Rafa Dan Fatar

Rafa Dan Fatar
Bab 119.


__ADS_3

“Apa yang kau lakukan Vanya? Kau menjebakku kah?” tatapan mata William dingin dan sangar. Ia terlihat menakutkan.


Vanya bersikap polos dan berakting seperti tak punya dosa.


“Kenapa kau marah padaku Will? Kita kan sudah melakukannya berdua” Vanya berpura-pura sedih.


William nampak marah, ia dingin pada Vanya.


“Itu bukan mauku. Kau menjebakku” raut wajah William berubah dingin menatap Vanya.


William pun segera melangkah pergi, namun Vanya mencegahnya.


“Tunggu. Kau harus tanggung jawab Will?” Ucap Vanya dengan menunjukan wajah sedihnya.


“Tanggung jawab kau bilang???” William menaikkan alis matanya sebelah. Ia menatap merendahkan pada Vanya.


“Iya. Tanggung jawab padaku”


“Dalam mimpimu”


“Kau tak bisa lari Will”


William tertawa merendahkan menatap ke arah Vanya.


“Aku tidak melakukan apa pun padamu”


“Hey... Kau tak bisa kabur dari tanggung jawab hiks...” Vanya mulai terisak. Ia berpura-pura menangis.


“Oh iya. Kau kira kita benar-benar melakukannya hah?”


“Tentu saja. Ini pengalaman pertamaku Will. Dan kau sudah merebut mahkota yang selama ini ku jaga”


William membuang muka dan menatap arah lain.


“Kalau ini pertama buatmu, kenapa di atas kasur tak ada bercak darahnya? Kau jangan menipu ku” William memperhatikan ranjang tempat ia dan Vanya tadi berbaring.


Vanya tersentak kaget. Ia tertegun mendengar penuturan William.


“Itu... Itu karena dulu aku suka melakukan olah raga ekstrem jadi selaput daraku pernah terkoyak. Dan percayalah hanya denganmu aku melakukannya” Vanya memberikan alasan.


“Aku tak percaya. Kalau begitu ayo kita ke dokter. Biar kita cek bersama” William menatap sinis pada Vanya. Ia menjadi muak pada Vanya. Ia tak sangka Vanya yang dikiranya baik malah seperti rubah yang licik.


Vanya panik mendengar perkataan William. Sesungguhnya William dan dirinya sama sekali tak melakukan apa pun. Ia hanya membuat William pingsan dengan memberikan obat dan melepaskan semua pakaian mereka lalu membuat seolah telah tidur bersama.


“Kau tak sadar yang kau lakukan Will. Saat aku memberikan obat perangsang itulah maka kita melakukannya” Vanya mengelak dan berbohong.


“Dusta. Aku tak percaya kepadamu”


“Percayalah Will...” Vanya mulai menangis kembali. Tangisan palsu. Ia bersikap polos didepan William.


William memandang ke arah Vanya. Ia mendekatin Vanya. Di cengkramnya rahang Vanya dengan kuat. Vanya meringis kesakitan.


“Will... Sakit. Lepaskan” Ucap Vanya menahan kesakitannya.


“Jangan bermain-main denganku Vanya. Kau tak mau kan membangunkan monster didalam diriku” Tatapan mata William sangat sangar dan menakutkan. Vanya bergetar. Ia merasakan hawa dingin yang mencekam disekitar William. Dilihatnya dimata William seperti ada hawa membunuh.

__ADS_1


“Le-lepaskan...” Vanya mendorong tubuh William dengan sekuat tenaganya hingga William melepaskannya. Vanya tak pernah berpikir kalau William bisa sangat menakutkan.


William menatap sinis ke arah Vanya. Ia pun membalik kan badannya dan pergi meninggalkan Vanya. William berlari dan segera mencari Lilis.


Vanya yang ditinggalkan sendirian kemudian jatuh terduduk. Ia merasa frustasi. Ia berpikir cara ini akan membuat dirinya memiliki William tapi kenapa sangat sulit membuat William jatuh ke tangannya.


Disisi lain, William segera berlari dan mencoba menelpon Lilis. Namun teleponnya tidak di angkat.


“Sial” Umpat William.


William segera menaiki mobilnya sambil menelepon Lilis. Tapi karena tak di angkat terus, William melacak lokasi Lilis melalui ponselnya. William pun melajukan mobilnya.


Sedangkan Lilis masih menangis tersedu-sedu didalam mobilnya yang terus ia kemudikan. William menelepon berkali-kali pun tak ia hiraukan.


Mobil William melesat dengan sangat cepat. Ia pun akhirnya bisa mengejar mobilnya Lilis. Kini mobil William mengikutin Lilis dari belakang. William segera mendahului mobil Lilis dan memblokir jalan mobilnya Lilis. Lilis pun kaget dan segera menginjak rem. William turun dari mobilnya. Ia melangkah menuju mobil Lilis.


“Lis... Buka. Aku mau bicara” Ucap William di sebelah jendela kaca mobil Lilis.


Namun Lilis tetap diam membisu dan tak membukakan.


