
Jack mengkode anak buahnya untuk berangkat. Pergilah mereka semua menuju lokasi Lilis saat ini.
Sedangkan William saat ini baru saja sampai di tempat. Ia turun dari mobilnya dan menyelipkan pistol di pinggang belakangnya. William melihat mobil Lilis yang tak jauh terparkir dari mobilnya. William pun melangkahkan kakinya mendekatin rumah tua yang sudah terbengkalai tersebut.
Saat ini posisi Lilis sedang mengarahkan pistolnya ke arah Laura dan Wenny bergantian.
Laura tersenyum sinis.
“Kau ingin menembak, lakukanlah. Arahkan ke arah sini” Laura menunjukkan keningnya agar Lilis mengarahkan tembakannya ke keningnya. Ia menantang Lilis.
“Kau... apa yang kau lakukan?” Wenny melihat ke arah Laura. Tapi Laura hanya tersenyum.
“Kau pikir aku tak berani. Kalian bergerak maka akan ku tembak.” Ucap Lilis.
Laura hanya tertawa sedangkan Wenny nampak sedikit gentar.
“Philip...” Laura melihat ke arah Philip.
“Iya...” Philip pun menganggukan kepalanya.
Philip melangkah mendekatin Lilis. Lilis kini mengarahkan pistolnya ke arah Philip.
“Jangan mendekat..” Ucap Lilis. Namun Phlip tetap maju melangkah ke arah Lilis.
Lilis merasakan debaran di hatinya. Ia takut untuk membunuh orang. Tapi situasinya sangat tak baik. Apa harus tembak saja pria yang terus maju dan makin mendekat ini? Keluh di dalam hati Lilis.
William datang tepat disaat Lilis makin di dekatin Philip. William menembakkan beberapa tembakan dan tepat mengenai beberapa anak buahnya Laura. Laura tentu saja langsung bersembunyi, begitu juga Wenny. Sedangkan Philip langsung bersembunyi juga saat mendengar tembakan tersebut. 10 anak buah Laura langsung tewas terkena tembakan William.
Lilis masih terpaku diam. William datang mendekat dan menarik tangannya Lilis. Dan pistol ditangannya Lilis malah terlepas serta jatuh ke lantai. Para musuh mulai melepaskan tembakan pula. William menarik Lilis dan mereka juga bersembunyi. Terjadilah tembak menembak di antara mereka semuanya.
William menundukan kepalanya sambil memeluk Lilis dan menundukan kepalanya Lilis, agar mereka tak kena tembakan.
“Kau tak apa-apa sayang?” Ucap William menatap Lilis sekilas kemudian menembakkan kembali tembakannya ke arah musuh.
“Aku baik. Terima kasih telah datang. Maaf aku tak memberitahumu” Lilis bersyukur William telah datang untuk menyelamatkannya.
“Lain kali jangan pergi sendirian ya sayang.”
“Iya. Maafkan aku.”
Tembak menembak masih terus terjadi. Hingga akhirnya peluru William telah habis.
“Sial” Umpat William.
“Kenapa?” Tatap Lilis.
Mereka masih bersembunyi untuk menghindari tembakan dari para musuh.
“Peluruku habis.” William melepaskan Lilis. Ia menatap Lilis.
“Cepat pergilah Lis. Langsung kabur dengan mobil”
“Kau bagaimana?”
“Aku akan baik saja sayang. Selama ini bukan aku tak sanggup membunuh dan mengalahkan mereka. Tapi karena aku memikirkan keselamatanmu. Jika kau masih dalam bahaya, maka aku akan sulit mengalahkan mereka. Jika kau aman dan jauh dari sini, mereka semua bisa ku habisi sayang”
“Will... Tapi aku tak bisa meninggalkanmu sendirian disini” Lirih kata Lilis.
“Tapi ini demi keselamatanmu sayang. Pergilah. Aku akan mengalihkan perhatian mereka.” William sudah bersiap untuk mengorbankan dirinya menjadi pengalihan agar Lilis bisa kabur.
