Rafa Dan Fatar

Rafa Dan Fatar
Bab 75.


__ADS_3

Pagi itu Warung sudah dibuka dan sudah banyak yang datang makan sarapan diwarung Ayu. William melayanin beberapa pelanggan. Dilihatnya Ayu masih saja diwarung. William datang mendekat.


“Kok belum berangkat juga dik?”


“Nanti Om...”


“Nanti telat loh...”


“Ayu berhenti ekolah aja ya...”


“Loh... kok jadi berhenti. Sana masuk ke sekolah. Belajar yang rajin.”


“...” Tapi Ayu tak juga berangkat ke sekolah. Ia takut kalau pergi sekolah Om Leo-nya akan didatangi Lilis kembali. atau takut kalau William akan pergi ninggalin dia.


William melihat Ayu masih diam tak pergi kesekolah juga. Ia lalu menarik tangannya Ayu dan mengambil tas Ayu.


“Kesekolah...” Ucap William.


“Tapi...”


“Tapi apa? Tenang Aku gak akan kemana-mana. Jangan risau. Om akan tetap sama Ayu. Ok. Pergilah kesekolah ya.”


“Baiklah Om.”


Ayu akhirnya berangkat sekolah. Sebuah angkot berhenti dan Ayu langsung naik. Didalam Angkot ia masih melihat ke arah William. Ia tak mau jauh-jauh dari William. Namun ia harus tetap pergi sekolah.


Setelah William melihat angkot yang dinaiki Ayu telah semakin menjauh, ia pun kembali melayanin para pelanggan.


Di luar warung sebuah mobil terparkir. Laura dan Philip didalam mobil tersebut.


“Kau yakin disini tempatnya Philip?”


“Iya. Bahkan rumah gadis itu masuk kedalam gang jalan itu... dipinggir jalan ini lah warung miliknya. Dan William bersamanya.”


“Bagus.” Laura tersenyum.


“Laura... Apa kita perlu melakukan ini. Jika Tante dan Om tahu, mereka akan marah.”


“Makanya kau jangan banyak bicara. Mereka tak akan tahu.”


“Lalu apa rencanamu?”


“Aku sedang memikirkan cara yang baik dalam menyapa William. Lihat saja nanti.”


Philip hanya bisa diam menatap ke Laura. Luara memperhatikan William dari kejauhan.


Setelah jam 9. Para pelanggan yang sarapan sudah mulai pergi. Warung pun menjadi sunyi sementara. William membersihkan piring kotor dan gelas-gelas kotor. Juga merapikan kursi dan mengelap meja yang kotor. Setelah semua beres. Ia duduk. William melamun. Ia mengambil sesuatu dari saku celananya. William melihat kartu nama yang waktu itu Ayu tunjukan dan ia simpan sendiri. William menatap ke arah kartu nama tersebut.


“Lilis Hartono” Gumam William sendirian.


“Ada apa dengan masa lalu ku? Hubungan apa yang ada diantara aku dan Lilis?” Ucap William sendirian.


William membereskan warung kembali. ia lalu menutup warung. Ia ingin mencari tahu sendiri tentang jati dirinya. awalnya ia tak terlalu peduli karena ia dan Ayu hidup dalam keadaan baik dan happy. Tapi sekarang setelah ia sesuatu tentang masa lalunya. Ia pun berusaha untuk mencari tahu. Setelah warung sudah ditutupnya. William menyetop sebuah taksi. Dan meminta pak supir taksi untuk menuju ke sebuah Butik. Butiknya Lilis. Kesanalah tujuan William.


Sekitar satu jam perjalanan. Sampailah William di butiknya Lilis. William mebayar taksi dan lalu turun. William melihat ke arah butik. Ia ingin masuk namun tiba-tiba menjadi ragu. Jika ia sudah mencari kebenaran, lalu bagaimana Ayu? William jadi bimbang. Pasalnya ia sudah janji tak akan meninggalkan Ayu. Ayu pun akan sedih kalau melihatnya pergi mencari tahu tentang jati dirinya. tapi William penasaran tentang jati dirinya dan ingatannya dimasa lalu. Lama William berdiri mematung. Ia diam saja melihat kearah butik Lilis.


Kebetulan didalam butik saat ini ada Lilis yang sedang mengecek dan memantau butiknya. Ia terkadang datang untuk melihat butiknya. Untuk tahu apa saja yang diperlukan kembali sekalian meninjau butiknya. Saat Lilis melihat keluar melalui kaca-kaca butiknya, ia melihat William diluar butiknya.


“William...” Gumam Lilis.


Salah satu anak buahnya mengekerutkan keningnya.


“Ada apa buk?”


“Ah... gak apa-apa. Kau disini lanjutkan pekerjaanmu ya. aku keluar dulu.”


