
“Karena keluargamu, Papa ku meninggal dan kami jatuh miskin. Mamaku dan aku menderita. Kami jadi menyimpan dendam lama ini. Dan inilah pembalasan dendam kami.”
“Hah? Dendam? Papamu? Aku tak mengerti Wen..”
Baik Lilis atau pun Ajeng sama-sama tak paham apa yang dikatakan oleh Wenny. Lilis menatap Mamanya yang berada disebelahnya. Mamanya meberikan isyarat tak mengerti. Lilis kembali melihat ke arah Wenny dan Hesti.
“Kau bingung hah?? Mau kami jelaskan.” Wenny mencibir Lilis.
“Lis... asal kau tahu. Tante dari dulu tak punya niat jahat ke keluarga Hartono. Tante senang dijadikan sebagai anggota keluarga Hartono. Diambil dari Panti asuhan. Dijadikan sodara angkat Mas Bram. Sangat bahagia akhirnya punya sebuah keluarga. dibesarkan bahkan disekolahkan hingga lulus kuliah. Tentu senang. Tapi tante tak dibiarkan bekerja. Bahkan saat pembagian warisan, orang tua angkatku yang sudah meninggal dunia hanya memberikan semua warisannya ke Papamu Lis. Aku sepeser pun tak diberi. Apa aku sama sekali tak dianggap. Walau aku hanya anak angkat tapi bukankah aku masih keluarga Hartono. Kenapa tak pernah memikirkan perasaanku?” Hesti mengeluarkan unek-uneknya.
“Dan kemudian aku menikah dengan Papa Wenny. Ku pikir aku akan bahagia. Jadi masalah harta dan warisan tak ku ambil pusing lagi. Aku hanya akan mencari kebahagianku sendiri. Tapi saat Wenny masih kecil dan kami masih dalam jayanya, Papamu dengan sadis membuat suamiku bangkrut. Dia tak punya hati dan membuat suamiku sampai kena serangan jantung lalu meninggal. Kami jadi terlantar. Rumah diambil dan disita bank. Harta habis. Uang tak ada. Kami jatuh miskin. Itu semua karena Papamu. Sejak itu aku punya dendam ke keluarga Hartono. Aku pun menceritakan semuanya ke Wenny. Sehingga Wenny pun mempunyai dendam yang sama denganku. Kami membenci keluarga Hartono. Kami ingin hancurkan kalian semua. Dan kami ambil semua uang dan harta kalian. Biar kalian bisa merasakan sakit yang pernah kami alami.” Hesti dengan berapi-api mengatakan yang selama ini di simpan nya di hati.
Lilis dan Mamanya hanya diam dan terpaku. Mereka tak dapat berbicara papun. Mereka tak pernah tahu kalau hal tersebut telah terjadi. Yang mereka tahu. Wenny saat kecil datang ke keluarganya bersama Mamanya. Dan kemudian mulai tinggal bersama mereka. Hanya itu yang diketahui Lilis dan Mamanya. Masalah masa lalu, mereka tak tahu apa pun.
“Jadi karena itu Lis. Aku membencimu. Aku membenci keluargamu. Aku juga gak suka kalau kau bersama Mas Panji. Kau tahu, dari dulu, dari awal aku kenal Mas Panji, aku sudah sangat menyukainya. Tapi dia hanya melirikmu. Kemudian kalian memiliki hubungan yang direstui kedua pihak keluarga. lalu akan bertunangan pula, disitulah aku mulai menjatuhkanmu. Saat kita sudah lulus kuliah, ku bawa kau ke Club Malam itu. Dan kau pasti sudah paham kan kelanjutannya. Sekarang aku sudah bertunangan dengan Mas Panji dan hendak menikah. Tapi kau selalu ada di mata, dipikiran dan hatinya. Kau menghalangi kebahagianku. Karena itu aku semakin membencimu Lis.” Wenny juga nampak sangat marah dan menyimpan banyak kebencian untuk Lilis.
Lilis kaget dan tertegun cukup lama mendengarkan Ibu dan anak yaitu Wenny dan Hesti mengeluarkan isi hati mereka. Ternyata sebenci itu mereka ke Lilis dan ke keluarga Hartono. Sedangkan Ajeng yang baru mengetahui motif Wenny dan Hesti cukup membuatnya kaget pula.
“Wen.. Tante Hesti...” Suara Lilis nampak berat untuk dikeluarkan.
Hesti dan Wenny memandang tak suka ke Lilis.
“Aku minta maaf atas nama Papaku dan keluarga Hartono. Aku tak pernah tahu kalau kalian selama ini sudah sangat menderita. Aku hanya ingin kita berbaikan dan sepetti sebelumnya. Seperti keluarga kembali” Lilis nampak bersedih.
“Kau pikir semudah itu. Jangan harap Lis..” Wenny dengan garang melihat ke Lilis.