William pun keluar dari tempat perlindungannya. Ia lalu berteriak.
“Stop”
Tepat disaat William berkata stop, Laura pun memberikan kode untuk menyetop tembakan para anak buahnya. Semua tembakan pun berhenti.
William berdiri. Ia melangkah pasti dan mendekat, kemudian berhenti dan berdiri di tengah para musuh. Laura, Wenny, Philip dan para anak buahnya Laura pun keluar dari tempat perlindungannya. Sedangkan Lilis melihat dari tempat persembunyiannya.
“Hentikan semua ini Laura...” Ucap William melihat dan menatap lurus ke arah Laura.
Laura tersenyum saat melihat William dengan berani muncul di hadapannya dan menyebutkan namanya.
“Oh... Akhirnya kau mengingatku Will” Laura membuka topengnya. Philip pun membuka topengnya.
William melihat ke arah Laura dan Philip. Jadi ternyata benar dia Laura. Kata William dalam hatinya. Dan pria itu pantas aku seakan mengenalinya ternyata dia Phlip Luther. Begitulah ucapan dalam hati William.
“Bravo... Akhirnya kau tahu aku dan Philip sekarang. Bagus lah. Jadi topeng ini bisa kulepaskan.” Laura membuang topengnya ke sembarangan tempat. Philip juga berprilaku sama.
“Iya. Aku sudah menemukan jati dirimu dan mengetahuinya. Chip yang ada padamu serahkan juga padaku” William melirik ke Lilis sekilas dan memberikan kode agar segera lari. Lilis yang dari tempat perlindungan memahami kode dari William tersebut. Ia pun mulai bergerak untuk pergi keluar dan pergi menjauh.
“Kau mau chipnya. Tak bisa ku berikan. Kalau kau mau ambil lah dari ku.”
__ADS_1
Laura memberikan kode ke Wenny dan Philip. Wenny mengerti dan paham. Ia bergerak mencari Lilis. Sedangkan Philip bergerak maju ke hadapan Willam.
“Kau kalahkan aku dahulu” Ucap Philip.
William menatap tajam ke arah Philip. Dan dimulailah perkelahian antara William dan Philip tanpa ada senjata. Keduanya baku hantam dan saling memukul. Serangan tinju dan tendangan dari Philip dengan gesit William elakkan. Ia pun membalas serangan bertubi-tubi ke arah Philip juga.
Disaat William sedang berkelahi dengan Philip, Lilis melangkah sedikit demi sedikit untuk pergi keluar.
Namun Wenny datang untuk menghadang Lilis.
“Mau kemana kau? Cepat kemari kau” Wenny menarik Lilis dan menjambak rambut Lilis.
Lilis mengaduh kesakitan. Ia hendak membalas Wenny, tapi sayang Laura datang mendekat dan memukul Lilis. Lilis jadi jatuh tersungkur. Laura pun langsung beberapa kali memukul wajah Lilis dan hasilnya wajah Lilis memar biru dan bibirnya sudutnya pun sobek akibat pukulan dan tamparan Laura.
“Kau tak bisa lari...” Ucap Laura di hadapan Lilis.
“Bawa dia naik ke lantai atas sekarang” Laura memerintahkan Wenny.
“Baik.” Ucap Wenny.
Wenny menarik lengan Lilis dan membawanya dengan kasar. Lilis melihat ke arah William yang masih berkelahi dengan Philip.
Lilis pun berteriak.
“William...!!!” Seru Lilis.
William pun menoleh. Tepat di saat William menoleh ke Lilis, ia pun kena pukulan tepat mengenai wajahnya. William jatuh tersungkur. Ia kembali menatap Lilis.
“Berhenti. Jangan sakiti Lilis. Lepaskan dia” William tak berdaya jika Lilis ditangan mereka.
