
Lilis melototi Dimas. Ia agak jengkel. Sepertinya Dimas sengaja berbicara hal tersebut. Sedangkan Panji agak syok mendengar hal tersebut. Di sudut ruang tak jauh dari Lilis, Panji dan Dimas berada , ada sosok kecil dua orang mengintip. Rafa dan Fatar ternyata sudah selesai makan. Mereka menguping pembicaraan Mamanya dengan kedua Om-Om tersebut. Hehehe...
“Kak... Dua Om-Om itu deketin Mama?” Bisik Fatar ke kakaknya.
“Iya... Musti kita apain?” Bisik Rafa juga.
Keduannya saling berbisik dan saling pandang, kemudian ada senyuman di wajah Rafa dan Fatar.
“Kita bantu Papa untuk eliminasi saingannya yok kak.”
“Ide bagus. Kita gak terlalu kenal Om Panji, jadi dia harus segera kita jauhkan dari Mama. Om Dimas juga harus dijauhkan. Walau kita udah lama kenal Om Dimas, dan Om Dimas sangat baik ke kita. Tapi tentu kita lebih milih Papa kandung kita.”
“Iya. Itu benar kak. Tentu saja kita pilih dan dukung Papa William. Papa kita.”
Kedua bocah kembar saling berbisik dan berdiskusi. Hasil keputusan mereka kalau mereka lebih memilih Papa kandungnya dan mendukung Papanya. Mereka ingin kedua orang tuanya kembali bersatu.
Panji yang mendengar perkataan Dimas penasaran apa maksud perkataan Dimas barusan. Ia pun bertanya.
“Lis... Apakah kau mau menikah?” Panji menatap Lilis dengan sendu. Pasalnya ia masih berharap dengan Lilis.
“Enggak kok Mas. Dimas lagi bercanda.”
“Loh... Kok canda seh Lis. Kan kau mau aku jadi Papa anak-anakmu. Lupa kah kau yang kita ucapkan ke William” Dimas mengedipkan matanya.
“Itu tadi beda ceritanya Dim...” Lilis memutar bola matanya. Ia malas jadinya menghadapi sikap iseng Dimas.
“Maksudnya gimana seh Lis. Aku bingung.” Panji tak mengerti situasi dan perkataan Dimas dan Lilis.
Kedua anak kembar Lilis datang dan ikut bergabung bersama Lilis dan kedua Pria tersebut.
“Mama...” Ucap Rafa dan Fatar. Kedua bocah nimbrung. Mereka ingin menjauhkan ke dua Pria dari Mamanya.
“Loh... Rafa dan Fatar sedang ngpain disini? Gak ke kamar aja nak. Istirahat atau kerjakan tugas sekolah.” Lilis memandangi wajah anak-anaknya.
“Pengen dekat sama Mama...” Fatar memeluk Mamanya.
“Rafa juga lagi pengen sama Mama...”
“Tumben... biasanya gak mau manja-manja gini.” Lilis menyelidik anak-anaknya.
“Mama ini... Perasaan Mama saja itu hehe..” Ucap Rafa sambil senyum.
“Oh iya Dim.. Main yuk. Udah lama gak main.” Ajak Fatar.
“Oke...” Dimas mengikutin Fatar. Mereka bermain berdua.
“Om... Mau main juga gak?” Ajak Rafa ke Panji.
“Aku?” Tanya Panji.
__ADS_1
“Iyalah. Kan tinggal Om aja yang ada didepan Rafa”
“Eemmm.. Sebenarnya Om mau jumpa Mama kalian karena ada keperluan.”
“Keperluan apa Om?” Rafa menatap ke arah Panji.
“Rafa... jangan diganggu ya Om Panji nya.” Lilis mengelus rambut anaknya. “Dan Mas Panji perlu apa dengan ku?” Tatap Lilis ke Panji.
“Gini Lis... Orang tuaku ingin aku segera menikahi Wenny. Tapi aku tak mau.” Panji menyampaikan maksudnya.
“Lalu... Kenapa? Kok gak mau? Kan Wenny tunanganmu Mas”
“Aku tak pernah mencintainya Lis. Hanya kau yang ku cintai dari dulu Lis.”
“Mas gak boleh begitu. Pikirkan perasaan orang tuamu mas. Pikirkan perasaan Wenny juga.”
“Lis... aku gak bisa paksakan hatiku. Hatiku hanya untuk mu. Maukah kau memulai kembali hubungan kita.” Panji mengutarakan hal yang perlu disampaikannya.
“Maaf Mas... Aku tak mencintaimu. Kembali lah ke sisi orang tuamu dan tunanganmu Mas...” Lilis berkata dengan sangat tegas.
Rafa yang mendengar sangat senang. Karena tanpa usaha yang keras ternyata Mamanya pun tak mau dengan Panji.
Sedangkan Panji yang mendengar penolakan Lilis sangat sedih. Ia tak bisa menerima kalau Lilis sudah melupakannya.
“Apa kau tak ingat masa-masa kenangan kita Lis...”
