Rafa Dan Fatar

Rafa Dan Fatar
Bab 78.


__ADS_3

“Tidak akan ku lepas. Sampai mati pun kau tak akan kulepas. Jika mati, maka kita mati bersama.” William masih menahan talinya Lilis.


Lilis berderai air matanya. Di saat antara hidup dan mati, William telah mengingatnya kembali. Namun saat ingatan William kembali, mereka dihadapkan oleh situasi yang tidak baik ini.


Disaat situasi seperti itulah Jack dan beberapa anak buahnya telah datang. Jack melihat situasi William dan ia serta anak-anak buahnya segera membantu William hingga akhirnya Lilis dapat tertolong.


Lilis yang sudah selamat dan sudah dibuka ikatannya, segera memeluk William.


“Will...” Lilis memeluk William dengan erat.


“Lis...” William memeluk Lilis juga dengan eratnya. Seakan mereka sangat lama sudah berpisahnya.


Jack memperhatikan dari samping dengan alis berkerut.


Lilis dan William melepaskan pelukannya. Mereka berdua menoleh ke Jack yang kerutannya sudah sangat banyak. Hehe..


“Aku sudah ingat Jack. Sudah ingat semuanya.” William melirik ke Jack.


Jack langsung memeluk William.


“Benarkah Will? Syukurlah kalau begitu.” Setelah jack puas memeluk. Jack melepaskan pelukannya.


“Bos... disini seorang gadis terluka parah” salah satu anah buah Jack mengatakan tentang keadaan Ayu.


William segera berlari kearah Ayu.


“Ayu... Ayu...” William memanggil nama Ayu sambil merangkul tubuh Ayu. Gadis yang malang tersebut, nafasnya tinggal satu-satu.


“O-om..” Ayu sudah di ujung maut.


“Maafkan aku Ayu. Aku tak menjagamu dengan baik. Aku gagal menyelamatkanmu.”


“A-ayu... I-ingin menyu-sul I-ibu, A-ayh dan ne-nek.”


“Ayu... jangan berkata seperti itu. Aku akan membawamu kerumah sakit.”


“E-enggak... A-ayu t-ak mung-kin se-la-mat la-gi. Ma-afkan a-ku Om d-dan Kak Li-lis. A-ayu sa-sayang Om..” Ayu pun menghembuskan nafas terakhirnya. Ia pun akhirnya meninggal dunia.


William memeluk Ayu yang sudah tiada tersebut. William sedih. Bagaimana pun Ayu sudah dianggapnya seperti keluarga sendiri jadi tentu saja William sangat berduka. Lilis datang mendekat. Ia memegang pundak William. Ada rasa haru yang dirasakannya juga melihat keadaan Ayu yang tragis. Jack segera memanggil semua anak buahnya, mereka akan segera kembali pulang.


Willam pun pulang kembali bersama Jack dan Lilis serta membawa mayatnya Ayu.


Selang beberapa jam kemudian mereka sampai dirumah masing-masing. Mereka membersihkan diri masing-masing. Lalu William mengurus jenazah Ayu dan pemakaman Ayu. Ayu segera di makamkan William di tempat pemakaman Ayah, Ibu dan nenek Ayu dimakamkan. Biar Ayu dekat dengan keluarganya saat dikuburkan. Teman teman ayu dikabarkan pula, agar temannya tahu tentang kematian Ayu.


Kini William berada didalam mobil bersama Lilis. Mereka sedang menuju pulang kerumah mereka setelah dari pemakaman Ayu tadi.


Sampailah mereka di rumah. William masuk kembali ke rumahnya yang sudah lama ia tinggalkan. Lilis ikut serta dengannya. Mereka berdua duduk di sofa dekat ruang tamu.


“Mau minum, biar ku ambilkan.” Lilis menawarkan minuman.

