
Semua yang hadir di rapat juga menoleh ke arah William. Bahkan yang sedang persentasi didepan saat rapat ini pun juga menoleh ke William. Semua diam dan melihat ke arah William.
William mematikan panggilan teleponnya. Ia melihat ke arah Jack.
“Jack, kau pimpin rapatnya ya dan teruskan. Aku harus ke butik Lilis sekarang” William menepuk bahu Jack dan Jack pun menganggukan kepalanya.
William segera berlari dan keluar dari ruangan rapat. Semua menatap aneh ke arah William.
“Sudah.. Lanjutkan kembali rapatnya” Perintah Jack kepada para pegawainya. Dan semua pun menurutin, rapat pun kembali berlangsung.
William sekarang sudah menaiki mobilnya dan menuju butik Lilis.
Sampai di butik Lilis, William segera masuk kedalam dan mencari istrinya. Saat dilihat istrinya sedang berbaring di sofa panjang di dalam ruangan kerja Lilis.
“Lilis...” William mendekati ke arah Lilis. Lilis masih terpejam.
William melihat ke arah Naya.
“Ada apa dan kenapa?”
“Gak tahu pak”
“Kenapa tak langsung telepon dokter?”
“Menunggu bapak” Naya menjawab takut-takut.
William sudah hendak memarahi Naya yang nampak lemot baginya. Bosnya pingsan bukannya langsung panggil dokter. William nampak kesal. Tapi ia tak jadi marah, karena suara Lilis terdengar. Lilis telah sadar dari pingsannya.
“Will...” Ucap Lilis saat baru sadar. Lilis melihat William di sampingnya.
William menoleh ke istrinya.
“Sayang... kau tak apa-apa?” William mengelus wajah istrinya dengan lembut.
“Tak apa-apa. Mungkin hanya kecapekan” Lilis bangun dan duduk. William pun duduk di sampingnya Lilis.
Lilis melihat Naya dan memintanya untuk keluar untuk melanjutkan pekerjaannya.
“Keluarlah Nay... Lanjutkan pekerjaanmu”
“Baik Buk. Ini air putihnya buk” Naya memberikan segelas air putih. William menerimanya dan memberikan kepada istrinya. Naya pun keluar dari ruangan tersebut.
Lilis meminum air putih tersebut.
“Bagaimana???” William masih cemas.
“Aku tak apa-apa sayang”
“Kau membuat ku cemas saja. Kita ke dokter saja ya. wajahmu sangat pucat sayang”
“Tak perlu sayang. Hanya lelah palingan”
“Lelah??? Jangan terlalu capek bekerja sayang”
Lilis menghela nafasnya.
“Mungkin lelah karena hampir sering di ganggu suamiku setiap malam” Lilis lalu terkekeh.
William pun ikut terkekeh dan tersenyum ke arah Lilis.
“Maafkan aku sayang, itu karena aku sangat mencintaimu dan inginkan selalu dirimu sayang”
“Hem...”
“Tapi aku masih kuatir sayang. Kita periksa saja ya”
“Tidak sayang. Aku tak apa-apa. Hanya pusing saja tadi. Mungkin karena tak makan pagi tadi”
“Kenapa tak ikut sarapan tadi pagi bersama aku dan anak-anak?”
“Malas sayang. Rasanya kurang selera”
“Jangan begitu. Pikirkan lah kondisimu sayang. Kalau kau sakit, lalu bagaimana kau?”
__ADS_1
“Tidak akan sakit. Kenapa? Takut malam nanti tak bisa melayanin mu gitu” Lilis menggoda suaminya.
“Haha... hampir sering sudah kita lakukan sayang. Dan aku tak pernah bosan. Malah selalu merindukanmu. Tapi aneh juga ya kok sudah lama kau tak PMS sayang?”
Lilis mengkerutkan keningnya. Iya. Benar juga. Sudah lama ia tak datang bulan. Benar kata William suaminya. Gara-gara hal tersebut, mereka berdua jadi makin sering bercinta di ranjangnya setiap malam.
William memperhatikan wajah cantik istrinya yang terlihat agak pucat.
“Sedang memikirkan apa sayang?”
“Kau benar sayang. Sudah lama aku tak datang bulan. Bahkan bulan ini juga tidak” Lilis melirik ke arah suaminya.
“Apakah kau hamil sayang?” William melirik ke arah istrinya dengan tebakannya yang baru dilontarkannya.
“...” Lilis jadi melihat William dengan pandangan yang buat dirinya sendiri pun bingung.
“Kita periksa saja sekarang. Ayo sayang” Ajak William.
Lilis pun menganggukan kepalanya. Pergilah Lilis dan William berduaan.
Mereka naik mobilnya William dan menuju rumah sakit.
Sampai di rumah sakit, dokter Irna yang memeriksanya. Setelah selesai diperiksa, dokter kembali ke tempat duduknya. William duduk dihadapan dokter dan Lilis pun kemudian duduk disamping William setelah selesai diperiksa dokter.
“Bagaimana dokter?” Tanya William.
Dokter tersenyum ramah.
“Selamat Tuan Smith dan Nyonya Smith. Istri anda telah hamil saat ini. Usia kandungan hampir mencapai dua bulan sekarang. Jaga baik-baik istri dan calon bayi anda ya”
William dan Lilis saling pandang. Kemudian keduanya tersenyum bahagia.
“Terima kasih dok. Saya akan menjaga istri dan calon bayi kami. Kami juga akan sering cek kontrol kemari” Ucap William penuh gembira.
“Iya. Baiklah. Sekali lagi selamat ya”
William dan Lilis pun menganggukan kepalanya bersamaan dan menjabat tangannya dokter. Keduanya nampak happy.
