
Kedua pemuda langsung mendekatin William dan berlutut. Mereka memohon ampun.
“Ampunin kami. Kami minta maaf” Ucap Andrian.
“Ya maafkan kami” Rio pun berkata sama.
Lilis mendekatin suaminya.
“Sudah sayang. Biarkan mereka pergi”
William pun menganggukan kepalanya dan menurutin sang istri.
“Cepat kalian pergi dan jangan muncul di hadapin kami lagi. Jika tidak kalian tahu sendiri akibatnya” William menatap sangar ke arah dua pria tersebut.
Kedua pria tersebut pun menganggukan kepalanya dan langsung kabur dari hadapan William sambil mengucapkan kata maaf sekaligus terima kasih.
Setelah kedua pria tersebut menghilang dari pandangan Lilis dan William, William kemudian melihat ke arah Jack.
“Bagaimana Jack?”
“Tania terluka. Aku harus membawanya berobat” Jack menjawab pertanyaan William.
“Aku tak apa-apa. Hanya lecet sedikit” Tania merasa baik-baik saja.
“Tak apa Tan. Pergilah dengan Jack dan obatin lukamu” Lilis memandang sahabatnya tersebut.
“Baiklah”
“Aku duluan ya Will” Jack pamitan dengan William dan Lilis kemudian ia pergi dengan Tania.
William memandang istrinya.
“Ikut aku ya sayang. Jack kan pergi dengan Tania, mungkin dengan mobilnya Tania mereka perginya. Apa kau bawa mobil?”
“Tidak sayang. Tadi kemari dengan Tania berdua saja dan naik mobil Tania. Berarti Jack dan Tania pergi bersama dengan mobil Tania”
“Kalau gitu ikut aku, kita naik mobil ku” William meraih tangan istrinya dan membawanya pergi. Namun sebelumnya ia bayar terlebih dahulu makanan dan minumannya istrinya dan Tania tadi.
Setelah itu baru keluar dan naik mobil William. Didalam mobil William yang menyetir dan Lilis duduk di sebelahnya.
“Hebat sayang. Kau sudah bisa menghajar orang” William tersenyum melihat sekilas ke arah istrinya.
Lilis tersenyum juga.
“Iya. Berkat latihan selama ini. Ternyata berguna sekali bela diri yang sudah ku pelajari”
“Baguslah sayang. Dan tak ku sangka kau juga bisa memakai senjata sayang. Hanya pisau saja yang kau pelajari”
“Senjata lain juga bisa. Pisau ku pakai karena paling mudah ku bawa kemana pun”
“Hhhmmm”
“Kenapa Will?”
“Tak apa. Aku sudah tahu kok”
“Maksud mu sayang?” Lilis mengkerutkan keningnya.
“Aku tahu kau belajar bela diri. Jack yang memberitahuku. Dan ku suruh dia mencarikan pelatih yang terbaik untuk mu”
“Jadi bukan karena Tania dan Jack, tapi kau sayang. Terima kasih”
“Tak masalah sayang. Namun aku tak tahu kalau kau belajar memakai senjata juga”
“Aku rasa itu penting juga jadi ku pelajari”
“Bagus lah. Jadi kau juga bisa memakai semua koleksi senjataku”
“Hah?” Lilis menatap heran ke arah suaminya. Ia kurang paham maksudnya.
“Kau tahu kan Lis, kalau pekerjaan lama ku itu apa. Nah di ruang bacaku, ada ruangan rahasia tempat aku menyimpan semua senjataku. Sekalian itu tempat aku berlatih juga. Jika kau lihat meja kerja bacaku ada sebuah tombol disana saat di tekan maka ruang rahasia akan muncul sayang”
“Aku baru tahu hal itu”
“Sekarang kau sudah tahu sayang. Jadi kau juga boleh memakai ruangan tersebut. Oh iya. Sikembar juga ku suruh belajar bela diri. Sudah ada pelatih yang ku bayar untuk melatih mereka. Dan maaf baru memberi tahumu sayang”
“Jadi Rafa dan Fatar juga belajar bela diri?”
“Iya. Sudah pun. Dan itu keinginan mereka sendiri sayang”
“Lalu kalau si kembar pulang lama bukan karena tugas sekolah kah?”
