menyiksa keluarga hartono dan Lilis.” Hesti terlihat kesal.
“Mama diam aja. Kalau tak begini aku tak akan dapat uang.”
“Uang?”
“Iya. Aku harus membayar hutang di bank. Menutupi pajak perusahaan. Menyelesaikan keuangan perusahaan dan semuanya. Lagian dengan begini aku mendapatkan kerja sama dengan I.S sekalian investasi dari mereka.”
“Baiklah kalau begitu. Yang penting keuangan kita aman.”
__ADS_1
Kedua wanita yang berbisik itu pun menghentikan kegiatannya berbisik. Karena Jack langsung menatap tajam ke arah mereka. Hesti duduk santai disebelah Wenny.
Lilis masuk kekamar orang tuanya. William disamping Lilis. Setelah masuk, ia kaget melihat Mamanya meringkuk.
“Mama...” Lilis berlari ke arah Mamanya dan memeluk Mamanya.
“Lilis...” Ajeng menatap putri satu-satunya dengan wajah pucat dan lemah tubuhnya.
“Mama sakit. Badannya panas sekali.”
“Tak apa Lis. Bik Minah sudah kasi obat ke Mama.”
“Tidak Ma. Kita ke rumah sakit saja. Disini Mama menderita. Aku sebagai anak sungguh tak berguna. Maaf Lilis lama baru datangnya.” Lilis menetaskan air matanya.
“Tidak nak. Mama tak apa-apa. Kau sekarang sudah datang saja, Mama senang sekali.”
Lilis menoleh ke arah Papanya yang terbaring di ranjang dan tak bisa bergerak.
“Will. Bantu Papa ku bangun. Kita bawa sekarang Papa dan Mamaku.”
“Baik.” William membantu membangunkan Bram. Ada sebuah kursi roda di samping. Ia dudukkan dikursi itu dan bersiap mendorongnya keluar.
Ajeng melihat ke arah William dan Lilis bergantian.
“Nak. Kita mau kemana? Kalau Hesti tahu dan Wenny tahu, mereka pasti marah-marah.”
“Mama tenang saja. Kami sudah atasi semuanya.”
Ajeng pun menurut. Dan Lilis memapah Mamanya untuk keluar.
Keluarlah mereka bersama-sama. Sampai diruang tengah, William meminta Jack membantu mendorongkan kursi rodanya Bram. Jack pun segera melakukannya.
Kursi roda terus didorong hingga sampai didepan mobilnya Lilis. Jack membantu Bram masuk kedalam mobil. Sedangkan William membantu Lilis memapah Mamanya. Mereka terus berjalan tanpa melirik Wenny dan Hesti yang ada di ruanganya tengah.
Didalam ruang tengah Wenny dan Hesti saling memandang.
“Wen.. kalau begini sekarang rumah ini benar-benar untuk kita donk”
“Tentu dong Ma. Lagian sudah kita rebut juga dari mereka.”
“Ah... Senangnya. Uang, rumah dan semuanya punya kita.” Hesti tersenyum puas.
“Iya.” Wenny juga tersenyum.
Di lain sisi.
William terus membawa mobil menuju sebuah rumah sakit di tengah kota. Sampai dirumah sakit, kedua orang tua Lilis segera ditanganin oleh para dokter. William mempunyai hak khusus sehingga kedua orang tua Lilis mendapatkan penangangan terbaik dari dokter terbaik juga mendapatkan layanan VVIP.
Usai di tanganin para dokter, kedua orang tuanya Lilis pun di tempatkan di ruangan pasien dikamar VVIP.
Di dalam ruangan ada dua buah ranjang di sediakan. Sengaja agar Mama dan Papa Lilis satu ruangan.
Lilis menatap wajah kedua orang tuanya. Papa dan Mamanya sedang terbaring di atas ranjang pasien dan mereka terlelap tidur.
Lilis memandangi William yang ada di sampingnya. Jack saat ini kembali ke kantor jadi hanya ada William dan Lilis.
William memeluk Lilis dan Lilis menyandarkan kepalanya ke dada bidang William.
William mengelus rambut Lilis sambil mengusap-usap lembut punggung belakang Lilis.
