Rafa Dan Fatar

Rafa Dan Fatar
Bab 50.


__ADS_3

“William?” Gumam Lilis.


Lilis masih terdiam menatap layar Hapenya. Tania melirik ke Lilis, kenapa Lilis malah diam mematung menatap hapenya. Tania lalu melirik ke Hape Lilis yang masih berdering. Nama William terpampang di layar Hape.


“Kenapa tak diangkat Lis? Itu dari William kan?” Tania bertanya.


“Hem..” Hanya itu saja jawaban Lilis.


“Sini aku saja kalau gitu” Tania yang tak sabar melihat sikap Lilis langsung merebut Hapenya dan menerima panggilan tersebut.


“Halo...” Jawab Tania. Lilis disamping hanya diam melihat.


“Halo Lis.. eh tapi kok beda suaranya?” William diseberang sana.


“Ini aku Tania.”


“Oh kau Tania. Lilisnya ada gak? Aku ingin berbicara dengannya.”


“Ada. Tapi...”


“Tapi kenapa?”


“Tapi sepertinya dia sedang bingung..”


“Maksudnya?”


“Wanita yang pernah mengangkat telepon mu siapa Will. Aku panggil Will atau William saja ya” ucap Tania sambil sesekali melirik Lilis dan melihat mimik wajah Lilis seperti apa.


“Ok. Tak masalah. Panggil apa pun bisa. Wanita yang mana?” William mengkerutkan keningnya.


“Katanya bernama Katty”


“Oh.. Katty” William baru ingat cerita Katty tempo hari.


“Iya.” Tania mengiyakan.


“Dia temanku. Aku lagi ada urusan jadi bertemu Katty dan meminta bantuannya.”


“Temanmu di Inggris”


“Iya” William membenarkan.


“Baguslah kalau hanya teman. Hehe soalnya ada yang jadi uring-uringan disini” Ledek Tania melirik ke arah Lilis. Lilis hendak menjitak Tania. Tapi Tania segera menghindar.


“Benarkah?? Lalu bagaiman selanjutnya?” William tersenyum kecil.


“Kau saja yang bicara langsung dengannya. Lilis ada dihadapanku.” Tania menyerahkan Hape ke Lilis.


Lilis awalnya enggan. Tapi ia akhirnya menerimanya.


“Halo Lis..” Ucap William


“Iya. Halo...” Ucap Lilis pula setelah ia menerima Hapenya.


“Apa kabarmu?”


“Aku Baik”


Kenapa malah suasana nampak canggung. Lilis merasa kecanggungan tersebut.


“Ada perlu apa kau menelepon ku. Maaf baru sekarang ku telepon balik. Beberapa hari  di Inggris aku banyak urusan.”


“Tak apa. Kau selesaikan saja urusanmu. Aku menelepon karena anak-anak nampak kangen denganmu.”


“Aku juga merindukan anak-anak. Sampaikan salamku ke anak-anak ya. Doakan aku bisa kembali selamat.”


“Maksudmu?” Lilis mengkerutkan keningnya.


“Tak apa-apa... Lis...” Panggil William.


“Iya.”


“Kau kangen tidak denganku?”

__ADS_1


“Aku?”


“Iya”


“...” Lilis menghela nafas panjang.


“Kok malah menghela nafas panjang.”


“Masalah anak-anak bagaimana Will?” Lilis mengalihkan topik pembicaraan.


“Masalah kita dan anak-anak nanti setelah aku kembali kita bahas lagi. Dan masalah orang tuamu sudah aku dengar dari Jack. Untuk sementara percayakan ke Jack. Jika aku sudah kembali, aku akan coba bantu Lis..”


Lilis terdiam. Ia belum ada membahas masalah orang tuanya ke William tapi William sepertinya sudah tahu dari Jack.


“Te-terima Kasih.”


“Tak masalah Lis.”


Kemudian suasana menjadi hening. Keduanya diam dan tanpa mengatakan apa pun. Tak ada suara. Lilis pikir telepon terputus. Tapi dilihatnya ke hapenya masih tersambung. Lilis pun nampak bingung hendak bicara apa lagi. Di seberang sana William pun diam. Ingin dikatakan nya sesuatu tapi lidahnya kaku. Ia pun jadi terdiam. Keduanya sama-sama diam.


Setelah cukup lama berdiam-diaman, William berbicara kembali.


“Lis... Aku merindukanmu.” Ucap William. Akhirnya William mengatakan hal yang ingin dikatakannya.


Lilis merasa hangat dan meneteskan air matanya. Ia mengusap air matanya sendiri. Agar yang lain tak melihatnya.


“Kenapa kau diam saja Lis?”


“Tak apa-apa”


“Oh iya. Katty itu hanya teman. Kau jangan salah paham ya..”


“Kau jangan dengarkan kata-kata Tania tadi.”


“Baiklah. Baiklah” William mendengar nada bicara Lilis nampak kesal. Tadi awalnya nampak canggung. Kemudian melunak dan melembut. Sekarang seperti sedang kesal.


“Mama... itu Papa ya... Rafa mau ngomong doank Ma”


William mendengar suara anak-anak kembarnya. Lilis melihat si kembar ingin berbicara dengan Papanya, maka ia serahkan Hapenya ke anak-anaknya.


“Papa.. Rafa kangen. Lama sekali Papa gak pulang”


“Iya Fatar juga kangen” Suara Hape di loudspeaker kan.


“Papa juga kangen dengan kalian berdua. Ingat janji kita ya..”


“Iya Pa...” Ucap si kembar.