William pun tak sabar. Ia pecahkan kaca mobil Lilis. Lilis pun terkejut dengan sikap William. William lalu membukanya dan masuk kedalam mobil Lilis. Tangannya penuh luka akibat pecahan kaca mobil.


Lilis menatap ke arah William dengan perasaannya yang kacau.


“Lis... Sayang. Percayalah padaku”


“Apa lagi yang mau di omongkan? Aku tak mau melihatmu lagi. Kita bercerai saja”


“Tidak. Aku tak mau. Dan antara aku dan Vanya tak ada apa pun yang terjadi”


“Aku sudah melihat kalian dalam satu ranjang dengan tanpa busana, dan kau masih saja berkilah Will”


“Apa yang harus ku percayai? Aku mau percaya tapi yang ku lihat malah kau mengkhianati ku”


“Tidak Lis. Aku tak pernah mengkhiantimu. Vanya menjebakku. Saat aku mau menemuimu, dia meneleponku minta berjumpa. Katanya masalah pekerjaan. Akhirnya aku pun menemuinya. Saat kami bertemu, Vanya memberikanku segelas minuman. Aku sepertinya pingsan. Dan setelahnya aku tak ingat apa pun. Saat sadar malah melihatmu Lis sedang menangis dan Vanya disebelah ku dalam satu ranjang. Tapi percayalah sayang tak ada apa pun yang terjadi. Dia menjebak ku sayang” William menjelaskan. Ia tak mempedulikan tangannya yang luka-luka dan berdarah.


Lilis tak tahu lagi harus bagaimana. Ia sedih dan dadanya terasa sesak. Ia masih menangis. Deraian air mata meluncur membasahi pipi mulusnya. William melihat Lilis yang menangis sedih merasakan sesak di dadanya.


“Lis...” Tatap William sendu melihatnya.


“Kau saja di beri obat dan tak ingat apa pun. Jadi bagaimana bisa kau bilang tak ada yang terjadi” Lilis menatap William dengan perasaan campur aduk. Air matanya tak ada hentinya mengalir membasahi pipinya.


William bingung harus bagaimana caranya membuat Lilis percaya padanya.


“Percaya lah sayang. Aku tidak..” William terhenti perkataannya karena Lilis mengatakan untuk berhenti.


“Cukup. Hentikan...”


Lilis membuka pintu mobil, ia melangkah hendak pergi. William pun keluar dari mobil dan segera mengejar Lilis.


“Lis... Tunggu”


“Pergi. Menjauhlah dari ku Will” Lilis menoleh ke William dan tak sadar ada sebuah mobil melintas dan bruk. Menabrak Lilis. Lilis terguling-guling di jalanan dengan penuh luka dan darah.


William terhenti langkahnya.  Ia syok melihat Lilis yang terkapar dijalan dengan penuh luka dan darah. William segera berlari dan menuju Lilis. Ia merangkul tubuh Lilis dan memeluknya.

__ADS_1


“Tidak... Tidak... Jangan begini Lis” Ucap William sambil memeluk tubuh Lilis.


“Jangan tinggalkan aku sayang. Please...” William mulai terisak.


Orang-orang mulai berdatangan dan mengelilingi. Salah seorang segera menelepon pihak rumah sakit untuk segera mengirimkan ambulance.


Beberapa saat kemudian mobil ambulance datang. Lilis di angkut masuk ke dalam ambulance. William disampingnya menemanin.


Ambulance pun menuju rumah sakit.


Sampai di rumah sakit, Lilis langsung masuk ruangan UGD. Dokter berusaha menyelamatkannya.


Sedangkan William, ia diluar ruangan menunggu dengan panik. Ia berlutut dan menangis. Ia tak mau Lilis pergi meninggalkannya selamanya. Jika hal itu sampai terjadi, maka ia akan mendatangi Vanya dan membunuhnya.


Ia berdoa demi keselamatan Lilis.


“Please... Don’t leave me Lis” Gumam William dengan perasaannya yang sedih saat ini.


Bersambung...


Semoga Lilis tetap selamat ya gaes... Hiks :(


Yang suka dengan karya ini, ikutin terus kisahnya sampai akhir ya kakak readers semuanya :)


No Plagiat ya. Hargai usaha dan kerja keras seseorang dalam berkarya. Jadi katakan tidak pada meniru karya seseorang dan tidak menjiplaknya. No Plagiat. Makasih untuk yang sudah mampir ya kak. Love you all :)


 


Karya ini sedang mengikutin lomba, jadi mohon dukungannya terus ya kak.


 


Cara mendukungnya gampang yaitu :


1. Like semua episodenya / bab-nya ya kak. Dibaca juga semua babnya :)


2. Klik Vote setiap hari dan setiap saat ya kak. Dan setiap hari senin juga :D


3. Klik Favorite juga ya kak


4. Selalu berikan dukungannya ya kak setiap saat :D


5. Tinggalkan komen ya kak :)


6. Kasi bintang 5 ya kak untuk karya ini sebagai menyukai karya ini dan apresiasi ke karya saya ini.


 


Makasih semuanya. Dukung terus karya ini ya kakak readers semuanya, biar Author semangat UP ceritanya. Love you all  :)


Tembus 200 lebih like segera di UP kembali.


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2