
“Sialan. Dasar anak berengsek kau..” Hesti hendak menampar Lilis. Namun tangan nya terhenti oleh sebuah suara.
“Hentikan...”
Hesti tak jadi menampar Lilis. Baik Hesti dan Lilis melihat ke asal suara tersebut. Ternyata asal suara tersebut adalah Mamanya Lilis yaitu Ajeng Ayu Hartono.
“Mama...” Lilis memanggil Mamanya. Ia berlari menghampiri Mamanya dan memeluk Mamanya.
“Sudah sampai nak??” Ajeng melepaskan pelukan anaknya.
“Iya Ma. Mama gimana kabarnya?” Raut wajah Lilis nampak cemas.
“Mama baik sayang. Hanya lelah saja.” Ajeng berusaha tersenyum.
Hesti hanya nampak cuek. Ternyata Bik Minah memanggil Bu Ajeng dan datang bersama Bu Ajeng. Ajeng kemudian menatap ke arah Hesti.
“Hes... Kenapa kau larang anakku? Ini rumah dia juga. Biarakan Lilis pulang dan masuk ke rumahnya sendiri.” Ajeng menatap tajam Hesti.
“Mbak... Lilis kan sudah bertahun-tahun gak ada kabar. Tau-tau sekarang malah pulang. Kok tiba-tiba disini. Lagian Mas Bram kan sudah mengusir Lilis. Jadi Lilis tak punya hak disini.” Hesti nampak enggan.
“Lilis tetap putriku. Tetap satu-satunya putri dari Mas Bram. Dia punya hak dirumah ini. Lilis juga anggota keluargan Hartono. Apa yang salah dari anak yang hendak melihat Papanya yang sakit.” Bela Ajeng ke Putrinya.
“Tentu salah Mbak. Karena Mas Bram sudah mengusirnya.”
“Kau tak berhak berbicara apa pun disini.”
Hesti terdiam. Ia kesal sekali. Ingin dilawannya Ajeng tapi ia menahan diri. Sedangkan Ajeng membawa Lilis masuk ke kamar untuk melihat Bram Hartono. Hesti kemudian menelepon Wenny. Ia menyuruh Wenny segera ke rumah.
Lilis dan Mamanya masuk ke kamar. Lilis melihat Papanya terbaring tak berdaya. Air matanya pun luruh. Ia menangis. Lilis duduk di tepi ranjang Bram.
“Pa... ini Lilis. Maafkan Lilis ya Pa. Baru seakarang bisa lihat Papa.” Bulir-bulir air mata pun membasahi Lilis. Mama Lilis hanya berdiri disamping memperhatikan anak dan suaminya. Bik Minah kembali ke dapur.
Bram menoleh ke Lilis. Namun ia tak dapat bergerak. Ia pun tak dapat berbicara. Benar-benar seperti orang stroke dan lumpuh total. Lilis melirik Mamanya.
“Ma... keadaan Papa sudah seperti ini. Sebaiknya kita bawa ke rumah sakit” Pinta Lilis.
“Tak bisa Lis. Wenny dan Mamanya melarang. Semua keuangan keluarga kita, Wenny yang pegang kendali. Mama gak bisa berbuat apa-apa.” Lirih kata Ajeng.
__ADS_1
“Atas dasar apa Wenny dan tante Hesti melarang. Kenapa juga mereka yang pegang keuangan Keluarga kita?”
“Awalnya hanya untuk menjalankan dan mempertahankan bisnis Papamu. Namun kemudian semua dia kuasai. Dia pegang kendali. Untuk belanja dapur dan sehari-hari saja sudah dijatah Wenny uang belanjanya. Mama juga gak bisa apa-apa. Karena semua surat Wenny yang pegang. Bahkan kunci brangkas Papa kamu, dia juga yang pegang. Stempel Mama dan Papa juga ada ditangannya. Ntah bagaimana tapi sudah ditangan dia semua. Mama yang lalai tidak langsung mengamankan surat-surat penting dan stempel. Mama terlalu sibuk merawat Papamu Lis. Sehingga Mama tak mengawasi Wenny dan Hesti. Kalau sekarang sudah terlambat. Semua mereka yang pegang kendali.” Ajeng menjelaskan ke Lilis.
“Surat-surat penting keluarga Hartono dan cap Stempel juga ada pada mereka. Ini bisa gawat Ma. bisa-bisa semua bisnis Papa, perusahaan Papa dan harta keluarga Hartono diambil mereka Ma...” Lilis nampak sangat sedih. Seharusnya dari awal ia dengar kabar Papanya jatuh sakit, ia seharusnya segera ke rumah. Sekarang terlambat.