“Iya. Itu saat mereka latihan bela diri sayang. Aku rasa kita sekeluarga memang harus belajar bela diri. Setidaknya untuk melindungi diri sendiri”
“Hemm... Iya. Kau benar sayang” Lilis menganggukan kepalanya mengiyakan perkataan William.
William meneruskan menyetirnya. Tapi Lilis heran sepanjang jalan ia perhatikan kalau arah yang dituju William bukan lah rumah mereka dan bukan juga perusahaannya.
__ADS_1
“Will? Kita mau kemana?” Lilis nampak heran sehingga ia bertanya.
“Ada deh. Kejutan.” William tersenyum nakal.
Lilis makin penasaran.
“Seriuslah. Kita mau kemana?”
“Nanti juga kau tahu sayangku” William meraih tangannya Lilis dan mencium punggung tangannya Lilis.
Setelah sekitar satu jam setengah sampailah mereka ke sebuah dermaga. Dermaga cukup jauh dari kota. William memparkirkan mobilnya kemudian dia dan lilis turun. Ada seorang penjaga, William datangi dan menyerahkan kunci mobilnya ke penjaga tersebut
Kemudian William dan Lilis langsung menuju ke sebuah kapal pesiar yang mewah dan besar.
Lilis takjub dan terpukau dengan yang dilihatnya, William menggandeng tangannya Lilis dan membawanya masuk ke kapal tersebut.
Didalam kapal semuanya sudah di hias sangat cantik. Bahkan ada sebuah meja dengan dua kursi. Dimana di atas meja ada cake, buket bunga dan botol anggur juga serta sebuah kotak yang dikasi pita cantik. William membawa Lilis mendekatin meja tersebut.
“Silahkan duduk sayang tapi sebelumnya ini..” William menyerahkan buket bunga tersebut dan kotak kecil yang berpita tersebut.
“Apa ini sayang?”
“Selamat ulang tahun sayang” William tersenyum hangat.
Lilis terkejut. Ternyata ini surprise party buat dirinya. Lilis berulang tahun dan dia sendiri lupa akan hal tersebut.
“Terima kasih sayang” Lilis terharu. Ia menerima buket bunganya dan kotak hadiahnya.
“Bukalah”
Lilis pun membukanya. Dan terlihatlah sebuah kalung yang indah.
“Aku sengaja meminta sebuah toko perhiasan untuk mendesainnya dan memilih kan yang terbaik dan mahal untukmu sayang”
“Makasih sayang. Ini sangat indah dan cantik”
“Sini ku bantu pasangkan ya sayang” William mengambil kalung tersebut dan memasangkan ke leher Lilis. Lilis merasakan bahagia dan senang sekali.
“Makasih sayang” Lilis terus tersenyum.
William menganggukan kepalanya.
“Begitu banyak waktu yang dilewati dan banyak hal yang terjadi, sehingga ulang tahun mu sering kita lewatkan. Aku berjanji sayang mulai sekarang, ulang tahunmu akan kita rayakan bersama” Wiliam tersenyum hangat.
“Makasih sayang.”
“Kau terus bilang makasih sayang”
Keduanya tersenyum bahagia.
“Tahun depan kau akan berulang tahun ya sayang... mau ku beri hadiah apa sayang?” Lilis memandang ke arah suaminya.
“Eeemmm.... Hadiah apa ya?? Kalau seorang bayi atau anak kembar lagi mungkin...” Kerling mata nakalnya William menatap Lilis.
Lilis tersenyum dan merona merah.
“Kau mau menggodaku kah sayang”
William mendekatin Lilis, ia memeluknya dan kemudian kecupan hangat mendarat dari bibir William ke bibir merah Lilis. Keduanya saling mengecup dan memberikan kehangatan.
Sebuah panggilan masuk.
Lilis melepaskan ciumannya. Ia menatap ke hapenya. Di layar hape tertera nama Rafa dan itu adalah panggilan video call.
Lilis memandang ke arah suaminya.
“Angkat saja sayang” Ucap William.
Lilis menerima video call tersebut, dan nampaklah wajah Rafa dan Fatar dilayar hapenya Lilis.
“Selamat ulang tahun Mama..” Ucap Si kembar bersamaan.
“Makasih anak-anak Mama” Lilis tersenyum menatap ke arah Rafa dan Fatar yang ada dilayar hapenya.
“Mama dan Papa sudah dikapal ya... sayang sekali tak bisa ikut” Fatar agak cemberut.