__ADS_1


“Tidak Lis. Aku hanya memerlukanmu” William mendekatkan dirinya disamping Lilis. Keduanya duduk dalam posisi yang sangat dekat. William kemudian memeluk Lilis. Aroma tubuh Lilis yang sangat ia rindukan. Lilis juga merebahkan kepalanya di dada bidang William. Ia pun merindukan aroma tubuh William. Keduanya melepaskan rindu yang sudah sangat lama mereka rasakan. Kemudian Lilis meneteskan air matanya. William heran, kenapa lilis jadi menangis. Di tatapnya wajah cantik Lilis.


“Kenapa menangis sayang...?”


“Aku hanya tak sangka akhirnya hari ini telah tiba.”


“Hey.. Jangan menangis lagi. Kini aku disisimu Lis” William mengusap air mata Lilis dengan lembut dan mengelus rambutnya dengan lembut pula. Anak-anak rambut Lilis di rapikannya ke sampingnya. Ia lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Lilis. Kedua bibir saling mengecup dan kedua lidah saling bertautan. Menari-nari lidah William didalam mulut Lilis dan memilin lidahnya Lilis. Keduanya saling berciuman dengan mesranya. Lama keduanya saling memanggut dan mengecup. Hingga Lilis kehabisan nafas, barulah William menghentikan ciumannya. Ciuman panas pun dilepaskannya. Kedua wajah bersemu merah dan kedua pipi terasa panas.


“Wajahmu memerah sayang” William mengecup kedua pipi Lilis.


“Pipi mu juga terasa panas Will.” Lilis tersenyum bahagia. Hatinya rasanya berbunga sekarang.


Keduanya saling menatap dan tersenym bahagia.


Lilis pun bangkit dan hendak melangkah.


“Hey... hendak kemana sayang?”


“Aku mau mengambil minuman dingin untuk mendinginkan kita berdua” Lilis tersenyum manis. William pun tersenyum.


Lilis pergi ke dapur dan melihat isi kulkas. Ia mengambil dua minuman dingin. Dua minuman kaleng dingin yang dibawanya kembali untuk diberikan ke William di ruang tamu.


“Ini minumannya. Minumlah.” Lilis memberikan satu minuman dingin dan satunya untuk dirinya sendiri.


“Oke. Thanks.” William menerimanya. Membukanya dan meneguk minuman tersebut.


Lilis kembali duduk di sebelah William.


“Iya. Sewaktu kau lama terbaring dirumah sakit kemudian hilang keberadaanmu karena lupa ingatan, aku sudah lama tinggal disini. Jack yang memintaku tinggal disini. Anak-anak juga tinggal disini.”


“Dimana anak-anak, aku sudah lama tak bertemu mereka. Aku sangat kangen.”


“Rafa dan Fatar juga pasti merindukanmu. Fatar sedang sekolah. Rafa dirumah sakit. Ingat anak yang kau tolong pas kau mendonorkan darah, itu adalah Rafa.”


“Itu Rafa, benarkah? Kalau begitu kita sekarang ke rumah sakit saja.” William hendak bangkit namun Lilis mencegahnya.


“Tidak perlu. Hari ini Rafa sudah boleh pulang kerumah. Rafa sudah sembuh. Tania yang menjemputnya. Dan Jack katanya akan menjemput Fatar di sekolah. Jadi Tania akan mengantar Rafa pulang dan Jack akan mengantarkan Fatar pulang kemari.” Lilis menjelaskan.


“Lagian kau sudah cukup lelah kan. Maka istirahatlah Will. Hari-hari yang barusan kita lewati sangat berat kan. Istirahatlah ya. kau juga terluka. Sebaiknya ku periksa lukamu dan diobati lalu istirahat. Atau ku panggil dokter. Atau kerumah sakit saja mengobatinmu sekalian mengecek kesehatanmu.”


“Stop.. stop... Aku hanya perlu kau Lis. Kau lah obatku.” William mengecup bibir Lilis sekilas saja. Lilis tersenyum.


