
Jack dan Jaka memandang dengan heran. Apakah kedua orang ini saling mengenal? Apakah pimpinan mereka saling kenal satu sama lain? Jack dan jaka memandang ke arah William dan Vanya bergantian.
Jaka berdiri dan menyambut Vanya.
“Bu Direktur sudah datang. Maaf Bu, saya pikir anda tak jadi kemari?”
Vanya medekatin meja dan melihat ke arah William. Ia mengulurkan tanganya.
“Namaku Vanya Steele. Direktur utama perusahaan J and Co.” Ucap Vanya di hadapan William.
“Aku William Smith.” William menyambut uluran tangannya Vanya dan mereka berjabat tangan.
“Aku Jack.” Jack pun berjabat tangan dengan Vanya setelah William.
Vanya menganggukan kepalanya. Ia pun lalu duduk di sebelah Jaka. William memperhatikan ke arah kaki Vanya. Ternyata Vanya sudah memakai high heels yang baru. William jadi teringat kejadian dimana Vanya melempar heelsnya sehingga ia tak ada alas kaki. Vanya menyadari tatapan William. Ia pun berdeham.
“Ehem... Kita mulai saja. Dan Jaka jangan sembarangan berbicara. Aku bukanlah anak manja Papaku.” Vanya menatap tajam ke arah Jaka.
“Iya Buk Direktur. Maafkan aku. Hehe... Jangan lapor dengan Presdir kita ya Buk” Jaka hanya cengir dihadapan pimpinannya itu.
“Tergantung. Kalau kau bisa jaga sikapmu Jaka. Maka Pak Grey Steele tak akan ku beri tahu.”
“Baik Bu. Maafkan saya.”
Kini Vanya dan Jaka beralih pandang ke William dan Jack.
“Bisa kita mulai?” Tatap William kepada kedua orang yang ada dihadapannya.
“Tentu” Jawab Vanya.
Jack mulai mengeluarkan berkas kerja samanya. Dan Jaka juga. Vanya dan William bersikap profesional dalam pembahasan kerja sama mereka.
Disini Perusahaan J and Co akan memakai jasa periklanan milik perusahaan I.S yang akan menjualkan perhiasan dan kosmetik dari perusahaan Vanya. Sekaligus memakai model dan para artis dari perusahaan I.S.
Keduanya membahas kontrak kerja sama dan pembagian hasil keuntungan dari kerja sama tersebut. Setelah dua jam berlalu dan saling berdiskusi, akhirnya kesepakatan telah di tanda tanganin. Keduanya membaca dengan teliti berkas kerja sama tersebut. Dan sudah melakukan deal.
“Oke. Saya rasa pertemuan hari ini sudah cukup. Semoga kerja sama kita membawakeuntungan kepada dua belah pihak.” Vanya menghabiskan minumannya dan berjabat tangan dengan William dan Jack bergantian. Lalu ia pamit pergi. Disusul juga oleh Jaka yang berjabat tangan dengan William dan Jack kemudian pamitan pergi juga.
William pun dan Jack keluar dari cafe dan menaiki mobilnya. Mereka akan kembali ke kantor.
Didalam mobil.
“Kita kembali ke kantor Jack” Perintah William.
“Kau tak pulang Will? Sudah sangat sore. Sebaiknya kau pulang” Saran Jack ke William.
“Ke kantor saja. Nanti dari kantor baru aku langsung pulang. Mobil ku tinggalkan di parkir kantor”
“Baiklah.”
Dan disisi lain. Didalam mobilnya Vanya. Vanya duduk disebelah Jaka. Jaka yang menyetir mobil.
“Jaka... Lain kali itu jangan bicara sembarangan seperti itu paham kau kan”
“Iya Bu Direktur. Maafkan aku”
“Panggil Bu Direkturnya kalau dihadapan orang lain. Kalau cuma hanya aku panggilnya Nona.”
“Ah iya. Nona. Maafkan aku”
Jaka jadi merasa serba salah di hadapan pimpinannya itu.
“Oh iya. Kau langsung simpan berkas kerja sama itu ya. Aku minta turunkan di depan ya, dijalan sana”
“Loh Non, kok di sana. Apa tidak kembali ke kantor?”