Laura hanya tersenyum. Ia melihat ke Wenny agar terus naik ketas. Wenny pun menganggukan paham. Ia menarik Lilis dengan kasar untuk dibawa ke lantai atas. Kemudian Laura memanggil Philip.
“Philip... Hentikan. Sekarang ikutlah naik ke atas.” Perintah Laura.
Philip pun menganggukan kepalanya. Philip pun naik ke atas.
Tinggallah William , Laura dan anak buahnya Laura.
“Sekarang tinggal kita. Bagaimana? Kau mau bermain denganku” Laura tersenyum nakal ke arah William.
“Lepaskan Lilis. Kemana kau membawa Lilis?” William sudah sangat cemas.
“Aku mau memberikan kado untuk kalian. Kado pernikahan kalian. Selamat ya Will”
“Jika kau bisa mengalahkan semua anak buahku dan naik ke atas maka kau bisa menyelamatkannya tepat waktu. Jika tidak kau harus menerima segala hal yang akan terjadi. Ahahaha” Laura tertawa gelak. Ia lalu berjalan juga naik ke lantai atas.
William tinggal bersama anak-anak buahnya Laura.
“Sial. Senjataku sudah tak ada” Umpat William.
Tembakan kembali terdengar. William dengan gesit menghindar. Dan beberapa pukulan dan tinju di layangkan William saat melawan anak buah Laura. Jika ada yang menembak segera di elakkannya.
Di lantai atas. Wenny melepaskan jambakan di rambut Lilis. Lilis meringis kesakitan. Wenny bergeser ke samping. Lilis hendak lari, tapi jalannya di blokir oleh Laura dan Philip.
“Mau kemana ? Kau tak bisa lari” senyum jahat terlukis di wajah Laura.
“Apa mau kalian?” Lilis menatap ke tiga orang tersebut.
“Mau kau menderita lah...” Laura menatap dingin Lilis.
“Philip... pukul dia habis-habisan” perintah Laura.
Philip pun menganggukan kepalanya. Ia mendekatin Lilis. Lilis melemparkan barang-barang yang ada di dekatnya ke arah Philip tapi percuma. Semuanya tak ada efek apa pun pada Philip. Philip bsia mengelak dan menendang barang-barang tersebut.
Philip sudah di hadapan Lilis. Ia memukul wajah Lilis. Dan menendangnya. Lilis jatuh tersungkur. Philip tendang berkali-kali perutnya Lilis. Lilis mengaduk kesakitan.
Laura tersenyum dan Wenny juga puas melihat penderitaan Lilis.
“Bagus. Habisin dia.” Ucap Wenny penuh kemenangan.
Lilis banyak terkena pukulan dan tendangan dari Philip. Ia terkulai lemas. Sekujur tubuhnya luka-luka.
Philip memandang ke arah Laura.
“Laura. Dia sudah sekarat. Sebaiknya kita tinggalkan” Ucap Philip.
“No. Kau perkosa dia sekarang Philip” Perintah Laura.
Philip tercengang dan Wenny menatap ke arah Laura. Sedangkan Lilis yang sudah terluka banyak, saat mendengar hal tersebut matanya membulat besar.
“Tapi Laura. Aku tak bisa”
__ADS_1
“Lakukan Philip. Bukankah kau akan melakukan apa saja untukku. Maka lakukan itu. Lecehkan Lilis dan perkosa dia.”
Philip berat hati melakukannya. Tapi ia mencintai Laura dan tak bisa membantah Laura. Ia pun menganggukan kepalanya.
Philip kembali ke arah Lilis. Lilis menggelengkan kepalanya.
“Tolong... Jangan lakukan itu padaku. Lepaskan aku” Lilis sudah berderai air mata. Namun tubuhnya sudah kesakitan dan tak berdaya. Ia ingin berontak pun malah tak bisa.
Wenny dan Laura yang menyaksikan Lilis di aniaya dan diperkosa oleh Philip, malah tersenyum puas dan tersenyum jahat.
