
“Lis...” Suara Mamanya Lilis. Buk Ajeng Ayu Hartono.
Baik Lilis dan William, keduanya terkejut dan segera melepaskan pelukan dan ciuman mereka.
Lilis segera mendekatin Mamanya. Sedangkan William merasa kebat kebit rasanya dihatinya. Ia takut Mamanya Lilis memergoki mereka yang sedang pelukan dan ciuman. Walaupun dirinya dan Lilis akan segera menikah namun kalau calon mertua melihatnya seperti itu ia merasa tak enak hati.
“Iya Ma... Lilis di sini Ma.” Debaran jantung Lilis tak beraturan. Ia mencoba bersikap tenang didepan Mamanya.
“Kau sedang apa tadi nak?” Mamanya sudah bangun dan memandang wajah putrinya.
Lilis duduk disamping kursi yang ada disebelah ranjang Mamanya.
“Ta-tadi... Aku.. Aku... Eemm..” Lilis jadi bingung.
“Kenapa Lis??” Wajah Ajeng Ayu hartono sudah tak sepucat sebelumnya. Sekarang lebih baik. Panasnya pun sudah turun. Hanya saja tubuhnya masih lemah.
“Eee... Emang kenapa Mama panggil Lilis?” Akhirnya Lilis mengalihkan pertanyaan Mamanya.
“Mama mau makan bubur dan air hangat nak. Bisa kah kau carikan Mama bubur dan air hangat.”
“Oh... tentu Ma. Lilis akan segera kembali.” Lilis pun pamita dengan Mamanya.
Lilis memandang William.
“Will.. tolong jaga Mama ku sebentar ya”
“Oke sayang.” William menganggukan kepalanya.
Lilis pun keluar ruangan. Ia mau mencari hangat didekat rumah sakit tersebut sekalian mencari bubur. Jika tak ada bubur didekat rumah sakit, ia hendak membeli di luar.
Tinggallah William bersama orang tua nya Lilis di ruangan tersebut. William duduk di kursi sofa.
Mamanya Lilis memandang ke arah William dan memanggil William untuk mendekat.
“Nak Will.. kemarilah.” Ajeng meminta William duduk didekatnya.
William pun bangkit berdiri lalu melangkah menuju kursi yang ada disebelah Ajeng. Ia duduk di sebelah ranjang Ajeng. Ajeng berusaha duduk dan William membantu Ajeng untuk duduk dan sambil bersandar.
“Terima kasih” Ucap Ajeng ke William.
“Tak masalah buk.” William tersenyum dan kembali duduk disamping Ajeng.
Ajeng memandangi William. Ia berpikir sesaat sambil melihat ke arah William. William merasakan tatapan dari bakal calon mertuanya.
“Nak Will ya namamu? Tadi sempat dengar Lilis menyebut namamu”
“Oh iya. Saya lupa memperkenalkan diri Buk. Saya William Smith Buk. Panggil saja William atau Will.” William menyalami tangan Ajeng dan mencium punggung tangannya Ajeng.
Ajeng tersenyum.
“Aku Ajeng Ayu Hartono. Mamanya Lilis. Dan di sebelah ku Bram Hartono Papanya Lilis yang masih terbaring dan tertidur” sebuah senyuman lembut terukir di wajah Ajeng.
“Iya Buk. Saya sudah tahu.” Tentu saja William sudah tahu semuanya. Dan William menyebutkan kata Saya ke orang tuanya Lilis karena di anggapnya orang tua Lilis adalah orang yang perlu dihormati maka William mengatakan kata Saya.
“Apa hubunganmu dengan Lilis? Tadi kalau tak salah lihat kalian sedang pelukan ya dan... Aku baru bangun dari tidur jadi masih agak kurang jelas melihatnya.” Ajeng tak meneruskan kata “dan..” yang ingin ia katakan.
William memandangin Mamanya Lilis. Ia tertegun.
“Nak Will...” Suara Ajeng menyadarkan William kembali.
“Ah... maafkan saya buk. Saya minta maaf kalau saya bertindak keterlaluan atau pun kelewat batas. Maafkan saya buk.” William menundukan kepalanya.
“Jadi apa hubungan kalian?”