“Iya buk.”


Lilis melangkah keluar. Setelah Lils keluar, ia melangkah mendekatin William.


“Will..” Sapa Lilis.


William yang diam mematung dan sedang menimbang untuk lanjut atau kembali pulang, kemudian mendengar suara Lilis. Ia pun melihat ke arah lilis.


“Ha-halo...” Ucap William agak kaku.

__ADS_1


“Halo juga...” Lilis tersenyum.


William kembali diam. Ia tak tahu harus bagaimana.


“Mau masuk. Ayo ikut aku.” Ajak Lilis.


“...” William masih diam.


“Kalau begitu kita ke cafe dekat sini aja, mau?”


William pun jadi menganggukan kepalanya.


Lilis tersenyum. Pergilah Lilis dan William bersama dengan naik mobil Lilis. Mereka menuju sebuah cafe yang tak jauh dari tempat butiknya. Sampai di tempat, Lilis memilih tempat duduk agak menyudut, agar menjauh dari yang lainnya.


Pelayan datang untuk menanyakan pesanan.


“Mau pesan apa Mbak?”


“Aku Jus Orange saja. Kalau kau Will?”


“Apa saja boleh.”


“Jus orange dua kalau begitu.”


“Baik Mbak. Kalau makannya.?”


Lilis melihat ke arah William. William mengeleng.


“Minum saja.”


“Baik. Tunggu sebentar ya Mbak.”


Pelayan pergi meninggalkan Lilis dan William berduaan.


“Ada apa kau datang ke butik ku? Apakah mencari ku? Tahu darimana butik ku?” Lilis bertanya penasaran.


“Dari ini.” William menunjukan kartu nama Lilis.


Lilis pun ingat kalau itu ia berikan ke Ayu. Ternyata ekarang ada di tangan William. Pantas saja ia bisa tahu butiknya Lilis.


“Oh... Lalu ada apa kau kebutik ku?” Tanya Lilis kembali.


“Kau ingin tahu.”


“Iya.”


Lilis tersenyum bahagia. Ia tak sangka William sendiri yang datang mencarinya dan bertanya tentang masa lalu dan ingatannya.


“Aku tak bisa ingat apa pun. Tapi ku harap bisa ceritakan secara ringkas.”


“Baiklah.”


Pelayan kembali membawakan dua minuman orange jus. Setelah meletekan minumannya, pelayan undur diri.


William menatap ke arah Lilis. Lilis pun mulai menceritakan masa lalu mereka berdua.


Lilis memulai dengan pertemuan pertama kali mereka. Dimana waktu itu William menyamar jadi Fatar. Kemudian tragedi pemerkosaan Lilis yang dilakukan William. Lalu kehamilan Lilis dan melahirkan bayi kembar yang diberi Rafa dan Fatar. Sesuai dengan nama mereka awal bertemu. Kemudian beberapa tahu kemudian, yang Lilis bertemu lagi William. Namun William menyamar jadi Yudha Hadinata. Semuanya di ceritakan Lilis. Juga jati diri William sebagai Presdir dari perusahaan I.S. serta diri William yang sebagai Agen rahasia. Yang hanya Lilis yang mengetahuinya. Bahkan semua cerita tentang mereka, kisah mereka berdua sampai kejadian William tertembak dan terbaring lama di rumah sakit diceritakan Lilis. Semuanya diceritakan Lilis.


Lilis melihat ke arah William. Ia ingin tahu reaksi William. Namun William hanya diam tanpa ada ekspresi apa pun.


“Semua nya sudah ku ceritakan. Semoga kau bisa kembali mengingatnya.” Lilis mengakhiri ceritanya. Ia meminum Jus nya sampai tinggal separuh gelas.


William yang dari tadi diam dan hanya mendengarkan sekarang iktan minum Jus orangenya.


Lilis tak melihat perubahan apa pun yang terjadi ke William.


Lilis lalu mengelurkan sesuatu didalam tasnya yang ditentengnya. Sebuah box kecil. Dibukanya dan terlihat lah berlian indah.


“Waktu itu kau ingin memberikan ini padaku. Untuk melamarku. Seperti yang kuceritakan semua tadi. Masih ingatkah kau dengan cincin ini. Lalu ini juga” Lilis mengeluarkan sebuah foto di dompetnya. Ternyata Lilis menyimpan fotonya bersama William dan anak-anak mereka didalam dompetnya. Dan sekarang di tunjukan ke hadapan William.


William meraih foto tersebut. Ada empat orang. Dua anak kecil yang kembar. Satu perempuan dan satu laki-laki. Lalu ada Lilis dan dirinya sendiri. William melihat fotonya.