Philip merobek-robek pakaian Lilis dan Lilis meronta-ronta. Tapi tak ada guna. Ia tak bisa melawan tubuh besar Philip. Philip membuka celananya dan mulai memperkosa Lilis. Pukulan dan siksaan terus di terima Lilis. Dan kini ia malah diperkosa oleh Philip. Ia merasa hancur. Dan deraian air mata terus berjatuhan. Bahkan suara histeris jeritannya menggema ke seluruh ruangan.
William yang mendengar suara jeritan Lilis, merasakan sesak di dadanya.
“Lilis...” Seru William.
Namun William masih harus melawan beberapa anak buah Laura. William melihat sebuah pistol di lantai. Pistol yang tadi dipegang oleh Lilis dan terjatuh, kini William langsung ambil dan mengarahkan tembakan ke beberapa anak buah Laura. Beberapa sudah jatuh dan tewas karena kena tembakan dari William.
Tepat di saat itulah rombongan Jack dan katty telah tiba. Mereka langsung menerobos masuk dan membantu William.
Katty melepaskan beberapa tembakannya. Jack dan anak buahnya pun sama.
“Butuh bantuan?” Ucap katty sambil mengarahkan tembakan terus ke musuh.
William menoleh ke Katty.
“Thanks.”
“Ini. Didalamnya ada banyak senjata” Katty melempar tasnya dan mengarahkan ke arah William.
Pistol William kehabisan peluru kembali. Ia membuka tas Katty dan terlihat banyak senjata dan berbagai jenis senjata pun ada. William mengambil satu senjata. Pistol kedap suara.
William arahkan ke arah para musuh.
Setelah serangan dari Jack, katty dan William juga anak buahnya Jack bertubi-tubi mereka lakukan, maka semua musuh akhirnya tewas. Semua anak buah Laura telah tewas.
William bernafas lega.
“Dimana Lilis Will?” Tanya Katty.
William bukannya menjawab malah melihat tangga yang mengarah lantai atas. Ia hendak langsung ke sana.
Saat William melangkahkan kaki ke arah lantai atas. Laura telah muncul kembali. ia mencegah William yang mau pergi ke lantai atas.
William mengarahkan pistolnya ke arah Laura.
Bersambung...
Yang suka dengan karya ini, ikutin terus kisahnya sampai akhir ya kakak readers semuanya :)
No Plagiat ya. Hargai usaha dan kerja keras seseorang dalam berkarya. Jadi katakan tidak pada meniru karya seseorang dan tidak menjiplaknya. No Plagiat. Makasih untuk yang sudah mampir ya kak. Love you all :)
Karya ini sedang mengikutin lomba, jadi mohon dukungannya terus ya kak.
Cara mendukungnya gampang yaitu :
1. Like semua episodenya / bab-nya ya kak. Dibaca juga semua babnya :)
2. Klik Vote setiap hari saat ya kak. Dan setiap hari senin juga :D
3. Klik Favorite juga ya kak
4. Selalu berikan dukungannya ya kak setiap saat :D
5. Tinggalkan komen ya kak :)
6. Kasi bintang 5 ya kak untuk karya ini sebagai menyukai karya ini dan apresiasi ke karya saya ini.
Makasih semuanya. Dukung terus karya ini ya kakak readers semuanya, biar Author semangat UP ceritanya. Love you all :)
Yuk kak buat karya ini makin bersinar, ajak gitu semuanya buat like semua babnya, komen, vote serta favoritekan yak. Jangan lupa kasi bintang 5 nya ya. karya ini sedang mengikutin lomba, semoga masuk 10 besar yak. Karena itu butuh dukungan dari kakak readers semuanya. Yuk kak buat karya ini masuk 10 besar gitu hehehe.
Gak perlu masuk 3 besar atau pun 5 besar. Masuk 10 besar aja pun udah senang banget loh... Yuk kak readers semuanya Vote yang banyak dan dukung terus yah. Like yang banyak ya. Thanks :D
Tembus 200 lebih like segera di UP kembali.
__ADS_1