“Kami menjalin hubungan serius buk. Saya kekasih Lilis. Saya juga sudah melamar Lilis. Kami sudah merencanakan pernikahan kami.”
“Jadi kalian akan menikah?”
__ADS_1
“Iya buk. Secepatnya. Semua nya sudah disiapkan.”
Ajeng mengkerutkan keningnya.
“Kenapa kau tak meminta restu kami sebagai orang tua nya Lilis. Lagian seharusnya kau melamar dan meminta ke orang tuanya juga. Walau Lilis sudah menerima lamaran mu namun ke orang tuanya sudah kah nak Will meminta ijin” Ajeng menatap lurus ke arah William.
William tertegun. Iya benar juga. William belum meminta ijin ke orang tuanya Lilis. Hatinya jadi tak karuan. Apa jangan-jangan orang tuanya Lilis jadi tak setuju dengannya. Waduh bisa gawat nih. Bisa-bisa ia batal menikah dengan Lilis.
Ajeng melihat William terdiam dan melamun sendirian.
“Nak Will...” Panggil Ajeng.
“Iya buk.” William pun sadar setelah dipanggil oleh Ajeng.
“Panggil saja Mama. Kan kalian mau menikah. Jadi aku akan jadi Mamamu juga Will” Ajeng tersenyum.
William melihat senyuman di wajah Ajeng, Mamanya Lilis.
Secercah cahaya nampak bersinar. Apa ini tanda nya setuju kah? Begitulah pikir William.
“Iya Ma.” William pun tersenyum dan menganggukan kepalanya.
“Nanti saat Papa Lilis sudah bangun, minta lah ijin menikahi Lilis. Ingat ya nak Will, doa dan restu orang tua itu penting.”
“Iya Ma.”
“Satu lagi. Bukan kah kita pernah bertemu sebelumnya. Kalau tak salah itu kejadiannya sudah lama sekali. Saat Lilis masih di rumah kontrakannya. Tapi seingatku bukan kah namamu Yudha Hadinata. Dipanggil Fatar Om Ganteng. Iya kan?” Ajeng mempertanyakan prihal di masa kejadian beberapa tahun lalu.
William jadi bingung menjawab hal tersebut. Karena William hanya diam, Ajeng pun bersuara kembali.
“Nak Will..”
“Ah iya Ma. Waktu itu saya berpura-pura jadi Yudha untuk mendekatin Lilis. Maafkan saya Ma.” William kembali menundukan kepalanya.
“Will... kau mencintai Lilis kan?”
“Kalau begitu jaga lah putri Mama satu-satunya ya. Jaga, lindungi, sayangi dan cintai Lilis terus selamanya.”
“Pasti Ma.”
Keduanya pun tersenyum.
“Kau juga harus menyayangi si kembar ya..”
“Tentu saja Ma. Karena si kembar darah dagingku. Rafa dan Fatar adalah anak-anakku”
Ajeng tentu saja kaget mendengarnya.
“Apa!!! Apa kau bilang tadi Will. Rafa dan Fatar adalah anak-anakmu. Darah dagingmu. Jadi kau Papa kandung dari anak-anaknya Lilis.”
“Iya Ma. Maaf kan semua kesalahanku di masa lalu.” William kembali menundukkan kepalanya.
William pasrah jika Ajeng akan memarahinya atau pun mencaci makinya.
“Masa lalu tak perlu dibahas lagi ya Will. Namun berjanjilah bahagiakan Lilis dan anak-anak kalian” Ajeng tersenyum hangat sekali.
William menciumi tangan punggungnya Mama Lilis. Ia bersyukur sekali ternyata Mama mertuanya sangat baik hatinya.
“Baik Ma. Terima kasih karena telah mau menerima ku.”
“Iya. Tapi hal ini tak perlu dikatakan ke Papa Lilis ya melihat kondisinya yang kurang baik. Cukup kita saja yang tahu. Lagian Mama lihat Lilis sangat mencintaimu dan bahagia bersama mu.”
“Baik Ma. William janji akan membahagiakan Lilis dan hidup bahagia bersama Lilis serta anak-anak kami.”
“Baguslah. Mama jadi tenang menyerahkan Lilis kepadamu Will.”