“Haha... jangan mengganggu Papa dan Mama” Celoteh Rafa ke adiknya.
Lilis tertawa melihat si kembar. Lilis lalu berbisik ke William “Bagaimana anak-anak tahu aku dan kau ada disini sayang?”
William tersenyum. Ia pun berbisik “Mereka sudah tahu dari aku dong”
Lilis akhirnya paham. Suami dan anak-anaknya ternyata kompakan.
“Papa mana Ma?” Tanya si kembar.
“Ada di samping Mama” Lilis mengarahkan hapenya ke arah William dan William melambaikan tangannya ke arah si kembar. Si kembar juga melambaikan tangannya.
__ADS_1
“Papa lain kali kami di ajak juga ya Pa naik kapalnya?” Ucap Fatar.
“Oke” Jawab William sambil senyum.
“Mama dan Papa bersenang-senanglah, Rafa dan Fatar akan baik-baik di rumah. Oh iya, Rafa dan Fatar juga udah siapin kado di rumah untuk Mama loh” Rafa berkata setelah hape di arahkan kembali ke arah Lilis.
“Oke sayang anak-anak Mama yang tersayang. Makasih ya”
“Sama-sama Ma. Sampai nanti lagi Ma... Papa jaga Mama baik-baik ya.. Bye-bye” Rafa dan Fatar melambaikan tangannya. Lilis pun membalas. Dan vidio call pun dimatikan.
William mengambil hape Lilis dan meletakkan di atas meja. Ia juga meletakan hapenya sendiri di atas meja juga. Kemudian botol anggur dibukanya dan di tuangkannya ke dalam dua buah gelas.
Satu gelas untuknya dan gelas yang satunya di serahkan ke Lilis.
Lilis menerimanya dan meminumnya. Mereka berdua minum dan menikmatin wine anggurnya.
“Aku mau cakenya” Ucap Lilis.
William memotongkan cake tersebut dan meletakkan di atas piring kecil dan sebuah sendok juga ada. Ia memberikan ke Lilis.
“Open your mouth" Ucap William yang hendak menyuapi Lilis.
Lilis menuruti dan menerima suapan William. Ia memakan cake tersebut.
“Manis dan enak sekali” Lilis menikmatin cake tersebut.
William berbisik ke telinga Lilis.
“Sayang... PMS mu sudah selesai kan?” Tatap mata William penuh cinta.
Lilis tertawa kecil. Kemudian ia menganggukan kepalanya. William tersenyum cerah memandang ke arah Lilis sambil memainkan mata nakalnya.
“Kalau begitu malam ini kita menginap di kapal saja sambil berlayar di tengah laut” Bisik William.
“Loh...”
“Ada kamar yang sudah disediakan untuk kita berdua di kapal. Jadi mau kan sayang?” Kedip mata William pada Lilis.
Hati Lilis meleleh rasanya memandang ke arah suaminya sendiri. Ia pun akhirnya menganggukan kepalanya menyetujui ajakan suaminya tersebut.
Bersambung...
Happy time ya Lilis dan William. Love this moment :D
Yang suka dengan karya ini, ikutin terus kisahnya sampai akhir ya kakak readers semuanya :)
No Plagiat ya. Hargai usaha dan kerja keras seseorang dalam berkarya. Jadi katakan tidak pada meniru karya seseorang dan tidak menjiplaknya. No Plagiat. Makasih untuk yang sudah mampir ya kak. Love you all :)
Karya ini sedang mengikutin lomba, jadi mohon dukungannya terus ya kak.
Cara mendukungnya gampang yaitu :
1. Like semua episodenya / bab-nya ya kak. Dibaca juga semua babnya :)
2. Klik Vote setiap hari dan setiap saat ya kak. Dan setiap hari senin juga :D
3. Klik Favorite juga ya kak
4. Selalu berikan dukungannya ya kak setiap saat :D
5. Tinggalkan komen ya kak :)
6. Kasi bintang 5 ya kak untuk karya ini sebagai menyukai karya ini dan apresiasi ke karya saya ini.
Makasih semuanya. Dukung terus karya ini ya kakak readers semuanya, biar Author semangat UP ceritanya. Love you all :)
Tembus 200 lebih like segera di UP kembali. Like yang banyak dan vote sebanyaknya ya kak. Thanks.
__ADS_1