Lilis hanya memperhatikan si kembar berbicara dengan Papanya. Lilis agak bingung dengan janji yang dibahas anak-anaknya dengan Papa kandung mereka. Tapi ia hanya bisa melihat dan mendengarkan saja anak-anaknya berceloteh.


Setelah cukup lama berbincang dan melepas rindu, William menyudahi teleponannya. Lalu mematikannya setelah berpamitan dengan anak-anaknya. Lilis menatap ke arah anak-anaknya.


“Sudah selesai” Tanya Lilis.


“Sudah Ma...” Rafa tersenyum.


“Papa kirim salam sama Mama hehe” Ucap Fatar.


“Sudah dimatikan teleponannya.”


“Sudah Rafa matikannya. Ini Hape Mama” Rafa menyerahkan Hape Lilis.


“Tadi janji apa yang kalian bahas?” Lilis merasa penasaran.


“Ada deh Ma... Mama mau tahu aja. Ini Cuma antara kami dan papa aja ya kan Fatar” Rafa menoleh Fatar.


“Iya. Yok kita balik ke ruang tengah main sambil makan camilan.”


“Ayok..”


Rafa dan Fatar nampak senang dan bahagia. Keduanya kembali ke ruang tengah. Lilis kembali duduk disamping Tania.


“udah?”

__ADS_1


“Hem...” Angguk Lilis.


“Kenapa? Masih kangen? Telepon balik gih sana” Tania meledek.


“Sembarangan..” Lilis memukul tangan Tania.


Hahaha Tania malah tertawa gelak.


“Eh... ku dengar dari Papa ku kalau esok malam ulang tahun perusahaan Hartono. Papaku mendapatkan undangannya. Sepertinya Wenny yang membuat acaranya. Kau datang Lis??”


Lilis baru teringat kalau esok malam adalah ulang tahun perusahaan dari keluarganya. Selama ini tak di ingatnya karena ia sudah lama putus hubungan dan komunikasi dengan keluarganya. Tapi belangan ini ia berkomunikasi kembali dengan Ibunya. Dan melihat perlakuan Wenny terhadap orang tuanya. Setiap kali mengingat apa yang sudah dilakukan Wenny ke orang tuanya, membuatnya selalu marah.


“Aku malas melihatnya Tan...”


“Seharusnya kau yang berada di posisi Wenny sekarang ya kan... Memang ular betina dia. Sangat beracun dan brengsek. Air susu dibalas air tuba. Kebaikan kalian selama ini malah dibalas seperti itu.” Tania pun nampak marah dan kesal setiap ingat Wenny. Tania sudah tau semua ceritanya dari Jack dan Lilis.


“Dia punya dendam dengan keluargaku dan aku. Tapi aku tak pernah menyangka mereka tega sampai sejauh ini. Mereka tak puas dengan semua hal yang sudah terjadi. Dan masih ingin terus membuatku menderita.”


“Orang seperti mereka tak akan puas Lis. Padahal mereka sudah merebut semua kekayaan keluargamu. Apa salahnya membiarkan orang tua mu. Malah membuat mereka menderita dan mengurung Om Bram dan Tante Ajeng.”


“Wenny begitu karena jika orang tua ku tersakiti, maka aku pun akan merasakan sakit. Itulah yang dipikirkannya. ia tak akan puas kalau aku tak lenyap.”


“Dia sudah gila kah. Sudah memiliki harta mu dan Panji masih kurang puas juga.”


“Iya. Dia akan puas kalau sudah melenyapkan ku”


“Dia ingin kau mati kah Lis??” Tania merasa merinding. Ia merasa kalau Wenny terlalu ambisius dan seperti psikopat.


“Sepertinya begitu.”


“Tapi walau dia sudah punya segalanya, dia tetap tak bahagia kan Lis. Karena bagaimana pun Panji tak pernah mencintainya sampai sekarang pun tidak.”


“Itulah sebabnya, ia semakin membenciku.”


“Kau harus hati-hati Lis...”


“Iya. Beberapa penjaga di tempatkan disekitarku. Jack yang menyuruh para penjaga tersebut.”


“Iya. Tapi kau harus tetap waspada. Wenny gila itu bisa saja melakukan hal yang tak terduga.”


“Iya. Kau benar”


“Lalu esok malam akan kah kau datang Lis?” Tania melirik ke sahabatnya.


“Aku datang juga buat apa Tan”


“Datanglah. Tunjukan kalau kau tak takut dengan nya?”


“Tadi kau menyuruhku berhati-hati. Sekarang disuruh mendatangi musuh.” Lilis mengelengkan kepalanya.


“Pergi bersamaku aja. Ok” Ajak Tania.


“Masa samamu seh...”


“Ayolah. Aku penasaran seperti apa pesta yang dibuat oleh Wenny. Bukankah sekarang dia yang berkuasa di perusahaan keluargamu.”


“Hem...”


Sebuah pesan chat masuk ke Ponsel Lilis. Lilis melihat ke Hapenya dan membaca isi pesan chat tersebut. Lilis tertegun melihat isi chat tersebut.


Kira-kira dari siapa ya...


Bersambung...


Jangan Lupa Klik Vote dan Favorite ya kakak-kakak Readers semuanya. :)


 


Di like juga semua episodenya ya kak. Tinggalkan Komennya juga. Dukungan kalian akan sangat berarti agar Authornya semangat dan bisa UP cerita secepatnya. Makasih untuk yang sudah mampir ya kak. Love you all :)


 


 

__ADS_1


__ADS_2