Keduanya tersenyum hangat. Mereka berdua berbincang-bincang banyak hal. Menceritakan masa kecil Lilis dari ia kecil hingga dewasa serta semua kisah keluarga hartono baik diri Ajeng atau pun Bram. William pun sama menceritakan dirinya dan keluarganya. Dari ia kecil hingga dewasa juga. Juga menceritakan dirinya yang seorang Presdir dari perusahaan I.S. Tapi pekerjaannya yang seorang agen rahasia tak ia ceritakan, hal tersebut harus tetap di simpan rapat dan dirahasiakan. Dan kisah hubungannya saat mengenal Lilis hingga sampai ke tahap sekarang ini, diceritakan oleh William. Kini Ajeng dan William jadi saling mengenal satu sama lain. Ajeng dan William cepat menjadi akrab layaknya Ibu dan Anak sendiri.
__ADS_1
Lilis pun kemudian kembali setelah lama diluar. Ia membawa air hangat dan bubur yang diminta oleh Mamanya.
“Ma... Will... Maaf lama. Soalnya harus cari buburnya lagi diluar belinya.” Lilis datang mendekatin Mamanya.
Lilis memperhatikan William dan Ajeng.
“Cie... ada yang udah akrab nih hehe..” Goda Lilis ke William dan Ajeng.
Ajeng tersenyum lembut dan William hanya tertawa kecil.
“Kau ini Lis... kenapa tak bilang kalau sudah punya kekasih dan kalian akan menikah?” Ajeng menegur Lilis.
“Ah... Aku?” Lilis jadi bingung di tegur Mamanya.
“Iyalah. Kenapa gak cerita-cerita sama Mama dan Papa”
“Maaf Ma... Lilis mau cerita pas keadaannya Mama dan Papa udah membaik.” Lilis menggaruk tekuk kepalanya yang tak gatal.
“Untung Mama introgasi William. Dan membuat William mengakui semuanya. Kalau tidak kapan lagi Mama tahunya.”
“Iya deh Ma. Maaf. Maaf ya Ma...” Lilis memeluk Mamanya manja. William melihat sikap Lilis yang berubah manja seperti anak kecil saja. William tertawa kecil.
“Hem...” Jawab Mamanya.
“Mama makan buburnya ya. ini minumnya juga. Udah Lilis carikan loh. Lilis suapin ya.”
Mamanya pun menganggukan kepalanya. Lilis pun mulai menyuapi bubur ke Mamanya.
Sebuah telepon masuk ke hape William. Panggilan masuk tersebut segera di angkat William. Itu dari Jack.
“Iya Jack. Ada apa?”
“Will... Katty terluka. Ada yang menyerangnya barusan.” Ucap Jack disebarang sana.
“Apa!!!” William kaget bukan main. Ia jadi cemas dengan Katty. Lilis dan Mamanya jadi menatap ke arah William. Mereka bisa melihat kegelisahan dan kecemasan dari raut wajahnya William.
Besambung...
Nah loh... Siapa yang celakai Katty?? Apa orang-orang suruhan Laura ya???
Halo-halo... Semoga tetap stay dan setia di karya ini ya kak. Dari awal sampai akhir nanti. Makasih yang selalu setia di karya ini. Thank you all J
Yuk kak... Gerakan jempolnya yak :D
Di Like yang banyak ya kakak readers semuanya... kasi Vote juga banyak-banyak ya :D
No Plagiat ya. Hargai usaha dan kerja keras seseorang dalam berkarya. Jadi katakan tidak pada meniru karya seseorang dan tidak menjiplaknya. No Plagiat. Makasih untuk yang sudah mampir ya kak. Love you all :)
Jangan lupa kasi bintang 5 nya ya kak di karya novel ini... :D
Ikutin terus kelanjutannya ya kak :D
Jangan lupa dukungannya ya kak agar semangat UP.
Di like juga semua episodenya ya kak. Tinggalkan Komennya juga :D
Di like, di vote dan klik Favorite yah sebagai tanda telah membaca dan menyukai karya ini, juga sebagai apresiasi ke karya ini.
Tembus 200 lebih like segera di UP kembali.
__ADS_1