“Jadi kau mau apa lagi Wen... Aku sudah menderita juga selama ini. Masa depan ku hancur dan hubungan ku dan Mas Panji sudah lama hancur juga. Keluarga ku juga sudah kau buat seperti ini. Papaku jatuh sakit. Semua harta sudah kau kuasai. Apa kau kurang puas?” Lilis menatap Wenny dengan nanar.
“Aku gak puas. Tak akan puas, sampai kau jadi hancur tak bersisa. Sampai keluarga Hartono benar-benar lenyap dimuka bumi ini.”
“Kau gila Wen..” Suara Lilis bergetar.
__ADS_1
“Wen.. apa maksudmu?” Tanya Ajeng pula.
“Kau diam saja Jeng...” Hesti menghardik Ajeng dan menyebut namanya tanpa embel-embel kata Mbak.
“Kau Hes...”
“Apa...??” Hesti mulai berani juga setelah melihat anaknya seperti singa yang akan mengamuk.
Lilis dan Mamanya jadi diam. Wenny kemudian memanggil para pengawalnya. Sepertinya ia sudah menyewa banyak pengawal. Ia menyuruh untuk mengusir Lilis. Pengawal tersebut mengusir Lilis sampai ia terkeluar dari rumah dan gerbang depang rumah keluarga Hartono.
Wenny menatap Lilis yang diseret paksa oleh para pengawalnya. Ia lalu memandang Ajeng, Mamanya Lilis.
“Tante sebaiknya masuk kekamar. Urus saja Om Bram. Kalau tidak menurut, kalian akan ku buang ke jalanan. Mau???” hardik Wenny.
Ajeng tak banyak bicara. Ia bungkam. Ia pun berlari dan masuk ke kamarnya. Ia duduk dengan bersimbah tangisan di sebelah suaminya yang terbaring sakit.
Wenny menatap mamanya.
“Ma... lain kali suruh saja pengawal berjaga diluar. Biar Lilis gak bisa masuk. Dia akan menderita kalau melihat orang tuanya di sakiti. Hehe... rasakan Lis..”
Di luar gerbang. Lilis hanya menatap sedih ke arah gerbang. Bagaimana ia hendak menolong Papa dan Mamanya. Ia tak punya kekuatan. Dengan lemah lesu, Lilis menyetop taksi yang lewat. Ia pun lalu naik taksi.
Didalam taksi Lilis bingung. Harus bagaimana dirinya. ia tak tahu. Dipikirannya hanya terpikirkan satu orang. Yaitu William. William banyak uang, ia juga berkuasa. Apakah William mau membantunya. Lilis meminta taksi menuju ke Perusahaan I.S. ia awalnya hendak menelepon William. Tapi sepertinya lebih baik bertemu langsung.
Sesampainya di I.S. Lilis segera ke lobi dan resepsionis cantik menyambutnya. Gosip Lilis dan William sudah merebak di perusahaan dan kantor jadi semua orang bersikap manis didepan Lilis. Mereka tak tahu kalau Lilis dan William lagi berseteru.
“Maaf Mbak mau tanya.” Lilis langsung bertanya di depan lobi.
“Silahkan Non. Ada yang bisa saya bantu?”
“Tuan William Smith ada dikantor? Kalau ada aku ingin bertemu”
__ADS_1
Namun wajah Resepsionis tersebut nampak bingung. Lilis menyadari hal tersebut.
“Kenapa Mbak? Tuan William gak ada ditempatkah? Atau sedang rapat?”
“Bukan begitu Mbak.”
“lalu?” Lilis sudah mengkerutkan keningnya.
“Tuan Smith gak ada ditempat.”
“Kalau begitu aku akan menunggu. Kapan dia kan kembali?”
“Masalahnya itu Non. Saya gak tahu kapan kembalinya.”
“Loh.. kenapa? Ya sudah tolong telepon Pak Jack atau sekretarisnya saja si Natasya jadi bisa diketahui kapan Tuan Smith pulang.”
“Eemmm... anu Non. Tuan Smith gak ada di tempat karena lagi gak ada di Indonesia.” Jawab Resepsionis tersebut. Ia heran kenapa Lilis gak tahu kalau William gak ada di Indonesia. Bukannya mereka punya hubungan. Begitu pikir sang resepsionis tersebut.
“Hah!!! Gak ada di Indonesia!!! Benarkah???” Lilis yang mendengar William gak ada di tempat yang dimaksud adalah gak berada di Indonesia sangat kaget. Jadi Inikah maksud William kalau ia tak akan bertemu dengannya dikantor. Lalu kemana William. Perasaan Lilis sudah gundah sekali. Seperti ada awan hitam menyelimutinya.
“Jadi kemana Tuan Smith?” Tanya Lilis kembali.
Bersambung...
Jangan Lupa Klik Vote dan Favorite ya kakak-kakak Readers semuanya. :)
Di klik juga likenya ya kak. Dukungan kalian sangat berarti. Makasih untuk yang udah mampir J
__ADS_1