Suara mobil datang mendekat. Dua buah mobil. Dan suara-suara langkah kaki memasuki rumah. Lilis dan William bangkit dari tempat duduknya. Mereka hendak menyambut si kembar kembali pulang.


Rafa dan Fatar masuk perlahan kedalam. Disusul Tania dan jack dibelakang si kembar. Si kembar yang baru masuk rumah langsung mendapatkan sambutan yang membahagiakan yaitu melihat kedua orang tuanya berdiri di depan mereka. Rafa tersenyum dan Fatar pun ikut tersenyum. Si kembar segera berlari dan menghambur ke arah William. Sambil berkata “Papa..” itulah kata-kata si kembar yang di ucapkan oleh Rafa dan Fatar bersamaan. William menyambut si kembar dan segera memeluknya. Akhirnya si kembar melihat Papanya kembali. Akhirnya William kembali ke keluarganya. Bersama Lilis dan kedua anak kembarnya.


Lilis menatap haru ke arah anak-anaknya dan William. Akhirnya hari seperti ini datang juga dikehidupannya. Ia bahagia. Tania dan Jack juga ikut serta bahagia, melihat kebahagiaan William beserta Lilis dan anak-anak mereka.


“Kapan kita akan seperti itu Jack?” Tania menoleh ke Jack.

__ADS_1


“Kalau kau mau bulan depan kita menikah” Jack menoleh ke Tania juga.


“Benarkah? Kau serius?”


“Iya. Dan kali ini hubungan serius bukan akting.” Jack tersenyum ke Tania. Tania pun tersenyum ke arah Jack.


Tania memeluk Jack yang disampingnya. Jack awalnya kaget, namun akhirnya dipeluknya juga erat Tania.


Lilis juga ikut memeluk William dan anak-anak mereka. Kebahagian bersarang dihati mereka. Suasana mengharukan dan gembira telah mereka rasakan bersama. Lilis merasakan kehangatannya.


William melepaskan pelukan anak-anaknya. Lilis juga. Anak-anak melihat kearah Lilis dan William bergantian.


“Papa.... Rafa kangen sekali. Dan sayang Papa”


“Fatar juga kangen banget sama Papa. Sayang Papa juga banyak-banyak lah”


“Papa juga kangen dan sayang kalian berdua.”


“Mama gimana? Kangen juga gak? Sayang gak?” Ucap Lilis memandangi ke dua anak kembarnya.


“Kangen dan sayang Mama juga dong” Ucap Rafa dan Fatar bersamaan.


Mereka semua tersenyum bahagia.


“Tapi bukannya Papa menghilang ya?” Rafa mengkerutkan keningnya.


“Iya... Sempat dikira meninggal rupanya masih hidup. Eh tapi Papa hilang ingatan trus menghilang ntah kemana katanya... kok bisa disini sekarang?” Sambung Fatar juga.


Lilis dan William saling pandang. Jack dan Tania yang sudah melepaskan pelukannya juga saling pandang.


Loh... dari mana si kembar tahu. Begitulah pikir orang-orang dewasa.


Bersambung...


Akhirnya, William kembali bersama Lilis dan anak-anaknya. Senang gak para kakak Readers semuannya? Semoga ikut senang dan bahagia seperti kebahagian Lilis dan William saat ini ya :D


Ikutin terus kelanjutannya ya kak :D


Jangan lupa dukungannya ya kak agar semangat UP.


Di like juga semua episodenya ya kak. Tinggalkan Komennya juga :D


Di like, di vote dan klik Favorite yah sebagai tanda telah membaca dan menyukai karya ini, juga sebagai apresiasi ke karya ini.


No Plagiat ya. Hargai usaha dan kerja keras seseorang dalam berkarya. Jadi katakan tidak pada meniru karya seseorang dan tidak menjiplaknya. No Plagiat. Makasih untuk yang sudah mampir ya kak. Love you all :)


Tembus 200 lebih like segera di UP kembali.


 

__ADS_1


 


__ADS_2