“Tidak. Kau urus saja kantor. Dan aku nanti pulang sendiri pakai taksi. Sudah ya. berhenti di depan.”
Jaka menghentikan mobilnya. Vanya pun turun.
“Non, kalau presdir tahu aku bisa kena marah”
“Udah ah. Bawel amat. Udah sono. Pergi gih.” Vanya langsung pergi menjauh dan tak mempedulikan Jaka. Jaka akhirnya pergi sendirian.
Dijalan Vanya melihat sekeliling.
“Hemm.. Enak gini. Bisa bebas. Papa nyebelin. Baru juga pulang dari Paris malah disuruh pimpin perusahaan. Hadeh... mau main-main dulu ah...”
Vanya berjalan-jalan sendirian. Ia masuk dari toko satu ke toko lainnya. Hanya melihat-lihat tanpa ada yang dibeli. Jika ada yang menarik barulah ia beli. Jika tidak ia hanya melihat saja.
Kemudian singgah ke sebuah cafe makan enak dan minum enak. Puas makan dan minum, Vanya kembali pergi ke tempat lainnya. Ia bersenang-seang sendirian.
Hari pun mulai gelap. Vanya berjalan menyusuri jalanan yang gelap. Ia bermaksud mencari taksi, tapi tiga orang pria muncul dan menggodanya.
“Hai Nona. Sendirian aja nih” ucap pria satu.
“Kita temanin bolehkan” Pria yang lain berkata.
“Nama nya siapa Non?” Tanya yang lainnya lagi.
Vanya merasa risih, ia pun pergi menjauh. Tapi ketiga pria itu malah mengikutinya. Vanya pun berlari dan ketiga pria malah ikut mengejarnya. Vanya sudah panik dan ketakutan.
Tepat disaat itu mobil William lewat. Ia melihat Vanya berlari dan di kejar tiga pria. William turun dari mobilnya dan segera menolong Vanya.
“Hey... Pergi kalian. Jangan dekatin aku” Vanya terjebak di gang buntu. Dan ketiga pria makin mendekat.
“Hey Nona. Lebih baik kau menurut dan bersikap manis”
“Iya. Benar itu.”
__ADS_1
“Mari temanin kami.”
Ketiga pria mendekat dan mulai menyetuh pipi dan rambut Vanya. Vanya sudah hendak menjerit. Namu ketiga pria hanya terkekeh.
Dan muncullah William.
“Lepaskan dia. Jangan ganggu wanita itu” Ancam William.
Ketiga pria itu melihat William. Dan Vanya juga melihat William.
“Enak saja. Kau siapa? Jangan ikut campur” Pria itu hendak melayangkan tinju. Dan William mengelak dengan cepat.
Terjadilah perkelahian antara William dengan ke tiga pria tersebut. Yang satu dipukul William dan satunya di tendang William sedangkan yang lainnya di tinjunya.
Ke tiga pria itu kewalahan dan akhirnya kabur. Vanya mendekatin William. Dan William melihat ke arah Vanya.
“Terima kasih” Ucap Vanya.
“Nona. Sudah berapa kali hari ini aku menolongmu. Tadi sore dan sekarang hendak malam begini.”
“Ah.. Iya. Makasih ya. aku akan traktir makan deh.”
“Tak perlu. Lagian kenapa kau sendirian Nona. Sebaiknya jangan berkeliaran sendirian dan berhati-hatilah”
“Iya... Iya... Kenapa kau bawel amat sih. Seperi Papaku saja.” Vanya pun hendak pergi.
“Hey.. tunggu.”
“Apa lagi?” Vanya berbalik melihat ke arah William.
“Aku antar pulang saja. Tak baik wanita sendirian dijalanan. Ayo” Ajak William.
Vanya pun menurut. Ia tak mau kejadian tadi berulang. Ia pun akhirnya ikut William pulang.
Di dalam mobil William.
“Dimana alamatmu Nona?” William melirik sekilas dan kembali menatap jalanan karena fokus menyetir.
“Di daerah...” Vanya menyebutkan alamat rumahnya. William pun menganggukan kepalanya. Ia lalu melajukan mobilnya menuju alamat rumah Vanya.
Sekitar satu kemudian sampailah di daerah rumah Vanya. Vanya turun dari mobil William.