Saat sampai dirumah. Ia langsung menggendong istrinya ala style bridal.
“Will... turunkan aku”
“Tidak. aku akan membawamu ke dalam sambil di gendong seperti ini”
William dan Lilis pun tersenyum bersamaan.
Sampai didalam rumah, William masih saja menggendong istrinya. Sampai di ruang tengah Lilis mintaturun dan barulah William turunkan.
“Turunkan disini”
“Baiklah”
William kemudian memeluk istrinya sambil mengecup puncak keningnya Lilis. Ia mengelus rambut Lilis dan mendekapnya dalam pelukan hangatnya.
“Terima kasih sayang. Aku bahagia” Ucap William di telingan Lilis denga lembut.
“Sama-sama sayang” Lilis tersenyum bahagia.
Saat keduanya lagi sayang-sayangnya dan berpeluk mesra, si kembar datang mendekat. Rafa dan Fatar baru saja tiba di rumah. Pemandangan yang mereka lihat adalah kedua orang tuanya sedang berpeluk mesra.
“Cie... cie... yang kasmaran terus” ledek Fatar.
“Hahaha... Dunia serasa milik berdua ya” Ucap Rafa pula.
William dan Lilis melepaskan pelukannya. mereka melihat ke arah anak-anaknya.
Rafa dan Fatar datang mendekatin orang tuanya. Si kembar memeluk Papa dan Mamanya. Rafa memeluk Papanya dan Fatar memeluk Mamanya.
“Sudah pulang nak?” Tanya Lilis melihat si kembar
Si kembar menganggukan kepalanya.
“Gantilah pakaian kalian dan makan siang lah terus” Perintah sang Papanya.
__ADS_1
“Heemmm... ada yang main nyuruh pergi kak” lirik Fatar ke Rafa
“Haha... takut keganggu kali ya” Rafa tersenyum melihat kedua orang tuanya.
“Sudah sana ganti bajunya. Mama dan Papa menunggu di meja makan ya” Lilis menyuruh si kembar. Si kembar pun menurut.
William dan Lilis pun berpelukan sambil berjalan menuju meja makan. Lilis meminta pembantu menyiapkan menu makan siang kali ini.
Kemudian Rafa dan fatar tiba di meja makan. Mereka berempat makan siang bersama dengan tenang.
Selesai makan siang bersama. Lilis merasa mual. Sepertinya makanan yang baru masuk ingin segera dikeluarkan.
Lilis menutup mulutnya menahan rasa mual dan hendak muntah. Ia berlari ke arah kamar mandi terdekat yang ada di ruang dapur yang bersisian antara dapur dan tempat meja makan. Didalam kamar mandi Lilis muntah-muntah. Ia mengeluarkan isi perutnya.
“Hoek... Hoek...” Lilis lemas rasanya karena memuntahkan semuanya.
Rafa dan Fatar panik melihat Mamanya. Hanya William yang agak tenang.
“Pa... Mama kenapa? Sakit ya?” Rafa cemas.
“Iya Pa... Mama sakit kayaknya” ucap Fatar jugake Papanya.
William hanya tersenyum menanggapi pertanyaan anak kembarnya. Ia bagkit dari tempat duduknya dan berjalan ke arah Lilis.
Didalam kamar mandi yang tak terkunci, William datang mendekatin Lilis. Ia mengusap lembut punggung belakang Lilis.
“Mau ke kamar sayang. Biar istirahat saja ya”
Lilis menganggukan kepalanya. William membantu istrinya dengan memapahnya masuk kekamar. Hanya si kembar yang nampak kebingungan. Mereka pun mengikutin Papa dan Mamanya sampai masuk juga kekamar orang tuanya.
Didalam kamar William membaringkan Lilis di atas ranjang. William mengambil minyak kayu putih di laci nakas yang ada di dekat ranjangnya.
Ia lalu memberikan minyak kayu putih ke istrinya.
“Biar agak mendingan sayang”
Lilis menganggukan kepalanya dengan perlahan. Ia pun memakai minyak kayu putih. Si kembar ikut naik ke atas ranjang dan menatap sedih ke arah Mamanya. Dikira si kembar Mamanya sakit keras.
“Mama... Mama kenapa?” Ucap Fatar yang hendak menangis.
“Iya Ma... Kenapa? Hiks hiks” Rafa sudah berlinang air mata.
William dan Lilis menatap heran. Mereka pun tertawa melihat tingkah si kembar. Si kembar jadi heran.
“Mama kalian gak apa-apa nak” Ucap William.
“Iya nak. Mama baik-baik saja. Mama hanya sedang hamil. Ada adik kalian di dalam perut Mama” Lilis tersenyum melihat ke arah si kembar.
Rafa dan Fatar saling pandang.
Bersambung...
Hore... Lilis akhirnya hamil. Selamat ya :D
Yang suka dengan karya ini, ikutin terus kisahnya sampai akhir ya kakak readers semuanya :)
No Plagiat ya. Hargai usaha dan kerja keras seseorang dalam berkarya. Jadi katakan tidak pada meniru karya seseorang dan tidak menjiplaknya. No Plagiat. Makasih untuk yang sudah mampir ya kak. Love you all :)
Karya ini sedang mengikutin lomba, jadi mohon dukungannya terus ya kak.
Makasih semuanya. Dukung terus karya ini ya kakak readers semuanya, biar Author semangat UP ceritanya. Love you all :)
Tembus 200 lebih like segera di UP kembali. Like yang banyak dan vote sebanyaknya ya kak. Thanks :D
__ADS_1