“Itu Rafa dan Fatar. Anak-anak kita berdua. Anak kembar, darah dagingmu sendiri Will... anak-anak sangat merindukanmu Will. Aku juga merindukanmu” tak terasa Lilis telah menangis. Bulir-bulir air matanya mulai membasahi pipi mulusnya.


William tersentuh. Dan hatinya serasa juga merasakan kesedihan dan kerinduan. Tapi William bingung dengan semuanya. Pasalnya belum ada satu pun yang di ingatnya. Tapi ia merasa foto anak kembar itu begitu familiar dengan nya.

__ADS_1


“Apa kau kan melupakan kami Will? Melupakan aku? Melupakan anak-anakmu juga?” deraian air mata terus mengalir membasahi pipi Lilis.


“Aku...” William bingung dalam menjawab.


“Maafkan aku. Aku masih belum bisa mengingat apa pun.” William menundukan kepalanya.


Lilis terisak menangis. Ia mengambil sapu tangan dari tasnya. Dan mulai menghapus air matanya sendiri.


Sebuah panggilan masuk ke Hape William. Ayu sudah membeli Hape seken untuk William. Agar Ayu dan William mudah berkomunikasi.


William melirik Hapenya. Panggilan masuk ke Hapenya dan tertera nama Ayu. Lilis juga sempat melihat nama penelepon.


Dalam hati Lilis : “Apakah gadis ini tak akan melepaskan William? Apakah William dan aku akan susah kembali bersatu lagi?”


William mengangkat Hapenya.


“Iya. Halo. Ada apa Ayu?”


“Halo William...”


William mengkerutkan keningnya. Pasalnya itu bukan suara Ayu. Tapi suara wanita lain.


“Kau siapa? Kenapa hape Ayu ada padamu?Ayu dimana?” William nampak cemas.


“Kenapa kau menanyakan orang yang bukan siapa-siapa mu? Gadis kecil ini apa berarti untuk mu?”


“Ayu dimana? Katakan cepat?” William sudah nampak Panik.


“Kau mau dia. Datang lah ke tempat yang ku suruh. Aku akan mengirimkan alamat ke pesan chatmu. Datang lah bersama Lilis.” William melirik ke arah Lilis.


Panggilan lalu terputus. Sepertinya wanita disana mematikannya. William menatap Hapenya.


Lilis yang menatap dan mendengarkan, ikut mengekerutkan keningnya.


“Siapa Will? Bukan Ayu kah? Apa yang terjadi?”


“Aku tak tahu. Sepertinya dia menangkap Ayu. Kau mau ikut bersama ku mencari Ayu. Dia mengatakan agar Aku bersama mu pergi.”


“Aku?”


“Iya”


“Baiklah.”


Sebuah chat pesan masuk. Lokasi tempat telah disebutkan. Kesanalah William dan Lilis pergi. Lilis segera membayar minuman mereka. Lalu mereka bergegas naik mobil Lilis menuju tempat tersebut.


Di tempat tersebut. Di dalam hutan dan pegunungan. Laura sedang menatap kearah Ayu yang terikat. Saat pulang sekolah, Ayu langsung diseret Philip dan dibawa ketempat tersebut. Disana lah dia bertemu Laura.


“Kau siapa?” Tanya Ayu yang sedang terikat.


“Aku siapa? Aku masa lalunya William.” Laura menatap ke arah Ayu.


Ayu nampak ketakutan. Maklum ia masih gadis kecil. Anak Sma kelas 2. Jadi hal seperti ini sudah menakutkan baginya.


Laura lalu memberi Philip sebuah topeng. Dan Laura juga memakai Topeng kupu-kupu hitamnya.


“Pakai ini. Dan bersembunyi lah Philip. Saat genting barulah muncul” perintah Laura.


“Baik.” Ucap Philip.


“Aku sudah tak sabar untuk berjumpa dengan mu William...” Ucap Laura sambil tersenyum.


Bersambung....


Apa lagi lah ulah Laura kali ini ya... Pasti ini jebakan untuk William dan Lilis. Tetap stay di karya ini terus ya kak. Ikutin terus kelanjutannya :D


Jangan lupa dukungannya ya kak agar semangat UP.


Di like juga semua episodenya ya kak. Tinggalkan Komennya juga :D


Di like, di vote dan klik Favorite yah sebagai tanda telah membaca dan menyukai karya ini, juga sebagai apresiasi ke karya ini.


No Plagiat ya. Hargai usaha dan kerja keras seseorang dalam berkarya. Jadi katakan tidak pada meniru karya seseorang dan tidak menjiplaknya. No Plagiat. Makasih untuk yang sudah mampir ya kak. Love you all :)


Tembus 200 lebih like segera di UP kembali.

__ADS_1


 


 


__ADS_2