“Oke. Sudah sampai. Sekali lagi terima kasih Tuan Smith” Vanya menoleh ke arah William.
“Panggil saja aku William.”
“Oke. Dan panggil saja aku Vanya.”
“Baik”
Vanya pun lamgsung masuk ke dalam rumahnya. William pun kembali ke mobilnya dan melaju pulang ke rumahnya.
Ia melihat ranjang, tapi tak melihat Lilis. Kemana Lilis? Begitulah pikir William.
William pun menuju kamar Rafa dan Rafa sudah tertidur. Lalu ia kekamar Fatar. Didalan kamar Fatar juga ada Lilis. Jadi Lilis tidur di ranjang Fatar.
William pun kembali ke kamarnya. Ia kemudian merebahkan dirinya di ranjangnya. Tadi ia sudah makan malam diluar bersama Jack. Sekarang tidur malah sendirian. Malam semakin larut dan William pun tertidur.
***
Di kediaman rumah keluarga Grey Steele.
Vanya baru saja masuk ke kamarnya, Papanya datang menemuinya.
“Vanya..” Panggil Grey Steele.
“Papa..” Vanya melihat Papanya.
“Kau baru pulang? Kemana saja seharian? Syukur saja ada Jaka sekretarismu Van... Jika tidak bagaimana kau mengelola perusahaan kita?”
Vanya hanya bersikap cuek.
“Vanya.. Kau dengar Papa kan?”
“Iya Pa. Dengar. Udah ya Pa. Aku mau tidur. Ngantuk.”
“Van... Kau itu putri satu-satunya Papa. Kau lah pewaris dan penerus Papa. Jadi jangan kecewakan Papa”
“Iya Pa.”
“Papa Cuma punya kau Van...”
Vanya anak tunggal dari Grey Steele. Vanya hanya punya Papanya. Mamanya sudah lama meninggal. Saat melahirkan Vanya, Mamanya Vanya (Ana Steele) sudah meninggal dunia. Karena itu Papanya sangat menyayangi Vanya. Karena Vanya adalah harta berharganya.
“Pa... Stop. Aku hanya mau tidur Pa.”
“Baik. Tapi esok kau harus bertemu seseorang. Oke”
“Siapa lagi Pa? Jangan bilang perjodohan lagi” Vanya tak suka dijodohkan oleh Papanya.
“Ayo lah Van. Ini sudah ke sepuluh kalinya. Papa harap ada yang kau sukai. Umurmu sudah cukup untuk menikah. Jadi Papa ingin punya cucu.”
Vanya memutar kedua bola matanya dengan malas.
“Pa... Aku masih berumur 23 tahun dan baru selesai kuliah dari Paris. Terlalu cepat bagi ku untuk menikah” Vanya tak setuju.
“Tapi Papa mau kau menikah”
“Pa... Aku sudah menuruti keinginan Papa untuk menjadi Direktur diperusahaan Papa. Sekarang malah harus menikah lagi.”
__ADS_1
“Van... Temui Haris esok di restoran yang Papa tunjuk. Mengerti. Papa tak mau ada bantahan”
Grey Steele keluar dari kamar Vanya. Vanya menutup kamar dan pergi tidur.
Esoknya.
Di sebuah restoran. Vanya sedang duduk berhadapan denngn seorang pemuda yang cukup tampan bernama Haris. Ia hanya datang demi menyenangkan Papanya. Sesungguhnya ia tak mau dijodohkan.
“Jadi menurut mu bagaimana aku?” Tanya Haris.
“Iya. Lumayan. Bisa kita percepat. Aku hendak pergi.” Vanya hanya cuek.
“Hey. Kau jangan bersikap seperti itu. Begitu banyak wanita yang dekat denganku tapi aku malah mau dijodohkan denganmu.” Haris merasa Vanya mrendahkannya.
“Aduh bawel amat sih. Kalau begitu pergilah dengan wanita-wanita itu.” Vanya berdiri dan hendak pergi. Tapi Haris mencegahnya.
“Tunggu... kita belum selesai” Mereka sedang makan siang berdua. Tapi Vanya malah ingin meninggalkannya. Haris memegang lengan Vanya.
“Lepasin. Aku mau pergi”
“Tak bisa.”