__ADS_1
“Tenang lah sayang. Papa dan Mamamu sudah di tanganin oleh dokter-dokter terbaik di rumah sakit ini. Dokter juga berkata kalau Buk Ajeng akan baik –baik saja. Panasnya pun sudah turun. Dia akan sembuh sebentar lagi.”
“Iya Will.” Lilis pun mengangguk sambil masih memeluk William.
“Tapi mungkin Pak Bram akan agak lama sembuhnya Lis. Karena ia sudah terlalu lama di biarkan dan tak segera di tanganin dokter. Sehingga penyembuhannya membutuhkan waktu.”
“Tak apa-apa Will. Yang penting sekarang Papa dan Mama ku aman dan bisa sembuh.”
“Iya sayang. Tadi kalau belum ada juga pergerakan dari Wenny atau dia tak mau menerima persayaratan ku maka kita akan jempu paksa saja Papa dan Mama mu. Biarlah kalau kita harus sampai ribut dan baku hantam dengan para penjaganya. Tapi syukurlah. Dia menerima persyaratannya.”
“Segampang itu kah Wenny menerimanya.”
“Tidak juga. Ia meminta uang dalam jumlah banyak. Tapi dia tidak tahu kalau aku memasang perangkap untuknya.”
“Apa itu Will?” Lilis memandang William.
“Nanti juga akan kau ketahui sayang.”
“Kenapa tak kau kasi tahu sekarang” Lilis nampak cemberut. Ingin sekali William mengecup bibir Lilis yang sedang cemberut itu. Namun ditahankannya.
“Nanti saja. Kalau tidak bukan kejutan namanya.” William tersenyum hangat dan dibalas Lilis dengan tersenyum manis.
Aduh hati William meleleh melihat senyum manis Lilis. Ia tak tahan untuk mengecup bibir merah yang terlihat manis dan menggoda tersebut. Pelukannya makin di eratkan William. Lalu wajahnya menunduk dan bibir keduanya pun mulai saling mengecup dan membelit. Saling mencecap rasa manisnya berciuman. Ciuman pun makin panas dan dalam bahkan tubuh keduanya saling melekat dan menempel satu sama lain menjadi satu. Puas mencecap bibir Lilis, William turun ke leher Lilis dan tangannya semakin memeluk erat Lilis. William mengecup di sekitar leher Lilis. Syukur saja mereka didalam ruangan dan tak ada siapa pun sehingga apa yang mereka perbuat tak ada yang melihatnya.
Namun mereka berdua lupa. Kalau kedua orang tuanya Lilis berada di dalam ruangan itu tersebut. Di saat keduanya terbawa suasana, William kembali mengulum bibir Lilis dan ciuman William makin dalam terus semakin dalam. Lilis pun membalas ciuman William dengan tak kalah mesranya.
Tapi sebuah suara kemudian menghentikan apa yang sedang mereka lakukan.
“Lis...” Suara Mamanya Lilis. Buk Ajeng Ayu Hartono.
Baik Lilis dan William, keduanya terkejut dan segera melepaskan pelukan dan ciuman mereka.
Bersambung...
Halo-halo... Semoga tetap stay dan setia di karya ini ya kak. Dari awal sampai akhir nanti. Makasih yang selalu setia di karya ini. Thank you all :)
Hayo... Lilis sama William ketahuan gak tuh... Hahaha. Makanya Will jangan nyosor aja. Lihat-lihat tempatnya juga dong :D
Yuk kak... Gerakan jempolnya yak :D
Di Like yang banyak ya kakak readers semuanya... kasi Vote juga banyak-banyak ya :D
No Plagiat ya. Hargai usaha dan kerja keras seseorang dalam berkarya. Jadi katakan tidak pada meniru karya seseorang dan tidak menjiplaknya. No Plagiat. Makasih untuk yang sudah mampir ya kak. Love you all :)
Jangan lupa kasi bintang 5 nya ya kak di karya novel ini... :D
Ikutin terus kelanjutannya ya kak :D
Jangan lupa dukungannya ya kak agar semangat UP.
Di like juga semua episodenya ya kak. Tinggalkan Komennya juga :D
Di like, di vote dan klik Favorite yah sebagai tanda telah membaca dan menyukai karya ini, juga sebagai apresiasi ke karya ini.
Tembus 200 lebih like segera di UP kembali.
__ADS_1