“Itu lah nak. Makanya suruh kau pulang Lis... selain melihat keadaan Papamu. Masalah keluarga kita juga harus kau tolong Lis... Mama takut, Kalau nanti Wenny dan Hesti bisa saja mengusir Mama dan Papa dari rumah ini. Kami bisa terlantar dijalanan.” Ajeng kemudian menangis.
“Apa mereka bisa sekejam itu Ma...?” Lilis menatap Mamanya.
“Bisa saja Nak. Buktinya mereka tega melihat Papamu begini. Keadaannya sudah seperti ini tak dibawa juga ke rumah sakit. Bahkan mereka tega mengusai semua harta kita.”
Lilis jadi bingung. Ia menatap Papanya kembali. Ada yang menyesakkan didadanya Lilis. Ia tak habis pikir kenapa Wenny dan tante Hestinya bisa seperti itu ke keluarga nya. ia kemudian mengingat, kalau Wenny pernah berkata membenci keluarga Hartono. Apa karena hanya membenci jadi seperti ini? Apa hanya itu alasannya kah? Apa sebabnya sampai Wenny membenci keluarganya?
Setelah mendapatkan telepon dari Hesti, Wenny pulang ke rumah. Hesti menyambut putrinya yang baru saja tiba dirumah.
“Ma...” Panggil Wenny ke Mamanya.
“Iya nak... Akhirnya kau pulang Wen” Jawab Hesti.
“Lilis? Lilis didalam kamar Bram.”
Lilis pun melangkah keluar dari kamar. Mamanya mengantarkan Lilis ke depan. Lilis berjanji akan menjenguk kembali. di ruang tengah mereka berjumpa dengan Hesti dan Wenny. Wenny yang kebetulan baru tiba, melihat Lilis yang muncul dihadapannya, seketika merasa kesal. Ia benar-benar membenci Lilis. Lilis dan Mamanya pun melihat ke arah Wenny.
“Kau datang Lis? Buat apa?” Tegur Wenny dengan gayanya yang sok dan angkuh.
“Aku menjenguk Papa ku yang sakit.” Jawab Lilis yang tak gentar sedikit pun ke Wenny.
“Sebaiknya kau cepat pergi dan jangan datang lagi.” Wenny melarang Lilis kembali.
“Apa urusannya dengan mu?”
“Tentu urusan ku. Karena ini rumah ku sekarang. Hanya Aku dan Mamaku yang boleh memberikan Ijin.” Tukas Wenny.
“Tak tahu malu. Kau pikir siapa dirimu Wen..” Ajeng nyalang menatap ke arah Wenny.
“Kau diam tante. Kalau tidak, aku bisa saja mengusir mu dari rumah ini” Ancam Wenny.
__ADS_1
“Iya. Benar itu.” Tambah kata Hesti.
Hahaha. Sebuah tawa kecil yang dikeluarkan Lilis. Wenny dan Hesti menatap tak suka ke arah Lilis.
“Kenapa pula kau tertawa?” Wenny kesal sekali nampaknya. Melihat Lilis saja sudah membuatnya kesal apalagi melihat kelakuannya.
Lilis hanya menyunggingkan senyumnya.
“Kau yang tak tahu malu. Kau dan Mama mu sama saja. Ular betina kalian. Dasar dua orang wanita yang licik. Rumah, harta dan bahkan Perusahaan Hartono kau ambil paksa.” Ujar Lilis ke Wenny.
“Cih... salah kalian sendiri. Kenapa tak bisa menjaganya dengan baik” Senyum licik terlihat diwajah Wenny.
“Sebenarnya apa masalah mu Wen... Dan kenapa Tante dan Wenny melakukan ini ke keluargaku.” Lilis tak habis pikir, kenapa bisa seperti ini.
“Karena kami membenci keluarga mu Lis...” Ucap Wenny berapi-api matanya ke arah Lilis. Menyiratkan banyak amarah dan kebencian.
“Sebab apa dan alasan apa kau membenci dan kenapa kau menghancurkan keluargaku?” Lilis sama sekali tak mengerti.
“Karena aku tak suka kalau kau bahagia Lis.” Ucap Wenny.
“Apa hanya karena itukah? Atas dasar apa?” Lilis bingung sebenarnya dengan Wenny.
“Karena keluargamu, Papa ku meninggal dan kami jatuh miskin. Mamaku dan aku menderita. Kami jadi menyimpan dendam lama ini. Dan inilah pembalasan dendam kami.”
“Hah? Dendam? Papamu? Aku tak mengerti Wen..”
Bersambung...
Jangan Lupa Klik Vote dan Favorite ya kakak-kakak Readers semuanya. :)
Di klik juga likenya ya kak. Dukungan kalian sangat berarti. Makasih untuk yang udah mampir :)
__ADS_1