William kebetulan berada ditempat tersebut. Ia baru saja bertemu klien di tempat tersebut sekalian makan siang dan hendak kembali ke kantor. Namun ia melihat Vanya sedang bertengkar dengan seorang pemuda.
“Lepas ku bilang” Vanya melepaskan tanganya secara paksa dan ia hampir terjatuh. Untung saja William menangkapnya. Jatuh lah Vanya di pelukan William.
Vanya kemudian menatap William. Kedua mata Vanya melihat ke arah William. William juga menatap ke arah Vanya.
Untuk persekian menit Vanya terdiam memandangi William.
“Kau tak apa?” Tanya William.
“Aku tak apa” Vanya berusaha mengalihkan pandangannya. William melepaskan pelukannya. tadi ia memeluk Vanya hanya menolongnya agar tak terjatuh.
“Kau siapa?” Ucap Haris. Ia jadi tak senang diganggu.
“Kau yang siapa?” Tatapa William tajam.
“Aku Haris. Pria yang sedang bersama Vanya.”
“Oh... Kalian sepasang kekasih ya. Aku William Smith.” Ucap William.
Haris tertegun mendengar nama William. Ia cukup tahu kalau William adalah bukan orang sembarangan. Karena namanya sudah terkenal.
“William Smith dari perusahaan I.S kah?” Haris menatap keaah William.
“Iya benar.”
Haris agak menciut nyalinya.
“Sudah. Kita pergi saja. Dan aku bukanlah kekasihnya” Vanya meraih tangannya William dan mengajak pergi William meninggalkan Haris sendirian.
Sampai diluar restoran. Di pinggir jalan. Vanya melepaskan genggaman tangannya. Ia melihat ke William.
“Maaf. Dan makasih”
“Maaf? Makasih?” William menaikkan alisnya sebelah.
“Maaf karena kau jadi terlibat tadi. Dan makasih karena untuk ke sekian kalinya kau menolong ku lagi” Vanya terseyum manis di hadapan William.
“Sepertinya kau selalu bermasalah ya Nona Steele”
“Hey... Jangan meledekku”
Sebuah motor melaju kencang. Untung saja William melihat. Ia menarik Vanya agar tak menyeberang jalan. Karena jika ia menyeberang jalan maka akan tertabrak. Syukur saja William segera bertindak. Dan hasilnya Vanya kembali jatuh ke pelukan William.
Deg..
Jantungnya berdebar tak karuan dan ada desiran aneh yang dirasakannya. Kedua mata Vanya menatap ke arah wajah William.
Bersambung...
Nah... muncul percikan-percikan lain nih... Hayo gimana tuh?”
Yang suka dengan karya ini, ikutin terus kisahnya sampai akhir ya kakak readers semuanya :)
No Plagiat ya. Hargai usaha dan kerja keras seseorang dalam berkarya. Jadi katakan tidak pada meniru karya seseorang dan tidak menjiplaknya. No Plagiat. Makasih untuk yang sudah mampir ya kak. Love you all :)
Karya ini sedang mengikutin lomba, jadi mohon dukungannya terus ya kak.
Cara mendukungnya gampang yaitu :
1. Like semua episodenya / bab-nya ya kak. Dibaca juga semua babnya :)
2. Klik Vote setiap hari dan setiap saat ya kak. Dan setiap hari senin juga :D
3. Klik Favorite juga ya kak
4. Selalu berikan dukungannya ya kak setiap saat :D
5. Tinggalkan komen ya kak :)
6. Kasi bintang 5 ya kak untuk karya ini sebagai menyukai karya ini dan apresiasi ke karya saya ini.
Makasih semuanya. Dukung terus karya ini ya kakak readers semuanya, biar Author semangat UP ceritanya. Love you all :)
Yuk kak buat karya ini makin bersinar, ajak gitu semuanya buat like semua babnya, komen, vote serta favoritekan yak. Jangan lupa kasi bintang 5 nya ya. karya ini sedang mengikutin lomba, semoga masuk 10 besar yak. Karena itu butuh dukungan dari kakak readers semuanya. Yuk kak buat karya ini masuk 10 besar gitu hehehe.
__ADS_1
Tembus 200 lebih like segera di UP kembali.