Panji menatap lekat ke Lilis. Namun pandangan Lilis sudah tak sama ke Panji. Ia sudah mengubur masa lalunya dan kenangannya dulu saat bersama Panji.
“Om...” Rafa menyela.
“Iya..” Wajah Panji sendu, namun ia tetap berusaha tersenyum ke Rafa.
“Om mau jadi Papanya Rafa dan Fatar ya?” Ucap Rafa kecil.
“Kalau boleh seh. Om mau saja. Asalkan Mama Rafa mau menerima Om kembali” Ujar kata Panji.
Lilis sudah hendak menegur Rafa tapi tak jadi setelah mendengar perkataan Rafa selanjutnya.
“Tapi sayang Om... Kami udah punya Papa. Jadi Om gak bisa dong” Rafa tersenyum kecil.
“Kalian sudah punya Papa. Siapa?? Dimas yang tadi kah?” Panji berpikir kalau Dimas lah mungkin yang dimaksud.
“Bukan Om... Papa kandung kami, William Smith” Senyum cerah terpancar di wajah mungil Rafa.
“Rafa...” Panggil Lilis. Lilis tak mau kalau Rafa membahas Papa kandungnya di depan Panji.
“Papa Kandung dari anak-anakmu adalah William Smith...?? Benarkah itu Lis? Panji menatap Lilis.
“Itu agak rumit ku jelaskan...” Lilis jadi bingung menjelaskan.
__ADS_1
“Apakah William Smith dari perushaan I.S. yang seorang Presdir itu??”
“Tepat sekali Om...” Ucap Rafa kembali.
Panji serasa tak percaya. Tapi tak mungkin anak kecil berbohong. Apalagi Rafa begitu polos jadi tak mungkin hal tersebut suatu kebohongan. Hanya saja Panji bingung kenapa bisa seperti itu.
“Bagaimana bisa Lis..??” Panji serasa tak percaya.
“Aku tak bisa menjelaskannya Mas... Maaf Mas Panji. Yang jelas Mas Panji harus lupakan aku. Kembalilah ke Wenny.” Lilis memberikan pengertian ke Panji.
“Mama udah ada yang punya Om. Yaitu Papa kandung Rafa. Papa William.” Rafa menambahkan kata-katanya. Lilis ingin sekali mencubit Rafa yang terlalu banyak bicara di depan Panji. Namun tak mungkin ia menyakiti anaknya sendiri.
Panji serasa terpukul. Ia tak bisa menerimanya. Dari dulu ia hanya mencintai Lillis.
“Pulanglah Mas...” Ucap Lilis didepan Panji.
“Baiklah aku pulang. Lain kali aku akan menemuimu”
“Tak perlu mas. Aku sudah cukup bersama Rafa dan Fatar.”
Panji masih tak mau menerima hal tersebut. Namun ia berpikir mungkin nanti saja. Ia akan tetap berusaha mengambil hati Lilis. Untuk sementara ia pulang dahulu.
“Aku pulang dulu Lis..” Panji pamit dan Lilis hanya menganggukan kepalanya.
Dalam hati Rafa : “(Ok. Satu sudah pergi. Tinggal satu lagi.)”
Lilis menoleh ke putrinya.
“Rafa lain kali tak boleh begitu ya. Sama tamu harus sopan”
“Rafa hanya mau jelaskan ke Om Panji kalau Papa Rafa dan Fatar hanya Papa William. Tidak ada yang lain. Om Dimas pun juga harus tahu. Mama harus tegas dengan hati dan perasaan Mama. Rafa mau gabung ke Fatar dan Om Dimas ya Ma...” Rafa pun beranjak dan meninggalkan Lilis yang termenung sendirian. Rafa menuju kamar dimana Fatar dan Dimas sedang bermain bersama.
Lilis tertegun mendengar perkataan Rafa. Anak sekecil Rafa apa mengerti dunia orang dewasa. Tapi kenapa kata-katanya sangat bijak. Apa ini yang dikatakan oarang-orang tentang anak kecil yang bijak.
Rafa masuk ke kamar. Ia melihat Fatar dan Dimas bermain mobil-mobilan bersama. Fatar melihat kedatangan sang kakak. Dan Rafa memberikan kode ke Fatar, sambil mulutnya mengatakan sesuatu. Fatar dapat mengikutin gerakan bibir Rafa yang mengatakan kalau : “Satu sudah pergi. Tinggal satu lagi. Bereskan”
Fatar menganggukan kepalanya sambil mengedipkan matanya. Dimas melihat pergerekan kedua bocak. Ia pun bertanya.
“Kenapa Fatar?? Ada apa?” Tanya Dimas.
Bersambung...
Jangan Lupa Klik Vote dan Favorite ya kakak-kakak Readers semuanya. :)
Di like juga semua episodenya ya kak. Tinggalkan Komennya juga. Dukungan kalian akan sangat berarti agar Authornya semangat dan bisa UP cerita secepatnya. Makasih untuk yang sudah mampir ya kak. Love you all :)
__ADS_1